
Kerajaan Vampire
Pagi hari..
Ralissa berjalan memasuki mansion yang ada di depannya. Pikirannya sekarang hanya tertuju pada satu orang, siapa lagi kalau bukan ayahnya. Ia sudah bertekad untuk belajar sihir lalu berperang melawan demon, tepatnya membunuh Melviano.
Kekuatan fisiknya tak bisa diragukan, hanya satu kekurangannya tak bisa sihir. Ah, lupakan kekurangannya yang tak bisa mengontrol dirinya akan darah karena jika dalam perang itu menjadi kelebihannya. Ia akan mengoyak bahkan menikmati daging dan darah musuh yang berhadapan langsung dengannya.
Bisa saja Vampirewolf menjadi makhluk immortal yang paling ditakuti, bahkan ia bisa menjadi makhluk paling kuat di dunia immortal. Tapi sayangnya, Vampirewolf tidak bisa menggunakan sihir karena berusaha menghindar dari makhluk lain yang mungkin saja ia sayangi sehingga kemampuannya hanya untuk bersembunyi.
Tapi itu tidak berlaku untuk Ralissa, sekarang ia tidak perlu menutupi kemampuannya karena ia bisa bergaul dengan makhluk lain dengan mudahnya dengan meminum ramuan dari neneknya, Anna.
Tak butuh waktu lama baginya untuk sampai di ruangan sang ayah yang setia duduk mengerjakan setumpuk kertas yang ada di meja kerjanya dan ditemani oleh istri tercinta di sampingnya.
"Pagi ibu, ayah." Sapa Ralissa riang lalu mendekati orang tuanya yang masih fokus dengan pekerjaan yang ada di hadapan mereka.
"Ralissa, pagi juga sayang." Balas Lisa sedangkan Rey hanya tersenyum membalas sapaan anaknya.
"Kenapa pulang? Bukankah kamu baru kembali ke dunia manusia kemarin?" Tanya Rey menatap Ralissa yang kini sudah ada di hadapannya.
Ralissa hanya nyengir menampilkan gigi rapinya. "Sudah ada yang menggantikanku." Balas Ralissa duduk di kursi yang sudah ada di depan meja kerja Rey.
"Lalu? Apa tujuanmu kembali?" Tanya Rey to the point. Ia sangat tahu kalau Ralissa punya alasan khusus untuk kembali.
Lisa yang menjadi pendengar yang baik sangat ingin mencubit bahkan memukul suaminya yang bertanya tanpa basa basi sehingga ia hanya bisa menatap tajam suaminya. 'Untung sayang.' Batinnya. 'Akan kuberi dia pelajaran nanti.' Lanjutnya kesal.
"Belajar sihir dengan ayah." Jawab Ralissa to the point juga.
"Aku ingin membunuh seseorang." Lanjutnya lalu menyeringai.
"Kamu sudah gila?!" Tanya Lisa dengan nada tinggi menatap tidak percaya pada anak perempuan semata wayangnya.
"Bisa jadi." Jawab Ralissa dengan santainya menatap sang ibu.
"Jika ibu tahu alasannya, mungkin ibu sudah membunuhnya lebih dulu daripada aku." Lanjut Ralissa menatap sang ibu.
"Ah, begitukah?" Tanya Lisa yang diangguki oleh Ralissa.
Rey tersenyum mendengar penuturan Ralissa karena merasa masalah yang dihadapi Ralissa cukup menarik.
"Kapan kau siap untuk belajar sihir?" Tanya Rey sambil menaikkan sebelah alisnya pada Ralissa.
"Sekarang pun aku siap." Jawab Ralissa membuat Rey tersenyum senang akan jawaban anaknya itu.
"Ayo!" Ajak Rey menarik tangan Ralissa untuk mengikutinya.
Lisa tak tinggal diam, ia pun mengikuti suami dan anaknya di belakang sambil terseyum tipis melihat keakraban anak dan ayah di depannya.
'Akhirnya, aku bisa merasakan kehidupan bahagia seperti keluarga pada umumnya.' Batin Lisa masih memandang interaksi ayah dan anak di depannya.
__ADS_1
Ralissa menatap tak percaya melihat sekelilingnya sekarang. Tebak mereka ada di mana? Mereka sekarang berada di perpustakaan kerajaan. Banyak buku yang berjejer rapi di tempatnya.
"Kenapa kita ke sini?" Tanya Ralissa, mungkin mereka salah tempat kan? Bagaimana mungkin belajar sihir di perpustakaan?
"Sebelum praktik sihir, kamu harus menghapalkan mantra-mantra sihir yang ada dalam buku-buku ini." Rey mengambil beberapa buku dengan sihirnya.
"Membaca? Seingatku, Arion tidak mengucapkan mantra apapun saat menggunakan sihirnya." Ucap Ralissa menerima buku-buku yang diberikan ayahnya itu.
Lisa tersenyum mendengarnya. "Sihir yang dimiliki oleh Arion, paman Theron dan kakek Thomas itu berbeda. Mereka bisa sihir tanpa mantra dan sihir yang mereka miliki itu spesial. Tidak ada yang bisa mengalahkan kekuatan sihir mereka, termasuk ayahmu. Tetapi, sihir mereka berakibat sangat fatal, semakin kuat sihir yang digunakan semakin besar dan cepat energi mereka terkuras." Jelas Lisa pada anaknya.
Ralissa mengangguk paham, ketika mengingat Arion yang mampu memindahkan black witch yang menyerangnya dulu.
"Jadi, kamu mau bisa sihir yang mana?" Tanya Rey.
"Semuanya." Balas Ralissa singkat, padat dan jelas.
Rey mengangkat sebelah alisnya. "Siapa lawanmu sampai kau ingin menguasai segala macam sihir?" Tanya Rey.
"Dia sangat berbahaya." Jawab Ralissa dengan pura-pura bergidik ngeri mengingat wajah Melviano.
"Siapa? Kau tidak perlu menguasai semuanya jika lawanmu bukan seorang demon." Ucap Rey.
Deg!
Ralissa tercekat akan ucapan sang ayah, dengan cepat ia mengubah ekspresi wajahnya agar terlihat biasa saja.
"Tidak, dia bukan seorang demon. Dia hanya manusia biasa. Hanya saja aku ingin membunuhnya dengan sadis." Ucap Ralissa akhirnya.
Rey tersenyum mendengar jawaban dari anaknya itu, ia sangat suka akan rencana Ralissa.
"Bagus sekali. Kalau begitu semangatlah membaca mantra yang ada dalam buku-buku itu." Ucap Rey pada Ralissa sambil melirik tumpukan buku yang ada pada anaknya itu.
Ralissa melirik buku-buku yang dipenggangnya. Ia menghela nafas berat.
"Semangat ya sayang." Ucap Lisa tersenyum pada anaknya.
Okey, kita biarkan Ralissa membaca tumpukan buku mantra itu..
Sementara itu di dunia manusia..
Arion berjalan santai bersama dengan Ralissa (makhluk buatannya) di lorong kampus, walau rasa penasaran melingkupi dirinya. Tapi, ia tidak mau ambil pusing akan apa yang direncanakan oleh adik sepupunya itu, ia malas untuk berkomentar karena sikap Ralissa membuatnya sedikit err- merinding. Tapi, jika Ralissa keterlaluan seperti kemarin. Ia akan langsung mengambil tindakan.
'Bertingkahlah seperti Ralissa.' suruh Arion pada sosok Ralissa yang ada di sampingnya.
'Baik, tuan.' Balasnya membuat Arion tersenyum puas. Ia pun mencoba untuk menggandeng tangan makhluk buatannya itu.
Dan refleks 'Ralissa' menatap Arion tajam. "Jangan menyentuhku!" Ucapnya menatap Arion tajam.
"Ah, baiklah." Balas Arion.
__ADS_1
'Good girl.' Batin Arion puas dengan respon 'Ralissa' persis dengan 'asli'nya.
Akhirnya mereka berdua sampai di kelas mereka. 'Ralissa' berjalan meninggalkan Arion.
'Kenapa aku kesal ketika sifatnya sangat persis dengan Ralissa?' Batinnya sambil menatap Ralissa yang sudah duduk di belakang dua perempuan yang menjadi teman baru Ralissa.
Tatapan Arion pun beralih pada Melviano yang duduk sambil membaca buku, tanpa melirik Ralissa yang baru datang.
Arion mengangkat sebelah alisnya heran. 'Apa dia sudah menyerah?' batin Arion, ia pun berjalan mendekati Melviano.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Arion setelah duduk di samping Melviano.
"Seperti yang kau lihat." Balas Melviano sambil mengangkat buku yang ia pegang berniat menunjukkannya pada Arion.
"Ck!" Arion mendecak kesal.
"Kau tidak menyapa Ralissa seperti biasanya?" Lanjut Arion menjelaskan maksud pertanyaan yang sebelumnya.
Melviano melirik Ralissa sekilas. "Bukannya dia yang selalu menyapaku?" Tanya Melviano balik membuat Arion menepuk jidatnya.
"What the-" Arion menahan diri untuk tidak mengumpat.
"Bagaimana bisa dia menyapamu terlebih dulu ketika ia kesal padamu!" Geram Arion.
"Lalu aku harus bagaimana? Dia yang menuruhku untuk tidak mendekatinya! Dia bilang itu adalah hukuman untukku!" Jelas Melviano panjang lebar, frustasi akan apa yang ia alami.
Arion berkedip beberapa kali mendengar ucapan Melviano yang cukup panjang. 'Lebih dari lima belas kata!' Batin Arion takjub.
"Apa kau mendengarku?" Tanya Melviano saat merasa Arion tidak meresponnya.
"Ah, tentu saja. Bahkan semua anak yang ada di kelas ini mendengar curhatanmu itu." Balas Arion sengit membuat Melviano refleks melihat sekitarnya dan benar semua pasang mata menatap- lebih tepatnya menonton mereka. Kecuali Ralissa, tentu saja.
"Kenapa kau tidak menggunakan sihirmu agar percakapan kita didengar?!" Kesal Melviano berbisik.
"Asal kau tahu saja. Aku paling pelit menggunakan sihir di dalam keluargaku." Balas Arion dengan berbisik pula.
"Sial!" Kesal Melviano, ia pun menutup matanya menenangkan diri kemudian menghapus ingatan semua manusia yang mendengar percakapannya dengan Arion.
"Wow! Kau hebat!" Takjub Arion, tentu saja berpura-pura.
"Tck!" Decak Melviano kesal dengan tingkah Arion.
"Diam kau!" Lanjutnya menatap tajam Arion.
To be continue
Jangan lupa votement nya ya~
Biar semangat buat lanjut..
__ADS_1
Salam
Shinikook