
"What the-" Gumam Arion terputus ketika melihat siapa yang menjadi rektor di tempatnya 'kuliah' saat ini.
"Impossible!" Tambah Ralissa menganga melihatnya.
"Uncle Fernant!" Pekik kedua sepupu itu kompak.
Yup
Fernant Houtman, adik dari Rey Houtman sekaligus tangan kanannya. Rey menyuruhnya bekerja sebagai rektor di Universitas yang telah ia bangun sendiri tepat setelah ia menikah dengan Lisa.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Kenapa uncle ada di sini? Jadi rektor lagi!" Pekik Ralissa memeluk Fernant dan melepas pelukannya.
"Ini ulah ayahmu." Jawab Fernant menghela nafas mengingat tingkah laku kakaknya.
"Ayah? Ah~ aku mengerti sekarang." Ucap Ralissa.
"Uncle, apa kami berdua bisa ditempatkan di kelas yang sama?" Tanya Arion.
"Tentu saja." Jawab Fernant dengan bangga pada dirinya.
"Ayo, paman antar ke kelas kalian." Lanjut Fernant mengajak kedua keponakannya itu.
.
.
.
Fernant memasuki kelas diikuti dengan Ralissa dan Arion. Kelas yang sempat Ribut jadi hening seketika saat mereka melihat siapa yang masuk ke kelas mereka.
"Khem, selamat pagi semua." Sapa Fernant membuka percakapan.
"Selamat pagi pak." Balas semua mahasiswa/i yang ada di dalamnya.
"Hari ini kita kedatangan dua teman baru, pindahan dari Universitas S**. Silakan perkenalkan diri kalian." Ucap Fernant tanpa basa-basi.
"Namaku Arion S dan ini pacarku Ralissa Grace." Ucap Arion mengenggam tangan Ralissa.
Keluhan kecewa pun mulai terdengar.
"Yah, udah punya pacar."
"Mereka pacaran toh."
"Beruntung banget si cewek."
"Nggak bisa dideketin deh."
"Sayang sekali bro."
"Semoga cepet putus deh."
"Maksud kakak apa?" Bisik Ralissa geram.
__ADS_1
"Oh, ayolah! Kau tidak melihat tatapan semua perempuan itu?" Arion menunjuk dengan lirikan matanya.
"Terserah kakak saja. Jangan suruh aku menjelaskan semuanya pada mate kakak nanti!" Balas Ralissa mengancam.
Arion tak peduli dengan ancaman Ralissa. Begitu pula Fernant hanya bisa menghela nafas melihat tingkah kedua keponakannya itu.
"Kalian duduk di bangku yang kosong." Suruh Fernant.
Merasa selesai dengan tugasnya Fernant pun keluar dari kelas.
Arion melihat sekeliling tidak ada bangku kosong yang berdampingan.
'Oh shit.' Umpatnya kesal, ia melihat semua perempuan menatapnya lapar. Ia bergidik ngeri.
Ralissa dengan cuek memilih bangku yang cukup jauh di belakang. Tanpa menghiraukan cowok di sampingnya.
"Minggir." Usir cowok itu.
"Hah? Maksudmu apa?" Ucap Ralissa kesal. Ia baru saja duduk dan sekarang ia di usir?
"Aku bilang minggir!" Tukas cowok itu yang tak lain adalah Melviano.
"Ini bangku kosong bukan? Kenapa pula aku harus pergi?!" Kesal Ralissa, suaranya naik satu oktaf.
Melviano memutup sebelah telinganya yang terasa tertusuk. Ia menatap tajam Ralissa.
"Apa?! Mau marah?!"
"Dasar kulkas!" Ucap Ralissa membalas tatapan tajam Melviano.
Semua pasang mata menatap keduanya. Penasaran dengan apa yang akan terjadi.
Banyak yang bertaruh kalau Melviano akan keluar dari kelas lagi. Begitu pula sebaliknya.
Tak tahan menjadi pusat perhatian, Melviano hendak pergi. Tetapi,
"Cih, pengecut!" Gumam Ralissa, yang ia yakini cuma dirinya sendiri yang mendengarnya.
"Siapa yang bakal menyukainya kalau seperti itu?" Lanjut Ralissa berdialog sendiri.
'Semua perempuan di sini, menyukaiku!' Balas Melviano dalam hati, ia tersenyum penuh kemenangan.
"Aku berharap dia bukan mateku!" Tambah Ralissa.
Seketika senyum Melviano hilang, ia langsung menghentikan langkahnya. 'Mate' batin Melviano segera kembali untuk memastikan hal itu.
"Kenapa ka–" Ucapan Ralissa terpotong.
"Kau bilang apa tadi?" Tanya Melviano.
"Bukan apa-apa." Jawab Ralissa takut karena sempat mengumpatinya.
Belum sempat Melviano membalas, dosen wanita masuk menyapa semuanya.
"Selamat pagi semua."
Semua yang di dalam ruangan pun menoleh pada dosen itu. "Pagi bu." Balas mereka semua kecuali Ralissa dan Melviano.
"Khem, Melviano sedang apa kamu?" Tanya dosen itu melihat Melviano berdiri di samping Ralissa dengan sebelah tangan menahan tubuhnya bertumpu pada meja Ralissa.
"Ah, maaf." Ucap Melviano, lantas ia duduk kembali di bangkunya.
Pelajaran pun berlangsung. Dan untuk pertama kalinya Melviano duduk berdampingan bersama perempuan.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.
.
.
Melviano merebahkan diri di kasur king size-nya. Ia menghela nafas berat.
"Siapa dia?" Gumam Melviano.
"Kenapa aku tidak tahu kalau dia makhluk immortal?"
"Apa dia sama sepertiku?"
Melviano langsung menggeleng. "Itu tidak mungkin! Kalau memang benar aku pasti mengenali dan bisa membaca pikirannya!" Teriaknya frustasi.
Toktoktok.
"Masuk saja! Van." Suruh Melviano.
Pintu pun terbuka menampilkan seorang pemuda yang menggunakan jubah serba hitam. Ia adalah Revan Allegrach, teman sekaligus orang kepercayaan Melviano yang mengurus Kerajaan Demon selama ia berada di dunia manusia.
"Ada apa?" Tanya Melviano mengubah posisinya menjadi duduk.
"Tidak ada apa-apa." Balas Revan tanpa merasa bersalah, ia langsung merebahkan diri di samping Melviano.
"Apa-apaan kau?!" Teriak Melviano melihat temannya berlaku seenaknya.
"Oh, ayolah! Apa kau tidak mengasihaniku yang mengerjakan semua tugasmu?!" Kesal Revan.
"Jika kau sedang melakukan tugas, kau tidak akan di sini! Kenapa kau kemari?!" Kesal Melviano.
"Aku ingin istirahat sebentar! Kau pelit sekali! Kalau kaum immortal tahu king mereka seperti kau, aku yakin kau langsung turun tahta!" Balas Revan.
Melviano diam, malas berdebat dengan Revan yang selalu mengkaitkan masalah pribadi dengan jabatan. Padahal Revan tahu kalau Melviano sedang sibuk mencari matenya untuk kepentingan kaumnya.
"Khem btw, aku sempat mendengar gumaman mu. Apa sudah ada kemajuan?" Tanya Revan.
Melviano kembali merebahkan dirinya. "Entahlah, aku hanya bingung saja." Jawab Melviano.
"Apa yang kau bingungkan?" Tanya Revan semakin penasaran.
"Tadi ada dua mahasiswa baru di kampus, salah satunya perempuan dan dia sempat menyebut kata 'mate'." Jelas Melviano.
"Itu sudah menjelaskan kalau dia kaum immortal! Dasar idiot!"
Melviano langsung memukul kepala Revan telak, bukan dengan kekuatan biasa tetapi dengan kekuatan demonnya. Revan langsung terpental jauh, kalau dia manusia biasa mungkin kepalanya sudah hancur!
"Apa kau sudah gila? Kau mau membunuhku?!" Teriak Revan.
Melviano berdiri mengepakkan sayap hitamnya, kedua tanduknya muncul, kukunya yang panjang dan runcing ia permainkan, matanya yang hitam menatap tajam Revan, jangan lupakan taringnya yang mencuat.
"Kalau ngomong disaring dulu! Kau ingin hidup abadimu berakhir, bilang saja! Aku siap membunuhmu sekarang!" Ancam Melviano terdengar serius.
Revan menelan ludahnya dengan susah payah. Melviano benar-benar marah.
"Maaf, aku tidak akan mengulanginya!" Revan mengeluarkan cengirannya.
Melviano langsung mengubah wujudnya menjadi manusia kembali. "Aku sudah tahu kalau dia adalah makhluk immortal sejak mengatakan hal itu. Masalahnya, aroma tubuhnya sama seperti manusia, bukan persis tapi sama!" Melviano mengacak rambutnya frustasi.
Revan mengangguk paham , mengerti kenapa Melviano bisa seperti itu. Ini bukanlah masalah sepele.
"Apa mungkin dia bisa sihir?"
"Dasar bodoh! Kalau dia menggunakan sihir, aku pasti bisa merasakan energinya!" Geram Melviano.
"Mungkin saja dia seorang half." Terka Revan.
Melviano hanya bisa menggelengkan kepalanya. Kenapa dia bisa menjadikan Revan sebagai orang kepercayaannya, kalau bukan teman, Melviano pasti sudah membunuhnya sejak dulu.
__ADS_1