
Ada yang pada nunggu? Atau penasaran dengan cerita ini??
Heheheπ π
Aku update lebih cepat lho~ demi kalianππ
Hey para siders ππ
Jangan diem aja dung~ππ
Hargai kerja keras(ide author) iniπ
Karena mengerjakan tidak semudah mengucapkan lho ya~π§π§
Just it,
Ah, buat yang udah follow dan votement thank you so much, i love youππ
So, happy reading guys π€π€
β
β
β
"Lalu, kenapa kau datang? Bukankah rencana kita kembali ke dunia manusia dua hari lagi." Tanya Arion.
"Aku datang untuk meminta ramuan baru." Jawab Ralissa jujur.
"Ah, kebetulan sekali. Nenek Anna sedang berkutat dengan alat dan tumbuhan aneh di ruangannya. Ayo kita ke sana." Ajak Arion.
"Hm." Jawab Ralissa singkat.
Mereka pun berjalan beriringan tanpa pembicaraan yang berarti.
.
.
.
Ralissa dan Arion sudah tiba di depan pintu ruangan khusus Anna.
"Bukankah tadi kakak bilang kalau nenek sedang membuat ramuan? Tapi tidak ada aroma apapun di sini, padahal kita sudah berada di sini." Ucap Ralissa pada Arion yang masih setia berada di sampingnya.
"Apa kau lupa, reaksi ramuan yang kau minum?" Tanya Arion membuat Ralissa mengerucutkan bibirnya.
"Lebih baik sekarang kita masuk." Lanjut Arion maju selangkah mendekati pintu.
Arion pun mengetuk pintu. "Nek, aku dan Ralissa boleh masuk?" Tanya Arion mewakili.
"Oh, tentu saja. Masuklah." Balas Anna antusias.
Ralissa terdiam karena sempat berpikir kalau Anna tidak ada di dalam ruangan itu. Karena melamun, Ralissa tidak sadar kalau Arion audah memanggilnya beberapa kali.
"Ralissa, ayo masuk."
"Ralissa."
"Ralissa."
"Astaga. Lissya!" Arion memegang pundak Ralissa kuat karena menahan amarahnya.
"Ah, iya?" Tanya Ralissa polos.
"Ayo masuk." Ajak Arion lagi kembali melunak.
"Tentu." Balas Ralissa melangkah mendahului Arion begitu saja.
"Astaga anak itu!" Geram Arion menggigit bibirnya agar tak mengeluarkan kata-kata kasar. Ia pun ikut masuk dengan kedua tangan yang terkepal di belakang tubuhnya.
'Semoga nenek bisa membuat ramuan yang aku butuhkan.' Batin Ralissa berharap. Sementara Arion sedang memutup pintu.
"Kenapa diam saja? Mendekatlah." Ucap Anna membuyarkan lamunannya.
"Ah, iya nek." Balas Ralissa menuruti Anna dan mendekat pada neneknya itu.
Tatapan Ralissa terpaku pada semua bahan yang ada di meja tempat Anna meramu ramuan.
"Kenapa banyak sekali?" Tanya Ralissa menggelengkan kepalanya.
"Kalau sedikit, ramuan yang bisa dibuat terbatas." Jawab Anna, tangannya sibuk mengambil bahan, mengaduk, dan meneteskan ramuan yang baru selesai dibuat pada tumbuhan pot yang telah ia siapkan.
Beberapa saat kemudian, tumbuhan itu bercahaya, daunnya mengkerut dan mulai terbakar sedikit demi sedikit, hingga tumbuhan itu hangus tak bersisa.
__ADS_1
"Berhasil!" Teriak Anna riang.
"Ini cocok untuk para rogue!" Lanjutnya tajam.
Ralissa dan Arion hanya bisa menelan ludah menyaksikannya. Rumor tentang Anna memang benar adanya! The Queen of Poison adalah gelar yang sangat cocok untuknya.
"Jadi rumor yang kau bilang padaku itu memang benar?" Bisik Arion tepat di telinga Ralissa.
"Aku tidak tahu. Tapi, melihatnya secara langsung aku tahu jawabannya." Balas Ralissa berbisik juga.
Braaakk
Anna menggebrak mejanya membuat Arion dan Ralissa terlonjak karena terkejut.
"Tidak perlu berbisik kalau orang lain bisa mendengarnya." Ucap Anna menatap tajam kedua cucunya.
"Maaf, nek." Ucap Ralissa dan Arion bersamaan lalu mereka menunduk karena takut dan rasa bersalah.
"Sudahlah. Memang benar adanya." Balas Anna dengan percaya diri karena berpikir kalau Ralissa dan Arion kagum karena kepandaiannya membuat ramuan.
"Jadi, nenek pernah meracuni kakek?!" Pekik Ralissa tak percaya. Arion membelalakkan mata mendengarnya ia pun mencubit lengan Ralissa gemas membuat sang empunya meringis.
"Tentu saja tidak." Jawab Anna mencoba untuk tenang, dia tidak berbohong. Hanya saja saat ia mengingat kejadian itu, rasa bersalahnya kembali menghantuinya.
"Hufft, aku lega mendengarnya." Balas Ralissa mengusap-usap dadanya lega.
"Jadi, siapa saja yang pernah menjadi korban racun buatan nenek?" Tanya Arion penasaran akan hal itu.
"Sudah banyak. Nenek tidak bisa menghitungnya, karena setiap perang akan terjadi. Nenek memberikan para prajurit(warior) untuk membawa minimal satu botol racun buatan nenek." Jawab Anna membuat Arion menelan ludahnya berbeda dengan Ralissa yang menatap Anna kagum.
"Jadi, apa nenek bisa membuat ramuan baru untukku?" Tanya Ralissa menatap Anna dengan puppy eyes andalannya.
"Mungkin." Jawab Anna.
"Ramuan apa yang kau inginkan?" Lanjut Anna, ia mengambil beberapa botol ramuan yang telah jadi dan sudah diujicoba. Mungkin salah satunya ada yang Ralissa inginkan.
Ralissa menggeleng lalu mengambil ramuan yang ia simpan di kantongnya.
"Aku ingin ramuan ini diperbaharui." Ucap Ralissa menyerahkan botol ramuan yang pernah Anna buat tapi diracik ulang oleh Lisa.
Anna mengambil ramuan itu lalu mencium aromanya pada detik itu juga pupil matanya membesar, ia mengambil salah satu bunga dan menghirup aromanya setelah itu ia meneteskan ramuan itu pada bunga yang telah ia hirup.
"Arion, kemari." Panggil Anna pada Arion.
Arion pun menghampiri Anna dengan perasaan sedikit was-was.
Arion menghirup bunga itu.
"Dan ini." Suruh Anna lagi. Kali ini bunga yang telah ia berikan ramuan penyamar Ralissa.
Arion terkejut saat menghirupnya. "Tidak ada aroma apapun. Seperti makanan hambar." Jawab Arion mengomentari aroma bunga itu.
"Sudah jelas bukan? Ramuan ini gagal." Jelas Anna.
"Eh? Tapi kan-" Ralissa tidak dapat meneruskan ucapannya karena Anna memotongnya.
"Dampak negatifnya memang tidak terlalu buruk dan hanya berlangsung selama tiga hari. Tetapi, matemu akan sulit merasakan keberadaanmu, bahkan dia mungkin tidak mencium aroma tubuhmu." Jelas Anna lebih detail.
"Tidak hanya mematikan indra penciumannu. Tetapi, secara tidak langsung menyamarkan aroma tubuhmu terlebih pada matemu." Jelas Anna lagi.
"Kalau begitu bisakah nenek memperbaiki ramuan itu?" Tanya Ralissa lagi.
"Tentu saja. Kau ingin ramuan ini menjadi seperti apa?" Balas Anna menjawab dan bertanya.
"Aku ingin indra penciumanku tetap dilumpuhkan, tapi tidak menyegel kekuatanku dan auraku bisa dirasakan oleh mateku." Jawab Ralissa penuh harap.
Anna tersenyum mendengarnya karena secara tidak langsung Ralissa menjelaskan kalau ia sudah bertemu dengan matenya.
"Apa matemu sangat tampan?" Tanya Anna tangannya mulai sibuk meracik.
"Yah, bisa dibilang begitu." Jawab Ralissa seketika membulatkan matanya.
"Bagaimana nenek bisa tahu?" Tanya Ralissa.
"Bodoh." Sindir Arion terdengar jelas oleh Ralissa.
"Sudah jelas dari ucapanmu sebelumnya." Balas Anna. Salah satu kelebihannya, terlalu peka. Sama seperti Arion.
Ralissa hanya menggigit bibir bawahnya. 'setidaknya nenek tidak tahu kalau aku berniat membunuh mateku sendiri.' Batin Ralissa melirik Anna yang masih meracik ramuan untuknya.
Dilihatnya Anna mengambil beberapa kelopak bunga mawar black dragon dan beberapa bahan lainnya dicampur jadi satu lalu menggilingnya, setelah itu AnnaΒ meneteskan campuran itu pada ramuan ramuan gagal.
Anna kembali menghirup aroma ramuan itu lalu mengambil dua tangkai bunga mawar dengan jenis yang sama. Seperti sebelumnya ia meneteskan ramuan buatannya pada salah satu bunga itu dan menghirupnya lagi.
"Berhasil." Ucap Anna tersenyum dengan hasil kerja kerasnya.
__ADS_1
"Secepat itu?" Tanya Ralissa sedikit tak percaya.
"Buktikan sendiri!" Suruh Anna menyerahkan satu botol ramuan pada Ralissa sambil mendengus kesal karena kemampuannya diragukan.
Ralissa mengambilnya dan meminumnya. Efeknya terasa berbeda, ia tidak merasa dikekang lagi.
"Wah, seperti yang ku harapkan." Ucap Ralissa menatap Anna yang membalasnya dengan senyuman.
"Terimakasih, nek." Lanjut Ralissa memeluk Anna senang.
"Sama-sama sayang. Ah, tunggu sebentar! Nenek akan buatkan ramuan yang banyak." Ucap Anna kembali sibuk walau hanya sebentar karena ia sudah hafal dengan bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat ramuan itu.
"Nah, bawakan ini untuk adikmu." Suruh Anna pada Arion sambil menyerahkan beberapa botol ramuan baru untuk Ralissa.
Arion mengambilnya dan menyimpannya dengan menggunakan sihirnya.
"Kau sudah puas?" Tanya Arion pada Ralissa.
"Hm." Jawab Ralissa tersenyum.
"Kalau begitu kami keluar ya nek. Nenek bisa melanjutkan aktivitas nenek membuat ramuan lagi." Ucap Arion pamit yang diangguki Anna.
"Bersenang-senanglah." Ucap Anna tanpa melirik pintu yang akan ditutup oleh Arion.
"Baik." Jawab Ralissa dan Arion bersamaan dan menghilang di balik pintu.
"Kak." Panggil Ralissa.
Saat ini mereka sedang berjalan berdampingan. "Apa?" Balas Arion cuek.
"Kakak mau tanding berburu?" Tanya Ralissa menantang.
Arion langsung menggeleng menolak. Mengingat cara Claris mengoyak tubuh mangsanya dengan sadis tanpa ampun dan rasa iba membuatnya bergidik ngeri.
"Aku tidak mau menjadi korbanmu selanjutnya." Ucap Arion yang langsung ditertawakan oleh Ralissa.
"Haha, dasar penakut." Ejek Ralissa setelah cukup lama tertawa sambil memegang perutnya.
"Besok lusa. Kakak bisa melihatku berburu dengan sangat sadis di dunia manusia." Lanjut Ralissa tersenyum misterius.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
To be continue
Bagaimana chapter kali ini?
Penasaran kan dengan kelanjutannya π
Makanya ditunggu ya
Pasti up kok
Cerita ini tak akan pernah digantung π
__ADS_1
Tetap setia ya
Jangan lupa votement nya