Vampirewolf

Vampirewolf
Mate!


__ADS_3

Sepanjang perjalanan pulang, Ralissa terus menatap tajam Arion. Mengingat kejadian beberapa saat yang lalu setelah mata kuliah usai membuat Ralissa semakin geram dengan kakak sepupunya itu.


"Kenapa kakak bersikap seperti itu?!" Tanya Ralissa untuk kesekian kalinya.


Arion malas untuk menjawab memilih diam dan menggunakan sedikit sihirnya untuk tidak mendengar ucapan Ralissa.


"Sampai kapan kakak akan bertahan menggunakan sihir terus? Aku yakin, belum sampai rumah kakak sudah pingsan." Ejek Ralissa tahu Arion sedang menggunakan sihirnya karena iris matanya berubah.


"Kamu terlalu berisik!" Balas Arion memikirkan apa yang terjadi kalau ia menggunakan sihirnya terlalu lama.


"Kalau kakak menjawabku sejak awal, aku tidak akan bertanya terus!" Balas Ralissa, telak.


"Nanti saat sampai rumah, kakak jelaskan! Sekarang, biarkan kakak mengendarai mobil ini seperti mereka. Kita terlihat mencurigakan!" Ucap Arion melirik sekitar dan beberapa orang pengendara kendaraan bermotor memerhatikan mereka.


"Maaf." Cicit Ralissa dengan suara pelan.


Arion hanya bisa menggelengkan kepalanya, menambah kecepatan mobil sihir itu agar mereka bisa cepat sampai rumah.


.


.


.


.


.


.


.


Flashback on


Melviano menatap Ralissa yang sedang membereskan buku-bukunya yang berserakan di atas meja.


"Bisa kita bicara sebentar?" Tanya Melviano, berharap kalau Ralissa akan menjawab 'iya'.


"Kalau mau bicara, bicara saja. Aku yakin itu bukan hal penting." Balas Ralissa acuh, tanpa melirik Melviano.


"Tapi ini masalah penting, please." Pinta Melviano memohon, untuk pertama kalinya ia memelas seperti ini hanya untuk memastikan sesuatu.


"Baik–"


"Tidak bisa!" Arion mendahului ucapan Ralissa.


"Kakak!" Teriak Ralissa kesal karena ucapannya terpotong begitu saja.


"Ya, sayang?" Ucap Arion tak menghiraukan kekesalan Ralissa.


"Mau pulang sekarang?" Lanjut Arion lagi.


Belum sempat Ralissa menolak, Arion sudah menarik tangannya untuk meninggalkan kelas dan membawanya pulang.


"Posesif sekali dia."


"Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Melviano terdiam karena seorang gadis!"


"Apa Melviano tertarik dengan gadis itu?"


"Arion keren banget, gila!"


"Tipe posesif itu setia!"


"Kasian Melviano."


"Melv, sama aku aja."


"So sweet!"


Bisik-bisik tetangga pun mulai terdengar, tetapi Melviano tidak menghiraukannya.


Flashback end


Ralissa membuka pintu rumah dengan tidak sabar.


"Cepat jelaskan!" Suruh Ralissa.

__ADS_1


"Bukankah kita sudah sepakat untuk melakukan itu?" Tanya Arion sebelum menjelaskan, iya hanya memastikan kalau dirinya tidak salah.


"Melakukan apa?" Tanya Ralissa tak paham maksud Arion.


"Sandiwara itu!" Jawab Arion gemas, kesal dengan tingkah sang adik.


"Hmm, aku tidak terlalu setuju. Tapi–"


"Bukankah kau menyerahkan semuanya pada kakak?" Tanya Arion lagi.


"Tapi, tidak seperti itu juga!" Kesal Ralissa tidak terima.


Ralissa mengacak rambutnya kesal.


"Itu tindakan yang terlalu posesif dan aku tidak menyukainya! Lagi pula kenapa kakak tidak membiarkan aku berbicara dengannya! Dia kan lumayan tampan." Ucap Ralissa keceplosan, ia refleks menutup mulutnya.


"Ah, jadi seperti itu." Arion berjalan mendekati Ralissa dengan langkah teratur, sebaliknya Ralissa mundur menghindari Arion.


"Memangnya kenapa?" Tanya Ralissa mengalihkan pandangannya menghindari tatapan Arion yang tampak mengejeknya.


"Kau mengancamku dengan mate-ku jika aku bertemu dengannya. Tapi sekarang, kau malah mengagumi manusia itu!" Sindir Arion tepat sasaran. (Walaupun tidak sepenuhnya benar) 😁


"Tak ada salahnya kan mengagumi seseorang asalkan tidak berlebihan." Balas Ralissa mencoba membela diri.


"Jadi, sekarang kita impas kan?" Ucap Arion menghembuskan nafas panjang.


"Hah?! Impas untuk apa?! Seingatku kita tidak pernah bertaruh apapun!" Pekik Ralissa mengingat-ingat.


Sekali lagi Arion menggelengkan kepalanya. Kalau bukan adik sepupu, ia pasti sudah menyihir Ralissa menjadi patung!


"Sudahlah, yang jelas kalau aku membutuhkan bantuanmu kau harus membantuku! Begitupun sebaliknya." Jelas Arion tak ingin berdebat.


"Hm, baiklah." Balas Ralissa walaupun ia masih belum paham.


.


.


.


.


.


Ralissa membuka tas khususnya mencari stok ramuannya yang tersisa. Tapi, yang ia temukan hanya ramuan untuk Arion saja.


"Aduh! Bagaimana ini?" Ucapnya lirih.


"Ada apa?" Tanya Arion yang sudah bersiap-siap untuk berangkat ke kampus.


"Tidak ada apa-apa." Jawab Ralissa cepat.


"Ini ramuan kakak." Ucap Ralissa memberikan botol kecil itu, dan segera pergi untuk bersiap diri.


"Kau sudah meminum ramuanmu?"  Tanya Arion membuat Ralissa menghentikan langkahnya.


"Su-sudah." Jawab Ralissa berlari kecil menuju kamarnya.


Melihat itu Arion tidak peduli dan segera meminum ramuannya.


.


.


.


Ralissa menutup pintu kamarnya cepat.


"Aish! Apa aku tidak usah pergi? Arion pasti curiga dan akan menggunakan sihirnya untukku! Aku harus bagaimana?!" Ralissa menggigit ujung jarinya gemas.


Ia segera mengambil masker yang ada di atas meja riasnya dan segera memakainya. Ralissa melihat bayangan dirinya di cermin.


"Ini mungkin bisa bekerja dengan baik." Gumamnya mengingat kalau masker itu sudah dilumuri ramuan oleh Anna.


Selesai bersiap ia segera menghampiri Arion yang menunggunya. Mereka pun berangkat menuju kampus tanpa adanya percakapan yang berarti. Bahkan Arion tidak curiga dengan penampilan Ralissa hari ini.


.

__ADS_1


.


.


.


Di rumah Melviano


Seseorang tengah sibuk bersiap diri melihat bayangannya di cermin sekaligus merapikan rambutnya yang masih belum sesuai dengan keinginannya. Yang punya rumah hanya risih melihatnya. Yap, dia adalah Revan sedangkan Melviano ingin sekali membunuhnya.


"Kenapa kau tidak kembali ke dunia immortal? Bagaimana dengan–"


"Kau tenang saja! Aku sudah mengerjakannya seminggu lebih awal. Jadi, aku bisa berlibur." Jawab Revan memotong ucapan Melviano.


Melviano menghela nafas lega. Setidaknya ia bisa diandalkan kalau soal pekerjaan. Batin Melviano.


"Jadi kau lembur?" Tanya Melviano basa basi walau ia sudah tahu jawabannya.


"Tentu saja. Seharusnya kau berterima kasih padaku!" Ucap Revan bangga pada dirinya.


"Untuk apa? Aku tidak pernah memintamu untuk melakukannya." Balas  Melviano pergi meninggalkan Revan yang masih menata rambutnya.


"Hey, jangan tinggalkan aku!" Teriak Revan segera menyusul Melviano.


Dan akhirnya mereka berangkat bersama menuju kampus dengan menggunakan mobil Melviano.


.


.


.


Ralissa menghembuskan nafas lega. Ternyata masker yang ia gunakan berfungsi dengan baik. Walau tidak terasa nyaman untuk bernafas, setidaknya ia tidak bisa mencium aroma darah manusia yang ada di dekatnya saat ini.


"Apa kau sedang flu?" Bisik Arion tanpa mengalihkan pandangannya dari dosen yang sedang menjelaskan materi.


"Tidak." Jawab Ralissa.


"Lagipula, kita tidak mudah terserang flu, bukan?" Lanjut Ralissa terdengar malas.


"Kenapa kau memakai masker?" Tanya Arion tak menghiraukan Ucapan Ralissa.


"Hanya untuk antisipasi." Jawab Ralissa, berusaha menormalkan suaranya agar Arion tidak curiga.


"Untuk?" Tanya Arion lagi karena jawaban Ralissa masih belum jelas.


Belum sempat Ralissa menjawab, dosen mengakhiri mata kuliah dan keluar dari kelas. Saat itu pula Ralissa merasa aneh dengan tubuhnya dan..


Deg!


Indra penciumannya kembali! Ia segera menutup hidungnya dan berlari keluar kelas menghindari kumpulan manusia termasuk Arion yang berada di sampingnya.


"Dia kenapa?" Gumam Arion bertanya entah pada siapa tetapi segera mengikuti Ralissa.


Melviano yang melihat itu tampak curiga ingin segera mengikuti mereka tetapi..


"Kau mau kemana?" Tanya Revan melihatnya yang hendak pergi.


"Bukan urusanmu! Lagipula, kau sedang sibuk bukan?" Sindir Melviano melirik perempuan-perempuan yang mengerumuni Revan.


Revan menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Sedangkan Melviano segera mencari keberadaan Ralissa dan Arion dengan menggunakan sedikit kekuatannya.


"Mate!"


.


.


.


.


.


.


To be continue

__ADS_1


__ADS_2