
"Sudah tidak ada keringat lagi, kah?" Tanya Ralissa tak berani menoleh ke arah Melviano.
"Aku tidak tahu." Balas Melviano.
"Aish! Masak kamu tidak tahu sih? Kan kamu bisa merasakannya!" Teriak Ralissa lalu akhirnya menoleh dan tatapannya tertuju pada dada bidang dan perut sixpack Melviano.
Ralissa menelan ludahnya dengan susah payah, pipinya memerah saat itu juga.
Melviano tidak bisa menahan dirinya lebih lama lagi, ia pun mengubah posisinya menjadi duduk lalu menarik Ralissa agar mendekat padanya.
Ralissa yang tidak siap akan hal itu refleks menubruk dada bidang Melviano, melotot saat itu juga saat sadar bagaimana posisinya saat ini.
Tangan Melviano terulur, menarik dagu Ralissa mendekati wajahnya.
"Kamu sangat menggemaskan dan cantik." Ucap Melviano menatap Ralissa dalam.
Ralissa terbuai, tidak tahu harus berkata apa. Semakin lama wajah mereka semakin mendekat, jarak mereka semakin menipis.
Hingga jarak antara bibir mereka tinggal beberapa senti, Ralissa memejamkan matanya.
Karena keduanya terhanyut akan suasana, mereka tidak sadar kalau pintu kamar Arion terbuka.
"Ralissa. Apa keadaannya sudah lebih ba-" Ucapan Arion menggantung melihat situasi yang ada di hadapannya.
Pletak!
Melviano meringis, memegangi kepalanya yang terasa panas karena jitakan Arion. Kepalanya kembali terasa pening.
"Kakak!" Teriak Ralissa menatap Arion tajam.
"Apa? Mau marah? Kalian belum nikah! Udah main nyosor aja!" Ucap Arion dingin membuat nyali Ralissa ciut.
"Kasian Melviano kak. Dia masih sakit!" Ucap Ralissa. Ia mengelus kepala Melviano yang telah menjadi sasaran empuk kakak sepupunya itu.
"Itu hukuman yang pantas untuknya. Daripada dipenggal lebih baik dijitak, kan?" Ucap Arion membuat Melviano menelan ludah. Sedangkan Ralissa, langsung berdiri menghadap Melviano.
"Awas saja nanti. Kalau kakak bertemu dengan mate kakak sendiri." Balas Ralissa, ia maju selangkah mendekati Arion.
"Siapkan saja, diri kakak untuk terluka." Ancam Ralissa berbisik.
"Memangnya kau bisa?" Ucap Arion meremehkan.
"Kakak pikir aku bodoh? Tentu saja, di saat yang tepat." Balas Ralissa menyeringai.
Arion menghembuskan napas kasar, mengerti maksud dari ucapan Ralissa. Saat yang tepat berarti ketika ia sudah kehabisan energi, saat itulah Ralissa akan menyerangnya. Apalagi saat ia melihat seringaian sang adik, sudah pasti Ralissa sangat senang melakukannya tanpa rasa tega pada dirinya.
"Terserah." Balas Arion hendak keluar dari kamarnya.
Tapi baru tiga langkah ia berjalan, ia berhenti dan berbalik melirik sepasang mate yang kembali saling tatap.
Arion memutar bola mata kesal, ia mendecak. "Kalau matemu sudah merasa lebih baik, kita pergi ke kerajaan Vampire. Kita harus menceritakan masalah yang terjadi di dunia manusia." Ucap Arion lalu melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda.
Melviano menatap kepergian Arion dan beralih pandang ke arah Ralissa yang saat ini ada di hadapannya sambil menatapnya.
"Kenapa rogue itu tahu namamu?" Tanya Melviano mengingat kembali kejadian itu.
"Kamu tahu bukan, rogue itu tidak suka melihat kedamaian yang terjadi di antara bangsa Werewolf dan bangsa Vampire?" Tanya Ralissa. Melviano menjawab dengan anggukan.
"Tapi, lihatlah aku. Aku seorang Vampirewolf, keturunan langsung dari vampire dan werewolf. Yang menandakan kedamaian di antara kedua bangsa. Bisa dibilang, aku adalah incaran mereka." Jelas Ralissa.
Melviano kembali mengangguk mengerti. "Hmm, begitu rupanya. Lalu, bagaimana dengan black which?" Lalu menanyakan hal yang mengganjal di kepalanya.
"Aku tidak tahu." Jawab Ralissa, karena seingatnya ia tidak pernah berurusan dengan mereka.
"Tapi yang jelas mereka sudah berkomplot untuk menyerang. Dan itu bisa menjadi masalah besar untuk kita." Lanjut Ralissa menghela napas panjang.
"Tidak usah khawatir. Aku akan melindungimu." Ucap Melviano kemudian mengecup kening Ralissa lalu memeluknya.
Ralissa membalas pelukan Melviano. "Bisakah aku belajar sihir darimu?" Tanya Ralissa.
"Tentu saja." Jawab Melviano membuat Ralissa tersenyum.
"Suhu tubuhmu sudah turun. Apa kamu masih merasa lelah?" Tanya Ralissa melerai pelukannya.
"Sudah jauh lebih baik." Jawab Melviano.
"Tidurlah. Aku akan mengambilkan makanan untukmu." Ucap Ralissa lalu berdiri dari duduknya.
"Tunggu sebentar ya." Lanjut Ralissa mengecup pipi Melviano singkat dan langsung melesat keluar karena malu.
Melviano mengusap pipi kirinya yang dikecup. "Sangat menggemaskan." Ucapnya menatap pintu yang baru saja ditutup oleh Ralissa.
.
.
__ADS_1
.
.
.
Pack Black Diamond (daerah kekuasaan black which)
Gloria Ravaembrick (pemimpin black which) menatap tajam semua bawahannya yang ada di hadapannya saat ini.
"Musuh kita hanya white which! Kenapa kalian mencari gara-gara tanpa aba-aba dariku?! Siapa yang menghasut kalian untuk berbuat seperti itu, pada mereka?! !" Teriak Gloria. Tangannya yang saat ini menggenggam tongkatnya Dengan sangat kuat karena menahan amarah.
Para black which hanya bisa menunduk, tak berani menjawab pemimpin mereka.
"Kalau ditanya, jawab!!" Teriak Gloria membuat semua which yang menunduk tersentak kaget.
"Para rogue. Mereka bilang kalau kita bersatu dengan mereka, kita bisa mengalahkan white which dan menaikkan peringkat kita di dunia immortal." Jawab salah satu black which mewakili para black which.
"Dan kalian percaya? Astaga!" Gloria memijit pelipisnya yang terasa berdenyut-denyut.
"Kami tidak percaya, hanya beberapa dari kita yang ikut bersama para rogue." Jelas black which itu lagi.
Gloria tersenyum. "Apa ada di antara kalian yang akan ikut bersama mereka?" Tanya Gloria.
"Tidak, my Queen." Jawab semua black which.
"Baguslah. Aku tidak ingin kehilangan kalian juga." Ucap Gloria membuat para black which mengangkat kepala ke arahnya.
Gloria mengerti maksud tatapan mereka. "Mereka sudah dikalahkan oleh seorang vampirewolf, Ralissa Grace Houtman." Jelas Gloria membuat para black which mulai berbisik-bisik menyatakan pendapat mereka.
"Aku akan pergi ke kerajaan vampire untuk menjelaskan semuanya pada lord mereka." Putus Gloria lalu membubarkan acara pertemuannya itu.
.
.
.
.
.
.
.
.
Melviano menatap Ralissa yang sibuk menyuapinya dengan intens. Ia pun tersenyum setiap menerima suapan itu.
"Apa bubur ini sangat enak?" Tanya Ralissa tak mengerti alasan Melviano yang terus tersenyum.
Melviano mengangguk mengiyakan membuat Ralissa semakin tak mengerti. Karena yang ia yakain kalau yang ia suapkan pada matenya itu hanya bubur yang hampir terasa tawar agar mudah dicerna oleh tubuh Melviano yang lemah saat ini. Bukankah seharusnya Melviano mengeluh karena rasa makanan itu hambar?
"Kamu yakin?" Tanya Ralissa lagi memberikan suapan terakhirnya pada Melviano lalu membereskannya.
"Hm. Apapun makanan itu, bagaimanapun rasanya, pasti aku akan suka karena yang menyuapinya untukku adalah kamu." Jawab Melviano membuat semburat merah terlihat jelas di pipi Ralissa.
"Apa-apaan itu? Apa benar ini Melviano si Kulkas yang selalu berbicara singkat denganku kemarin?" Tanya Ralissa lagi mengalihkan pembicaraan.
Melviano tertawa mendengar pertanyaan Ralissa. "Apa kamu mau tahu alasanku dingin pada mereka?" Tanya Melviano membuat Ralissa menoleh ke padanya.
"Apa?"
"Aku hanya akan berbicara dengan mateku saja." Jawab Melviano. "Seandainya aku sudah tahu kalau kamu adalah mateku, mungkin aku akan langsung membawamu pergi dari sana sebelum semua laki-laki itu melihatmu." Lanjut Melviano kali ini ia mengerucutkan bibirnya.
"Aish! Kamu tidak cocok ngambek seperti itu!" Ucap Ralissa mengacak rambut Melviano lalu berdiri dari duduknya.
"Kamu mau kemana?" Cegah Melviano menahan tangan Ralissa.
"Aku mau membereskan ini. Kak Arion tidak suka kalau kamarnya berantakan." Jelas Ralissa sambil menunjuk nampan yang ada dipegangannya.
"Cepatlah kembali. Aku merindukanmu."
Ralissa memutar bola matanya jengah dengan sikap Melviano padahal ia belum pergi tapi Melviano sudah merindukannya? Aneh-aneh saja! Ralissa menggelengkan kepalanya.
"Iya." Balas Ralissa dengan senyum terpaksa karena tidak mau berdebat dengan Melviano, jujur saja alasan utamanya karena khawatir dengan kondisi matenya itu.
Tak butuh waktu lama Ralissa kembali dengan membawa botol ramuan untuk Melviano.
"Minumlah. Ini akan membantu pemulihan mu." Ucap Ralissa memberikan Melviano ramuan itu.
"Kamu bisa membuat ramuan?" Tanya Melviano setelah meminum ramuan yang diberikan Ralissa padanya.
"Tidak. Ini buatan nenekku." Jawab Ralissa jujur.
__ADS_1
"Dia juga yang membuat ramuan untukku dan kak Arion." Lanjut Ralissa membuat Melviano sedikit bingung.
"Kamu tidak bisa menebak aku manusia biasa atau makhluk immortal bukan?" Tanya Ralissa.
"Ah, jadi itu efek ramuan? Luar biasa! Aku bahkan tidak bisa tidur memikirkan kenapa aku tidak bisa merasakan auramu sama sekali!" Takjub Melviano, karena pengaruh ramuan yang Anna buat sangat menakjubkan. Bahkan tak sampai sepuluh menit ia meminum ramuan itu, ia sudah merasa jauh lebih baik. Energinya hampir terisi penuh.
"Iya kan? Aku juga takjub akan hal itu. Tapi, sayang aku tidak mewarisi kepintarannya itu." Ucap Ralissa menghela nafasnya.
"Tenang saja, kan ada aku." Ucap Melviano terdengar menyombongkan diri.
"Iya, ya? Mateku adalah seorang pemimpin kaum immortal." Ucap Ralissa semakin membuat Melviano naik ke atas, melambung tinggi.
"Tapi, sayang dia bodoh. Tidak bisa membedakan perasaannya sendiri." Lanjut Ralissa membuat image Melviano langsung jatuh.
Jleb!
"Ucapanmu tajam sekali." Balas Melviano mengerucutkan bibirnya.
Ralissa tertawa melihatnya.
Cup💕
Ralissa mengecup bibir Melviano singkat.
"Ternyata mateku sangat peka." Ucap Melviano menarik Ralissa agar duduk dipangkuannya.
"Kode itu terlalu mudah untuk ditebak." Ucap Ralissa mengalungkan tangannya pada leher Melviano.
Ceklek!
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
To be continue
Maaf baru bisa update sekarang..
Tugas kuliah numpuk sekali jadi tidak ada waktu buat mengkhayalkan seperti apa kelanjutan cerita ini..
__ADS_1
Mohon dimaklumi ya..
Jangan lupa follow and votement cerita ini ya~