VAGRANT

VAGRANT
Arah yang Berbeda


__ADS_3

Nero berhenti melangkah ketika ingatan tentang Ling terlintas dikepalanya. "Aku sudah membiarkannya hidup untukmu. Sekarang, aku butuh dirimu dan pikiranmu untuk tetap berada di sisiku." Tegur Yeoul sambil memandang picik Nero.


Noel, lelaki kekar berwajah bocah itu tidak menimpali apa-apa. Dia selalu diam dan memperhatikan segalanya. Dia juga selalu di sisi Yeoul, dan tidak pernah berpisah dengannya semenjak kejadian di daratan Sean.


Di atas lengan lelaki itu, terdapat tubuh Haerin yang masih tertidur lemah. Dia tidak bergerak sama sekali, hanya bernafas seiring jantungnya berdetak.


Nero tidak tahu apa yang Yeoul rencanakan dengan Haerin, tetapi lelaki itu tidak berkenan sama sekali untuk mencari tahu bahkan hanya untuk sekedar bertanya dia tidak ingin.


"Kita sudah sampai." Ucap Yeoul.


Mereka kini berdiri di tepi lubang raksasa yang terlihat sangat terjal. Sebuah bola arwah berwarna kelam mendahului mereka, membuat Nero melangkah mundur.


"Kenapa benda itu ada disini?"


...----------------...


Pedang panjang milik Fuxi adalah pedang agung yang bernamakan Excalibur. Pedang itu sangat tajam, hingga mampu menebas atmosfer yang tidak bisa dilihat oleh mata. Namun karena ukurannya yang cukup besar, pergerakan Fuxi jadi terlihat jelas di mata Yin Chen. Biksu itu masih memiliki kesempatan untuk memenangkan pertarungan ini.


Dengan tidak menggunakan energi jiwa, kekuatan sihir milik Fuxi dan Jiang Ziya yang merupakan pengurasan energi jiwa akan jadi tidak berguna.


Oleh karena itu, Yin Chen harus berfokus pada penggunaan Hocrux, dan Hocrux yang Yin Chen miliki adalah Hocrux yang mendominasi pertarungan.


Yin Chen menepuk tangannya tiga kali, lalu melakukan beberapa segel tangan. Tiga bola tasbih yang melayang di sekitarnya pun melesat kearah Fuxi, sementara sisanya merubah bentuk menjadi sebuah boomerang tajam yang mampu memotong segala hal.


Fuxi dipaksa masuk ke formasi pertahanan. Lelaki itu tidak dibiarkan menyerang oleh Yin Chen.


Yin Chen masuk ke zona adu pukul, lalu melayangkan beberapa tinju mematikan. Tinju Yin Chen terasa seperti hantaman besi seberat 1 ton, lelaki itu memiliki fisik yang sangat kuat. Staminanya juga cukup terjaga. Hal tersebut membuat Fuxi kebingungan, bagaimana bisa biksu sekuat ini berada di peringkat 9?


Zirah perak yang Fuxi kenakan jadi hancur berantakan. Lelaki itu bisa mati kapan saja.


"Disaat energi jiwa kita bertabrakan, nasibmu sudah ku tentukan." Ucap Yin Chen, sambil membentuk sebuah segel baru dimana ia meluruskan kedua tangannya kedepan dengan posisi saling bertumpuk. "Ini adalah pertarungan suci, tidak ada yang bisa keluar dari pertarungan ini hidup-hidup."


Energi jiwa Yin Chen tiba-tiba meledak tak terkendali.


Fuxi hendak menguras energi jiwa yang menggebu-gebu itu, namun, bola-bola tasbih yang berterbangan menggagalkan aksinya.


Mereka berbaris, dan merubah wujud kasarnya menjadi sebuah tombak suci. Fuxi yang sudah putus asa pun mati dalam sekali tusuk tepat di jantung.

__ADS_1


"Kau memang kuat, tapi kau tidak percaya pada tuhan."


Di saat yang bersamaan, Eunchae dan Feng Lian dihalangi oleh seorang wanita yakni murid terakhir dari Susanoo yang bernama Nuwa. Wanita itu bersenjatakan pedang runcing dan sebuah Hocrux berupa perisai.


Perisai itu adalah perisai yang sempat Ling gunakan di beberapa pertarungan. Sebuah perisai yang mampu menyerap dan melontarkan kembali serangan milik lawan.


Perisai yang menjadi musuh alami dari panah milik Eunchae, memaksa Eunchae untuk menggunakan energi jiwanya, dimana kekuatan utama Nuwa adalah menguras energi jiwa itu sendiri.


"Rrrahhh!!" Feng Lian mencoba untuk mengerahkan sihir telekinesisnya, namun energi jiwa ditubuhnya sudah keburu diserap habis oleh Nuwa. "Sial."


Wanita itu mendadak rubuh, lalu pingsan. Meninggalkan Eunchae sendiri di pertarungan. Tetapi anehnya, keberadaan Eunchae disana sama sekali tidak dihiraukan oleh Nuwa. Wanita berambut putih itu hanya fokus pada raga Feng Lian yang menjadi target utama dari operasinya.


Merasa kesal, Eunchae melemparkan berbagai macam Hocrux kearahnya. Namun sayang, usaha itu sia-sia karena Nuwa mampu menangkis itu semua.


Nuwa lalu pergi entah kemana, membawa tubuh Feng Lian bersamanya.


...----------------...


Ling terbangun sambil mendesis sebab rasa perih dari kaki kanannya yang tak terkontrol. Ia tidak bisa menggerakan kaki dominannya yang satu itu karena sebuah luka yang cukup dalam pada betis.


Ling meminjam tongkat kayu itu untuk ia pakai selama perjalanannya menuju tepi laut. Ia ingin kembali menemukan kedamaian, hatinya sangat berisik akibat kekalahannya pada hari kemarin, mungkin gemuruh suara ombak akan mampu mengalahkannya.


Saat kembali melintasi hutan di pegunungan, Ling bertemu dengan keluarga rusa yang sedang berjalan bersama sambil memakan rumput.


Entah kenapa, pemandangan tersebut mengingatkannya kepada Haerin.


Apakabar wanita itu? apakah dia baik-baik saja?


Dari kejauhan, Ling sudah bisa melihat garis pantai. Terakhir kali dia melihat lautan, adalah pada hari kematian Silver.


Rasanya seperti bertemu dengan teman lama.


Pada malam harinya, Ling duduk sila di tepi pantai. Matanya terpejam, sambil sesekali mulut kakunya melakukan sebuah percakapan. Ia berbicara kepada lautan, ia berbicara kepada Silver.


"Kau rela membuang nyawamu hanya untuk Gilgamesh. Tapi dimana dia sekarang?"


"Bila saja kau mengetahui kelanjutannya, apakah kau masih rela untuk mati?"

__ADS_1


"Apakah kau akan memuliakan kematianmu?"


"Menyesali kepergianmu?"


"Mencintai pengorbananmu?"


"Atau... membenci kuburanmu?"


"Aku selalu mempertanyakan hal-hal itu saat bertarung, apakah lawanku juga memikirkan hal yang sama?"


"Terkadang aku lupa kalau lawanku juga memiliki hati dan pikiran. Rasa cinta dan rasa takut..."


"Aku pula sering lupa kalau mereka punya seseorang yang di kasihi. Dan kini, orang yang ku kasihi telah direbut, aku tidak bisa apa-apa. Aku merasa sangat lemah."


"Aku merasa seperti pengecut, karena aku juga mencintai musuhku."


"Tapi disaat yang bersamaan, aku juga membencinya."


"Apakah membunuh untuk merebut Haerin kembali kepelukanku merupakan salah satu perbuatan egois?"


Ling membuka mata karena telinga mendengar suara keributan dari arah barat. Api obor yang mereka bawa membuat semuanya semakin jelas bagi Ling.


Saat Ling terfokus pada siluet-siluet itu, ia mampu mendeteksi gempuran energi jiwa yang sangat besar dari arah yang sama. "Siapa?"


Ling terbangun dari duduknya, kemudian melangkahkan kaki tongkatnya seiring dengan kaki kiri.


Rasa penasaran membuatnya terburu-buru. Ia terjatuh karena salah melangkahkan kaki. Hal tersebut ia jadikan pelajaran. Ia kembali mengontrol emosinya, lalu melanjutkan perjalanannya.


Setelah mengikuti sumber energi jiwa itu, Ling menemukan sebuah desa kecil yang berisikan rakyat-rakyat miskin. Bagaimana bisa mereka memiliki seorang warga dengan energi jiwa seperti ini?


Dari balik sebuah dusun, keluar sosok seorang pria tanpa busana dengan rambut pirang diatas kepalanya. Pria itu mengingatkan Ling pada Silver. Tapi jelas itu bukan Silver.


Dia adalah sosok yang lebih kuat.


Sosok gagah yang Ling lihat di hari itu.


"Gilgamesh?"

__ADS_1


__ADS_2