
Ralissa berjalan dengan anggun, mengingat kalau dirinya adalah seorang putri bangsawan keluarga Vampire. Walaupun hal tersebut tidak berlaku di dunia manusia, tapi setidaknya ia bisa memperlihatkan pada Melviano kalau dirinya tidaklah 'bar-bar'.
Ralissa terus melangkah, mengabaikan tatapan para lelaki yang memuja kecantikannya di setiap lorong yang ia lewati. Sampai ia Melihat bayangan Melviano yang sedang tersenyum, tidak pada dirinya.
Hal itu membuat Ralissa heran. 'bukankah dia orang yang bersifat dingin? Bagaimana bisa dia tersenyum seperti itu? Dengan siapa?' Batin Ralissa bertanya.
Ralissa berjalan pelan, mendekati Melviano. Semakin dekat ia semakin terlihat kalau Melviano tidak sendiri, ia bersama seseorang. Dan parahnya lagi, dia seorang perempuan. Terlihat dari rambut panjangnya yang bergelombang. Ralissa geram akan hal itu. Ingin rasanya ia mencakar kedua makhluk yang ada di penglihatannya saat itu.
Sampai akhirnya, ia menghentikan langkahnya dengan lemas. Ia mengenali perempuan yang saat ini bersama Melviano. Nafasnya tercekat, dadanya terasa disayat.
Perempuan itu adalah gadis yang ada di foto saat ia marah untuk pertama kalinya pada Melviano, bukan marah kecewa, mungkin? Entahlah ia tidak bisa menjelaskan bagaimana perasaannya saat itu.
Tes.
Tes.
Tes.
Bulir-bulir air itu mengalir di pipinya. Ralissa menangis melihat Melviano memeluk gadis itu.
"I hate you, Melvi." Gumam Ralissa.
"I really hate you!" Lanjut Ralissa lalu pergi berbalik arah tidak ingin bertemu dengan Melviano.
"Tunggu pembalasanku nanti! Aku tidak akan segan-segan untuk membunuh kalian!" Geram Ralissa mempercepat langkahnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
Melviano berangkat tepat waktu seperti biasa ia masuk ke kampus. Tapi, hari ini ia terlihat berbeda. Ia merasa lebih bersemangat untuk datang ke kampus. Apa mungkin Ralissa menjadi faktor utama ia merasa senang? Entahlah author tidak mau ambil pusing akan hal itu.
Readers: Lah, kok authornya gitu?
Author: Biarinπ
Melviano berjalan dengan santai melewati lorong-lorong, mengacuhkan semua perempuan yang menyapanya sampai ia melihat sosok yang tak asing baginya, Aerilyn Bellcavia. Ia menghampirinya lalu menepuk pundak gadis itu yang saat itu sedang membelakanginya.
Aerilyn berbalik untuk melihatnya, ia sempat terkejut beberapa saat lalu tersenyum senang karena tahu Melviano yang menyapanya.
"Owh, Vian. Lama tak bertemu." Sapa Aerilyn dengan senyum manisnya.
"Iya. Kenapa kau bisa ada di sini? Bukankah, kau bersama dengan matemu?" Tanya Melviano.
"Iya. Aku datang bersamanya ke sini. Kami hanya merindukan dunia manusia tempat kami bertemu." Jawab Aerilyn jujur.
"Bagaimana denganmu? Apa kamu masih mencari matemu?" Lanjut Aerilyn bertanya.
"Tidak. Aku tidak perlu melakukan itu lagi. Aku sudah menemukannya." Jawab Melviano tersenyum senang dengan fakta bahwa ia telah menemukan matenya, Ralissa.
"Wah, selamat Vian. Aku turut senang mendengarnya." Ucap Aerilyn tulus.
Refleks Melviano memeluk Aerilyn sebagai pelampiasan rasa senangnya.
__ADS_1
"Terima kasih." Ucap Melviano.
"Hahaha, sama-sama Vian." Balas Aerilyn, lalu melihat bayangan matenya sudah berdiri di belakang Melviano.
"Ah, mateku sudah selesai dengan urusannya." Ucap Aerilyn melepas pelukan antara dirinya dan Melviano.
"Ah, hay. Maaf karena memeluk matemu tadi." Jelas Melviano menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Yeah, don't worry. It's okay. Aku memang sedikit cemburu, tapi aku mengerti karena kau adalah sahabatnya." Balas mate Aerilyn.
"Kalau begitu kami pergi dulu." Ucapnya karena mereka berbeda kelas dan jurusan.
"Yah, aku juga harus pergi ke kelasku." Balas Melviano.
"Sampai jumpa lagi Vian. Aku harap dipertemuan selanjutnya kau bisa mengenalkan matemu padaku." Ucap Aerilyn tersenyum pada Melviano.
"Tentu saja." Balas Melviano.
Mereka pun berpisah menuju ke tempat tujuan masing-masing.
.
.
.
.
.
.
Ralissa duduk di sembarang bangku lalu mengusap pipinya yang terasa masih basah karena air mata.
"Kamu tidak apa-apa?" Tanya seseorang membuat Ralissa menoleh ke sumber suara dan mendapati kehadiran dua gadis yang saat ini duduk bersampingan di depannya. Ia adalah Shena dan Kayla. Yang bertanya pada Ralissa adalah Shena.
"Tapi, kelihatannya tidak seperti itu. Kamu seperti habis menangis. Matamu terlihat sedikit bengkak." Balas Kayla lalu diangguki oleh Shena.
Ralissa terdiam tidak tahu harus merespon apa. Ia tidak mungkin menceritakan permasalahannya dengan orang yang baru ia kenal.
"Kalian tenang saja. Aku baik-baik saja. Jangan khawatir." Balas Ralissa final membuat kedua gadis itu mengerti. Ralissa tidak mau menjelaskan permasalahan yang ia hadapi kepada mereka.
"Okay. Btw, kenalin aku Shena dan dia.."
"Aku Kayla."
Ucap keduanya lalu mengulurkan tangan kanannya pada Ralissa.
"Ah, ya. Aku Ralissa." Balas Ralissa menjabat tangan keduanya bergiliran.
Tak lama datang Arion bersama dengan Melviano.
"Kenapa kau meninggalkanku?!" Kesal Arion pada Ralissa dan duduk di samping kanannya sedangkan Melviano sudah duduk di samping kiri Ralissa.
"Siapa yang menyuruhmu duduk di situ?" Tanya Ralissa dingin.
Arion menjadi kesal karenanya. "Ck! Apa salahnya aku duduk di sampingmu?"
"Bukan kakak. Tapi, dia." Ucap Ralissa membuat Arion melirik Melviano.
Deg!
Melviano langsung menoleh pada Ralissa. Tentu saja ia terkejut akan reaksi Ralissa yang tiba-tiba seperti itu.
"Maksudmu aku?" Tanya Melviano menunjuk dirinya sendiri.
__ADS_1
"Iya." Balas Ralissa singkat, padat dan jelas.
"Kenapa? Apa aku melakukan suatu kesalahan?" Tanya Melviano lagi. Tidak mengerti dengan situasi.
Ralissa menoleh pada Melviano yang masih duduk di sampingnya menatapnya meminta penjelasan.
"Tidak. Hanya saja aku tidak ingin melihatmu untuk sementara. Jadi, bisakah kau pindah?" Jawab dan tanya Ralissa dengan senyum yang terlihat dipaksakan, ah ralat sangat dipaksakan.
Melviano tidak terima dan hendak protes namun Ralissa mencegatnya. "Aku tidak menerima penolakan, Melviano! Pindah dari sana sekarang!" Teriak Ralissa pada Melviano.
Arion yang melihat itu hanya membulatkan matanya sempurna begitu juga dengan Shena dan Kayla terkejut akan teriakan Ralissa yang terlihat sangat marah.
"Tidak mau." Tolak Melviano singkat membuat amarah Ralissa semakin melonjak naik.
"Melviano!" Hardik Ralissa ia berdiri menggebrak meja.
Melviano pun ikut berdiri tak lupa dengan ekspresi datar yang kembali ia tunjukkan.
Semua yang ada di kelas menonton mereka seakan mereka sedang menonton bioskop yang langka dan hanya sekali tayang. Karena hal itu sangat jarang terjadi, lebih tepatnya tidak pernah terjadi sebelumnya.
"Apa?" Balas Melviano menantang Ralissa.
Ralissa semakin kesal di buatnya ia pun melirik Arion yang masih setia menontonnya.
"Kak, kita pindah tempat duduk." Pintanya pada Arion.
Arion hendak bangun dari duduknya. "Jangan bangun kak!" Larang Melviano.
"Apa masalahmu?!" Tanya Ralissa geram akan sifat Melviano yang keras kepala.
"Kalau kau tidak mau pindah biar aku yang pindah!" Lanjut Ralissa marah.
"Tidak boleh." Tolak Melviano mentah-mentah membuat Ralissa dengan terpaksa kembali duduk di bangkunya. Ia sudah bosan berdebat dengan Melviano.
Melviano tersenyum puas dengan menyerahnya Ralissa untuk berdebat dengannya. Ia pun kembali duduk dengan tenang sambil memikirkan apa saja alasan yang mungkin membuat Ralissa berubah seperti itu.
Tak lama setelah perdebatan itu, dosen pun datang dan menjelaskan materi pembelajaran.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
To be Continue
__ADS_1
Don't forget to votement this story
see you next πππ