Vampirewolf

Vampirewolf
Back to Immortal World


__ADS_3

Kayla D Sworth dan Shena Flowdish sedang bergosip ria, lebih tepatnya mereka sedang memperhatikan Melviano dan mengomentarinya.


"Tatapan yang tajam."


"Rahang yang tegas."


"Perut roti sobek, sudah tidak diragukan lagi."


"Wajah tampan."


"Udah mapan."


"Keren banget lagi."


"Tapi sayang, dia dingin banget kayak es di kutub Utara."


Itulah komentar mereka, sampai tatapan Shena melirik ke pintu masuk kelas ia melihat Arion yang terlihat berbisik pada Ralissa yang tak lama mereka mencari tempat duduk.


Mereka melihat Ralissa duduk di samping Melviano bukan di dekat Arion.


"Kenapa ia duduk di sana?" Tanya Shena pada Kayla.


"Apa mungkin, Arion dan Ralissa putus?" Tanya Shena lagi.


"Entahlah. Btw, mau taruhan?" Tantang Kayla pada Shena.


"Apa taruhannya?" Tanya Shena antusias karena merasa taruhan kali ini akan menarik.


"Mereka berdua bakal jadian atau tidak?" Jawab Kayla menunjuk Ralissa dan Melviano dengan lirikan matanya.


"Aku bertaruh mereka bakal jadian!" Teriak keduanya kompak, detik berikutnya mereka tertawa bersamaan.


"Wow! Lihatlah." Seru Kayla pada Shena.


Shena kembali menoleh ke belakang melihat Ralissa dan Melviano yang saling tatap sedangkan Arion sedang menahan tangan Melviano.


"Untuk pertama kalinya Melviano tidak mengusir perempuan yang ada di dekatnya!" Pekik Kayla menutup mulutnya agar ucapannya tidak terdengar.


"Ternyata ada yang bisa meluluhkan hatinya." Tambah Shena yang langsung di'iya'kan oleh Kayla.


.


.


.


.


.


.


.


"Adik?" Tanya Melviano masih belum mengerti.


'Bukankah mereka sepasang mate?' Batin Melviano melirik Arion dan Ralissa bergantian.


Sadar akan situasi Ralissa segera menoleh. "Sebenarnya dia kakak sepupuku." Jujur Ralissa bertepatan dengan Melviano yang meliriknya. Tatapan mereka bertemu saat itu pula Ralissa merasa waktu berhenti.


"Lalu?" Melviano kembali memegang bukunya yang beberapa saat lalu ia lepas.


"Apa hubungannya denganku?" Lanjutnya membuat Ralissa menjerit tertahan.


Sedangkan Arion? Ia sedang menahan tawanya melihat hal itu sampai tatapan tajam Ralissa terasa menusuknya.


"Sorry." Bisik Arion pada Ralissa tanpa suara. Tatapannya pun beralih ke Melviano yang sudah kembali membaca bukunya.


Arion tersenyum miring lantas ia langsung merampas buku Melviano dan sekilas membacanya "Immortal Kingdom" ucapnya melirik Melviano yang kini menatapnya.

__ADS_1


"Kau suka dengan hal-hal seperti ini? Pria dingin sepertimu?" Tanya Arion tersenyum remeh padanya.


"..." Melviano tidak merespon Arion tapi ia membatin 'Cih, dia sendiri kaum immortal bilang begitu! Awas saja, kalau aku sudah menemukan mateku dan kembali ke dunia immortal, aku akan memperlakukanmu secara khusus!'


"Kau tak mau mengambilnya?" Arion menyodorkan buku itu pada Melviano.


Melviano tidak merespon karena ia tahu kalau sekarang Arion sedang mencoba untuk menjahilinya.


"Oh, jadi buku ini tidak penting, ya?" Arion membuka buku itu dan membaliknya satu persatu.


Melviano terkesiap ketika melihat munculnya ujung foto yang masih terjepit diantara sela-sela buku.


"Boleh kubuang?" Lanjut Arion kini mengarahkan buku itu ke Jendela kelas yang telah terbuka. Ia melihat ke bawah 'cukup tinggi' batinnya membayangkan Melviano mencari buku yang terjatuh dari ketinggian ini karena kelas mereka berada di lantai 5.


Melviano sudah berdiri untuk menghentikan aksi Arion. Ia seperti itu bukan karena buku melainkan foto yang sebentar lagi akan terjatuh.


'Aku tidak mungkin menggunakan kekuatanku!' Batin Melviano, tatapannya terfokus pada foto yang ada di buku itu.


Wuuuss!!


Seseorang melewati Melviano dan mengambil buku itu dari tangan Arion.


"Kenapa kakak melakukan itu?!" Kesal Ralissa muak dengan tingkah Arion. Ia pun menginjak kaki Arion dengan cukup kuat membuat si empunya memekik kesakitan.


"Dasar adik durhaka!" Maki Arion mengusap kakinya yang menjadi korban adiknya.


Ralissa tidak memperdulikannya ia pun memilih untuk mengembalikan buku yang saat ini dipegangnya pada Melviano. "Nih." Ucapnya menyodorkan Melviano buku itu.


Melviano mengambilnya lalu duduk kembali di bangkunya.


Ralissa tercengang melihatnya. "Hanya itu? Tak ada ucapan terima kasih?" Tanya Ralissa tak percaya dengan apa yang ia lihat.


"Aku tak pernah memintamu untuk mengambilnya." Jawab Melviano tanpa melihat Ralissa yang berdiri di belakangnya karena saat ini perhatiannya sedang terpusat pada foto yang ada di tangannya. Foto seorang perempuan.


Ralissa melihat Melviano yang mengusap foto gadis itu. Hanya karena foto itu, Melviano mengacuhkannya. Rasa kesalnya semakin menjadi, ia pun mengambil tas yang sempat ia taruh di atas meja dan langsung melangkahkan kakinya duduk di samping Arion yang masih mengusap kakinya.


Sakit.


Itu yang Ralissa rasakan saat ini. Ternyata Melviano bersikap dingin pada semua orang karena gadis itu. Ralissa ingin berteriak untuk mencurahkan rasa sakit hatinya saat ini, tapi situasi saat ini tidak memungkinkan untuknya melakukan hal itu.


"Kenapa mateku harus dia?" Lirihnya mengusap air matanya yang hampir mengalir di pipinya.


"Aku berharap tebakan kakak saat ini salah." Lanjutnya kembali mengusap pipinya.


"Iya, dia bukan matemu. Anggap saja seperti itu. Sudahlah jangan menangis!" Balas Arion tak tega melihat Ralissa. Bahkan ia sudah menggunakan sihirnya menghentikan waktu sejak sadar Ralissa menangis.


"Kak. Ayo kita pulang." Ajak Ralissa tiba-tiba sekilas melirik Melviano yang diam karena terpengaruh oleh sihir Arion.


"Tapi, sebentar lagi kelas akan mulai." Ucap Arion halus untuk menolak.


"Aku tidak mau melihat wajahnya!" Teriak Ralissa kesal.


Arion menghembuskan nafasnya kasar. "Baiklah, ayo kita pulang." Putusnya.


Arion melihat sekitar, ia memejamkan matanya. Perlahan ia membuka matanya dan iris matanya sudah berubah. "Lupakan keberadaan kami untuk hari ini." Ucapnya sambil menggenggam tangan Ralissa. Tubuh keduanya pun menghilang.


Waktu yang sempat terhenti pun kembali berjalan. Semua yang ada di dalam kelas tidak merasakan apapun, aktivitas mereka tetap berlanjut kecuali satu orang, dan dia adalah Melviano.


Melviano memperhatikan sekitar. "Apa itu tadi?" Tanyanya bingung lalu menyadari sesuatu.


"Kemana mereka berdua?" Lanjutnya melihat bangku yang sempat Ralissa dan Arion duduki.


"Tidak mungkin aku terpengaruh sihir mereka." Lanjutnya berdialog sendiri, tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.


Sementara itu, Ralissa dan Arion sekarang berada di dalam mobil.


Ralissa melirik Arion tajam. "Kenapa kita masih di sini?" Tanya Ralissa terdengar kesal.


"Kau tidak memikirkan kondisiku setelah membawamu pulang?" Arion menggelengkan kepalanya karena Ralissa sedikitpun tidak mengkhawatirkan dirinya.

__ADS_1


"Maaf, aku masih kesal karena dia." Balas Ralissa menunduk, tak berani membalas tatapan Arion.


"Dia bukan matemu." Ucap Arion membuat Ralissa mendongak menatapnya.


"Mungkin ada orang lain yang berada di sekitar kita saat itu." Lanjut Arion mencoba menenangkan Ralissa walau dengan kebohongan, karena ia masih yakin kalau hanya Melviano yang berada di sana. Tidak! Ia sangat yakin kalau Melviano adalah mate Ralissa.


"Benarkah?" Tanya Ralissa memicing curiga.


"Aku bilang mungkin!" Tegas Arion membuat Ralissa menganggukkan kepalanya meng'iya'kan.


Ralissa diam sejenak ketika Arion sudah menjalankan mobilnya.


"Kak." Panggil Ralissa.


Arion menoleh sekilas. "Apa?" Balasnya lalu kembali melihat ke depan.


"Setelah dipikir-pikir, bagaimana kalau kita pulang-"


"Kita kan sedang dalam perjalanan pulang!" Balas Arion memotong ucapan Ralissa yang belum selesai.


Ralissa gemas lalu mencubit lengan kanan Arion. "Aku belum selesai bicara!" Teriak Ralissa tepat di telinga Arion.


Arion mengusap lengan dan telinganya bergantian. "Kalau begitu lanjutkan!" Suruh Arion malas meminta maaf karena Ralissa sudah membalasnya dengan tindakan.


"Ayo kita pulang ke dunia immortal." Lanjut Ralissa to the point.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


To be continue


Aku up lagi guys 😂😂


Kangen author ya~ 😆


Canda kali 😉


Jangan lupa votement yah~


See you next chapter

__ADS_1


__ADS_2