VAGRANT

VAGRANT
Transisi


__ADS_3

Setelah kematiannya diatas gunung Shengcun, Ling pergi meninggalkan masa lalunya, menuju kerajaan selatan, sesuai dengan perintah dari Yin Chen si biksu kekar. Alasan Ia diperintahkan untuk melakukan hal tersebut, adalah sebagai bentuk pengabdiannya kepada tuhan. Ling harus melayani seseorang, membantu banyak orang, dan membentuk sebuah keluarga.


Ling harus menjadi lebih baik dari kehidupan sebelumnya.


Sejak hari itu, semua berjalan dengan mulus. Orang-orang jadi bertindak laku baik kepadanya. Mereka bahkan mau memberikan Ling tempat teduh untuk bermalam. Mengetahui kalau Ling adalah seorang pengembara, mereka dengan rela hati memberikan banyak makanan secara cuma-cuma kepadanya. Banyak gadis yang mengidolakannya, tidak sedikit juga lelaki tua yang menanyakan kemana dia akan pergi dikemudian hari.


Nama Ling dengan cepat menyebar luas kesepenjuru daerah dengan aksi nekatnya, yaitu menantang suatu dojo di ibukota Guiyang.


Ia mampu mengalahkan satu dojo tanpa memberikan luka fatal pada seorang pun, membuatnya mendapatkan sebuah julukan baru dari ibukota Guiyang, yakni "Pengembara setan dari selatan."


...----------------...


Sebuah kedai mie dipinggir jalan, lebih tepatnya diperbatasan Kota Guiyang dan kota Changsha.


Ling masuk kedalam sana dan langsung menuai perhatian dari banyaknya dua mata. Ia duduk disalah satu meja dekat dinding lalu memesan 5 mangkuk mie, karena dia sedang bahagia.


Ia bahagia karena ia diterima dikota ini. Ia juga bahagia karena dojo itu tidak menaruh setitik dendam pun kepadanya. Dojo itu malahan meminta kepadanya, bahkan memohon untuk diajarkan teknik berpedang yang serupa. Teknik berpedang yang mampu menciptakan kedamaian, katanya.


Kota ini mencintainya, kota ini menyukainya. Tetapi, kota ini bukanlah tujuannya. Ling harus terus bergerak, ia harus menuju kerajaan selatan yang dipimpin oleh seorang raja, teman dari Yin Chen, bernamakan Sun Jian.


Yin Chen berkata, kalau Ling akan langsung menjadi seorang jenderal bila datang ke sana. Kekuatan, serta keahlian yang dimiliki Ling sudah diakui oleh kerajaan itu, membuat Ling semakin tak sabar untuk segera menaruh kaki bersihnya diatas sana.


Saat Ling sudah selesai melahap 5 mangkuk, suara ledakkan dari luar kedai mengejutkan satu ruangan. Kobaran api membakar dinding kedai yang terbuat dari kayu dan jerami, membuat para pengunjung serta penjaga kedai pun lari ketakutan dari ruangan tersebut, meninggalkan Ling sendirian didalam sana.


"'Apa yang sebenarnya terjadi?" Batin Ling, sekeluarnya dari dalam ruangan penuh asap yang mengebul keudara.


Orang-orang dilihatnya saling mendorong akibat dirasuki oleh setan ketakutan dan kepanikan. Mereka bukanlah diri mereka yang sebelumnya, mereka rela meninggalkan anggota keluarga sendiri, demi keselamatannya secara individual.


Hal tersebut mengingatkan Ling kepada Qi Ling si remaja egois. Dan hal itu membuat Ling kesal dan marah.


Ia menatap langit, dan terlihat samar-samar, sebuah pertarungan mematikan yang dilakukan bukan oleh manusia, melainkan oleh mereka semua yang berada diatas.


Mereka yang dikatakan memiliki kekuatan sejati.


"Jangan diam! Lari!" Seorang perempuan menarik lengan Ling dengan lembut, dan membawanya pergi dari tempat itu ke suatu tempat yang aman.

__ADS_1


"Apa yang sebenarnya terjadi?"


Perempuan itu terlihat sedang menjawab pertanyaannya, tapi Ling seperti tidak bisa mendengar sepatah katapun. Ledakan terlalu berisik, teriakan parau para warga membutakan telinganya.


Kerusuhan pada hari itu, adalah kerusuhan yang luar biasa. Sesuatu yang tenang dan sunyi, bisa saja berubah kapanpun dan dimanapun.


Ling terlalu tenang, dia tidak waspada.


Ling yakin kalau ini hanyalah sebuah kesalahan yang bisa di hindarinya bila saja dia waspada.


"Lewat sini!"


Ling dibawa kesebuah hutan gelap. Sepertinya Ling diajak untuk bersembunyi. Tetapi Ling yang masih penasaran pun bertanya tentang hal yang sama untuk kedua kalinya. "Aku tidak mendengarmu sebelumnya, apa yang sebenarnya terjadi diluar sana?"


Perempuan itu melirik Ling, lalu menjawab. "Kujelaskan nanti. Kita harus pergi dari sini! sekarang!"


"Tapi aku harus mengunjungi kerajaan selatan!"


"Percayalah padaku, kerajaan selatan adalah tempat terakhir yang ingin kau datangi!"


...----------------...


Silver dan Red adalah anggota kelompok Apotheosis dengan tingkat yang berbeda. Silver tingkat 8, sementara Red tingkat 6.


Mereka berkelahi karena dugaan pengkhianatan.


Perempuan yang menyelamatkan Ling kemarin bernama Eunchae, dia adalah seorang murid.


Guru dari Eunchae adalah Silver.


"Aku tidak mengerti." Jujur Ling, yang sedang berjalan membuntuti Eunchae. Mereka sedang berjalan menyurusi hutan.


"Mehh, dengan penampilan seperti itu, aku juga tidak berharap kau bisa mengerti." Balas Wanita berambut hitam panjang bergelombang, dengan model poni yang dibelah tengah itu. Dia membawa sebuah busur berwarna biru es, tanpa mengikut sertakan anak panahnya.


"Untuk apa membawa busur?" Tanya Ling.

__ADS_1


Eunchae melenguh, lalu membalas. "Kau pikir?"


"Kau sama sekali tidak membawa anak panah." Jelas Ling. "Maka dari itu aku bertanya, untuk apa membawa busur?"


Eunchae melirik busurnya, lalu berkata."Busurku tidak memerlukan anak panah, tapi mereka tetap bekerja." Melihat raut wajah kebingungan yang terpapar dari Ling, membuat Eunchae melanjutkan perkataannya. "Aku tau ini semua membingungkan untukmu, tapi tenang saja, guruku akan menjelaskan semuanya secara rinci."


Ling terdiam, lalu bertanya sekali lagi. "Gurumu itu seperti apa?"


Eunchae membayangkan rupa gurunya, lalu menjawab. "Dia selalu berpakaian eksotik. Rambutnya pirang, tubuhnya tegap. Dia cukup kuat, tapi aku ragu dia bisa bertahan sendiri."


"Kau meragukan gurumu?" Sahut Ling.


"Ada sebuah alasan mengapa dia di peringkat 8." Jawab Eunchae, mendadak terlihat lesu. "Dia bisa saja mati kemarin."


Merasa iba, Ling terus diam selama perjalanannya menuju sungai kuning. Wanita itu lalu lanjut bercerita tentang kisah hidupnya, yang menurut Ling sendiri, sangatlah tidak masuk akal.


Hong Eunchae berasal dari kerajaan Utara, kebetulan orangtuanya adalah pemilik dari tempat pelatihan Kyudo yang sangat terkenal pada zamannya, membuat gadis itu ahli dalam memanah secara alamiah. Suatu hari, sekelompok tentara datang kerumahnya, lalu membunuh orangtuanya dengan sadis karena dugaan pengkhianatan pada loyalitas kerajaan utara. Eunchae pun dilarikan oleh pamannya ke kerajaan Selatan, agar keselamatannya lebih terjamin.


Beberapa tahun setelah insiden itu, Eunchae bertemu dengan Silver yang berkata padanya, bahwa, Eunchae adalah manusia yang terpilih menjadi salah satu muridnya.


"Aku mendapatkan busur ini dari bukit gaib." Ungkap Eunchae dengan senyuman diwajahnya.


Ling tanpa sadar ikut tersenyum. Senyuman Eunchae memang terkenal mempesona.


"Ah, kita sudah sampai." Celetuk Eunchae. "Oh, ya. Terimakasih sudah menjadi pendengar yang baik."


Ling mengangguk, lalu menyusul Eunchae yang sudah lebih dulu berlari menuju sungai kuning yang sudah terlihat depan mata.


"Guru!!!" Panggil Eunchae.


Byarrr


Sesosok pria tanpa busana keluar dari bawah air, menampilkan urat-urat bercahaya emas dibelakang punggung mulusnya, dan menampakkan rambut pirangnya yang elegan. "Eunchae?" Lelaki itu menoleh kearah Eunchae yang masih berlari, lalu kearah Ling yang sedang terpana.


"Kau berhasil, dengan begini, semua sudah terkumpul." gumamnya.

__ADS_1


__ADS_2