
"Lalu aku harus bagaimana? Dia yang menyuruhku untuk tidak mendekatinya! Dia bilang itu adalah hukuman untukku!" Jelas Melviano panjang lebar, frustasi akan apa yang ia alami.
Arion berkedip beberapa kali mendengar ucapan Melviano yang cukup panjang. 'Lebih dari lima belas kata!' Batin Arion takjub.
"Apa kau mendengarku?" Tanya Melviano saat merasa Arion tidak meresponnya.
"Ah, tentu saja. Bahkan semua anak yang ada di kelas ini mendengar curhatanmu itu." Balas Arion sengit membuat Melviano refleks melihat sekitarnya dan benar semua pasang mata menatap- lebih tepatnya menonton mereka. Kecuali Ralissa, tentu saja.
"Kenapa kau tidak menggunakan sihirmu agar percakapan kita didengar?!" Kesal Melviano berbisik.
"Asal kau tahu saja. Aku paling pelit menggunakan sihir di dalam keluargaku." Balas Arion dengan berbisik pula.
"Sial!" Kesal Melviano, ia pun menutup matanya menenangkan diri kemudian menghapus ingatan semua manusia yang mendengar percakapannya dengan Arion.
"Wow! Kau hebat!" Takjub Arion, tentu saja berpura-pura.
"Tck!" Decak Melviano kesal dengan tingkah Arion.
"Diam kau!" Lanjutnya menatap tajam Arion.
"Cih. Dasar lemah!" Ucap Arion membuat Melviano semakin kesal.
"Kau mau apa?!" Tanya Melviano dengan suara baritonnya sambil menarik kerah kemeja Arion.
"Kau masih bertanya? Kejar Ralissa! Buat dia bertekuk lutut padamu." Jawab Arion.
'Aku sangat tidak sabar melihat kebucinanmu!' Batin Arion menyeringai.
Melviano melirik 'Ralissa' yang saat ini masih bercengkrama dengan teman-temannya.
Melviano tersenyum miris melihat nasibnya.
"Aku tidak tak tahu harus bagaimana." Lirih Melviano.
Arion menepuk pundak Melviano untuk memberi semangat padanya.
"Ralissa pasti luluh, apalagi jika kau menjelaskan kejadian kemarin dengan benar." Ucap Arion.
"Tapi, dia melarangku untuk–" Melviano tidak bisa melanjutkan ucapannya karena Arion memotongnya.
"Kau bercanda? Kau akan pasrah begitu saja dengan menuruti perintahnya? Kau bodoh atau bagaimana sih?" Kesal Arion menggelengkan kepalanya.
'Inimah udah bucin dari awal.' Batin Arion kesal sendiri.
Melviano melirik Arion malas. "Aku akan menuruti apapun yang dia inginkan asalkan dia mau bersama denganku." Balas Melviano.
"Bagaimana hasilnya? Apa kalian bersama sekarang?" Tanya Arion.
Deg!
Kejadian yang kemarinpun terlintas di pikiran Melviano.
'Ralissa tidak ingin mengetahui kebenarannya karena dia mau membunuhku dan itu berarti dia tidak ingin bersama denganku.' Batin Melviano.
"Ini tidak bisa dibiarkan!" Kesal Melviano bangun dari duduknya dan langsung menghampiri 'Ralissa' yang masih sibuk bercengkrama dengan teman-temannya.
"Ralissa ikut aku!" Perintah Melviano seenak jidadnya.
'Ralissa' tidak menghiraukan Melviano, ia menganggap Melviano tidak ada.
Karena kesal Melviano menarik Ralissa untuk mengikutinya.
.
.
.
__ADS_1
Melviano melihat lorong-lorong di sekelilingnya sepi, ia pun tidak ingin membuang waktu lantas ia berteleport bersama Ralissa menuju suatu tempat, yang tak lain dan tak bukan adalah atap kampus.
"Kenapa kita kemari?" Tanya 'Ralissa' to the point.
"Meluruskan masalah kita." Jawab Melviano seadanya.
"Tidak perlu! Aku tidak butuh penjelasan apapun." Ucap 'Ralissa' lalu berjalan meninggalkan Melviano.
Baru beberapa langkah Melviano berkata. "Jangan menjadi egois! Kau belum mendengarkan penjelasanku! Aku memeluknya karena aku sangat senang telah bertemu denganmu, karena dia sahabatku!"
"Aku tidak peduli." Balas 'Ralissa' singkat tanpa berbalik memandang Melviano.
Melviano kesal dengan respon Ralissa yang acuh dengannya setelah mengatakan semuanya.
"Apa yang kau inginkan sebenarnya?! Aku sudah mengatakan semua kebenarannya tapi responmu hanya seperti itu?" Melviano menatap 'Ralissa' kecewa. Ia pun meninggalkan 'Ralissa' yang mematung mendengar penjelasannya.
"Apa yang harus aku lakukan?" Gumam 'Ralissa' menggigit bibirnya.
.
.
.
.
.
.
Sementara itu di kerajaan Vampire
Tepatnya di perpustakaan
Ralissa masih berkutat dengan buku-buku mantra yang sudah menumpuk di meja khusus untuk membaca.
Selesai!
Ralissa sudah membaca semuanya dan mengingat arti dan maksud dari mantra itu. Tidak semua yang ia ingat, hanya beberapa mantra kuat untuk membunuh.
Ralissa menyeringai membayangkan Melviano mati di tangannya. Cukup sudah ia menangis karena laki-laki, lebih baik dia hidup sendiri.
Ralissa menghembuskan nafas lelah sekaligus lega.
Tak menunggu waktu lama Rey datang menghampirinya.
"Bagaimana? Kau sudah membaca semua buku mantra itu?" Tanya sang ayah pada putrinya.
Ralissa tersenyum dan mengangguk antusias karena sangat senang.
Kalau begitu ayo kita keluar dan belajar point pentingnya. Ajak Rey sambil menggenggam tangan Ralissa.
.
.
.
.
.
Mereka berdua sampai di tempat pelatihan. Di sana terlihat banyak yang sedang berlatih berbagai macam bentuk bela diri dan kekuatan termasuk sihir.
Semua yang berlatih menunduk hormat pada Rey dan juga Ralissa. Ayah dan anak itu pun membalas dengan senyum dan mengangguk pertanda kalau ia menerima penghormatan yang diberikan.
Ralissa kagum melihatnya, ia senang bisa merasakan hal itu. Dulu dia tidak pernah ke tempat ramai bahkan ia hampir tidak pernah keluar dari kamarnya. Tapi sekarang ia bisa bebas melakukan apapun dengan ramuan yang dibuatkan neneknya, untuknya.
__ADS_1
"Sekarang kau ingin kita mulai dari mana?" Tanya Rey. Ia sudah menyiapkan bahan untuk Ralissa yang akan belajar sihir.
Ralissa menatap bahan yang ada di sana. Terlihat api, air, tanah, batu dan tanaman. Ralisaa bingung menatap bahan-bahan itu.
"Ini untuk apa? Ayah mau belajar memasak?" Tanya Ralissa dengan polosnya.
Rey yang mendengarnya pun melongo menatap Ralisaa tak percaya.
"Bukannya kau bilang kau ingin belajar sihir? Ini adalah dasarnya." Balas Rey.
"Tapi, ayah. Aku ingin membunuh! Bukan memasak!" Protes Ralissa tak terima.
Rey menghembuskan nafasnya kasar.
"Kita tidak bisa masuk ke intinya jika tidak melalui dasar pembelajarannya Ralissa. Semua butuh proses! Dari yang kecil dulu baru ke pokok utamanya!" Jelas Rey.
"Ah, begitu? Baiklah." Balas Ralissa dengan entengnya. Setelah membuat amarah sang ayah hampir meledak karena kepolosan ataupun aksi protesnya.
Rey hanya menggelengkan kepalanya lalu mencoba menarik nafas dan menghembuskannya perlahan untuk mengatur emosinya. Untung Ralissa anaknya, kalau bukan? Entah apa yang akan terjadi.
"Sekarang, elemen mana yang ingin kau pelajari?" Tanya Rey setelah berhasil mengatur emosinya.
Ralissa kembali melihat bahan-bahan yang ada di atas meja yang tersedia di hadapannya.
"Menurut ayah, elemen mana yang paling kuat, sulit untuk dihindari dan berdampak besar?" Tanya Ralissa pada sang ayah.
"Semuanya kuat. Tergantung penggunanya. Jika kamu bisa menguasainya, maka akan besar dampaknya. Tentu saja jika kamu bisa menguasai semuanya, itu jauh lebih baik dari pada hanya satu elemen saja." Jawab Rey.
Ralissa tampak berpikir untuk memilih elemen mana yang akan ia pilih. Ia ingin mempelajar semuanya tetapi tidak mungkin semuanya sekaligus bukan? Pilihan Ralissa pun terjatuh pada..
"Api. Aku ingin melihatnya terbakar sampai matang!" Ucapnya antusias tak lupa dengan seringaian di wajah cantiknya.
Semua yang berlatih pun menghentikan aktivitas mereka dan menatap Ralissa dengan ngeri. Ada yang menelan ludah dengan susah payah. Dan ada juga yang kagum melihatnya.
'Putri Ralissa cantik tapi mengerikan.'
'Cantik dan tangguh! Kombinasi yang menarik.'
Dan masih banyak lagi ucapan batin yang masih melirik Ralissa dengan takut lalu melanjutkan aktivitas mereka lagi.
"Aku tidak sabar untuk membunuhnya!" Lanjut Ralissa senang.
Aktivitas mereka kembali terhenti lalu menatap Ralissa lagi. Merasa diperhatikan Ralissa pun menoleh sekilas untuk melihat siapa yang memperhatikannya. Tapi, buru-buru mereka melanjutkan aktivitas mereka yang sudah tertunda untuk ke berapa kalinya hari ini.
Karena tidak menemukan 'tersangka' yang memperhatikannya Ralissa kembali elemen yang ia pilih dan akan ia pelajari.
.
.
.
.
.
.
.
To be continue
Jangan lupa votement-nya ya~
Salam
Shinikook
__ADS_1