Vampirewolf

Vampirewolf
Sensitive


__ADS_3

"Kamu bisa membuat ramuan?" Tanya Melviano setelah meminum ramuan yang diberikan Ralissa padanya.


"Tidak. Ini buatan nenekku." Jawab Ralissa jujur.


"Dia juga yang membuat ramuan untukku dan kak Arion." Lanjut Ralissa membuat Melviano sedikit bingung.


"Kamu tidak bisa menebak aku manusia biasa atau makhluk immortal bukan?" Tanya Ralissa.


"Ah, jadi itu efek ramuan? Luar biasa! Aku bahkan tidak bisa tidur memikirkan kenapa aku tidak bisa merasakan auramu sama sekali!" Takjub Melviano, karena pengaruh ramuan yang Anna buat sangat menakjubkan. Bahkan tak sampai sepuluh menit ia meminum ramuan itu, ia sudah merasa jauh lebih baik. Energinya hampir terisi penuh.


"Iya kan? Aku juga takjub akan hal itu. Tapi, sayang aku tidak mewarisi kepintarannya itu." Ucap Ralissa menghela nafasnya.


"Tenang saja, kan ada aku." Ucap Melviano terdengar menyombongkan diri.


"Iya, ya? Mateku adalah seorang pemimpin kaum immortal." Ucap Ralissa semakin membuat Melviano merasa dijunjung naik ke atas, melambung tinggi.


"Tapi, sayang dia bodoh. Tidak bisa membedakan perasaannya sendiri." Lanjut Ralissa membuat image Melviano langsung jatuh.


Jleb!


"Ucapanmu tajam sekali." Balas Melviano mengerucutkan bibirnya.


Ralissa tertawa melihatnya.


Cupđź’•


Ralissa mengecup bibir Melviano singkat.


"Ternyata mateku sangat peka." Ucap Melviano menarik Ralissa agar duduk dipangkuannya.


"Kode itu terlalu mudah untuk ditebak." Ucap Ralissa mengalungkan tangannya pada leher Melviano.


Ceklek!


Pintu kamar Arion terbuka, menampilkan Thomas dan Anna di baliknya. Menyadari itu Ralissa dan Melviano refleks menjauhkan diri masing-masing.


"Wah, anak zaman sekarang memang beda ya." Ucap Thomas sambil menggelengkan kepalanya melihat tingkah cucunya.


"Kami tidak melakukan apapun kok, kek." Balas Ralissa menunduk tidak berani menatap dua orang yang baru saja masuk.


"Ckckck! Siapa tadi yang berniat untuk me-reject matenya?" Sindir Anna membuat Ralissa tersenyum kikuk lalu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Melviano hanya diam saja melihat interaksi antara Ralissa dengan kakek neneknya yang terlihat cukup harmonis. Sangat berdeda dengan dirinya yang selalu dipaksa oleh orang tuanya, walaupun ia sudah menjadi pemimpin kaum immortal ia masih dikekang, bahkan Melviano akan dijodohkan jika tidak membawa matenya ke kerajaannya. Mengingat itu membuat Melviano menghela nafas berat.


"Oh, matemu terlihat tidak asing." Ucap Thomas membuat Anna menatapnya bingung.


Ralissa melirik Melviano dan Thomas bergantian. 'Apa mereka pernah bertemu sebelumnya?' Batin Ralissa bertanya.


"Saya Melviano." Jawab Melviano singkat pada Thomas. Tentu saja ia mengenal Thomas karena dulu saat Thomas masih menjadi seorang  alpha, setiap adanya pertemuan dengan para pimpinan mereka pasti bertemu.


"Seorang demon, bernama Melviano." Ucap Thomas berpikir keras lalu detik berikutnya ia tersadar akan satu hal.


"Kau, Melviano Zachary Edzar?" Lanjut Thomas bertanya.


Melviano mengangguk singkat. Kali ini ia yang terlihat bingung karena Thomas masih berbicara informal dengannya.


Thomas tahu apa yang ada dipikiran Melviano saat ini karena menggunakan sihirnya untuk membaca pikiran Melviano.


"Kenapa aku harus berbicara formal denganmu kalau kau adalah mate dari cucuku?" Tanya Thomas membuat Anna dan Ralissa bingung karena tidak tahu penyebab Thomas mengatakan itu.


"Asal kau tahu, posisimu itu bisa dengan mudah kami ambil jika kami mau." Lanjut Thomas membuat Melviano bungkam.


Ralissa menganga dibuatnya, karena tidak tahu alasan Thomas berkata seperti itu.


"Maaf." Kata Melviano sambil menunduk.


Thomas tersenyum melihatnya lalu mendekatinya. "Tidak perlu serius begitu. Aku hanya bercanda. Walau itu fakta, tapi aku tak punya niat untuk menyerang demon." Ucap Thomas mengusap kepala Melviano.

__ADS_1


Terkejut? Ya, Melviano merasakannya. Untuk pertama kalinya ia merasakan kehangatan bersama keluarga. Ia merasa diterima di keluarga matenya. Ia senang akan hal itu.


Melviano mendongak melihat Thomas yang kini menatapnya dengan penuh kehangatan layaknya keluarga.


"Terima kasih karena telah menerima kehadiran saya di sini." Ucap Melviano membalas Thomas dengan senyum tipis tapi tulus.


"Sama-sama. Ngomong-ngomong bagaimana keadaanmu sekarang?" Tanya Thomas.


"Sudah jauh lebih baik karena ramuan buatan..." Melviano melirik Anna ragu karena tidak tahu nama nenek matenya.


"Panggil aku, nenek Anna. Ah, kau juga bisa memanggilku 'kakak' atau mungkin 'adik'?" Ucap Anna dengan mengacungkan ibu jarinya pada Melviano.


Melihat itu Thomas jadi geram, ia pun menarik Anna ke belakang tubuhnya. "Lanjutkan aktivitas kalian yang tadi, aku ingin berbicara dengan mateku sebentar untuk meluruskan masalah besar." Ucap Thomas lalu membuka pintu kamar Arion dan berteleport menuju kamar mereka.


"Kau ini sudah punya cucu! Tapi masih saja menggoda laki-laki lain di hadapanku! Lebih parahnya lagi, dia adalah mate dari cucumu!" Teriak Thomas pada Anna. Untung kamar mereka kedap suara jadi tidak ada yang bisa mendengar suara bariton Thomas dari luar.


"Oh, ayolah. Kamu tahu itu cuma candaan untuk menghidupkan suasana karena perilakumu yang kekanak-kanakan itu." Balas Anna dengan nada halus namun penuh dengan sindiran.


Thomas menatap Anna tajam, sedangkan yang ditatap berjalan dengan santai ke meja kecil di samping ranjang dan mengambil sebuah buku lalu membaringkan diri di atas kasur dan membaca buku itu.


"Ah, kau jadi berani sekarang? Baiklah, mari kita lihat bagaimana reaksimu jika aku menggoda wanita lain di luar sana." Balas Thomas hendak ke luar dari kamar.


"Selangkah kamu ke luar dari kamar ini, aku tidak akan memberimu 'jatah' selama satu bulan!" Ucap Anna serius.


"Aku bisa melakukannya dengan wanita lain." Balas Thomas cuek membuat darah Anna mendidih.


"Lakukan semaumu!" Balas Anna acuh membanting buku yang ia pegang ke lantai lalu ia pun menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya.


Thomas menahan tawanya agar tidak pecah. Ia pun berjalan mendekati Anna dapat ia dengar isakan tangis dari istrinya itu. Saat itu juga ia membulatkan matanya karena candaannya membuat istrinya menangis.


"Sayang, kamu menangis?" Tanya Thomas. Pertanyaan bodoh memang karena ia sudah tahu jawabannya.


"..." Anna tidak menjawab membuat Thomas semakin merasa bersalah.


Thomas pun naik ke kasur lalu membuka selimut yang menutupi wajah istrinya. Ia melihat wajah istrinya sudah basah dengan air mata.


Anna mengangguk saja, entah apa yang terjadi tapi ia merasa kalau saat ini dirinya menjadi sangat sensitif.


Thomas tersenyum lalu mengecup kening Anna dan memeluknya. Mereka pun tertidur dan melewati makan malam mereka.


.


.


.


.


.


Di kamar Arion


Ralissa menatap pintu yang baru saja tertutup dan beralih pada Melviano yang melakukan hal yang sama dengannya.


"Apa itu tadi? Aku tidak mengerti kenapa kakek tiba-tiba berkata seperti itu." Tanya Ralissa meminta penjelasan.


"Tadi kakekmu membaca pikiranku." Jawab Melviano membuat Ralissa mengangguk paham.


"Tidak hanya bodoh, tapi mateku juga ceroboh." Balas Ralissa membuat Melviano menatapnya tajam.


"Tatapan itu bisa membunuhku, berhentilah." Pinta Ralissa terdengar mengejek di telinga Melviano.


Melviano memalingkan muka dari Ralissa, ia pun membaringkan dirinya memilih untuk tidur lagi agar cepat mengisi energinya.


Ralissa melihatnya, ingin rasanya tertawa namun ia tahan karena saat ini kondisi Melviano tidak mendukung untuk melakukan itu.


"Melvi, kamu marah?" Tanya Ralissa akhirnya.

__ADS_1


"Tidak." Jawab Melviano singkat.


"Apa kamu butuh sesuatu? Nanti aku ambilkan." Ucap Anna lagi.


"Kamu."


"Apa?" Tanya Ralissa tak mengerti.


"Aku butuh kamu. Tidurlah di sampingku." Suruh Melviano tanpa menoleh pada Ralissa.


"..." Ralissa diam karena masih syok dengan apa yang baru saja ia dengar.


Kesal karena merasa diabaikan Melviano menoleh dan menarik Ralissa untuk tidur di sampingnya tetapi yang terjadi adalah Ralissa jatuh di atasnya karena dirinya yang belum pulih sepenuhnya.


Ralissa membulatkan matanya sempurna begitu pula dengan Melviano yang sama terkejutnya dengan Ralissa.


Ceklek!


"Astaga!–


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


To be continue


Hello guys,


Author update lagi..


Maaf kalau lama dan terlambat..

__ADS_1


Jangan lupa follow dan votement nya yah~


__ADS_2