Vampirewolf

Vampirewolf
To be Unmate? Let's do it!


__ADS_3

Ralissa diam sejenak ketika Arion sudah menjalankan mobilnya.


"Kak." Panggil Ralissa.


Arion menoleh sekilas. "Apa?" Balasnya lalu kembali melihat ke depan.


"Setelah dipikir-pikir, bagaimana kalau kita pulang-"


"Kita kan sedang dalam perjalanan pulang!" Balas Arion memotong ucapan Ralissa yang belum selesai.


Ralissa gemas lalu mencubit lengan kanan Arion. "Aku belum selesai bicara!" Teriak Ralissa tepat di telinga Arion.


Arion mengusap lengan dan telinganya bergantian. "Kalau begitu lanjutkan!" Suruh Arion malas meminta maaf karena Ralissa sudah membalasnya dengan tindakan.


"Ayo kita pulang ke dunia immortal." Lanjut Ralissa to the point.


"Kenapa tiba-tiba?" Tanya Arion mengernyit heran.


"..." Ralissa diam tidak menjawab. Pikirannya berkelana mengingat kejadian beberapa saat yang lalu.


"Baiklah. Ayo kita pulang! Sepertinya kau perlu berburu untuk melampiaskan kekesalanmu." Lanjut arion menambah kecepatan mobilnya.


.


.


.


.


.


Sore hari, tepatnya pukul 04.15 p.m


Rumah Melviano..


Di kamarnya, Melviano kembali terlihat gelisah memikirkan kejadian yang tak masuk akal. Ia terpengaruh oleh sihir. Ia bisa terpengaruh oleh sihir! Sang Pemimpin kaum immortal bisa terpengaruh sihir semudah itu?! Tak masuk akal!


Melviano mengacak rambutnya. "Bagaimana bisa?" Lirihnya masih tak percaya.


"Siapa mereka? Bagaimana- Arrrrgh!" Teriak Melviano melampiaskan rasa frustasinya. Kalau Revan masih di sini mungkin ia akan menertawakan Melviano habis-habisan.


Melviano menghempaskan dirinya di atas kasur. Tangannya terulur mengambil buku yang sempat menjadi pusat perhatian dua orang yang membuatnya seperti itu.


"Aerilyn." Ucapnya sendu ketika mengambil foto perempuan diantara sela-sela buku.



"Seandainya kau tidak meninggalkanku. Aku tidak akan mencari mate-ku, dan memilihmu untuk kujadikan istri." Lanjut Melviano terdengar lirih.


Aerilyn Bellcavia adalah sahabat sekaligus cinta pertama Melviano. Dia adalah seorang demon yang menyamar menjadi manusia bertahun-tahun lamanya. Mereka berdua bertemu dua puluh tahun yang lalu, ketika Melviano hampir gila karena ditugaskan oleh orang tuanya untuk mencari mate-nya yang tidak ketemu sampai sekarang.


Aerilyn selalu menemaninya hingga Melviano merasa nyaman bersamanya, perasaan yang disebut cinta itu pun mulai tumbuh. Hingga lima tahun kemudian Aerilyn bertemu dengan mate-nya yang seorang mermaid. Karena itu mereka pun berpisah tanpa Aerilyn tahu kalau Melviano menyimpan rasa dengannya.


"Aku mencintaimu Aerilyn." Melviano mencium foto Aerilyn. Ia sangat merindukan gadis itu. Gadis yang sudah menjadi milik orang lain.


.


.


.


.


.


Grrrrr


Graaaw!


Aaauuu!

__ADS_1


Claris menatap nyalang mangsanya yang saat ini meringkuk ketakutan. Seekor rusa yang cukup besar dengan kaki yang sudah terluka.


"Maafkan aku karena telah melukaimu." Pinta Claris terdengar lirih.


"Semoga setelah aku melakukan ini, kau langsung masuk surga." Lanjutnya berdoa lalu melancarkan aksinya mengoyak rusa itu.


Tujuh belas.


Baru dua jam ia berada di dunia immortal, sudah tujuh belas hewan yang telah menjadi korbannya. Lima ekor rusa, enam ekor harimau, empat ekor singa, dan dua ekor kelinci. Hewan apapun yang berada di dekatnya sudah ia anggap sebagai penyerahan diri.


Sedangkan Arion? Ia diam mematung menyaksikan semua itu. Betapa ganasnya Claris ketika sedang meluapkan amarahnya. Ia tidak bisa menghentikan Claris karena untuk melindungi dirinya sendiri saja ia sudah meminum dua botol ramuan untuk menambah energinya karena menggunakan sihir cukup lama tanpa henti.


Arion melihat tas selempang Ralissa yang ada di atas rumput dan bersandar pada pohon rindang. Ia mengambil lalu membukanya.


Tinggal lima botol yang tersisa. Satu botol penawar dari ramuan penyamar Ralissa yang bersisa setengah dari botol itu karena ia meminumnya dua jam yang lalu, Dua botol ramuan penyamar untuk Ralissa dan Arion, dan dua botol ramuan penambah energi untuk Arion.


"Tinggal dua botol lagi. Habislah aku." Ucap Arion.


Makanya, cepat hentikan dia! Suruh Ryon (wolf Arion) melalui mindlink.


'Apa kau tidak melihat dia? Dia lebih menyeramkan daripada kau yang mengoyak rogue!' Balas Arion bergidik ngeri membayangkan dirinya menjadi korban Claris.


Cih, biarkan aku mengambil alih tubuhmu.


Iris mata Arion berubah, yang awalnya biru menjadi coklat keemasan. Bulu-bulu pada tubuhnya mulai memanjang, tulangnya semakin besar, dan kukunya semakin meruncing. Dan tampaklah serigala besar berbulu hitam berkilau.


Ryon menghampiri Claris dengan santai, ia sangat tahu kalau Claris menyadari kehadirannya.


"Claris." Panggil Ryon.


Claris pun menoleh. "Apa?" Tanya Claris cuek ia masih butuh pelampiasan.


"Tak bisakah kau berhenti?" Tanya Ryon terdengar memelas.


"Aku belum puas." Balas Claris hendak berlari.


"Cowok brengs*k itu bukan mate-mu!" Teriak Ryon membuat Claris mengurungkan niatnya untuk berlari.


"Aku bisa merasakannya. Saat dia menatapku, jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya." Lanjut Claris terdengar lirih.


Ryon diam tidak tahu harus bilang apa. Percuma dia berbohong lagi karena bukan dia yang merasakannya.


Arion pun mengambil alih tubuhnya kembali tak lupa ia menggunakan sihir untuk berpakaian karena baju yang sebelumnya sudah tak layak untuk dipakai.


"Minum ini. Kau harus istirahat." Suruh Arion menyerahkan ramuan penyamar khusus untuk Ralissa.


"Berikan aku pakaian." Pinta Claris tak berniat untuk meminum ramuan itu secara langsung, biarlah Ralissa yang meminumnya.


"Cih, dasar! Kau tetap bisa merasakannya." Balas Arion tetap menyiapkan Claris pakaian dan meletakkannya di balik pohon besar.


Tak butuk waktu lama. Ralissa keluar dari balik pohon dan menghampiri Arion. Ia mendengus kesal, bukan pada Arion melainkan dengan wolfnya, Claris.


"Sini berikan padaku." Ralissa menengadahkan tangannya pada Arion.


Dengan senang hati Arion memberikannya ramuan itu.


"Biar ku antar kau pulang. Bibi pasti merindukanmu." Ajak Arion menarik tangan Ralissa yang baru selesai meminum ramuannya.


.


.


.


Kerajaan Vampire


Dari kejauhan tampak seorang wanita tengah menata tanaman-tanaman yang terlihat aneh. Ralissa menghampirinya sambil menarik Arion untuk mengikutinya.


"Hay bu." Sapa Ralissa melambaikan tangannya pada sang ibu.


"Oh~ Lisya sayang!" Pekik Lisa segera memeluk Ralissa.

__ADS_1


"Kenapa kau tak mengabari ibu kalau kau pulang hari ini?" Tanya Lisa belum menyadari keberadaan Arion.


"Maaf." Lirih Ralissa menunduk merasa bersalah.


"Dasar."Cibir Lisa pada putrinya sambil mengusap kepala Ralissa. Ia pun melihat ke belakang Ralissa dan melihat Arion sedang menyaksikan mereka.


"Eh! Arion." Kini Lisa hendak memeluk Arion tetapi-


"Aku sudah bilang Sa~ jangan peluk laki-laki selain aku!" Rey menghalangi Lisa dengan berdiri di depan Arion dan menghadap Lisa.


Lisa menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Oh, ayolah! Dia hanya keponakan kita! Masak aku tidak boleh memeluknya?!" Bela Lisa mengerucutkan bibirnya.


"Apa aku tidak cukup buatmu?" Lirih Rey terdengar pilu.


"Kamu sudah lebih dari cukup!" Balas Lisa mendekatkan dirinya pada Rey lalu memeluk suaminya itu.


"Drama sudah dimulai." Ucap Ralissa menghampiri Arion.


Arion mengangguk meng'iya'kan, ia masih fokus melihat paman dan bibinya bertengkar layaknya RBP (Remaja Baru Pacaran).


.


.


.


Ralissa menghempaskan tubuhnya di atas kasurnya. Ia memejamkan matanya untuk menenangkan pikirannya. "Hah~ cowok breng*k!" Maki Ralissa bukannya tenang ia malah mengingat Melviano yang mengusap foto seorang gadis cantik membuat amarahnya kembali memuncak.


"Shit!" Umpat Ralissa lagi karena tidak bisa tenang.


"Apa aku bunuh saja si brengs*k itu? Biarlah aku menjadi seorang unmate." Pikir Ralissa. (Unmate→menjadi unmate dalam cerita ini memiliki arti kalau ia sudah direject atau kehilangan matenya(meninggal), kalau beruntung ia akan punya mate pengganti atau memiliki lebih dari satu mate tapi kalau tidak ia akan menjadi unmate selamanya).


Ide bagus! Balas Claris setuju.


Ayo kita koyak dagingnya! Lanjut Claris semangat.


'Baiklah. Kita akan membunuhnya ketika kembali ke dunia manusia.' Putus Ralissa. Ia kembali memejamkan matanya, dan kali ini ia tak butuh waktu lama untuk masuk ke alam mimpi.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


To be continue


Halo guys aku up lagi


Jangan lupa votement yah~


Nggak usah bosen. Dapet pahala lho~


😊😊Karena bikin aku senang 😂😂


See you next chapter 😘😘

__ADS_1


__ADS_2