VAGRANT

VAGRANT
Kematian


__ADS_3

Warga desa Shengcun dikejutkan dengan menghilangnya burung gagak di atas kuil. Tali yang menggantung anak iblis itu terpotong oleh pisau, dan Biksu Yin chen sudah tidak ada di sana.


Apakah Qi Ling sudah mati?


Kabar melesat dengan cepat dari bibir ke bibir, dan Qi Yuan, sang tante, hanya diam dirumahnya tanpa menjawab ataupun ikut mempertanyakan hal tersebut.


Rumah keluarga Qi seketika diramaikan oleh para warga, mereka sangat ingin melihat tubuh Qi Ling yang sudah tidak bernafas hanya untuk sekadar memastikan.


Mereka merasa kalau hukuman yang diberi belum setimpal, Qi Ling harus terus tersiksa, walau mati pun jasadnya harus tetap disiksa. Mereka dendam dengan lelaki itu. Mereka dendam dengan iblis.


Yin Chen menapakkan kakinya diatas dedaunan hutan yang rindang. Diatas punggungnya terdapat tubuh seorang pria muda yang terlihat sangat kotor. Dia adalah Qi Ling, dan mereka sedang menuju puncak.


"Kau sangat berat." Ucap Yin Chen. "Aku akan membiarkanmu memilih dimana kau ingin mati."


Setibanya diatas gunung Shencun, Yin Chen terpana."Jadi disini kau ingin mati?"


"Kamu memilihnya dengan baik. Desa Shengcun terlihat indah dari atas sini." Puji Yin Chen. "Air dari desa Shengcun sangat bagus, air itu akan kembali menyegarkan tubuhmu yang layu."


"B-Bunuh aku..." Bisik Qi Ling. Tubuhnya masih terikat.


"Oh, suaramu sudah kembali. Tapi aku masih kesusahan untuk mendengarnya." Celetuk Yin Chen. Kini dia mendekatkan telinganya untuk bisa mendengar lebih baik.


"Bunuh aku. Biksu sialan."


"Apakah itu keinginanmu?"


"Memangnya apalagi yang aku mau?" Balas Qi Ling.


Yin Chen menatap Qi Ling iba, lalu berkata. "Bayangan gelap melintas di wajahmu, Qi Ling."

__ADS_1


"Matamu terlihat sangat gelap, kesepian, dan kesakitan." Lanjut Yin Chen. "Kamu menebas banyak orang, dan pada akhirnya, kau akan tertebas. Itukah yang kau mau?


"Benar."


"Maka kau telah menjalani hidup sepenuhnya, Qi Ling. Kenapa kau tidak tersenyum?" Tanya Yin Chen. "Kau harusnya bersuka cita, kau akan mati sekarang.


Qi Ling membuang pandangannya kearah samping, membuat Yin Chen terpaksa menggampar wajahnya dengan kencang.


"Umumkan dirimu kepada dunia dengan penuh kebanggaan!" Seru Yin Chen. "Aku menebas semua orang yang berada disekitarku!! dan sekarang aku akan dibunuh oleh biksu sialan yang cerewet ini!!"


"Aku menjalani hidupku seperti yang aku inginkan!! Aku mempunyai hidup yang indah!! ini adalah hidupku!! ini sangat memuaskan!! ha ha ha!!"


"Coba katakan itu." Tantang Yin Chen.


"Bunuh aku!! bunuh saja aku!!" Mohon Qi Ling.


Beberapa pukulan lain datang menyusul, dan Qi Ling menerima semua itu dalam diam. "Kau mati!!"


Setiap pukulan yang mengenai wajahnya, membawa masuk kilasan memori kedalam pikirannya.Dia teringat dengan pasukan musuh yang pernah menghalangi jalannya, dia juga teringat dengan warga desa. Tapi apakah Qi Ling mengenal mereka? Kenapa Qi Ling membunuh mereka? Apakah karena tujuan yang mulia?


"Kau mati!!" Pukulan terakhir dari Yin Chen terasa sangat sakit. Qi Ling tidak bisa melawan. "kalau kau merasa puas dengan hidupmu, umunkan lah pada dunia, dasar bodoh!!".


"Kau menyebut dirimu sebagai seorang biksu?" Tanya Qi Ling.


"Tidak, aku adalah seorang yang sialan dan bodoh." Jawab Yin Chen, lalu memutar balik badannya untuk kembali menenangkan hati. Dia mulai bercerita, namun Qi Ling tidak mendengarkan. Lelaki itu malah berdiri, lalu mulai membenturkan kepalanya kebatu besar yang terduduk diam diatas sana.


Suara bercak darah yang berisik membuat Yin Chen menoleh. Wajah Qi Ling dipenuhi darah, tetapi pria itu ingin membawa masuk lebih banyak memori. Dia ingin kembali melihat.


"Untuk apa aku dilahirkan?" Batinnya. "Untuk apa aku dilahirkan jika hanya untuk ditelantarkan, dijauhkan, ditakuti, dan dibenci oleh semua?!!"

__ADS_1


Ia mulai melihat wajah ibu kandungnya, juga wajah ayahnya yang menakutkan, serta semua orang yang ia tebas sampai mati.


"Bunuh aku!! aku adalah anak iblis yang berhak mati!!"


Sebuah tangan berjemari kekar menahan kepala Qi Ling dari benturan kencang, lalu merebahkan badan Qi Ling dengan paksaan. "Maukah kau membuang nyawamu, Qi Ling?" Tanya Yin Chen. "Maukah kau membuang segalanya, bahkan dirimu yang dulu?"


Dahi Qi Ling berkerut. Kenangannya bersama Qi Feng seketika mengalir deras dikepalanya. Belaian lembut Qi Yuan sebelum tidur, dan pelukan dari Chou Yu dimalam itu. Perasaan gugupnya sebelum pergi berperang di provinsi Xu, rasa senangnya saat pertama kali memburu seekor rusa, perasaan lega setelah selesai mencuci pakaian, semua hal-hal mudah yang membuatnya merasakan makna kehidupan yang sebenarnya, semua kenangan kecil itu kini menerjang kepala Qi Ling yang bersimbah darah.


"Apakah layak? Apakah kehidupan yang penuh amarah dan pembunuhan benar-benar terhormat, Qi Ling?"


"Tidak. Tidak sama sekali." Ucap Yin Chen. "Hidup itu bukan untukmu."


"Benarkah, Yin Chen?" Batin Qi Ling. Ia mulai terisak dan menangis dalam diam. "Apakah aku benar-benar layak untuk hidup?"


Ikatan waktu dan ikatan kebencian yang selama ini mengikat Qi Ling dengan kebencian telah dilepas, bersamaan dengan terputusnya tali yang mengikat erat tubuh Qi Ling secara fisik.


"Tidak ada cahaya untuk mereka yang tidak mengetahui kegelapan. Hiduplah, bertahan dalam bayangan, dan niscaya, cahaya akan datang menghampirimu."


"Qi Ling!!" Panggil Chou Yu, yang sedang berlari kearahnya dari dalam hutan gelap. "Kenapa kepalamu bocor?'" Tanya perempuan itu, ketika mendapati perban putih yang terikat dikepala Qi Ling.


"Qi Ling mati hari ini, ditempat ini." Jawab Yin Chen. "Hanya itu yang perlu diketahui penduduk desa Shengcun, terutama pihak berwajib. Tapi jangan pernah lupa dengan darimana kau berasal, tempatmu bertumbuh besar. Bawa sebagian dirimu yang sekarang di dalam hati kecilmu."


"Baiklah, aku mengerti." Balas Qi Ling.


"Sekarang tentukan namamu." Pinta Yin Chen. "Tentukan namamu, dan hiduplah kembali."


"Ling. Nama Ling akan tetap ku pakai. Karena aku suka dengan nama itu." Jawabnya.


Yin Chen tersenyum. "Baiklah, Ling. Tolong, jalani hidup keduamu dengan benar dan tehormat." Mohon Yin Chen.

__ADS_1


__ADS_2