Vampirewolf

Vampirewolf
I Love You, You Love Her..


__ADS_3

Saat ini mereka sedang berjalan berdampingan. "Apa?" Balas Arion cuek.


"Kakak mau tanding berburu?" Tanya Ralissa menantang.


Arion langsung menggeleng menolak. Mengingat cara Claris mengoyak tubuh mangsanya dengan sadis tanpa ampun dan rasa iba membuatnya bergidik ngeri.


"Aku tidak mau menjadi korbanmu selanjutnya." Ucap Arion yang langsung ditertawakan oleh Ralissa.


"Haha, dasar penakut." Ejek Ralissa setelah cukup lama tertawa sambil memegang perutnya.


"Besok lusa. Kakak bisa melihatku berburu dengan sangat sadis di dunia manusia." Lanjut Ralissa tersenyum misterius.


.


.


.


.


Hari yang ditunggu-tunggu Ralissa pun tiba. Ia sudah mempersiapkan mental dan hatinya untuk membunuh matenya dengan tidak meminum darah semalam, ia ingin darah matenya yang memuaskan dahaganya.


Arion yang tidak tahu apa-apa tentang rencana Ralissa tak bisa menebak apapun. Walau ia merasa curiga karena Ralissa tidak mengkonsumsi darah, tetapi ia mencoba berfikir positif kalau Ralissa akan berburu setelah semua mata kuliah telah usai.


Ralissa dan Arion sampai di kelas mereka. Tidak mendapati keberadaan Melviano membuat Ralissa mendengus kesal.


Arion hanya bisa menahan tawa melihat adiknya seperti itu. Ia berfikir kalau Ralissa sangat merindukan Melviano.


"Kau merindukannya?" Tanya Arion berbisik.


Ralissa tak menjawab. Ia hanya ingin membunuh Melviano secepat mungkin, dan ingin melihat reaksi Melviano yang mungkin akan berubah karena ramuan baru yang ia minum.


Ralissa melangkahkan kakinya lebih dalam memasuki kelas, sementara Arion sedang menahan geramannya karena kesal diacuhkan.


.


.


.


Di lain tempat, gerbang kampus. Melviano sedang mencoba menahan diri untuk tidak melesat di tengah keramaian manusia yang berlalu lalang di sekitarnya. Aroma yang sangat memabukkan itu kembali tercium, ia benar-benar ingin menemui si pemilik aroma memabukkan itu.


"Aku harus bertemu dengannya! Bagaimanapun caranya!" Ucapnya mencoba untuk melangkahkan kakinya seperti biasa tanpa terlihat tergesa-gesa.


Bukannya menjauh, aroma memabukkan itu semakin pekat. Melviano semakin berharap kalau matenya berada di kelasnya saat ini.


Dengan masih berusaha untuk menormalkan ekspresi wajahnya, Melviano masuk dan segera berjalan menuju bangku paling belakang terlihat Ralissa duduk di samping tempat biasa ia duduk.


"Hay Melvi." Ralissa memanggilnya dengan melambaikan tangan padanya.


Melviano membulatkan matanya sempurna. 'Ralissa? Dia mateku?' Batinnya tak percaya.


Tanpa membalas sapaan Ralissa, Melviano duduk di sampingnya. Ia masih tidak percaya kalau aroma memabukkan itu berasal dari Ralissa karena selama ini ia tidak merasakan itu. Walaupun ia merasa ada perasaan aneh saat berada di dekatnya. Seperti rasa nyaman? Entahlah rasa itu tak dapat dijelaskan.


"Ralissa, apa kau–" Melviano tidak dapat melanjutkan ucapannya.


"Bisakah kita bicara berdua nanti?" Tanya Ralissa pada Melviano dengan senyuman manis andalannya.


"Tentu. Dimana?" Tanya Melviano karena itulah yang ingin ia ucapkan sebelumnya.


"Di hutan belakang kampus. Bisa?" Tanya Ralissa lagi.


"Baiklah. Selesai kelas, kita ke sana." Jawab Melviano setuju tanpa curiga. Rasa senang mengetahui kalau matenya bukanlah seorang manusia membuatnya tidak bisa berfikir.


Sedangkan Ralissa kembali menghadap ke depan, melihat dosen yang mulai menjelaskan materi kuliah dengan serius.


.


.


.


Semua mata kuliah telah usai. Saat ini Ralissa masih bersama Arion menuju ke tempat parkir.


"Kak." Panggil Ralissa membuat Arion menoleh ke samping kirinya.

__ADS_1


"Kakak pulang duluan saja. Aku akan bertemu Melviano sebentar." Izin Ralissa.


Tanpa rasa curiga sedikitpun Arion mengangguk memberi izin dan melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti menuju ke tempat parkir.


Ralissa tersenyum senang. Ia pun segera berbalik arah menuju ke hutan, mungkin Melviano sudah menunggunya di sana.


Ralissa melihat sekitar, tidak ada manusia yang berlalu lalang. Senyumnya semakin merekah, ia segera melesat menuju tempat tujuannya.


Ralissa menormalkan langkahnya ketika sudah dekat dengan hutan. Suasana di sana tidak terlalu mencekam, malah terasa sejuk karena hari semakin sore.


Langkahnya terhenti ketika melihat seseorang yang ia yakini adalah Melviano.


'Hari ini adalah akhir hidupmu! Maafkan aku, tapi aku tidak ingin menjadi orang yang tersakiti karena kau mencintai orang lain. Sebelum aku memendam rasa yang lebih dalam, lebih baik kau mati!' Batin Ralissa, keempat taringnya terlihat, iris matanya berwarna emas bercampur merah darah karena Claris menyalurkan sedikit kekuatannya, kuku Ralissa memanjang dan Runcing. Keputusannya sudah bulat, ia akan membunuh Melviano hari ini.


"Kenapa kau lama sekali, Ralissa?" Tanya Melviano tanpa berbalik.


Deg!


Ralissa terkejut bukan main. Melviano menyadari keberadaannya? Padahal ia sudah berusaha untuk tidak bersuara sedikitpun.


"Bagaimana kau bisa tahu kalau aku sudah sampai?" Bukannya menjawab pertanyaan Melviano, ia malah bertanya dan melesat menghampiri Melviano dan mengunci kedua tangan Melviano di belakang tubuh laki-laki itu dengan satu tangannya dan tangannya yang lain mencekik leher Melviano.


"Apa yang kau lakukan? Kau ingin membunuhku?" Tanya Melviano tak percaya dengan apa yang ia lihat.


"Kau masih bertanya? Iya, aku akan membunuhmu!" Jawab Ralissa menguatkan tangannya mencekik Melviano dan ia sadar akan satu hal.


"Kenapa kau tidak terkejut dengan penampilanku? Kau tahu aku bukan manusia?" Tanya Ralissa beruntun, ia melepas kedua tangannya dari Melviano. Ia mundur beberapa langkah.


"Aku sempat terkejut, karena dugaanku salah. Ya, aku tahu kau bukan manusia." Jawab Melviano.


Ralissa semakin bingung dengan situasi saat ini, Melviano tidak terkejut akan ia yang menunjukkan wujud aslinya. Tidak mengeluh sakit saat ia mengunci dan mencekik Melviano.


"Siapa kau? Kau itu apa?" Tanya Ralissa ia mulai waspada.


Melviano tersenyum tipis, menatap Ralissa tajam.


"Vampirewolf, ya? Menarik." Ucap Melviano tak menjawab pertanyaan Ralissa, ia berjalan mendekat ke arah Ralissa.


"Bagaimana kau tahu?" Tanya Ralissa berjalan mundur.


"Wujud aslimu." Tunjuk Melviano dengan gerakan matanya.


Melviano bukan manusia, Sya. Tapi, dia mencintai gadis lain. Aku tidak suka itu. Bunuh dia bagaimanapun caranya! Claris memindlink Ralissa untuk tetap melanjutkan renacananya walaupun sudah tahu Melviano bukan manusia.


'Baiklah.' Putus Ralissa menghentikan aksinya melangkah mundur membiarkan Melviano semakin dekat dengannya.


Melviano tersenyum karena Ralissa berhenti melangkah mundur. Tak ingin membuang kesempatan ia segera merengkuh tubuh Ralissa dan mencium aroma tubuhnya.


Ralissa tidak membalas pelukan Melviano. Ia hanya mensejajarkan tingginya dengan leher Melviano, menghirup aroma tubuh Melviano yang tak tercium karena pengaruh ramuan Anna.


"Maaf." Ucap Ralissa.


Craassh!


Ralissa menggigit leher Melviano dan tangan yang awalnya diam mencakar punggung Melviano.


Tangan Ralissa penuh dengan darah terus mencakar Melviano semakin kuat. Sesapannya dileher Melviano juga semakin rakus, karena ia tak meminum darah semalam. Tentu saja karena darah Melviano terasa sangat manis di dalam mulutnya.


Melviano membelalakkan matanya tak percaya dengan apa yang Ralissa lakukan padanya.


"Ralissa, kau–" Melviano tak melanjutkan ucapannya karena Ralissa menyesap darah yang keluar dari lehernya dengan rakus.


'Tubuh manusia benar-benar lemah.' Batin Melviano memejamkan matanya. Iris mata yang awalnya biru menjadi hitam pekat.


Ralissa menghentikan aksinya menyesap darah Melviano dan segera melepas tangannya yang baru saja mencakar punggung Melviano.


Ralissa mematung di tempat.


'Demon?' Batinnya bertanya.


Luka yang diberikan Ralissa telah hilang tak berbekas. Melviano tersenyum, mendekati Ralissa yang mematung karena perubahan wujudnya.


"Kau seorang demon? Mateku?" Tanya Ralissa tak beraturan karena syok.


Melviano mengangguk meng'iya'kan.

__ADS_1


"Jangan mendekat!" Suruh Ralissa melihat Melviano berjalan mendekatinya.


"Atau aku bunuh kau sekarang!" Ancam Ralissa.


"Kenapa kau sangat ingin membunuhku? Padahal kau sudah tahu kalau aku adalah matemu!" Balas Melviano.


"Cih! Aku tidak sudi memiliki mate sepertimu." Ucap Ralissa.


"Hah? Apa aku salah dengar?" Tanya Melviano memastikan.


"Aku adalah pemimpin makhluk immortal." Lanjut Melviano berfikir kalau Ralissa menolak karena belum tahu kedudukannya.


"Aku tidak peduli kau siapa! Yang jelas kau harus mati!!" Teriak Ralissa kesal. Amarahnya semakin menjadi.


"Matilah." Ucap Ralissa sebelum Claris mengambil alih tubuhnya.


Claris melompat menindih tubuh Melviano dan menatapnya tajam, seolah Melviano adalah mangsanya.


"Tidak semudah itu." Ucap Melviano. Bertepatan dengan itu Claris terpental mundur.


"Apa alasanmu, hingga kau sangat ingin membunuh matemu sendiri?!" Tanya Melviano mencoba menahan emosinya.


"Hahaha."  Claris tertawa miris.


"Kau tidak tahu?" Tanya Claris lalu kembali tertawa.


"Jawablah. Kalau alasanmu masuk akal. Aku tidak keberatan direject olehmu." Ucap Melviano membuat Claris mengangkat sebelah alisnya, tertarik.


"Kita sama. Mencintai." Jawab Claris membuat Melviano bingung.


"Aku mencintaimu. Dan kau!" Claris menunjuk Melviano dengan tatapan tajamnya.


"Mencintai gadis lain, bukan?" Lanjut Claris membuat Melviano bungkam seketika.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


To be continue


Aneh kan chapter kali ini.


Maaf ya, problem ceritanya aneh.

__ADS_1


Tetap baca  sampai selesai ya~


Jangan lupa votement nya


__ADS_2