VAGRANT

VAGRANT
Qi Ling dan Qi Feng


__ADS_3

3 bulan setelah kiamat ular melanda, negara air tetap berdiri diatas lautan dengan gagah dan mempesona. Di wajahnya terdapat sebuah menara baru yang disebut sebagai menara iblis oleh para warga karena banyaknya hewan gaib kelas tinggi di dalamnya.


Kerajaan utara dan kerajaan Selatan sepakat untuk menyatukan kekuatan mereka dan membentuk sebuah kerajaan baru bernamakan kerajaan Sean yang berpusat di kerajaan utara. Mengingat kalau kerajaan selatan sudah terlalu hancur untuk ditinggali.


Feng Lian dan Eunchae memilih untuk singgah di kerajaan Sean untuk mengajar puluhan ribu murid mereka, yang juga merupakan pasukan kerajaan Sean. Mereka mengajarkan cara-cara dasar bertarung menggunakan sihir yang layak agar mereka semua siap bila saja nanti perang antarnegara benar terjadi.


Eunchae masih sering bertanya-tanya mengenai kabar Ling, tetapi wanita itu juga tidak bisa melepaskan beberapa minggunya bersama Qi Feng sebelum pada akhirnya ia bertemu dengan Feng Lian. Mereka berdua sempat menjadi teman, dan mereka pula sempat menuliskan kisah cinta di buku masing-masing. Qi Feng sudah menjadi sosok yang tenang dan pemaaf, namun ambisinya untuk mengalahkan Ling masih terus berjalan. Ia tidak ingin hidup dibalik bayang-bayang seseorang, maka dari itu ia memilih untuk pergi meninggalkan Eunchae ditangan Feng Lian dan berkelana dengan tujuan mulia yakni menjadi lebih kuat.


"Bukankah lebih baik kalau ikut dengannya?" Tanya Feng Lian dimalam hari.


"Tidak. Tidak lebih baik." Jawab Eunchae. Ia belajar dari pengalamannya beberapa tahun lalu, saat dirinya masih bergantung kepada Ling. Lelaki itu diburu oleh banyak orang, dan Eunchae tidak bisa melakukan apa-apa selain menjadi beban punggung bagi dirinya. "Aku akan menunggu dia disini, karena aku yakin dia akan pulang kepadaku."


...----------------...


Mayoritas dari warga desa Jiangsu bekerja sebagai nelayan, namun ada beberapa juga yang menjadi petani. Walau wilayahnya dekat dengan laut, tetapi tanah yang mereka pijak adalah tanah yang subur. Memang sih, kebanyakan yang menjadi petani adalah seorang wanita, namun karena kondisi istrinya yang sedang hamil, Ling pun terpaksa bekerja diatas tanah dan bukan diatas kapal.


Lelaki itu sedang menggali aliran air baru untuk memperbesar ukuran ladangnya, dia tinggal di sebuah rumah di desa Jiangsu yang berjarak cukup jauh dengan warga-warga yang lainnya.


Dia masih mengincar ketenangan, dan sepertinya dia sudah mendapatkan apa yang dia inginkan.


Perintah Yin Chen pun sudah ia selesaikan. Kini Ling sudah memiliki sebuah keluarga kecil yang hidup bahagia dengan lingkungan yang aman sejahtera.

__ADS_1


Ling melirik ke arah rumahnya untuk sekedar melihat senyum Haerin yang sedang mempertontonkan dirinya dari atas sebuah kursi goyang yang telah dibuat khusus oleh Ling sebagai hadiah ulang tahunnya kemarin.


Wanita itu adalah sumber semangat Ling. Walau sudah bertahun-tahun lamanya, perasaan itu tetap sama dan tidak akan pernah berubah.


Ling kembali mencakul tanah, dan dalam waktu bersamaan, dua orang pemuda yang merupakan pengantar barang milik desa Jiangsu keluar dari dalam hutan, mereka melintasi rumah Ling sambil berbicara cukup lantang.


"Oh, ya. Kudengar dojo-dojo di negeri air sudah kembali ditaklukan oleh seorang pria. Unik, bukan? seolah-olah sejarah kembali terulang dengan sendirinya." Ucapnya.


"Si setan dari utara memang mengerikan, sih. Teknik berpedangnya itu sungguh ajaib! Tidak aneh kalau dia bisa menaklukan puluhan dojo dalam kurun waktu hanya 6 bulan saja." Balas temannya.


Ling menoleh kearah mereka, membuat mereka sontak merendahkan tubuhnya kepada Ling sebagai bentuk hormat. Mereka kemudian kembali berjalan penuh gembira, memasuki desa Jiangsu.


"Setan dari utara?"


Ia kembali hidup di masa lalunya, menerima hujan seramah mungkin tanpa takut pada dampaknya.


Dari dalam hutan keluar seorang pria dengan topi caping serta jubah panjang yang menyapu dedaunan. Ling mengenal lelaki itu. Ling sudah menduga kedatangannya di pagi hari ini.


Setan yang ditakuti, setan dari utara, dia tidak lain adalah Qi Feng.


Dia pasti akan menjadikan Ling sebagai target terakhir. Dia masih membutuhkan pengakuan dari rivalnya itu.

__ADS_1


Ling mencabut pedangnya, begitu juga Qi Feng.


Mereka saling tatap, tanpa banyak bicara memulai pertarungan terakhir.


Pertarungan itu adalah pertarungan murni tanpa campur tangan energi jiwa. Pertarungan yang menentukan keahlian berpedang dari kedua belah pihak. Pertarungan yang sudah lama dinanti oleh Qi Ling dan Qi Feng.


Rasanya memang seperti masa lalu, bermain tombak diatas gunung, melukai satu sama lain tanpa rasa benci yang menyeluruh. Setiap ayunan diperhitungkan, setiap luka mengingatkan kedua pihak pada kematian.


Mengingatkan mereka kepada Qi Yuan, tempat mereka berpulang saat tubuh sudah hancur berantakan.


Ling menebas pundak Qi Feng, membuat lelaki itu jatuh pada kedua lututnya. Hujan semakin deras, pemenang telah ditentukan.


"Kenapa aku masih kalah?" Gumam Qi Feng. "setelah semua yang sudah kulalui, kenapa aku masih kalah?"


"Karena aku masih beberapa tahap didepanmu, Qi Feng." Jujur Ling. "Aku sudah melalui apa yang kau lalui, tapi kau belum melalui semua yang aku lalui."


"Apa maksudmu?" Tanya Qi Feng. "Aku sudah mengikuti semua jalanmu! Aku sudah pergi berkelana, aku juga sudah meninggalkan semuanya untuk mengikuti jalan pedang! Aku sudah menjadi apotheosis, dan aku sudah membunuh banyak orang yang secara kekuatan lebih kuat dariku!"


"Apa maksud perkataanmu itu, Qi Ling!"


"Kau memang sudah hidup mengikuti jalan pedang, tetapi kau lupa untuk hidup sebagai manusia." Ungkap Ling. "Layanilah seseorang, lindungilah banyak orang, dan bentuklah sebuah keluarga."

__ADS_1


"Jadilah seorang manusia, Qi Feng."


......-TAMAT-......


__ADS_2