
Di waktu yang sama, tempat yang berbeda.
"Dia adalah Melviano." Jawab Arion.
Ralissa membulatkan matanya sempurna.
"Apa?!" Pekiknya terkejut. Pasalnya, Ralissa tidak pernah mencium aroma memabukkan dari Melviano sedikitpun. Bahkan saat mereka berdekatan sekalipun, tidak pernah!
"Itu tidak mungkin! Si kulkas itu adalah mate ku?!" Sanggah Ralissa tak terima.
"Hah! Seharusnya aku tidak menanyakan hal itu padamu." Tambah Ralissa menggelengkan kepalanya.
Plaaakk
"Aww!" Pekik Ralissa karena Arion menoyor kepalanya seenak jidat.
"Sakit kak!" Kesal Ralissa menatap Arion tajam.
"Itu karena kebodohanmu." Balas Arion dengan nada mengejek.
Ralissa tak terima dikatakan bodoh, lantas ia langsung menjewer telinga Arion bengis.
"Hey, apa yang kau lakukan? Lepas!" Teriak Arion mencoba melepaskan jemari lentik Ralissa yang menarik telinganya tanpa ampun.
"Tarik perkataan kakak sebelumnya!" Suruh Ralissa mengeraskan jewerannya pada telinga Arion.
Arion memekik kesakitan, telinganya terasa hampir putus. "Tidak akan! Lagi pula, kau memang bodoh! Kau tidak menyadari kalau ramuan itu mematikan indra penciumanmu!"
"Apa?" Ralissa melepaskan Arion begitu saja.
Arion merasa lega, ia mengusap kedua telinganya yang memerah.
"Kau tidak menyadarinya bukan? Saat makan kau selalu mengeluh kalau makanan yang kau makan terasa hambar, bahkan saat meminum darah sekalipun." Jelas Arion masuk akal.
"Kenapa kakak berfikir kalau Melviano adalah mateku?" Tanya Ralissa masih bingung.
"Karena hanya dia manusia yang ada saat kau mengamuk di depan ruang rektor." Jawab Arion jujur.
Tubuh Ralissa terasa lemas, ia mendudukkan dirinya di sofa yang ada di sana (ruang tamu) lalu menghela nafas berat. "Apa dia sempat melihatku?" Tanya Ralissa menatap kosong ke depan.
"Sepertinya tidak. Dia tidak menyinggung apapun, malah dia hanya menanyakan keadaanmu saat aku membopongmu pulang." Jelas Arion mengingat kejadian beberapa saat yang lalu.
"Huuufft, masih belum ketahuan." Balas Ralissa lega.
"Tapi, apa yang harus aku lakukan sekarang?" Lirih Ralissa menundukkan kepalanya. Ia sangat bingung dengan situasinya saat ini.
Arion tidak tega melihatnya, ia duduk di samping Ralissa dan menepuk pundak adik sepupunya itu mencoba untuk memberikan kekuatan pada Ralissa.
"Saat berada di sampingnya kau harus meminum ramuan itu. Dekati dia dan saat waktunya tepat beritahu dia kalau kau bukan manusia." Ucap Arion memberi usul.
"Apa tidak ada cara lain?" Tanya Ralissa merasa kalau rencana itu tidak akan berhasil.
"Kalau kau ingin identitasmu tertutupi selamanya, itu bisa saja." Jawab Arion membuat Ralissa tersenyum lebar.
"Hidup dalam kebohongan selama sisa hidupnya." Lanjut Arion membuat senyum Ralissa sirna seketika.
"Kakak!"
.
__ADS_1
.
.
.
.
Keesokan harinya
Ralissa sudah memutuskan untuk mendekati Melviano sesuai dengan usul Arion kemarin. Dan sekarang, Ralissa dan Arion tidak perlu melakukan sandiwara sebagai sepasang kekasih. Mereka berangkat ke kampus bersama tetapi tidak melakukan hal romantis seperti berpegangan tangan maupun saling merangkul.
"Akhirnya." Ralissa menghembuskan nafas lega, senyum manis terpampang jelas di wajahnya membuat semua pria yang berada di koridor kampus menghentikan aktivitas mereka.
Sedangkan Arion hanya bisa mengerucutkan bibirnya karena merasa dunianya tidak akan tenang lagi. Ralissa menghentikan langkahnya di depan Arion.
"Oh ayolah! Jangan cemberut begitu!" Ujar Ralissa menarik kedua ujung bibir Arion dengan kedua tangannya sambil berjalan mundur karena Arion tetap melanjutkan langkahnya.
Arion menepis tangan Ralissa dari wajahnya. "Jangan sentuh aku! Lebih baik kau urus matemu." Suruh Arion berbisik, melirik Melviano yang duduk tenang di bangku belakang. Mereka baru saja sampai di kelas mereka.
Ralissa mengikuti arah pandang Arion. Seketika jantungnya berdegup kencang di dalam sana, melihat Melviano yang sedang membalik halaman buku yang ia pegang. Dengan ragu ia menghampiri Melviano diikuti Arion yang mencari tempat duduk yang tak jauh dari tempat duduk Ralissa nanti.
"Hay, Melvi." Sapa Ralissa dengan senyum manisnya setelah duduk di samping Melviano.
Melviano menghentikan aktivitas membacanya lalu melirik Ralissa yang duduk di sampingnya. "Kenapa kau duduk di sini?" Tanya Melviano dingin membuat senyum Ralissa sirna.
"Tak bisakah kau membalas sapaanku dulu?!" Kesal Ralissa menatap tajam Melviano.
"..." Melviano tidak merespon, malah ia melanjutkan aktivitasnya membaca buku.
Hal itu membuat Ralissa semakin kesal. Ia pun menggigit bibir bawahnya, mencoba untuk menahan amarahnya.
Tetapi dia sangat tampan! Pekik Claris dalam mindlink membuat Ralissa refleks menutup telinganya walau itu percuma.
Diam-diam Melviano memperhatikan itu. 'Ah, jadi dia seorang werewolf?' Batin Melviano melihat iris mata Ralissa sempat berubah coklat keemasan walau hanya sebentar.
"Kau tidak apa-apa?" Tanya Melviano mengingat kemarin Ralissa tak sadarkan diri.
Ralissa menoleh pada Melviano. "Kau bicara denganku?" Tanyanya menunjuk diri sendiri.
Melviano mengangguk polos membuat Ralissa gemas ingin sekali mencubit pipi Melviano, tentu saja itu hanya dalam angan-angannya.
"Khem, memangnya ada apa denganku. Aku baik-baik saja." Jawab Ralissa mencoba cuek.
"Sepertinya begitu." Balas Melviano lebih singkat lagi dan kembali melanjutkan aktivitasnya.
Ralissa jengah karena sikap Melviano. Kalau bukan matenya mungkin ia akan mengajak Melviano ke tempat yang sepi lalu menerkamnya, menggigitnya kecil-kecil, menghisap darahnya hingga tak tersisa sedikitpun! Mengingat darah Melviano begitu manis di indranya kemarin membuat iris matanya berubah menjadi merah pekat walau hanya seperkian detik.
"Dasar kulkas!" Sindir Ralissa memeletkan lidahnya pada Melviano.
"Aku mendengarnya–" Balas Melviano
"–Dan melihatnya." Lanjutnya Melirik Ralissa yang masih memeletkan lidahnya pada Melviano.
Ralissa menghentikan aksinya berganti dengan mengerucutkan bibirnya. Semua itu tak lepas dari penglihatan Melviano yang gemas melihatnya, tanpa sadar tangannya terarah mencubit pipi kiri Ralissa cukup keras.
"Aww!" Pekik Ralissa menatap Melviano tajam. "Sakit tahu!" Ralissa membalas Melviano dengan mencubit lengan Melviano.
Melviano tidak mengadu kesakitan karena cubitan Ralissa tidak terasa pada kulitnya. "Ternyata kau sangat lemah." Ejeknya pada Ralissa.
__ADS_1
Ralissa jadi geram tapi dalam lubuk hatinya ia merasa senang karena Melviano tidak bersikap dingin lagi padanya. Pipinya pun mulai terasa panas, ia merona.
"Ah, kau benar-benar marah ya? Maaf." Melviano melepas cubitannya pada Ralissa.
Ralissa mengusap pipinya yang merona, ia bersyukur karena sempat menunjukkan rasa geram kalau tidak ia akan ketahuan kalau sudah menyukai Melviano.
"Begitu sakitkah?" Tanya Melviano khawatir mengulurkan tangannya untuk membalik Ralissa agar menghadapnya.
Belum sempat Melviano melihat keadaan Ralissa, Arion mencegahnya dan menatapnya tajam.
"Apa yang telah kau lakukan pada adikku?" Tanya Arion dingin.
"Adik?" Tanya Melviano masih belum mengerti.
'Bukankah mereka sepasang mate?' Batin Melviano melirik Arion dan Ralissa bergantian.
Sadar akan situasi Ralissa segera menoleh. "Sebenarnya dia kakak sepupuku." Jujur Ralissa bertepatan dengan Melviano yang meliriknya. Tatapan mereka bertemu saat itu pula Ralissa merasa waktu berhenti.
Semua kejadian itu tak terlewatkan oleh penghuni kelas terutama dua orang yang selalu menantikan mencairnya es yang ada pada Melviano.
"Untuk pertama kalinya Melviano tidak mengusir perempuan yang ada di dekatnya!" Pekik salah satunya menutup mulut agar ucapannya tidak terdengar.
"Ternyata ada yang bisa meluluhkan hatinya." Tambah yang satunya lagi.
Mereka berdua adalah Shena Flowdish dan Kayla D Sworth.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
To be continue
Up lagi guys 😂😂
Don't forget Votement and follow, yes? 😉
I waiting for it😍
__ADS_1
See you next time😘😘