VAGRANT

VAGRANT
Terikat Dengan Waktu


__ADS_3

Setelah dipukuli oleh warga desa, Qi Ling terbangun dengan posisi yang sangat memalukan. Tubuhnya di biarkan menggantung diatas udara, rambut panjangnya terjatuh kebawah, sejajar dengan kaki. Tangannya ikut terikat dibelakang pinggul, ia tidak diberi makan, seolah biksu itu ingin Qi Ling mati secara perlahan.


Biksu itu sesekali keluar dari kuil untuk menonton Qi Ling yang masih menggantung.


"Biksu sialan, kenapa kau tidak membunuhku?" Batin Qi Ling.


"Hmm, jadi kau masih hidup?" Ujar Yin Chen.


"Bunuh aku." Batin Qi Ling. "Selesaikan ini dan bunuh aku!!"


Yin Chen pergi meninggalkan Qi Ling, lalu masuk kedalam kuil. "Kenapa kau mempermalukanku?"


"Bunuh atau di bunuh. Tebas semua orang dan mati dalam pertempuran mematikan. Itulah aku. Aku selalu siap untuk menerima konsekuensi itu. Jadi tolong, bunuh aku!!"


Tetesan air dari langit yang menangis memaksa kedua burung gagak yang sedari tadi mengelilingi Qi Ling terbang menjauh mencari tempat untuk berteduh. Hujan semakin deras. Rasa kasihan Chou Yu membuat wanita itu ingin pergi keluar sana untuk menemui Qi Ling. Saat pintu triplek hendak digeser, Yin Chen datang dan menahan Chou Yu lalu menariknya kedalam.


"Aku kan sudah bilang; jangan pergi kesana." Tegasnya.


"Tapi diluar hujan."


"Chou Yu..." Yin Chen mengulur gadis itu masuk ke dalam sebuah ruangan. "Kalau kau melihat Qi Ling tergantung di atas pohon, kau pasti ingin melepasnya, bukan?"


Chou Yu mengangguk pelan, membuat lelaki didepannya menlengus dan tersenyum. "Maka dari itu, kau tidak diperbolehkan untuk pergi keluar sana."


"Aku merasa telah membohonginya." Jujur Chou Yu.


"Tapi Qi Ling tidak merasa seperti itu."


Di tengah hujan yang sangatlah deras pada hari itu. Qi Yuan, wanita paling disegani di desa, menatapi Qi Ling yang sedang tergantung di atas pohon dengan tatapan yang memilu.


"Ini membawa banyak kenangan, bukan?" Tanya Qi Yuan, lalu menyeka air matanya.


Dulu, di usianya yang muda, Qi Ling selalu memanjat pohon beringin didepan rumah, membuat Qi Yuan selalu memarahinya karena khawatir dia akan terjatuh.


Sekarang, Qi Ling tak akan terjatuh, tapi Qi Yuan tetap berdoa agar anak itu cepat turun dari atas sana.


"Dingin sekali, dingin membeku. Semoga saja besok kita masih bertemu." Pamit Qi Yuan.


Esoknya, di pagi hari yang cerah, perempuan itu benar-benar datang kembali. Ia sempat ketakutan karena Qi Ling terlihat begitu lemah, namun lelaki itu mengeluarkan air kencingnya, tepat sebelum Qi Yuan melapor pada Yin Chen. "Syukurlah." Sahut Qi Yuan.


"Biksu sialan... keluarlah kemari dan akhiri semua ini."


Yin Chen diam didepan pintu kuil, sekali lagi hanya diam dan memperhatikan Qi Ling yang sedang dilempari batu oleh warga desa.

__ADS_1


"Bagaimana aku bisa berakhir seperti ini?" Batin Qi Ling.


Kau adalah orang terlemah didesa ini.


"Tidak. Itu tidak benar. Aku tidak pernah kalah pada siapapun. Aku... aku hanya ingin menjadi lebih kuat. Aku hanya ingin bertemu ibu sekali lagi, dan memperlihatkan padanya, seberapa jauh aku telah berkembang. Aku harus menjadi lebih kuat, aku ingin menjadi kuat agar aku tidak perlu bergantung pada orang lain.


Ya... Aku akan menjadi lebih kuat, dan aku akan menjadi pria terkuat diantara 2 kerajaan.


Itulah mengapa aku pergi berperang.


Tapi kenapa...?


Kenapa aku berakhir seperti ini?"


Suara perempuan yang sedang menggerutu kesulitan dibawahnya, membangunkan Qi Ling dari alam mimpi. Perempuan itu adalah Chou Yu, dia sedang berusaha memberikan Qi Ling sebuah makanan hangat berupa kentang, menggunakan sebuah tongkat bambu sebagai pengantar.


"Makanlah, Qi Ling." Mohon Chou Yu. "Yin Chen melarangku untuk melepasmu."


"Ja-- Jangan--" "Jangan pedulikan aku, Chou Yu."


"Kalau kau tidak makan, kau akan mati." Terang Chou Yu, sebelum mendorong bambunya lebih tinggi. Namun, ditengah jalan, keseimbangannya menghilang. Kentang yang ditaruh di ujung bambu pun terjatuh, dan tongkat itu berujung menghajar wajah Qi Ling dan meninggalkan luka memar.


"Maaf! Maafkan aku Qi Ling!" Mohon Chou Yu. Suaranya yang lantang, membangunkan Yin Chen dari tidurnya, dan membuat lelaki berkepala gundul itu pergi keluar kuil untuk mengecek apa yang terjadi. Saat Yin Chen menaruh matanya pada pohon Qi Ling, Chou Yu sudah menghilang dari sana.


Tanpa peduli, Yin Chen kembali masuk kedalam kuil sambil bersiul-siul seolah gembira.


"Tolong, bunuh aku..."


Di pagi hari, sama seperti biasa. Qi Yuan datang menjenguk sambil menangis. Di siang dan sore hari, Beberapa kepala keluarga datang untuk menghukum Qi Ling dengan melemparinya batu kecil, atau memukulinya dengan tongkat bambu. Menjelang malam, Yin Chen keluar dari kuilnya, dan menghampiri Qi Ling untuk pertama kalinya setelah sekian lama.


Qi Ling yang sudah tidak tahan lagi mulai merenta-renta. Matanya marah, dan dia memohon dengan serius. Dia berteriak tidak jelas, seolah memarahi Yin Chen yang telah membiarkannya terus hidup dengan ditemani banyak siksaan.


"Hebat-hebat, kau masih memiliki sisa kekuatan?" Ujar Yin Chen.


Qi Ling muntah. Tenggorokan, perut dan kepalanya terasa sangat sakit setelah itu.


"Kamu akan mati kalau tidak menghemat energimu." Ingat Yin Chen.


"Mengapa kamu tidak membiarkanku mati sebagai prajurit? Aku tidak takut dengan kematian!" Batin Qi Ling. Giginya menggertak kencang, nafasnya tergesa-gesa.


"Kau pasti bosan dengan pemandangan dari atas sana." Ucap Yin Chen. Tangannya terlipat kedepan, seolah menghakimi. "Jadi mengapa kau tidak memandang baik-baik dirimu sendiri?"


Mendengar itu, Qi Ling terdiam. Ia mencoba memejamkan mata, untuk memandang dirinya sendiri. "Biksu sialan. Ada apa selain kegelapan?"

__ADS_1


Setelah perginya Yin Chen, Chou Yu datang menghampri sambil membawa sebuah kentang dan sepotong bambu panjang yang saat siang tadi dijadikan senjata untuk memukuli Qi Ling.


"Untuk sekarang, kita akan melakukannya dengan benar." Ucap Chou Yu. "Aku akan membawa kentang ini keatas sana. Tapi kau juga harus berusaha untuk menerimanya."


"Buka mulutmu lebar-lebar, supaya kentang ini bisa kau lahap." Pinta Chou Yu.


Qi Ling yang awalnya malu-malu, akhirnya membuka mulut selebar mungkin. Chou Yu tersenyum bahagia setelah menyadari, bahwa Qi Ling masih memiliki keinginan untuk hidup.


Namun rasa bahagia itu, membuatnya melakukan sebuah kesalahan dan berujung menjatuhkan kentang itu untuk kedua kalinya.


"Maaf. Tapi besok. Besok kita akan melakukannya dengan benar. Oke?"


Yin Chen yang baru selesai mandi pagi tertawa terbahak-bahak, ketika melihat Qi Ling yang sedang dikeremuni oleh burung gagak. "Dengarkan gagak itu." Titah Yin Chen. "Seolah-olah mereka memohon padamu untuk segara mati, bukan?"


Qi Ling mendelik kaget, air ludahnya mengalir keatas wajah.


"Jadi kau ingin mati dengan terhormat? Kematian seorang prajurit? Hmph! Kau egois." Ucap Yin Chen. "Setiap orang yang kau bunuh memiliki hidupnya sendiri. Entah hidup itu diberkati atau tidak, semua orang lahir ke dunia ini, dan mereka tumbuh dewasa. Beberapa orang menyadari hal tersebut dan mereka memilih untuk memiliki keluarga, tapi beberapa juga tidak sadar dan memilih untuk hidup sendiri didunia ini. Beberapa dari mereka memiliki anak, beberapa bertunangan. Beberapa memiliki peliharaan. Beberapa dari mereka memiliki harapan tinggi dan mimpi yang bagus, beberapa dari mereka juga ada yang tidak memiliki ambisi sama sekali."


"Kau mengakhiri semua itu untuk mereka, Qi Ling. Kau membunuh mereka." Ucap Yin Chen. "Apa yang memberimu hak istimewa untuk memilih kapan dan bagaimana kau ingin mati?"


"Mati dengan terhormat? Kau pikir kau siapa, Qi Ling?" Tanya Yin Chen. "Kau merebut hidup yang lainnya hanya untuk keselamatanmu sendiri, dan sekarang kau ingin mati terhormat? kau hanya egois!"


Rentik air hujan kembali turun. "Hujan yang manis." Sahut Yin Chen. "Surga tidak membiarkanmu mati kekeringan dibawah matahari. Mereka tidak begitu pemaaf."


Yin Chen pamit, meninggalkan Qi Ling yang sedang menangis tak henti-henti.


Qi Yuan datang berkunjung seperti biasa. Kali ini dia membawa sebuah pisau tajam bersamanya, pisau yang dulu ia gunakan untuk mencoba membunuh Qi Ling dengan tangannya sendiri.


"Bagaimana mungkin kau masih hidup, Qi Ling?" Gumam wanita itu. "Tergantung memalukan diatas pohon."


"Basah kuyup oleh hujan, hangus oleh matahari, kencing kering di kakimu, dan kau masih hidup, dengan keras kepala kau bertahan– seolah-olah kau memilki tujuan yang lebih tinggi, tapi kau semakin kotor dan semakin sengsara dari hari ke hari." Tutur Qi Yuan. "Jika surga dan neraka itu nyata, pembunuh seperti mu dan pengkhianat seperti Qi Feng telah dikutuk. kalian ditakdirkan untuk pergi ke neraka, dan jika memang ditakdirkan seperti itu, maka biarkanlah aku mengirimmu kesana dan mengakhiri penderitaanmu didunia ini."


Qi Yuan memotong tali Qi Ling, membuat lelaki itu terjatuh ketanah dengan sangat lemah. Saat Qi Yuan hendak membunuh Qi Ling, badannya bergetar sangat hebat. Dia menjatuhkan pisau dalam genggamannya, lalu membuka pakaiannya untuk memberikan susu kepada lelaki yang tengah terbaring itu.


"Minumlah." Pinta Qi Yuan.


Qi Ling meraih susu itu, dan menyedotnya dalam-dalam.


Dia ingin hidup.


Yin Chen yang menyaksikan kejadian tersebut hanya tersenyum dalam diam. "Kasih sayang ibu memang melebihi segala-galanya."


Saat Qi Yuan menyadari keberadaan Yin Chen, dia dengan segera memohon ampun kepadanya agar Yin Chen mau mengampuni nyawa Qi Ling.

__ADS_1


"Aku tidak menaruh dendam pada Qi Ling, aku hanya mengikuti jalan Buddha."


__ADS_2