
Feng Lian, Yin Chen, Eunchae, Silver, serta Ling terkumpul di sebuah aula dalam istana dengan pakaian yang serba rapi. Brewok tebal diwajah Ling sudah ia cukur habis, hingga wajah tampannya bisa dilihat lagi. Mereka semua terlihat tegang. Walau semua sudah berkumpul, tetapi pembicaraan belum juga dimulai oleh siapapun.
Ling yang hendak bertanya, di potong oleh suara pintu yang terbanting kencang secara tiba-tiba.
Putri dari kerajaan Selatan yang bernama Haerin sudah terbangun dari tidur cantiknya. Mereka lalu duduk disebuah meja bundar untuk melakukan perundingan.
Dalam perundingan tersebut, dijelaskan bahwa kedatangan Silver, Feng Lian dan Yin Chen kemari adalah dengan tujuan untuk memanfaatkan kekuatan regenerasi milik keluarga Kerajaan selatan demi membebaskan Gilgamesh, si Apotheosis ke-1, dari penjaranya yang berada di neraka putih, mereka membutuhkan darah yang sangat banyak agar pintu gerbangnya bisa terbuka. Sementara Caius dan yang lainnya, mereka ingin mencegah hal tersebut dengan membunuh putri Haerin, yang merupakan anggota terakhir dari keluarga kerajaan Selatan.
"Aku menolak." Jawab Haerin, emosional, lalu pergi keluar dari Aula.
Silver dan yang lainnya terlihat langsung menyerah dan berkecil hati. Sementara Ling, dia malah mengejar wanita itu secara diam-diam.
Eunchae yang hendak mengekor langsung ditahan oleh Silver. "Sudah, kita serahkan saja sisanya pada Ling."
...----------------...
Haerin menangis tersedu-sedu di dalam kamarnya yang gelap. Dia memeluk erat kedua kakinya yang menekuk, sambil terkadang merewel seperti bayi.
Tok tok tok
Suara ketukan pada pintu membuat Haerin mengalihkan pandangnya.
"Pergi sana." Usir Haerin, dengan suara yang gemetar.
Suara ketukan itu kembali terdengar oleh telinganya, membuat Haerin tambah jengkel, dan memilih untuk menghampiri. "Apalagi, sih?!"
Ling terdiam didepan pintu, dengan senyuman termanis yang pernah ia buat. "Boleh aku masuk?"
Haerin mengangguk, mempersilahkan Ling masuk, lalu menutup pintu dibelakangnya. "Mereka menyuruhmu datang kemari?"
"Tidak." Jawab Ling, dengan mata yang mengelilingi ruangan. "Aku datang kesini untuk mengerti perasaanmu. Keberatan untuk bercerita?"
__ADS_1
Haerin menggeleng, lalu kembali duduk diatas kasurnya yang besar nan megah. Ia menepuk-nepuk satu sisi kasur, seolah meminta Ling untuk duduk disana.
Gadis itu lalu mulai bercerita tentang hidupnya yang cukup rumit. Sun Haerin adalah anak terakhir dari keluarga kerajaan, dan dengan sangat kebetulan, baru-baru ini keluarganya tewas di bunuh oleh seseorang. Mereka semua seolah meninggalkannya sendiri disana bersama dengan sebuah tanggung jawab yang sangat besar kepada seorang remaja yang baru berusia 18 tahun. Haerin sering gagal dalam memimpin kerajaan ini, tapi perempuan itu masih terus berusaha untuk menjadi seoranh ahli waris yang pantas untuk keluarga Sun.
Mengetahui kalau kini dirinya ingin dibunuh oleh sekelompok penyihir kuat, Haerin menjadi takut. Haerin ingin dilindungi, tetapi dengan bayaran menjadi seorang kunci, Haerin juga tidak mau.
Semua masalah yang mendadak ini membuat Haerin bimbang.
"Apakah ada sebuah cara untuk memberikan kekuatanmu padaku?" Tanya Ling.
"Ada, tapi caranya cukup aneh." Jawab Haerin, tangan kanannya menggosok-gosok lengan kiri, mata cantiknya melirik ke bawah. "Kau harus meminum darahku."
Ling melengos malas, seolah jengkel. "Apakah keluargamu harus selalu berurusan dengan darah?" Ling mencabut pedangnya, lalu bertanya kepada Haerin. "Bolehkah aku meminum darahmu?"
"Eh, kau serius?"
"Sepenuhnya. Kalau aku bisa memiliki kekuatanmu, kau tidak perlu menjadi seorang kunci. Tapi, walaupun begitu, kau akan tetap dilindungi oleh kami." Jelas Ling. "Bagaimana? Hanya segores luka, dan aku akan mencabut seluruh rasa bimbang itu dari dadamu."
Ling pun menggores tipis-tipis lengan Haerin, dan menjilati setiap tetes darah yang mengalir keluar darinya.
Melihat pemandangan tersebut, Haerin panas dingin.
Merasa aneh, Ling langsung menarik diri, dan menguji coba kekuatan regenarasi yang baru saja ia dapat dengan melukai dirinya sendiri dibagian lengan. "Berhasil." Ucapnya.
"Sungguh?"
Ling mengangguk dengan senyuman. "Ayo kita kembali kepada yang lainnya, mereka sedang menunggumu. Oh, ya. Untuk yang sekarang, tolong jangan menolak lagi, dan tolong jangan bicarakan percakapan ini. Cukup terima dan ikuti semua yang mereka katakan." Tegas Ling. Lelaki itu menarik lembut lengan Haerin, membawa gadis itu keluar dari kamarnya menuju ke meja perundingan.
Wajah Haerin merah merona. Hati perempuan itu berdegup kencang membuatnya merasakan sesak didada. Mendapatkan seluruh perhatian, pengertian, pertolongan, dan air liur dalam waktu bersamaan membuatnya merasa bahwa ia sedang dicintai.
Dan benar kata Ling tadi, lelaki itu bisa mencabut seluruh rasa bimbang yang ada didadanya, tapi ada satu hal yang tidak Ling beritahukan kepada Haerin. Ling tidak memberi tahu, kalau dia akan menggantinya dengan perasaan super duper aneh ini.
__ADS_1
Perasaan yang tidak lain dari perasaan jatuh cinta.
...----------------...
Setelah selesai berunding, mereka dengan segera keluar dari kota untuk menghilangkan jejak sehingga keberadaan mereka tidak mudah ditemukan oleh para Apotheosis yang diutus oleh Malaikat Malthael.
Di lain tempat, Red yang sudah berhasil menyelesaikan misinya kemudian segera menyerahkan mayat seorang anak laki-laki sesuai dengan permintaan sang Malaikat.
Setelah itu, Malthael pun mempersilahkan Red untuk pergi. Sementara mayat anak laki-laki tersebut akan dibawa kesebuah tempat rahasia oleh seorang penjaga.
Namun, Red malah berusaha membuntuti si penjaga secara diam-diam. Karena ia sangat penasaran apa yang ingin si Malaikat lakukan terhadap mayat tersebut.
Dan setelah menuruni banyaknya anak tangga, akhirnya Red pun sampai disebuah tempat rahasia yang tidak pernah ia ketahui sebelumnya.
Tempat gelap yang dikelilingi oleh batu kristal suci. Dan yang lebih mengejutkannya lagi, tempat tersebut ternyata dihuni oleh seekor mahluk yang bernama Faramis, yang dimana mahluk tersebut memiliki kemampuan untuk melahirkan kembali orang yang sudah mati, dan kemampuan Faramis tersebut dimanfaatkan oleh Malthael untuk melahirkan kembali mayat anak laki-laki tersebut.
Sementara itu, Rombongan Silver kini sedang merancang sebuah strategi untuk mencapai penjara neraka putih. Sebab mereka terpaksa harus menempuh rute yang jauh lebih berbahaya karena portal teleportasi antar alam sudah ditutup oleh Vaas atas perintah Malthael sendiri.
Hal pertama yang harus mereka lakukan adalah segera mencari keberadaan Orochi, yakni satu-satunya hewan gaib yang mampu mengantarkan mereka menuju Daratan Sean, yakni daratan dibawah laut dalam. Setelah itu, Mereka kemudian akan berhadapan dengan tiga lapisan pertahanan yang berada disepanjang jalan menuju neraka putih.
Pertahanan pertama, yaitu sekumpulan hewan gaib bernama Bless, yakni penjaga daratan Sean, dan bagian tersebut akan diserahkan kepada Yin Chen, karena Yin Chen memiliki kemampuan untuk menghipnotis mahluk gaib apapun.
Lalu pertahanan kedua, adalah altar darah yang berada di pusat reruntuhan daratan Sean. Altar darah sendiri merupakan sebuah mekanisme gerbang yang hanya bisa dibuka dengan menggunakan aliran darah murni yang mengalir tanpa henti. Dan tugas itu, hanya bisa dilakukan oleh Haerin, yang memiliki kemampuan regenerasi.
Ling mengedipkan matanya kearah Haerin, membuat wanita itu salah tingkah.
Selanjutnya, pertahanan ketiga yaitu gerbang neraka putih. Sebuah gerbang raksasa yang menjadi pintu terakhir yang harus mereka lewati.
Namun, mereka akan memerlukan Hocrux yang sangat banyak untuk membuat gerbang tersebut terus terbuka. Dan tugas itu akan diserahkan kepada Ling beserta Eunchae, karena mereka memiliki kemampuan yang sama dengan Silver, yakni memanggil Hocrux dari bukit gaib.
"Aku dan Feng Lian akan masuk kedalam sana dan membebaskan Gilgamesh. Apakah kalian siap?" Tanya Silver.
__ADS_1
Mereka semua saling tatap, lalu berkata. "Siap!" dengan lantang juga kompak.