Vampirewolf

Vampirewolf
Relationship??


__ADS_3

Ralissa merasa ia diperhatikan, ia pun mencari siapa pelaku yang berani memperhatikan dirinya. Ia tersenyum tipis melihat pelakunya adalah matenya sendiri. Ia pun berjalan mendekati Melviano yang maaih menatapnya dengan intens.


"Kenapa lihat-lihat?" Tanya Ralissa pada Melviano.


Melviano tersentak. Ia tersadar dari lamunannya yang mengagumi Ralissa.


"Kagum dengan kecantikanku?" Tanya Ralissa lagi dengan percaya dirinya.


Melviano diam tidak menjawab. Ia masih mencerna situasi yang terjadi saat ini.


'Apa-apaan ini? Kenapa dia berbicara denganku? Bukankah dia sedang marah padaku? Apa dia sudah memaafkanku?' Batin Melviano.


"Kau tidak seru!" Ucap Ralissa kesal karena tidak dijawab ataupun direspon oleh Melviano.


Ralissa pun beranjak dan duduk dengan dua teman barunya. Yah, masih baru untuk Ralissa karena jarang berinteraksi dengan mereka.


"Sudah selesai marahannya dengan Melviano?" Tanya Kayla dengan nada menggoda pada Ralissa.


"Ciee. Bakal ada yang balikan nih." Goda Shena.


"Apaan sih." Ucap Ralissa tidak tahu harus merespon seperti apa. Pipinya sudah memerah semerah kepiting rebus.


"Hahaha, Ralissa blushing." Tambah Kayla menggoda Ralissa.


"Ish! Diamlah! Dosen udah datang tuh." Tunjuk Ralissa dengan lirikan matanya.


Pelajaran pun berlangsung seperti biasa dengan sesekali Kayla dan Shena menggoda Ralissa.


Sementara itu Melviano tersenyum senang, Ralissa sudah tidak marah lagi padanya. Ralissanya sudah 'kembali'.


.


.


.


"Kantin yuk!" Ajak Shena pada Ralissa dan Kayla.


"Hm. Oke, tunggu bentar." Jawab Kayla yang masih sibuk memasukkan alat-alat tulisnya ke dalam tas.


"Kalian duluan aja." Balas Ralissa masih enggan beranjak dari duduknya.


"Okey. Kalau lapar langsung susul ke kantin aja ya~" Balas Shena dan Kayla hampir bersamaan dan berlalu sambil melambaikan tangannya pada Ralissa.


Ralissa membalas melambaian tangannya pada kedua temannya itu.


"Kau gak ke kantin?" Tanya Arion pada Ralissa yang duduk di depannya posisi mereka saat ini Ralissa membelakanginya. Paham, kan?


"Iya." Jawab Ralissa singkat.


Arion menghembuskan nafasnya.


"Yaudah. Kakak duluan kalau gitu." Balas Arion berlalu menuju kantin.


Hening.


Kelas pun terasa sepi walaupun masih diisi oleh dua makhluk hidup. Tapi keduanya ragu untuk bertegur sapa.


"Sya." Panggil Melviano memecah keheningan dalam ruang kelas itu.


Ralissa menoleh ke arah Melviano yang saat ini menatapnya.


"Apa?" Tanya Ralissa ketus.


"Kau tidak mau memaafkanku?" Tanya  Melviano.


Ralissa menatap Melviano sebentar.


"Maaf." Ucap Ralissa menunduk merasa matanya memanas, ia tidak berani menatap Melviano lagi.

__ADS_1


Melviano bangun dari duduknya lalu menghampiri Ralissa.


"Kenapa minta maaf? Itu bukan jawaban dari pertanyaanku." Balas Melviano yang menyejajarkan dirinya dengan Ralissa.


Ralissa diam, tidak tahu harus berkata apa. Ia tidak mau mengakui kalau saat itu dirinya cemburu hingga ingin membunuh mate-nya sendiri. Gengsi katanya.


Ia merasa bersalah, bahkan sampai belajar sihir agar ia bisa membunuh Melviano.


"Kenapa diam saja. Apa maksud dari sapaanmu tadi? Apa aku sedang melamunkan kamu yang menyapaku ata—"


Grreeep!


Ralissa memeluk Melviano, membuat kata-kata yang akan keluar dari mulut Melviano tertahan, tak jadi keluar.


"Diamlah. Apa kamu tidak merindukanku?" Ucap Ralissa.


Author: "tidak tahu malu emang."


Melviano mematung lalu tersenyum, Ralissa sudah memaafkannya. Ia pun membalas pelukan mate-nya itu.


"Tidak. Tapi aku sangat merindukanmu."


"Tega sekali kamu meninggalkan mate-mu selama dua bulan." Kesal Melviano masih dengan erat memeluk Ralissa.


Deg!


Ralissa terkejut mendengar penuturan Melviano. 'Jadi, selama ini dia sudah tahu? Apa mungkin Arion yang memberitahu? Itu tidak mungkin!' Batin Ralissa menduga-duga.


"Apa maksudmu? Bukannya kamu yang tidak mau berbicara denganku lagi?" Tanya Ralissa pura-pura tidak tahu, tepatnya untuk memastikan kalau Melviano belum tahu rencananya sebelumnya.


Melviano melepaskan pelukannya pada Ralissa. "Siapa yang mau berbicara dengan boneka buatan Arion itu." Kesal Melviano yang langsung menjawab pertanyaan yang ada dalam benak Ralissa.


"Jadi, kamu sudah tahu? Ck!" Ralissa mendecak kesal. Sia-sia usahanya selama ini.


"Kamu lupa hal penting, sayang~" Melviano mengusap pipi Ralissa dengan lembut.


"Hm, kamu yang paling kuat dan aku meremehkanmu." Ralissa mengerucutkan bibirnya yang terlihat lucu di mata Melviano.


Cup💕


Satu kecupan Ralissa dapatkan.


"Yak! Apa yang kamu lakukan!" Kesal Ralissa menatap tajam mate-nya.


"Kamu terlihat lucu kalau seperti itu aku tidak bisa menahannya." Balas Melviano dengan gamblangnya.


"Terserah kau saja." Ucap Ralissa dengan sedikit merajuk.


Acara merajuknya langsung sirna ketika ia mengingat sesuatu.


"Oh! Kamu mau bertarung denganku?" Tanya Ralissa tiba-tiba membuat Melviano mengernyit tak mengerti.


"Hm? Bertarung apa?" Tanya Melviano tak mengerti.


"Sekarang aku jauh lebih kuat! Dan aku ingin kamu yang tahu bagaimana kuatnya aku sekarang!" Ucap Ralissa dengan penuh semangat. Ya, karena setelah ayahnya mengajari dasar mempelajari sihir. Ralissa memilih untuk belajar sendiri elemen sihir yang lain tanpa bantuan dari sang ayah lagi.


Melviano gemas melihat tingkahnya.


"Hm, baiklah. Kapan? Di mana?"


"Hari ini selesai kelas. Seperti biasa, hutan belakang kampus." Jawab Ralissa.


"Apa tidak ada tempat lain selain di sana?" Tanya Melviano mengingat kalau setiap ada masalah dengan Ralissa selalu pergi ke sana, ia merasa parno akan tempat itu karena Ralissa secara terang-terangan ingin membunuhnya.


"Di sana banyak kenangan tentang kita. Lebih tepatnya author cerita ini yang tidak mau ambil pusing memikirkan tempat untuk alur ceritanya." Jawab Ralissa dan bergumam tak jelas di akhir kalimatnya.


"Ah, ya. Kenangan kamu yang sangat ingin membunuhku." Tambah Melviano sedikit kesal dengan bibirnya yang mengerucut.


Ralissa tertawa karenanya. "Kamu tidak cocok berekspresi seperti itu. Hahaha, lihat wajahmu lucu sekali." Ralissa memegang perutnya yang terasa keram karena tertawa.

__ADS_1


Melviano semakin mengerucutkan bibirnya melihat Ralissa yang masih setia menertawainya. Tapi, di balik rasa kesal dan wajah cemberut yang ia tunjukkan. Tak dapat dipungkiri jika ia senang melihat Ralissa bisa tertawa lepas saat bersamanya.


'Teruslah tertawa karenaku. Aku sangat senang akan hal itu.' Bantin Melviano lalu tersenyum tulus pada Ralissa yang kini menutup mata karena tertawa.


"Sekarang, mari kita ke kantin!" Ajak Melviano tidak peduli dengan Ralissa yang masih tertawa karena dirinya dengan menarik tangan Ralissa. Tentu saja tanpa membuat gadis itu merasa sakit pada pergelangan tangannya yang ia tarik dengan paksa.


Seketika Ralissa menghentikan tawanya ketika ia dan Melviano sudah berada di luar dan saat ini berada di lorong-lorong kampus yang lumayan ramai. Ia tidak ingin semua orang melihat dirinya seperti itu, hanya orang terdekatnya yang boleh melihat tawanya yang riang dan tulus.


Tidak hanya itu, alasan utamanya adalah Ralissa hanya ingin menjaga image-nya saja di depan semua orang yang kini sedang memperhatikannya yang bersama Melviano.


Banyak yang penasaran dengan hubungan yang terjalin antara keduanya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


To be continue


Jangan lupa votement-nya ya~


Maaf kalau alur ceritanya gak jelas.


Salam


Shinikook

__ADS_1


__ADS_2