Vampirewolf

Vampirewolf
The New Potion


__ADS_3

Ralissa menghempaskan tubuhnya di atas kasurnya. Ia memejamkan matanya untuk menenangkan pikirannya. "Hah~ cowok breng*k!" Maki Ralissa bukannya tenang ia malah mengingat Melviano yang mengusap foto seorang gadis cantik membuat amarahnya kembali memuncak.


"Shit!" Umpat Ralissa lagi karena tidak bisa tenang.


"Apa aku bunuh saja si brengs*k itu? Biarlah aku menjadi seorang unmate." Pikir Ralissa. (Unmate→ dalam cerita ini memiliki arti kalau ia sudah direject atau kehilangan matenya(meninggal), kalau beruntung ia akan punya mate pengganti atau memiliki lebih dari satu mate tapi kalau tidak ia akan menjadi unmate selamanya).


Ide bagus! Balas Claris setuju.


Ayo kita koyak dagingnya! Lanjut Claris semangat.


'Baiklah. Kita akan membunuhnya ketika kembali ke dunia manusia." Putus Ralissa. Ia kembali memejamkan matanya, dan kali ini ia tak butuh waktu lama untuk masuk ke alam mimpi.


.


.


.


.


.


Pagi harinya Ralissa melesat menuju kamar orang tuanya. Dan sekarang ia sudah berada di depan pintu, tangannya sudah terangkat bersiap untuk mengetuk pintu seketika terhenti.


"Bolehkan, kalau aku mengerjai mereka." Ucapnya pelan. Senyum jahil menghiasi wajahnya.


Ralissa mulai membuka pintu dengan sangat hati-hati agar tidak menimbulkan bunyi yang dapat mengganggu kedua insan yang Ralissa pikir masih tertidur.


Deg!


"Issh! Pelan-pelan!" Belum sempat mata Ralissa melihat kasur tempat orang tuanya tidur, ia mendengar suara ibunya yang mengejutkannya. Segera ia menoleh ke sumber suara dan terkejut dengan apa yang dilihatnya.


"Ini sudah pelan sayang~πŸ’•" Kali ini suara ayahnya yang terdengar. Ralissa segera memejamkan matanya sebelum ketahuan. Penglihatannya sudah ternoda! Ia masih di bawah umur!!


Ia berjalan mundur tak lupa tangan kanannya menarik daun pintu dan menutupnya.


"Yang benar saja!" Geram Ralissa kesal, bukannya mengerjai ia malah merasa dikerjai. Ia berniat kembali ke kamarnya, tapi langkah kakinya kembali terhenti.


'Tapi mereka belum puas bukan?' Ralissa memulai mindlink dengan Claris.


Kau ingin dihukum? Balas Claris tahu dengan apa yang akan Ralissa lakukan selanjutnya.


'Selama aku tidak dibunuh, tidak apa-apa. Yang penting aku puas. Bagaimana?' Jawab Ralissa masih meminta pendapat Claris.


Lakukan semaumu! Balas Claris memutuskan mindlink.


Ralissa mendengus karenanya. Ia pun melangkahkan kakinya kembali mendekati pintu kamar orang tuanya.


"Ayah! Ibu! Bangun! Mari kita sarapan bersama!!" Teriak Ralissa besamaan dengan ketukan pada pintu kamar.


Tidak mendengar sahutan dari dalam Ralissa kembali menyerang pintu yang tak bersalah itu dengan dobrakan yang cukup keras dan jika terus berlanjut pintu kamar itu pasti akan rusak.


Braaakk!


Braaakk!


Braaakk!


"Tunggu sebentar. Ibu dan ayah mandi dulu." Balas Lisa akhirnya terdengar.


Tentu saja Ralissa tidak percaya dengan ucapan sang ibu karena masih menggunakan embel-embel 'dan' itu berarti mereka akan melanjutkan aktivitas mereka lagi bahkan mungkin lebih lama.


"Kalau ibu dan ayah tidak keluar, Ralissa akan meminum ramuan penawar dari ramuan penyamar ini sekarang! Biarlah semua maid, penjaga dan vampire guard di sini menjadi mangsaku!" Ancam Ralissa tidak terdengar main-main. Padahal ia terkikik geli di akhir ucapannya.


"Jangan!"


Ralissa tersenyum mendengar teriakan kedua orang tuanya. Ia pun segera mengubah raut wajahnya agar terlihat polos.


Pintu pun terbuka menampilkan dua orang dengan keadaaan yang terlihat kacau.

__ADS_1


"Hahahaha." Ralissa tidak dapat menahan tawanya. Ia menggigit bibirnya mencoba untuk meredakan tawanya tapi itu percuma.


"Apa yang ayah dan ibu lakukan di dalam? Kalian terlihat kacau." Ucap Ralissa kembali tertawa.


Rey dan Lisa saling tatap lalu terkekeh sebentar. Rey pun menggunakan sihirnya agar ia terlihat rapi hal yang sama ia lakukan pada Lisa.


"Nah, begini kan lebih baik." Ucap Lisa berhasil meredakan tawanya.


"Ayo kita sarapan!" Ajak Ralissa lagi mengandeng lengan orang tuanya menuju ruang makan.


.


.


.


Ralissa menyudahi acara makannya dengan meneguk segelas darah sebagai hidangan penutupnya. Ia pun melihat ayah dan ibunya juga selesai.


"Ibu." Panggil Ralissa.


"Ya, sayang?" Raspon Lisa membalas panggilan putrinya.


"Apa ibu bisa membuat ramuan penyamar itu tidak menyegel kekuatanku?" Tanya Ralissa.


"Ibu tidak tahu. Tapi, akan ibu coba. Kenapa kamu menanyakan hal itu?"


"Aku ingin berburu di sana." Jawab Ralissa membuat Rey yang diam saja membelalakkan matanya.


"Kau ingin berburu di dunia manusia?" Tanya Rey.


Ralissa mengangguk saja lalu ia menunduk takut.


"Bagus!" Balas Rey terlihat sangat senang.


Melihat itu Lisa mencubit lengan Rey keras. "Kau ini!" Ucapnya geram.


Pipi Lisa bersemu, ia memalingkan wajahnya dari Rey.


Ralissa yang melihat itu semua hanya bisa menghela nafas berat.


"Tak bisakah kalian romantisannya nanti saja?" Pinta Ralissa memelas, bosan dengan drama yang tersaji di hadapannya sekarang.


Lisa dan Rey menjadi salah tingkah.


"Ibu akan coba buatkan ramuan yang kau minta. Bisakah kamu pergi ke pack Silvermoon, untuk menanyakan bahan untuk ramuan itu pada nenekmu?" Tanya Lisa mencoba mengalihkan pembicaraan.


Ralissa teringat satu hal. Ibunya jarang melatih keahliannya sehingga ia perlu bertanya pada neneknya.


Karena tidak ingin bekerja dua kali Ralissa memilih untuk meminta neneknya membuatkan ramuan untuknya.


"Tidak perlu. Aku akan meminta langsung pada nenek. Aku pergi dulu." Jawab Ralissa pamit.


Langkah kakinya terhenti, ia tersenyum jahil. "Ayah dan ibu bisa melanjutkan aktivitas yang tertunda tadi." Ucap Ralissa tanpa membalik badannya.


"Terutama, aktivitas di kamar." Lanjutnya segera melesat pergi sebelum ayahnya mengamuk dan menghukumnya.


"Ralissa!!" Teriak Rey menggema.


Ralissa tertawa lepas mendengar teriakan sang ayah. 'Bagaimana Claris? Seru, kan?' Ucap Ralissa pada jiwa wolfnya.


Hahahaha, sangat seru dan lucu! Balas Claris tertawa dalam mindlink mereka.


Ralissa tersenyum lalu memutuskan mindlink. Ia pun kembali fokus menuju ke pack Silvermoon, mengingat rencananya pada Melviano membuat senyuman yang sempat tercetak pada wajah cantiknya sirna saat itu juga.


"Matilah kau!" Ucap Ralissa geram.


.


.

__ADS_1


Tak terasa Ralissa sudah tiba di pack Silvermoon.


"Selamat pagi, nona Ralissa." Sapa penjaga itu seraya membungkukkan badannya hampir sembilan puluh derajat pada Ralissa.


Ralissa tersenyum pada penjaga yang menyapanya. "Selamat pagi." Balasnya ramah, sedikit membungkukkan badan untuk menghormati orang yang lebih tua darinya.


Ralissa melangkahkan kakinya memasuki mansion pack Silvermoon.


Dari kejauhan tampak Arion yang terlihat risih dengan keadaan sekitarnya karena banyak maid yang membicarakan dan mengaguminya.


Ralissa segera melesat menghampiri Arion lalu menggandeng lengan kiri Arion. "Hay, kak." Sapa Ralissa mengedipkan sebelah matanya.


Arion tidak terkejut sama sekali, malah ia menghela nafas lega karena kehadiran Ralissa membuat beberapa maid yang sempat bersembunyi membicarakannya menghilang.


"Kau datang tepat waktu." Balas Arion ia melirik sekitar dan tak mendapati keberadaan maid yang mengganggu ketenangannya.


"Aku heran dengan kakak." Ucap Ralissa melepas tangannya dari lengan Arion.


"Apa-"


"Kenapa kakak tidak mengusir atau menyihir mereka jika kakak benar-benar merasa terganggu?" Tanya Ralissa memotong ucapan Arion.


"Aku harus menghormati dan tidak boleh menyakiti mereka semua." Jawab Arion membuat Ralissa semakin tak mengerti.


"Mereka teman nenek Lina dan ibuku. Kuharap kau tak melupakan mereka seperti apa dulu." Lanjut Arion mengingatkan.


"Astaga, aku lupa." Ucap Ralissa menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


"Nenek dan bibi hidup sederhana karena ingin menutupi identitas mereka. Sangat mengagumkan!" Lanjut Ralissa kagum.


"Itulah alasan aku berusaha menahan diri untuk tak menyakiti para maid itu, aku ingin menjaga nama baik ibu dan nenek." Balas Arion tersenyum.


"Lalu, kenapa kau datang? Bukankah rencana kita kembali ke dunia manusia dua hari lagi." Tanya Arion.


"Aku datang untuk meminta ramuan baru." Jawab Ralissa jujur.


"Ah, kebetulan sekali. Nenek Anna sedang berkutat dengan alat dan tumbuhan aneh di ruangannya. Ayo kita ke sana." Ajak Arion.


"Hm." Jawab Ralissa singkat.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


To be continue


Aku up lagi guys πŸ˜‚πŸ˜‚


Jangan lupa votement yah~

__ADS_1


__ADS_2