
"Astaga! Apa perlu kalian dinikahkan sekarang juga biar kalian bisa bebas melakukan semuanya?!" Teriak Arion sambil menggelengkan kepalanya melihat apa yang tersuguhkan di hadapannya saat ini.
Sadar akan situasi dan kondisi Ralissa segera bangun dari posisinya yang berada di atas Melviano lalu menoleh pada Arion yang melipat kedua tangannya di dada. "Ini tidak seperti yang kakak pikirkan, tadi itu hanya sebuah kecelakaan. Sungguh!" Jelas Ralissa sambil menunjukkan kedua jarinya membentuk simbol 'V'.
Arion menghela nafasnya mengangguk saja karena tidak melihat kebohongan pada adiknya lalu ia beralih pada Melviano dan menatapnya dengan iba. "Apa kau baik-baik saja?" Tanya Arion kesekian kalinya pada hari ini.
"Ya, aku baik–" jawaban Melviano terputus ketika melihat Arion menggelengkan kepalanya.
"Pasti sakit, kan?" Tanya Arion lagi membuat Melviano bingung sendiri lalu melirik Ralissa yang hanya mengangkat bahu pertanda tidak tahu.
"Yah, begitulah." Jawab Melviano akhirnya karena berpikir kalau Arion menanyakan kondisi beberapa saat sebelumnya.
"Sudah kuduga." Ucap Arion membuat kedua pasangan itu semakin tidak mengerti dengan jalan pikirnya.
"Maksud kakak apa sih bicara nggak jelas seperti itu?" Kesal Ralissa pada Arion.
Arion melirik Ralissa dari bawah sampai atas. Hal itu membuat Ralissa risih.
"Sepertinya, mulai hari ini kau harus diet, Sya. Melviano tidak sanggup menopang berat badanmu!" Ucap Arion membuat Ralissa melotot.
"Apa?!" Teriak Ralissa tak terima.
"Itu saja! Selamat malam!" Balas Arion lalu melesat keluar dari kamarnya.
1
2
3
"ARION! KEMARI KAU!" Teriak Ralissa menggema di seluruh penjuru ruangan.
.
.
.
Keesokan harinya, kondisi Melviano semakin membaik bahkan bisa dikatakan pulih total karena terlihat jelas dari rona wajahnya yang sudah tidak pucat lagi.
Saat ini ia dan keluarga besar pack Silvermoon sedang sarapan bersama. Dan untuk pertama kalinya Melviano merasakan kehangatan bersama keluarga walaupun itu bukan dengan keluarganya sendiri tetapi ia senang bisa merasakannya secara langsung. Tidak ada formalitas jika bersama keluarga tapi tentu saja masih menghormati orang yang lebih tua.
"Bagaimana keadaanmu sekarang, Nak?" Tanya Irine pada Melviano setelah selesai menelan makanan yang ada dalam mulutnya.
"Sudah membaik bahkan bisa dikatakan kalau aku sudah sembuh total. Ini semua berkat kalian, terima kasih." Ucap Melviano sopan.
"Oh, ayolah. Tidak perlu berkata formal seperti itu. Santai saja." Ucap Thomas yang diangguki semua orang yang ada di sana tentu saja selain Melviano.
"Itu benar." Ucap Anna mewakili yang lain.
"Lalu, kapan kalian berdua menikah?"
Pertanyaan dari Theron itu sukses membuat sepasang kekasih baru yang dimaksud tersedak.
Melviano yang lebih dulu bisa mengendalikan tersedaknya pun membantu Ralissa dengan memberikan air minum kepada matenya itu.
"Thanks." Ucap Ralissa tersenyum tulus pada Melviano.
"Khem khem. Jadi?" Ucap Theron merasa diabaikan.
"Bukankah membahas itu secepat ini terlalu mendadak?" Tanya Melviano yang diangguki Ralissa.
"Apanya yang mendadak? Aku saja dengan Anna dulu langsung menikah hari esoknya setelah menemukan dia." Ucap Thomas mengedipkan matanya pada Anna.
__ADS_1
Melviano menelan ludah dengan susah payah 'secepat itu?'. Batinnya bertanya tak percaya lantas menggelengkan kepalanya pertanda hal itu mustahil.
"Itu tidak mungkin." Ucap Melviano.
"Tapi itu benar adanya." Balas Ralissa kali ini membuat Melviano bungkam.
'Jadi, mereka langsung menikah setelah bertemu?' Tanya Melviano entah pada siapa.
"Kau ingin melihat sejarah kisah cinta kami?" Tanya Thomas kini mencium punggung tangan Anna. Membuat istrinya itu tersipu.
Sontak Melviano menggeleng keras menolak karena ia tidak mau membahas hal yang bersifat pribadi terlebih lagi ia tidak terlalu penasaran akan hal itu.
"Ah, tidak perlu malu begitu." Balas Thomas kali ini mengangkat tangan kirinya dengan telapak tangan menghadap atas sedangkan tangan kanannya, lebih tepatnya jari telunjuknya ia putar-putar di atas telapak tangan kirinya.
Tak lama muncul sebuah buku di tangannya yang berjudul 'Other Side My Mate'. (cerita lengkapnya ada di ******)
"Ini untukmu." Serah Thomas memberikan buku itu pada Melviano.
Melviano menerimanya. "Ini.." ia tidak dapat meneruskan ucapannya.
"Aku dengar kau suka membaca buku tentang kaum immortal. Jadi, aku rekomendasikan buku itu padamu. Kisah cinta di buku itu mirip dengan kisah cinta kami." Jelas Thomas.
Melviano langsung menatap tajam Arion yang ia yakini menyebar hal tentang itu karena tidak ada tersangka lain selain dirinya.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?" Balas Arion menantang.
Melviano semakin kesal dibuatnya ia pun memilih untuk diam dan melanjutkan sarapannya yang sempat tertunda.
Ralissa terkekeh melihat Melviano yang terlihat lucu saat kesal walaupun bukan karena dirinya tetapi hal itu sangat langka terjadi bukan?
Ia pun mengusap punggung matenya berharap hal itu mengurangi kekesalan yang melanda matenya itu.
"Ah, kalau kau sudah merasa pulih apa kau akan kembali ke kerajaanmu?" Tanya Anna setelah selesai dengan sarapannya.
"Owh, begitu." Ucap Anna lalu tangannya diraih Thomas untuk pergi duluan tanpa pamit pada semuanya.
Ralissa melotot mendengarnya. "Kenapa?" Tanya Ralissa penasaran karena ia berfikir kalau Melviano akan membawanya ke kerajaan demon terlebih dahulu.
"Aku ingin melamarmu." Jawab Melviano santai.
Treng
Treng
Treng
Terdengar suara alat-alat makan yang hampir serempak berjatuhan di atas piring. Lalu semua pasang mata yang ada di meja makan itu menatap Melviano dengan tatapan yang tak bisa dijelaskan.
"Kenapa kalian semua menatapku seperti itu?" Tanya Melviano.
Lantas mereka semua beralih melirik Ralissa dengan iba.
"Kasian sekali kamu, dik." Ucap Arion mewakili.
Kali ini Melviano yang bingung sedangkan Ralissa yang awalnya sempat shock dan merona dengan ucapan Melviano yang akan melamarnya beralih pandang ke Arion, tak paham dengan maksud ucapan sang kakak.
"Maksud kakak apa?" Tanya Ralissa.
"Matemu tidak ada romantisnya." Jawab Arion yang diangguki oleh semua orang kecuali Ralissa dan Melviano.
Melviano menggigit bibir bawahnya geram dengan Arion. Ingin rasanya ia mencabik-cabik kulitnya dengan kuku dan taringnya. Tapi, tentu saja hal itu tidak akan tercapai karena Arion adalah calon kakak iparnya.
"Setidaknya mateku itu 'to the point'. Tidak perlu melakukan hal yang dramatis." Bela Ralissa kali ini merangkul lengan Melviano yang berada di sampingnya.
__ADS_1
Melviano tersenyum puas dengan pembelaan Ralissa, ia pun mencium kening Ralissa lembut dan tulus.
"Yah, sepertinya kalian memang harus cepat menikah kalau tidak, mungkin 'peristiwa yang tidak diinginkan' cepat terjadi karena kalian yang menjalaninya." Ucap Arion lagi.
"Kenapa kalian malah berdebat?! Bukannya sarapan dulu!" Ucap Irine tegas membuat semuanya fokus pada makanan mereka.
Tentu saja tidak dengan Thomas dan Anna yang menyelesaikan sarapan mereka terlebih dulu pergi ke kamar mereka untuk melakukan 'hal yang sempat tertunda'.
"Dasar kakek." Gumam Ralissa menggelengkan kepalanya.
"Kenapa kamu bergumam seperti itu." Tanya Melviano karena mendengar gumaman matenya.
"Ahh, tidak. Aku hanya heran saja, bukankah mereka sudah membuat keputusan untuk tidak menambah anak lagi? Tapi, lihat. Kakek 'rajin' sekali mengajak nenek untuk melakukan 'itu'." Jawab Ralissa.
"Terserah mereka dong mau melakukan apa. Toh, mereka sudah sah secara hukum alam." Ucap Melviano mengutarakan pendapatnya.
"Iya juga sih." Balas Ralissa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
.
.
.
.
Setelah sarapan berakhir mereka bertiga pun (Arion, Melviano dan Ralissa) memutuskan untuk berangkat ke kerajaan vampire. Untuk melaporkan apa yang telah terjadi dua hari yang lalu tentang penyerangan para black which dan rogue terhadap Ralissa.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
To be continue
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak ya..