
"Ayah, aku ingin bertanya sesuatu." Ucap Ralissa terlihat serius.
"Apa itu?" Tanya Rey terlihat serius juga.
Lisa yang melihat itu hanya bersikap menjadi pendengar yang baik diantara mereka.
"Ayah tahu portal yang terletak di hutan perbatasan antara bangsa vampire dan bangsa werewolf?" Tanya Ralissa terus terang.
"Iya, ayah tahu. Sebelum bisa sihir, ayah selalu pergi ke sana jika mau pergi ke dunia manusia." Jawab Rey.
"Ah, jadi tujuan portal itu adalah dunia manusia." Gumam Ralissa terdengar jelas.
"Kenapa? Kamu ingin pergi ke sana?" Tanya Rey penuh selidik.
"Sebenarnya, iya. Aku ingin pergi, lebih tepatnya aku ingin mencoba melewati portal itu bersama kak Arion tapi, karena itu dunia manusia aku jadi ragu-"
"Ragu karena takut tidak bisa mengontrol dirimu saat berada di sekitar mereka?" Tanya Lisa memotong ucapan putrinya.
Ralissa mengangguk membenarkan. Lisa tersenyum.
"Kamu tidak perlu khawatirkan itu, sayang. Karena ramuan yang dibuat nenekmu itu sudah kuat, ibu sudah jamin itu. Kau hanya perlu meminumnya ketika efek dari ramuan itu hilang." Jelas Lisa.
"Dan kamu bisa tinggal di sana. Ayah sudah menyiapkan semua berkas yang kamu perlukan alih-alih ingin menetap di sana untuk beberapa saat. Ajak Arion untuk tinggal bersamamu di sana." Lanjut Rey lalu mengusap kepala putrinya dengan penuh kasih sayang.
"Beneran aku boleh tinggal di sana?" Tanya Ralissa belum yakin.
"Tentu saja. Kamu belum tahu, ayahmu lebih sering menetap di sana dari pada di sini." Ucap Lisa melirik Rey dengan ekor matanya.
Yang ditatap hanya mengeluarkan cengiran tak berdosanya.
Lisa menggelengkan kepalanya. Pantas saja sang ayah sangat mendukung kepergiannya untuk pergi ke dunia manusia bahkan sampai menyiapkan segala keperluannya untuk tinggal di sana.
Keesokan harinya..
Pagi hari..
Ralissa dan Arion sudah siap untuk pergi ke 'kampus' baru mereka. Yup, karena tidak sabar Ralissa langsung meminta ayahnya untuk menghubungi Arion dan berangkat malam harinya. Dan sekarang, mereka sudah resmi menjadi mahasiswa di universitas Ex*** karena Rey sangat antusias dengan keberangkatan putri semata wayangnya pergi ke dunia manusia.
"Apa sekarang aku harus menggunakan sihirku untuk menyamar sebagai manusia?" Tanya Arion dengan wajah tak enak, karena jujur saja ia sangat malas menggunakan sihirnya untuk waktu yang lama.
"Oh, tenang saja! Ibu sudah membuatkan kakak ramuan semalam." Balas Ralissa mengambilkan botol kecil di dalam tas selempangnya.
Dengan ragu Arion mengambil ramuan itu.
"Bukankah, bibi jarang membuat ramuan?" Tanya Arion lagi sesekali mencium aroma dari ramuan itu.
"Ramuan itu sesuai dengan resep nenek tahu! Dasar!" Kesal Ralissa, ia juga mengambil ramuan yang dibuatkan ibunya semalam lalu meminumnya. Ramuan 'penyamar' agar auranya seperti manusia.
__ADS_1
"Oh, benarkah? Baguslah!" Ucap Arion langsung menenggak habis ramuan itu.
"Aish! Ini pahit sekali!" Keluh Arion mengusap bibirnya dengan punggung tangannya.
"Kalau manis itu bukan ramuan! Tapi sirup!" Ucap Ralissa membalas Arion ketika ia berkunjung ke pack Silvermoon.
"Ayo, kita berangkat! Kita sudah terlambat!!" Pekik Ralissa melihat jam tangannya.
"Kita berangkat pakai apa?" Tanya Arion polos.
Ralissa menunjuk garasi yang ada di samping kiri rumah. "Buka dengan sihir kakak." Ucap Ralissa karena malas membuka garasi.
Arion mengangguk saja dan melakukan apa yang Ralissa ucapkan.
Drrrrtt!!
Garasi itu terbuka dan terlihatlah mobil sport mewah.
"Ini gimana cara ngendarainnya coba?!" Ucap Arion dengan nada tinggi. Ia sama sekali tidak kagum dengan kemewahan mobil itu.
Ralissa kesal melihatnya. "Ini itu mobil sihir. Kakak kan bisa sihir, tinggal sihir mobil ini untuk jalan saja!" Balas Ralissa tak kalah tinggi.
"Oh, ya juga. Sorry, nggak kepikiran." Arion menggaruk pelipisnya.
Mereka menaiki mobil sport itu, dan tak lama setelahnya mereka pun berangkat..
Mereka telah tiba di universitas Ex***, Arion segera turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Ralissa.
"Heh, aku bisa sendiri!" Ucap Ralissa menatap Arion tajam.
"Biarkan aku melakukan ini sebelum aku bertemu dengan mateku." Balas Arion berbisik.
"Maksud ka-"
Ralissa menggantungkan ucapannya ketika melihat segerombolan mahasiswa/i mengerumuninya dan Arion.
"Mereka siapa?"
"Siswa baru?"
"Astaga cowok itu sangat tampan!"
"Cewek itu cantik sekali!!"
"Mereka pacaran?"
"Yup, bertambah lagi siswa kaya. Lihatlah mobil itu."
__ADS_1
"Mereka terlihat cocok."
"Aku berharap mereka saudara kandung!"
"Kalau mereka pacaran, aku harap mereka putus!"
Ralissa menelan ludahnya dengan susah payah. "Wah, mulut mereka perlu dikoyak semua ya?!" Geram Ralissa. Untung saja ia meminum ramuan buatan ibunya, lebih tepatnya Lisa menambahkan sesuatu yang membuat ramuan itu dapat menahan kekuatan Ralissa untuk keluar sayangnya efek ramuan itu menjadi lebih singkat, hanya tiga hari.
"Tahan dirimu Ralissa! Apa kau ingin rahasia kita terbongkar di hari pertama kita di dunia manusia?" Arion memeluk pinggang Ralissa terlihat seperti pacar yang posesif.
"Apa yang kakak lakukan?" Bisik Ralissa tepat di telinga Arion.
"Kau tahukan kalau kakak itu tidak suka dikerumuni cewek. Kau juga seperti itu bukan. Anggap saja yang kita lakukan ini simbiosis mutualisme." Balas Arion tersenyum pada Ralissa.
Semua perempuan yang menyaksikan kejadian itu menjerit terutama pada saat Arion menunjukkan senyumnya seakan-akan hanya untuk Ralissa.
"Cih, dasar!" Gumam Ralissa terdengar jelas oleh Arion.
"Aku mendengarnya."
Ralissa melirik Arion tajam. Sedangkan Arion menampilkan senyum kemenangannya. Mereka berdua pun berjalan meninggalkan kerumunan yang mengikuti mereka dari belakang.
"Tak bisakah, kakak menyihir mereka untuk diam?" Tanua Ralissa, lelah karena situasi yang pertama kali ia rasakan. Kalian ingat kalau Ralissa hanya berdiam diri di kamarnya bukan?
"Biarkan saja seperti itu." Balas Arion karena sudah terbiasa.
"Oh, ayolah." Pinta Ralissa.
"Sabar, sebentar lagi kita akan sampai di ruang Rektor." Balas Arion karena tidak mau menggunakan sihirnya.
Ralissa mengerucutkan bibirnya. Tak lama mereka sampai di ruang Rektor dan Arion segera mengetuk pintu rektor itu.
"Masuklah." Balas seseorang dari dalam.
Ralissa dan Arion menghela nafas lega, tak menyia-nyiakan waktu mereka langsung masuk tanpa menghiraukan keadaan di luar yang mulai ricuh karena merasa kecewa.
"Selamat datang Arion, Ralissa." Ucap Rektor itu ramah pada Arion dan Ralissa.
Arion dan Ralissa menoleh ke sumber suara secara bersamaan ketika menyadari sesuatu saat mendengar suara itu.
"What the-" Gumam Arion terputus ketika melihat siapa yang menjadi rektor di tempatnya 'kuliah' saat ini.
"Impossible!" Tambah Ralissa menganga melihatnya.
"Uncle Fernant!" Pekik kedua sepupu itu kompak.
Yup
__ADS_1
Fernant Houtman, adik dari Rey Houtman sekaligus tangan kanannya. Rey menyuruhnya bekerja sebagai rektor di Universitas yang telah ia bangun sendiri tepat setelah ia menikah dengan Lisa.
To be continue