
Dua puluh hari setelah kematian Silver, semua berlalu dengan sangat cepat. Tapi Gilgamesh, si mantan Apotheosis ke-1 negeri air itu tidak kunjung terlihat lagi diatas permukaan air. Lelaki itu hilang seperti embun dipagi hari. Aura jiwanya lenyap seolah ditelan bumi. Kemanakah dia pergi?
Kehancuran daratan Sean juga ternyata menghasilkan sebuah ledakan energi jiwa yang sangat amat besar. Hal tersebut memberikan sebuah reaksi tersendiri kepada banyak hewan gaib, dan membuat mereka semua berevolusi menjadi sesuatu yang lebih kuat.
Dalam kasus Orochi, hewan gaib tersebut terduplikat menjadi 8, dan terpencar di beberapa titik di atas negara air, bahkan kerajaan utara.
Mereka memberikan ancaman yang sangat besar bagi negara air, membuat Ling dan teman-temannya merasa sangat bertanggung jawab atas semua itu.
Mereka pun dibagi menjadi dua tim.
Ling, Eunchae, dan Haerin akan pergi ke kerajaan utara. Karena dilihat dari segi bahayanya, kerajaan utara masih lebih rendah dibandingkan kerajaan selatan yang sekarang.
Yin Chen beserta Feng Lian akan pergi ke kerajaan selatan, dan mereka akan bergerak melalui udara agar memperkecil kemungkinan untuk bertarung dengan Apotheosis.
Berbalik dengan Ling dan teman-temannya, mereka harus berjalan diatas tanah untuk menghindari pantauan udara milik Yeoul dan Frost.
Mengenai Nero, Noel, dan Yeoul. Kini mereka bertiga telah menjadi Apotheosis peringkat 2, dan seringkali disebut sebagai trinitas. Mereka memiliki jumlah murid yang sangat banyak, sehingga mampu disebut sebagai pasukan.
Sementara Frost dan Dusk sendiri, mereka kembali hidup diatas bumi dengan bantuan dari Faramis.
Selain itu, Red dan Caius juga telah dijatuhkan kepenjara suci. Yin Chen yang melihatnya dengan mata kepala sendiri. Kemudian bercerita kepada Ling kalau mereka seharusnya dieksekusi di daratan Sean, tetapi sang Malaikat tiba-tiba mengurungkan niatnya setelah Caius mengancam jika dirinya dan Red mati, maka keempat utusan yang sudah ia siapkan akan langsung menyebarkan rahasia Malaikat Malthael kepada 4 negeri lainnya.
Rahasia Malaikat Malthael, adalah rahasia yang hanya diketahui oleh Red, Caius, dan Yeoul. Maka dari itu, setelah semua masalah yang bersangkutan dengan Orochi telah berakhir, Ling dan teman-temannya akan menargetkan perempuan itu dan memaksanya untuk membuka mulut.
...----------------...
Selama perjalanan mereka menuju kerajaan utara, Eunchae terlihat muram. Perempuan yang biasanya selalu melempari lelucon receh dan menertawainya sendiri kini sangatlah diam dan hening seperti batu yang berjalan.
__ADS_1
Perempuan itu selalu berada di posisi paling belakang, menjaga jarak dengan yang lain, dan kepalanya tertunduk kebawah.
Berbeda dengan Haerin. Perempuan itu selalu berusaha untuk tetap komunikatif, walau biasanya dia berhenti ditengah percakapan karena malu dan merasa terlalu cerewet. Selain matanya yang mirip kucing, perilakunya juga sama persis seperti hewan peliharaan itu. Pemalu, tak terduga, sering meniru, butuh perhatian, kadang menyebalkan, selalu penasaran, tetapi tetap tenang. Gadis itu membuat Ling merasa tertarik dengan pola pikirnya.
Dia selalu berjalan ditengah-tengah Ling dan Eunchae, kadang menempel dengan salah satu dari mereka, dan sering sekali celingukan juga mempertanyakan banyak hal.
Ling yang memimpin pergerakan mereka bertiga hanya bisa menghargai keduanya. Bila Eunchae tidak ingin diajak bicara, maka Ling akan memberinya ruang. Bila Haerin ingin mengajaknya bicara, bercanda, maka Ling akan ikut tertawa bersamanya.
Ling harus menjaga kekompakkan mereka, tanpa membuat mereka menyadari akan hal itu.
Sekarang, Haerin adalah murid dari Yin Chen. Hal tersebut dikarenakan oleh kebutuhan mereka terhadap satu pengendali hewan dimasing-masing tim yang berfungsi untuk mempercepat pemburuan hewan ular raksasa yang tidak lain dari Orochi.
Haerin mendapatkan Hocrux berupa kain dewi, sama seperti Yeoul. Bedanya, Haerin mendapatkan Hocrux itu dari Eunchae, bukan bukit gaib.
"Jadi aku hanya perlu mengaktifkan kain ini, dan menghipnotis ular itu dari dalam kain?" Tanya Haerin.
Lelaki itu lalu pergi kedalam kamarnya, meninggalkan Haerin sendiri di lorong penginapan. Gadis itu tersenyum imut, kegirangan. Dia merasa senang karena akhirnya, setelah sekian lama, dia akan percaya lagi oleh seseorang.
Ia masuk kedalam kamarnya, yang juga merupakan kamar Eunchae, la merebahkan diri diatas kasur tipisnya, lalu menoleh ke arah Eunchae. "Kamu masih belum ingin bercerita?" Tanya Haerin, sebelum tidur.
"Berhentilah berpura-pura. Aku tahu kalian tidak peduli." Jawab Eunchae, ketus.
Mendapatkan perlakuan seperti itu selama berhari-hari, Haerin mulai sadar: "Menurutmu, aku menyebalkan, ya?" Tanya Haerin, lagi. "Maaf, ya. Aku tidak berniat sama sekali untuk membuatmu sebal. Aku sebenarnya hanya berniat untuk berteman denganmu, kak Eunchae. Itu saja, kok."
Eunchae melirik kearah gadis itu, lalu kembali membelakanginya.
"Aku ingin mengenal kak Eunchae, aku juga ingin bertukar cerita dengan kak Eunchae. Karena menurutku, kita seharusnya bisa dekat." Jujur Haerin. "Dibandingkan dengan Nona Feng Lian, aku lebih ingin dekat dengan kak Eunchae."
__ADS_1
Mendengar curahan hati perempuan pemalu itu, Eunchae pun membalik badannya, dan menghadap Haerin. "Kau ingin dekat denganku?"
Haerin mengangguk.
"Ingin mendengar cerita-ceritaku?"
Haerin mengangguk lagi.
Eunchae pun tersenyum tulus, lalu mendekati Haerin dan memeluknya dengan sangat erat. Wanita itu jelas lupa, kalau dirinya bukanlah satu-satunya orang yang ditinggal pergi oleh orang yang dikasihi. Wanita itu jelas lupa, kalau Sun Haerin juga bernasib sama sepertinya.
Daripada mendiamkannya dan bersikap cuek seperti dihari kemarin, seharusnya mereka bertingkah laku seperti adik kakak, bukan?
Eunchae kemudian bercerita kepada Haerin diatas kasur lipat yang sama. Mereka menangis bersama, dan tertawa bersama. Lalu disaat giliran Haerin bercerita, wanita itu suka malu-malu sendiri, padahal dia yang meminta situasi seperti ini.
Eunchae pun menggelitikinya, membuat wanita itu lupa akan rasa malu, dan mulai bercerita dengan lepas.
Mereka kemudian tertidur pulas, dengan bahu yang saling bersentuhan.
Di sisi lain negara air, Yin Chen dan Feng Lian baru saja membunuh salah satu Orochi. Dengan strategi: Yin Chen menghipnotisnya, dan Feng Lian meremasnya dengan sihir telekinesis hingga hancur.
Namun, semua tidak berakhir semudah itu. Tubuh raksasa milik Orochi tiba-tiba menyusut oleh sihir hitam, dan merubah bentuknya menjadi sesosok manusia ular.
"Apa-apaan ini?" Tanya Feng Lian, ketika merasakan energi jiwa yang meningkat drastis dari Orochi.
"Feng Lian, awas!!"
Sebuah sinar laser terpancar dari tangan Orochi, dan hampir saja melubangi tubuh Feng Lian. "Gawat, ini benar-benar gawat!!!"
__ADS_1
"Dampak kehancuran daratan Sean pada Orochi memiliki beberapa fase, dan sepertinya ini adalah fase ketiganya." Jelas Yin Chen, sebelum mencoba untuk menghipnotis mahluk itu. "Kita harus mengakhirinya disini, sebelum dia menjadi ancaman baru bagi dunia!"