
1 Bulan telah berlalu sejak pertempuran besar dihari itu. Semuanya kembali normal seperti ombak yang surut setelah pasang. Drama Apotheosis dihari kemarin terasa seperti mimpi disaat demam, tapi keberadaan Eunchae disebelah Ling pada malam hari ini memperkuat fakta bahwa pertempuran dihari itu benar adanya.
Ling keluar dari kegelapan kamar menginap mereka, dan menatap bulan yang tidak bosan menampilkan dirinya.
Setahun penuh sudah dilewati semenjak kematian Qi Ling, semua sudah berubah menjadi lebih baik.
Pertemuannya dengan Yin Chen kemarin tidak sesuai sama sekali dengan bayangan Ling, dia tidak sempat untuk berbincang bahkan untuk sekedar menyapa rasanya sangat mustahil.
Menyadari perbedaan kekuatan diantara mereka berdua, membuat Ling tersadar akan betapa lemahnya dia dihari itu.
Kekuatan.
Apa itu kekuatan?
Mereka yang memahami makna kekuatan, adalah mereka yang memiliki energi jiwa tertinggi. Jadi, apa itu kekuatan? dan bagaimana kita bisa memahaminya?
Satu ide yang terlintas dikepala Ling, langsung ia simpulkan sebagai jawaban.
"Aku akan kembali mengembara." Kata Ling, saat matahari pagi telah menyinari dunia. Pakaiannya sudah rapi, rambut lembabnya terikat kebelakang, tetapi kumis tipisnya masih disimpan di atas bibir.
"Aku ikut." Sahut Eunchae. Dia langsung beranjak dari kasurnya, dan pergi mengambil pakaiannya. Sementara di sisi lain, Ling sama sekali tidak mencoba untuk menghalangi niat murni dari perempuan itu.
Dikeesokan harinya, Ling langsung menaklukkan suatu dojo di wilayah Chengdu, dan sisanya adalah sejarah.
Ling menjadi satu-satunya pria yang mampu mengalahkan semua dojo dikerajaan selatan, hanya dalam kurun waktu 5 bulan.
Namanya seketika dikenal luas, dan disegani oleh banyak orang. Beberapa ada yang mendatanginya secara langsung, dan mencoba untuk membunuhnya demi ketenaran. Namun, mereka semua berujung tewas karena kesenjangan pengalaman.
Jenggot dan kumis di wajah Ling terus bertambah rimbun seiring dengan keahlian berpedangnya yang terus meningkat. Kisah cinta diantara Ling dan Eunchae juga secara perlahan-lahan terakit dengan waktu, karena keduanya kerap kali bercerita panjang disuatu malam.
__ADS_1
Eunchae mengidolakan keberanian, dan kegigihan dari seorang Ling, sementara Ling sendiri mencintai Eunchae karena kesabarannya, humornya, kesetiaannya, pipi bulatnya, matanya yang sering tersenyum, kelakuaj cerobohnya juga suara tawanya yang sangat imut.
Mereka bertahan hidup dengan cara memburu, dan pada saat itulah, Eunchae akan mengasah kuat-kuat keahlian memanahnya.
Saat sudah mendapatkan seekor rusa, Eunchae akan kembali ke api unggun yang telah dibuat dengan sabar oleh Ling, lalu ia akan beristirahat disebelahnya selama lelaki itu memasak hasil buruan Eunchae dengan sangat terampil.
Eunchae seringkali tersenyum geli saat memperhatikan cara memasak Ling yang tergolong keren. Lelaki itu selalu terlihat serius, fokusnya tidak bisa diganggu gugat dalam melakukan hal sekecil apapun, tapi Eunchae tahu betul kalau hati kecilnya sangat lembut, dan dia sangatlah penyayang juga sensitif.
Di pagi harinya, mereka akan mandi diatas sungai dengan punggung yang berhadapan. Ling, lelaki itu selalu menjaga keistimewaan Eunchae seolah wanita itu adalah harta berharganya. Dia tidak pernah mencoba menyentuh tubuh ramping wanita itu dengan maksud cabul.
Namun disamping kemesraan diantara kedua orang itu, mereka juga pernah berselisih paham. Ling pernah berniat untuk menyingkirkan Eunchae dari hidupnya dengan menyuruhnya pergi agar keselamatannya lebih terjamin, tetapi Eunchae menolak dan memilih untuk tinggal disisinya. Hal tersebut membuat Ling tersadar bahwa dirinya telah dicintai oleh seseorang. Dan setelah itu, keduanya pun bertambah dekat bahkan mesra seperti sepasang kekasih pada umumnya.
...----------------...
Sebulan setelah ketenarannya menggentarkan kerajaan selatan, Ling tidak pernah menemukan hari tanpa bertarung. Dia terus bertemu dengan seorang penantang, dan berujung membunuhnya dalam sekali tebasan.
Di suatu malam, Ling dan Eunchae kembali dipertemukan oleh seorang penantang. Dia berpakain serba hitam, rambut pendeknya dicat putih dan disisir kebelakang. Dia berbeda dengan penantang yang lain. Penantang yang satu ini memiliki energi jiwa seorang murid.
"4 tahun kita tidak bertemu, dan kini kau sudah melupakan wajahku." Lelaki itu membalas tatapan Ling dengan senyuman khas miliknya. "Aku yakin kau juga sedang mencari makna kekuatan, Qi Ling."
Ling tersentak, memori lama seolah menggampar kencang wajah tampannya. Ia kembali teringat, bahwa wajah itu adalah wajah teman semasa kecilnya. "Qi Feng..."
"Kau terlihat tua sekarang. Penampilan itu sama sekali tidak cocok denganmu." Ledek Qi Feng.
Tak lama kemudian, dia menyadari sesuatu. "Kenapa? ada yang ingin kau tanyakan?"
"Pada hari itu... kenapa kau pergi?" Tanya Ling.
"Hari itu?"
__ADS_1
"Hari dimana kita seharusnya pergi menyelamatkan Yue... Kenapa kau pergi!??" Cecar Ling, penuh emosi.
Qi Feng membulatkan mulutnya, lalu tertawa. "Di hari itu aku memang menyelamatkan Yue, Qi Ling. Disaat kau sibuk memuaskan hasrat membunuhmu, aku pergi menyelamatkan Yue!"
Ling menggenggam erat pedangnya, seolah bersiap untuk menebas. Melihat hal tersebut, Qi Feng berkata. "Kenapa? ingin membunuhku juga?"
"Disaat kau sedang bersenang-senang di desa Shengcun, aku di bawa ke kerajaan utara, dan dipaksa menjadi budak bagi mereka." Ungkap Qi Feng. "Aku dipaksa menjadi tentara dari mereka, dan aku dipaksa menjadi pasukan berpedang milik mereka. Aku mencari makna kekuatanku disana, dan sekarang... aku adalah murid dari Caius, Apotheosis ke-2."
"Semua pengorbananku telah terbalas, tapi bagaimana denganmu, Qi Ling?" Tanya Qi Feng.
Ling mencabut pedangnya, lalu menjawab. "Namaku Ling, dari desa Shengcun, pengembara setan dari selatan."
"Hmph... Kalau begitu aku adalah Nero, pemburu setan dari utara." Balasnya, lalu ikut mencabut Hocrux katana yang sama seperti Ling. "Kita memang sudah lama berpisah, tapi selera kita tetap sama."
Nero berlari kearah Ling, lalu melayangkan beberapa ayunan kencang nan mematikan. Ling dengan posisi bertahan, berusaha untuk terus menghindari semua itu, dan mencari satu kesempatan untuk memberikan serangan balasan.
"Matilah!!" Tebasan hitam Nero lesatkan kearah Ling. Namun, lelaki itu berhasil menangkisnya dengan Hocrux perisai yang ia panggil dari bukit gaib. Perisai itu tidak hanya memberikan Ling pertahanan, tetapi juga menyerap serangan itu, dan kembali mementalkannya kepada lawan.
"Apa tujuanmu menemuiku?" Tanya Ling, sambil menjaga jarak.
"Para Malaikat sudah mengecap kalian semua sebagai pengkhianat." Jujur Nero. "Kami akan mulai pemburuan dipagi hari. Nikmatilah harimu selagi mampu."
Nero kembali menyelimuti pedangnya dengan sarung, kemudian pergi meninggalkan Ling sendiri disana. Ling terlihat begitu lemas. Setelah ditantang tanpa akhir, sekarang dia akan diburu oleh seluruh Apotheosis?
"Eunchae!" Panggil Ling.
Eunchae keluar dari persembunyiannya, lalu mendekati Ling dengan langkah kikuk. "Besok, kita akan kembali berperang."
"Hah?"
__ADS_1
"Apotheosis... sepertinya kita telah mengkhianati mereka."