Vampirewolf

Vampirewolf
Go to Silvermoon Pack


__ADS_3

"Ukh!" Arion memegang dadanya yang mulai terasa sesak. Ia sudah mencapai batasnya, ia terduduk kembali menahan rasa sakit dan panas secara bersamaan.


Melviano segera menghampiri Arion dan menyalurkan sebagian energinya pada Arion.


"Kau istirahat saja. Aku akan mengurus mereka." Ucap Arion menunjukkan wujud aslinya pada Arion.


Arion membulatkan matanya dengan apa yang ia lihat.


'Pantas saja. Ternyata dia makhluk immortal juga. Seorang demon lagi.' Batinnya merasa lega dan membalas Melviano dengan sebuah senyuman.


Melviano ikut tersenyum tipis dan senyuman itu langsung sirna ketika mendengar teriakan Claris.


"Hey! Lepaskan aku!" Teriak Claris kesal pada para black which yang tertawa mengejeknya.


"Membiarkan kau membunuh kami?" Tanya salah satu black which mendekati prisai yang mengurung Claris.


"Tidak akan!" Lajutnya penuh penekanan.


Claris geram karenanya. Lantas tatapannya tertuju pada Melviano yang terlihat sedang mencoba untuk membangunkan Arion yang tak sadarkan diri.


"Kak Arion!" Teriaknya cemas.


Rasa bersalah kembali menyelimutinya. Lagi-lagi karena dirinya, salah satu keluarganya kembali menjadi korban.


Claris terduduk lemas, matanya sudah mulai berkaca-kaca.


"Maafkan aku." Ucapnya lirih.


Karena kalut dengan rasa bersalah Claris tidak menyadari kalau para black which sudah dibereskan oleh Melviano yang saat ini sudah duduk di sampingnya.


"Untuk apa kau minta maaf?" Tanya Melviano membuat Claris menoleh ke arahnya.


"Kenapa kau–" Claris tidak bisa melanjutkan ucapannya karena Melviano menyodorkan pakaian lengkap padanya.


"Pakailah. Aku yakin kau butuh istirahat." Ucap Melviano.


"Bagaimana dengan kakakku? Apa dia baik-baik saja?" Tanya Claris sambil menerima pakaian yang diberikan padanya. Ia memang merasa sangat lelah mengahabisi cukup banyak rogue, dan prisai dari black which yang sedikit demi sedikit menguras energinya.


"Hmm." Jawab Melviano langsung memalingkan wajahnya yang memerah karena Claris sudah berganti shift dengan Ralissa.


Ralissa segera bersembunyi dan memakai baju pemberian Melviano. Ia merutuki Claris dengan sumpah serapah karena berganti shift diwaktu yang tidak tepat.


"Khem." Dehem Ralissa memecahkan keheningan yang sempat merajalela.


Melviano menoleh dengan wajah yang masih memerah mengingat tubuh Ralissa tanpa sehelai benang beberapa saat yang lalu.


Ralissa melotot karena tahu apa isi pikiran Melviano saat ini. Ia pun segera melayangkan tinjunya pada kepala Melviano.


Buuukk!


"Jangan berpikir macam-macam!" Larang Ralissa mengangkat tangannya yang masih terkepal hendak memukul Melviano lagi.


"Kau ingin membunuh matemu?!" Tanya Arion yang baru muncul dengan menahan tangan Ralissa.


"Iya." Jawab Ralissa tanpa beban membuat Arion menyentil kening Ralissa dengan jarinya.


Ralissa meringis karenanya.


"Sakit tahu kak!" Ucap Ralissa kesal mengusap keningnya yang terasa panas, padahal ia menjawab pertanyaan dengan jujur. Tapi, ia tetap saja dihukum.


"Masih mending begitu daripada rasa sakit saat kehilangan matemu!" Balas Arion kesal.


"Untuk apa aku membiarkan dia hidup? Dia sendiri tidak mengharapkanku!" Balas Ralissa kali ini menatap Melviano tajam.


Arion bingung karenanya. "Apa maksudmu?" Tanya Arion tak mengerti.


Ralissa tersenyum sinis melihat Melviano yang menunduk karena akan diadukan pada kakaknya.


"Dia menyukai gadis lain." Jawab Ralissa to the point.


"Apa?" Kini Arion menatap Melviano tajam.


Lantas tangannya terulur menjewer Melviano yang masih menunduk.


Melviano tidak mengadu sedikitpun karena ia memang bersalah dan mengakui kesalahannya itu.


"Kau harus menjelaskannya di rumah!" Ucap Arion menarik telinga Melviano untuk mengikutinya.


Ralissa terkikik geli di belakang, merasa puas dengan tindakan Arion pada Melviano.


"Rasain tuh! Makanya jangan lirik cewek lain!" Ucapnya lalu tertawa lepas. Ia pun segera berlari menyusul Arion dan Melviano yang cukup jauh meninggalkannya.


.


.


.


.


.


Rumah Ralissa dan Arion


Ralissa, Arion dan Melviano saat ini sudah duduk di sofa ruang tamu.


Sudah lima belas menit berlalu, tidak ada pembicaraan dari mereka. Keheningan masih mengisi ruangan itu, hingga Arion merasa jengah akan situasi saat ini menghentikan keheningan itu.

__ADS_1


"Jelaskan dari awal." Suruh Arion dengan nada dinginnya. Ia sedang mencoba meredakan emosinya karena sepasang mate yang ada di hadapannya ini hanya diam membisu.


"Terlalu panjang. Intinya aja bisa kan?" Tanya Ralissa dengan wajah memelas.


Arion menghembuskan nafas kasar tapi akhirnya mengangguk juga.


Ralissa tersenyum penuh kemenangan, biarlah ia dianggap tukang ngadu. Ia pun menunjuk Melviano yang ada di hadapannya "Dia mencintai gadis lain sebelum bertemu denganku!" Lanjut Ralissa.


Melviano semakin menunduk, tidak tahu harus bereaksi seperti apa.


"Oh, benarkah?" Tanya Arion tak percaya. Ia pun melirik Melviano yang menunduk dalam.


"Sepertinya tidak." Lanjutnya membuat Ralissa melotot sedangkan Melviano mengangkat kepala menoleh pada Arion.


"Apanya yang tidak? Buktinya sudah jelas! Dia bahkan tidak menyangkalnya!" Protes Ralissa tak terima dengan ucapan Arion.


Arion manggut-manggut saja. "Jadi, kau mengakui hal itu?" Tanya Arion pada Melviano.


"Aku tak bisa menjelaskan detailnya. Tak bisakah kau membaca pikiranku saja?" Ucap Melviano.


"Cih! Bisa saja kau memanipulasi ingatanmu! Membuat kak Arion melihat ilusi buatanmu!" Ucap Ralissa curiga.


"Aku tidak sebodoh itu!" Teriak Arion menatap Ralissa tajam. Adiknya sendiri meremehkannya, sangat keterlaluan!


"Dia itu seorang demon kak, bahkan dia bilang kalau dirinya adalah pemimpin mereka yang berarti pemimpin kita juga!" Jelas Ralissa menekankan semua yang terucap dari mulutnya, terutama kata 'demon'.


"Tenanglah, sihirku itu berbeda walau sihirku menghabiskan banyak energi tapi sihirku bisa mengalahkan para pengguna sihir lainnya bahkan demon sekalipun. Kalau dia berani melakukan hal 'itu', maka dia harus siap dengan konsekuensinya!" Balas Arion tersenyum meyakinkan Ralissa.


Kini tatapannya beralih pada Melviano. "Kau sudah siap?" Tanya Arion yang mendapat anggukan dari Melviano.


Arion pun berpindah tempat duduk di samping Melviano, berdampingan. Mereka pun memejamkan mata Mereka, setelah itu Arion mulai membaca pikiran Melviano yang memikirkan masa lalu saat awal ia bertemu dengan Aerilyn.


Ralissa membuang muka, kesal. "Tak bisakah aku membunuhnya saja?!" Teriaknya frustasi menatap tajam Melviano yang memejamkan matanya.


Setelah menunggu cukup lama Ralissa memilih untuk tidur. Ia sudah cukup lelah untuk hari ini sehingga ia lebih cepat mengantuk daripada hari yang biasanya. Gagal sudah rencananya membunuh matenya.


Arion dan Melviano sudah selesai dengan kegiatan mereka.


Tatapan tajam langsung terlontar pada Melviano. "Itu kau bilang 'cinta'?!"


"Kau hanya merasa kesepian! Dan dia hanya mengurangi kekosongan itu! Dasar bodoh!"


"Bahkan, rasa sayangku pada Ralissa lebih besar daripada rasa sayangmu pada– siapa namanya? Ah entahlah! Pokoknya itu hanya karena kau kesepian!!"


Arion menarik nafas panjang, cukup lelah meluapkan emosinya yang menggebu-gebu hanya karena permasalahan dari sepasang mate yang 'salah paham' akan situasi yang mereka hadapi.


"Kalau itu bukan cinta lalu apa?" Tanya Melviano tak mengerti.


Arion memamerkan smirk-nya. "Lihat Ralissa." Suruh Arion menunjuk Ralissa yang tertidur dengan lirikan matanya.


Melviano mengikuti arah pandang Melviano.


"Aku tak bisa menjelaskannya. Saat mencium aroma tubuhnya saja aku kesulitan mengontrol diriku dan ingin merengkuhnya." Jelas Melviano.


"Lalu?"


"Hatiku berdebar tak keruan, melihatnya menangis membuatku terasa sesak. Saat ia sakit aku tersiksa." Lanjut Melviano memegang dadanya.


"Apa kau merasakan semua hal itu saat bersama gadis itu?"


"..." Melviano diam, tampak menimbang-nimbang dan ia pun tersenyum.


"Tidak." Jawab Melviano akhirnya.


Arion menepuk pundak Melviano. "Sekarang, aku serahkan semuanya padamu. Jika yang lain tahu king mereka sepertimu, aku tidak yakin kau akan bertahan di posisi itu."  Ucap Arion lalu berdiri menghampiri Ralissa yang sudah terlelap.


"Biarkan aku yang menggendongnya." Ucap Melviano segera melesat mengambil alih apa yang akan Arion lakukan.


Arion mengerti dan mundur beberapa langkah, memberi ruang pada Melviano untuk menggendong Ralissa.


"Kamarnya di atas, ada namanya di pintu." Jelas Arion lalu duduk kembali di sofa dan mulai menyalakan televisi.


Melviano mengangguk lalu menggendong Ralissa ala bridal style dan berjalan menaiki tangga.


Sesekali ia melilirik wajah Ralissa dan tersenyum.


Tak lama, Melviano sudah sampai di depan kamar Ralissa. Ia pun membuka pintu kamar matenya itu dengan sedikit sihirnya.


Melviano membaringkan tubuh Ralissa dengan sangat hati-hati, takut Ralissa akan terusik dan terbangun karenanya. Tak lupa ia juga menyelimuti Ralissa.


Ia menatap Ralissa lekat. "Aku benar-benar bodoh." Ia meletakkan tangannya pada dadanya yang berdebar kencang di dalam sana.


"Sangat berdeda. Apa itu terjadi karena aku terlalu lama tidak mencari dan menemukanmu?"


"Maafkan aku."


Melviano berdialog sendiri sambil menatap Ralissa sendu. Setelah itu, ia mengecup kening Ralissa singkat.


Ralissa membuka matanya saat itu juga, menatap tajam pelaku yang mengecup keningnya.


Plaaakk


Satu tamparan melesat ke pipi kiri Melviano.


"Kenapa kau mengecup keningku?!" Tanya Ralissa dengan nada tinggi. Ia mendorong Melviano agar menjauh darinya.


Sebenarnya Ralissa sudah bangun saat Melviano menggendongnya. Mendengar semua ucapan yang terlontar dari Melviano sebelumnya.

__ADS_1


Melviano memegang pipinya yang menjadi sasaran empuk Ralissa. Ia tidak mengeluh karena dia yang salah di sini. Mengecup Ralissa tanpa izin.


"Maaf." Ucap Melviano, hanya itu yang bisa ia ucapkan saat ini.


Ralissa mengubah posisinya menjadi duduk.


"Kau pikir dengan kata maaf bisa mengembalikan semuanya seperti semula?" Tanya Ralissa menaikkan sebelah alisnya.


"Setidaknya aku sudah mengucapkan kata itu, daripada tidak sama sekali." Balas Melviano.


"Ah~ begitukah?" Tanya Ralissa, ia menyibak selimut yang menutupi tubuhnya. Ia menurunkan kedua kakinya dari tempat tidur dan menatap Melviano dengan senyum sinis yang tercetak di wajah cantiknya.


"Kau ingin aku memaafkanmu?" Lanjut Ralissa, kini ia duduk mensejajarkan dirinya dengan Melviano.


"Tentu saja." Jawab Melviano tampak berbinar senang.


"Dengan me-rejectmu?" Tanya Ralissa lagi, ia sangat serius dengan ucapannya saat ini.


Melviano menunduk, merasakan gejolak aneh pada tubuhnya. Ia tidak mau direject oleh Ralissa.


Ralissa terdengar sangat serius dengan ucapannya.


"Berikan aku kesempatan." Pinta Melviano, memelas sambil menekan dadanya yang terasa panas.


'Oh tidak! Ada apa denganku?' Batinnya mulai meremas dadanya.


"Tidak. Karena aku gagal membunuhmu biarkan aku me-rejectmu." Ucap Ralissa.


Melviano semakin merasakan sakit dan panas pada dadanya.


"I am Ralissa–"


"Ahk!"


Ralissa mengurungkan niatnya untuk menyelesaikan ucapannya ketika melihat Melviano kesakitan.


"Kau kenapa?!" Pekik Ralissa tampak khawatir melihat Melviano menunduk dengan punggung gemetar serta mengerang menahan sakit.


"Jangan lakukan itu!" Pinta Melviano terdengar lirih.


"Kenapa? Bukankah kau bilang kalau alasanku membunuhmu masuk akal aku bisa me-rejectmu?" Tanya Ralissa tak peduli dengan keadaan Melviano, ia mengira kalau Melviano sedang bersandiwara saat ini.


"Sudahlah, tidak perlu membuang waktu lebih lama lagi–"


Bruuukk!


"Astaga!" Pekik Ralissa karena Melviano jatuh ke arahnya.


Terdengar deru nafas Melviano tersengal-sengal di telinganya. Ralissa membangunkan Melviano dari tubuhnya.


Ralissa membulatkan matanya melihat keringat yang bercururan di wajah Melviano yang semakin pucat.


"Melvi? Hey, bangun." Ucap Ralissa menepuk pipi Melviano berulang kali.


"Hey, jangan bercanda!" Teriak Ralissa panik.


Braaakk!!


"Ada apa?" Tanya Arion setelah membuka pintu terburu-buru.


"Kak Arion!" Balas Ralissa lega melihat kehadiran sang kakak.


Tatapan Arion beralih pada Melviano yang tak sadarkan diri.


"Apa yang kau lakukan pada matemu?" Tanya Arion menghampiri keduanya.


"Kita bawa dia ke pack Sivermoon, ya kak?" Pinta Ralissa khawatir melihat keadaan Melviano, mengabaikan pertanyaan Arion.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


To be continue


Gimana? Makin ngaco kan alurnya 😅😅


Tetep dibaca ya~ walau ngebosenin 😂😂

__ADS_1


Jangan lupa votement nya ya~ 😆😆


__ADS_2