Vampirewolf

Vampirewolf
Romance


__ADS_3

Seketika Ralissa menghentikan tawanya ketika ia dan Melviano sudah berada di luar dan saat ini berada di lorong-lorong kampus yang lumayan ramai. Ia tidak ingin semua orang melihat dirinya seperti itu, hanya orang terdekatnya yang boleh melihat tawanya yang riang dan tulus.


Tidak hanya itu, alasan utamanya adalah Ralissa hanya ingin menjaga image-nya saja di depan semua orang yang kini sedang memperhatikannya yang bersama Melviano.


Banyak yang penasaran dengan hubungan yang terjalin antara keduanya. Melihat keduanya kembali bersama, padahal sudah lebih dari sebulan dan kemarin mereka masih tidak saling menyapa. Tapi lihat sekarang keduanya berjalan berdampingan layaknya sepasang kekasih tanpa adanya Arion di sekitar mereka yang biasanya jika berkumpul mereka akan bertiga.


.


.


.


.


.


.


Ralissa dan Melviano pun sampai di kantin lalu mereka langsung duduk di tempat yang kosong. Suasana kantin saat ini tidak terlalu ramai karena sebagian dari mahasiswa/i sudah mulai melakukan aktivitas belajar di kelas masing-masing.


"Kamu ingin makan apa?" Tanya Melviano pada Ralissa yang duduk berhadapan dengannya.


"Samain aja sama pesanan kamu, aku tunggu." Jawab Ralissa menunjukkan cengirannya pada matenya yang seorang pemimpin kaum immortal.


"Hm, dasar nakal! Untung mateku kalau tidak.." Ucap Melviano lalu mencubit hidung mate-nya itu gemas.


Ralissa terkekeh karenanya.


"Kamu tidak akan berani melakukannya sekarang." Balas Ralissa membuat Melviano yang akan pergi mengurungkan niatnya.


"Kenapa?" Tanya Melviano mengangkat sebelah alisnya.


"Sekarang, aku jauh lebih kuat." Jawab Ralissa sambil tersenyum penuh kemenangan pada Melviano.


"Kita akan melihatnya nanti." Balas Melviano dan..


Cup


Melviano mencium bibir Ralissa singkat dengan sedikit ******* dan berlalu begitu saja untuk memesan makanan untuk Ralissa dan dirinya.


Treengg!


Traangg!


Traaakk!


Bruuukk!


Pyaaarr!


Braaakk!


Semua aktivitas mahasiswa/i yang sedang di kantin itu terhenti, mereka mematung melihat adegan romantis yang dilakukan Melviano dan Ralissa.


"Wah! Melviano menciumnya!"


"Mereka berpacaran!"


"Pupuslah harapanku untuk bersama Ralissa."


"Mereka cocok sekali! Cantik dan tampan!"


"Apanya yang cocok? Pasti sebentar lagi putus!"

__ADS_1


"Kyaa! Romantisnya mereka!"


"Ini adalah pertama kali dalam sejarah kampus Melviano berpacaran!"


"Oh, tidak! Ini akan menjadi hari patah hatiku!"


Ralissa hanya bisa menutup kedua telinganya mendengar semua itu. Ia melirik tajam pada Melviano yang kembali dengan membawa nampan yang berisi pesanan keduanya.


Sementara yang ditatap menunjukkan senyum penuh kemenangannya.


"Oh, ayolah. Aku hanya ingin menunjukkan pada semua orang kalau kamu adalah milikku begitupun sebaliknya." Bela Melviano sambil memberikan makanan untuk Ralissa.


Ralissa menghela nafas jengah akan tingkah Melviano yang sangat kekanakan tapi di dalam hatinya ia sangat senang kalau Melviano melakukan itu. Karena dengan begitu tidak ada yang akan berani mengganggu dirinya dengan Melviano.


Semoga saja..


.


.


.


.


.


.


Sesuai janji Melviano pada Ralissa. Kini keduanya sudah berada di hutan yang terletak di belakang kampus.


"Jangan takut untuk mengeluarkan semua kekuatanmu, sayang." Ucap Ralissa sambil memyeringai pada mate-nya.


"Aku tidak ingin membunuhmu! Kita baru saja berbaikan!" Tolak Melviano mentah-mentah. Yang benar saja Ralissa menyuruhnya mengeluarkan semua kekuatannya bisa jadi dunia manusia akan sirna karena kekuatannya yang terlampau besar.


"Tidak perlu takut. Aku tidak selemah dulu." Ucap Ralissa dengan percaya diri tingkat tinggi.


Ralisaa mengangguk yakin.


"Aku tidak mau!" Tolak Melviano. Ia memilih untuk duduk di bawab pohon yang cukup rindang di dekatnya.


Ralissa mencebik tidak suka.


"Baiklah, kita tidak perlu bertarung dengan serius. Memang begitu sih sebenarnya, hanya saja aku ingin suasananya lebih menantang. Biasanya kalau dengan mate itu si cowok pasti ngalah. Itu gak seru sama sekali!" Pasrah Ralissa menjelaskan alasan ia ingin bertarung serius dengan Melviano.


"Kalau seperti itu, bagaimana kalau aku menguji kekuatanmu saja?" Tawar Melviano membuat senyum manis di wajah Ralissa terbit.


"Kamu mau?" Ralissa meminta kepastian yang mendapat anggukan dari Melviano.


Lantas Ralissa langsung menghampiri Melviano yang duduk di bawah pohon lalu mencium bibir matenya itu.


Melviano dengan senang hati membalas ciuman dari matenya.


Masih terhanyut dengan ciuman, mereka tidak menyadari seseorang yang mengamati aktivitas keduanya dengan amarah yang memuncak hingga ke ubun-ubun.


"Ck! Jadi ini yang kalian lakukan setiap kali berdua?!" Teriaknya kesal.


Ralissa langsung mendorong kuat Melviano saat mendengar ucapan marah dari orang itu yang tak lain adalah Arion.


Arion sedang mencari keberadaan adiknya untuk pulang bersama. Tapi, ia malah mendapatkan pemandangan yang merusak kesehatan mata.


Melviano mencibir kehadiran Arion.


'mengganggu saja!' Batinnya kesal menatap tajam Arion yang saat ini menatapnya jengah.

__ADS_1


"Jika kalian seperti ini terus lebih baik kalian menikah saja!" Kesal Arion menatap tajam keduanya.


"Ah, itu terdengar sangat bagus!" Balas Melviano.


Sontak Ralissa langsung mencubit lengan Melviano gemas.


"Aw!" Pekik Melviano. Cubitan Ralissa tak main-main. Rasanya sakit dan panas bersamaan.


"Sakit sayang!" Ucap Melviano.


Arion ingin muntah melihatnya sedangkan Ralissa bersiap untuk melayangkan pukulan yang lebih menyakitkan untuk Melviano.


"Ampun! Jangan pukul aku lagi!" Mohon Melviano sambil mengangkat kedua tanganya pertanda menyerah.


Ralissa mengurungkan niatnya untuk memukul mate-nya itu.


"Kenapa kalian di sini? Kalau ingin melakukan hal 'itu' sebaiknya kalian menikah dulu!" Saran Arion membuat Ralissa membulatkan matanya sempurna.


"Yak! Enak saja. Kita ke sini bukan untuk itu. Aku hanya ingin menunjukkan kekuatanku yang sekarang padanya!" Balas Ralissa sambil melirik mate-nya.


"Ah, benarkah. Tapi yang terlihat tidak seperti itu. Yang terlihat kalian seperti akan melakukan ha yang iya-iya kan?!" Tebak Arion.


"Ish! Sudah kubilang tidak ya tidak!" Marah Ralissa. Ia sangat geram akan sifat Arion yang keras kepala.


"Jika kau iri, lebih baik cari mate-mu sana!" Usir Melviano sadis.


"Sial." Umpat Arion yang merasa tertohok akan ucapan Melviano padanya.


"Tenang saja! Aku akan mencarinya!" Kesal Arion lalu pergi meninggalkan mereka. Tapi langkahnya terhenti.


"Jika aku melihat kalian melakukan hal yang lebih dari ini, jangan harap hidup kalian akan tenang." Ancam Arion lalu melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda.


"Okey! Ancamannya yang tadi tidak main-main! Jadi, yang tadi adalah ciuman terakhir." Ucap Ralissa.


"Hey! Itu tidak adil." Balas Melviano tak terima akan keputusan yang Ralissa ambil.


"Ini untuk kebaikan kita berdua!"


"Jika kamu ingin menyentuhku lagi, kamu harus menikahiku terlebih dahulu." Ralissa menunduk di akhir ucapannya. Jujur saja ia sangat malu saat ini. Pipinya terasa panas, bahkan wajahnya sudah memerah layaknya kepiting rebus.


"Ah, ada yang main kode-kodean ternyata." Ucap Melviano mendekati Ralissa.


"Tentu saja. Aku akan menikahimu, kembalinya kita ke dunia immortal aku akan langsung mengajakmu untuk pergi ke kerajaanku dan di sana kita akan melaksanakan pernikahan kita." Lanjut Melviano lalu memeluk mate-nya itu.


Mereka pun terhanyut dalam kehangatan. Keduanya lupa tujuan awal mereka datang ke hutan.


.


.


.


.


.


.


To be continue


Jangan lupa untuk vote dan komen ya~


Tunggu kelanjutannya juga~

__ADS_1


Salam


Shinikook


__ADS_2