Vampirewolf

Vampirewolf
I Hate You, Melvi


__ADS_3

Dunia Manusia


Fernant Houtman, menatap tajam layar laptop yang menyala di hadapannya. Tayangan video dari CCTV kelas yang baru beberapa hari ini ditempati oleh kedua keponakannya. Ia menggeram kesal melihat keponakannya yang menggunakan sihir untuk keluar dari kelas tanpa melapor pada dirinya.


"Siapa yang mengajari mereka berlaku seenaknya di dunia manusia?" Tanya Fernant memijit pelipisnya yang mulai berdenyut karena menahan amarahnya yang akan meluap.


Ia pun dengan sigap mengedit video itu layaknya kehadiran Ralissa dan Arion tidak pernah ada.


Fernant tersenyum bangga dengan hasil kerjanya yang memuaskan dirinya sendiri. Ia pun beralih ke dokumen yang berada di sisi kanannya dan membacanya, mengecek dengan detail, memberi tanda yang perlu diperbaiki, dan menandatangani jika dokumen itu tak memiliki kesalahan.


Setelah merasa pekerjaannya telah selesai ia kerjakan, Fernant merenggangkan sendi-sendinya yang terasa kaku karena terlalu lama duduk di singgasananya. Sampai pandangan matanya tertuju pada surat yang terletak tak jauh dari dokumen yang beberapa detik yang lalu ia kerjakan.


Fernant mengambil, membuka lalu membaca isi surat itu yang ternyata berisi surat keterangan tentang mahasiswi yang akan mulai masuk ke Universitasnya.


Dan mahasiswi itu bernama, Aerilyn Bellcavia.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Satu bulan kemudian..


Tak terasa sudah tiga puluh hari mereka tinggal di dunia immortal, dan hal itu membuat Fernant yang tinggal di dunia manusia seorang diri hanya bisa geram akan hal itu. Ia pun menghubungi kakaknya (Rey) melalui mindlink dengan wajah merah padam menahan amarah.


'Kak! Kapan kedua keponakanku akan kembali? Hah! Mentang-mentang kamu mendirikan universitas ini bukan berarti kau bisa seenaknya! Aish!!' Kesal Fernant menyampaikan keluh kesahnya sambil marah-marah tak jelas pada sang kakak.


Rey yang mendengar itu hanya bisa menutup telinganya, walau hal tersebut tidak membantunya sama sekali.


'Tenanglah, Fer. Keponakanmu tinggal di dunia immortal karena baru saja bertemu dengan matenya dan sekarang mungkin mereka akan berangkat ke kerajaan demon.' Jelas Rey membuat Fernant membulatkan matanya sempurna.


'Kenapa mereka pergi ke sana?! Mereka mau membuat masalah apa lagi?!' Teriak Fernant, bisa dipastikan kalau besoknya Rey tidak bisa mendengar lagi.


Fernant: 😒😒😒


Author: Okey, itu berlebihan 🙏🙏


'Bisakah kau tidak berteriak?' Balas Rey dingin dan geram akan tingkah adiknya yang berlebihan karena berteriak seperti perempuan.


Fernant hanya bisa mendengus sambil memutar bola matanya kesal.


Hening beberapa saat Rey melanjutkan. 'Ralissa sudah bertemu dengan matenya. Dan matenya adalah seorang Demon.' Jelas Rey.


'Ah, begitu rupanya. Okey, aku maklumi untuk hal itu. Tapi, kalau mereka tidak kembali ke kampus dalam tiga hari, aku tidak akan segan-segan menghukum mereka!' Balas Fernant lalu memutuskan mindlink sepihak.


Fernant tersenyum puas karena bisa menggertak sang kakak. Ia pun melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.


.


.


.


.


.


.


.


Rey menghela nafas lelah. Ia tidak lelah karena bekerja atau hal 'aneh' lainnya tapi karena gertakan sang adik yang tak main-main dengan ucapannya. Ia menatap keluarga 'kecil'nya (Ralissa, Lisa, Arion, dan Melviano) yang saat ini sedang menatapnya. Saat ini mereka sedang sarapan sebelum keberangkatan ketiga makluk immortal yang akan pergi ke kerajaan terbesar di kaum immortal yang tak lain adalah kerajaan Demon.


"Ada apa?" Tanya Lisa mewakili yang lain.


"Maaf, bukannya aku tidak mengizinkan kalian untuk pergi. Tapi, sepertinya kalian tidak bisa pergi ke sana sekarang." Jelas Rey menatap ketiga remaja yang saat ini menatapnya.


"Kenapa?" Tanya Ralissa penasaran. Jujur saja ia tidak masalah akan hal itu, karena ia masih memiliki keraguan untuk pergi ke kerajaan Demon apalagi alasannya ke sana untuk berkenalan dengan orang tua matenya dan melaksanakan pertunangan. Ia rasa itu terlalu mendadak, tetapi ia hanya tidak bisa menolak pernyataan Melviano yang terlihat serius ingin melamarnya.


"Pamanmu ingin kalian kembali ke dunia manusia dalam tiga hari lagi. Dan aku sangat yakin kalau acara pertunanganmu tidak bisa selesai selama tiga hari." Jelas Rey masuk akal.

__ADS_1


"Terlebih lagi dua keluarga harus bertemu secara langsung untuk membicarakan hal itu." Lanjut Rey.


Melviano menunduk lemas, kecewa kalau ia tidak bisa mengklaim Ralissa menjadi miliknya seutuhnya dalam waktu dekat.


Melihat itu Ralissa hanya bisa mengusap punggung Melviano. "Tenang saja. Aku tetap menjadi milikmu. Dan aku tidak akan melirik yang lain." Ucap Ralissa mencoba menenangkan Melviano.


Melviano tersenyum mendengarnya. Ia pun mengecup kening Ralissa membuat keduanya menjadi sorotan orang yang ada di ruang makan saat itu.


"Khem..khemm. Ah, tenggorokanku terasa gatal." Ucap Arion lalu bedeham kembali.


"Ish! Ganggu aja! Bilang aja iri karena sampai sekarang belum bertemu mate sendiri!" Balas Ralissa tajam tepat sasaran menohok Arion.


Arion mengerucutkan bibirnya mendengar penuturan Ralissa yang menusuknya.


Rey dan Lisa hanya bisa menggelengkan kepala mereka melihat tingkah anak, keponakan dan calon menantu mereka.


.


.


.


.


.


.


.


Karena tidak bisa pergi ke kerajaan Demon. Arion, Ralissa dan Melviano memutuskan untuk pergi ke dunia manusia. Fokus untuk menyelesaikan study mereka setelah itu barulah mereka akan pergi ke kerajaan Demon.


Owh! Alasan Arion selalu ikut Ralissa pergi kemana karena ia berniat untuk mencari matenya, siapa tahu kan mate Arion adalah seorang demon juga. Itu salah satu alasannya, alasannya yang lain masih banyak lagi yah, walaupun itu tidak terlalu penting. Okey! Lanjut!


Dengan keputusan itu, mereka langsung berangkat dan akan memulai kegiatan kampus di esok harinya. Dan untuk sekarang, mereka pergi ke rumah masing-masing. Arion bersama Ralissa pergi ke rumah yang telah di siapkan oleh Rey sedangkan Melviano tinggal sendiri di rumahnya.


Melviano menawarkan untuk tinggal bersama tetapi Arion langsung menolaknya dengan tegas.


"Ralissa masuk sekarang!" Suruh Arion membuat Ralissa kesal sedangkan Melviano hanya bisa memaksakan senyumnya agar terlihat tegar, jujur saja ia sangat ingin berhambur ke pelukan matenya itu.


Mau tak mau Ralissa masuk dengan menatap Melviano dengan sedih.


Tatapan Arion pun beralih ke arah Melviano yang terlihat memaksakan senyumnya kepada Ralissa. Arion tersenyum puas melihat kedua insan itu yang akhirnya bisa berjauhan.


"Tunggu apa lagi?" Tanya Arion membuyarkan senyuman yang tercetak oleh bibir Melviano.


"Cepat pergi!" Usir Arion dengan angkuhnya.


Melviano menatap Arion dingin membuat hawa di sekitar keduanya mencekam. Tapi, Arion tidak takut sedikitpun dengan aura yang dipancarkan oleh Melviano.


.


.


.


.


.


.


.


Esok paginya Ralissa dan Arion berangkat lebih awal dari biasanya karena sangat ingin bertemu dengan Melviano. Hal itu membuat Arion jadi kesal sendiri karena Ralissa sangat tidak sabaran.


Tak butuh waktu lama bagi mereka agar sampai ke kampus. Ralissa hendak membuka pintu mobil namun dihentikan oleh Arion.


"Ralissa, bersikaplah layaknya seorang putri! Apa kau lupa jati dirimu? Terlebih lagi kau adalah mate dari penguasa kaum immortal, aku berharap kau tidak mempermalukan dirimu sendiri nantinya." Ucap Arion mengingatkan.


Ralissa menggigit bibir bawahnya mengingat kesalahan yang selama ini ia lakukan. Tak ada image tuan putri ataupun keluarga bangsawan yang ia tunjukkan pada Melviano.


"Sial." Umpat Ralissa pada dirinya sendiri.


"Terima kasih sudah mengingatkan." Ucap Ralissa tersenyum manis pada Arion.


Arion mengangguk mengiyakan dan hendak tersenyum sampai Ralissa menatapnya tajam. Dan hal itu sukses membuatnya bingung.


"Kenapa kau tidak bilang dari dulu?!" Lanjut Ralissa lalu keluar dari mobil. Tak lupa ia membanting pintunya dan barlalu meninggalkan Arion begitu saja.


Arion menganga dibuatnya. "Wah! Bagaikana bisa raut wajahnya berubah dalam waktu sesingkat itu?" Gumam Arion takjub.


Author: "Itulah salah satu kelebihan dari makhluk yang berjenis kelamin perempuan."


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


Ralissa berjalan dengan anggun, mengingat kalau dirinya adalah seorang putri bangsawan keluarga Vampire. Walaupun hal tersebut tidak berlaku di dunia manusia, tapi setidaknya ia bisa memperlihatkan pada Melviano kalau dirinya tidaklah 'bar-bar'.


Ralissa terus melangkah, mengabaikan tatapan para lelaki yang memuja kecantikannya di setiap lorong yang ia lewati. Sampai ia Melihat bayangan Melviano yang sedang tersenyum, tidak pada dirinya.


Hal itu membuat Ralissa heran. 'bukankah dia orang yang bersifat dingin? Bagaimana bisa dia tersenyum seperti itu? Dengan siapa?' Batin Ralissa bertanya.


Ralissa berjalan pelan, mendekati Melviano. Semakin dekat ia semakin terlihat kalau Melviano tidak sendiri, ia bersama seseorang. Dan parahnya lagi, dia seorang perempuan. Terlihat dari rambut panjangnya yang bergelombang. Ralissa geram akan hal itu. Ingin rasanya ia mencakar kedua makhluk yang ada di penglihatannya saat itu.


Sampai akhirnya, ia menghentikan langkahnya dengan lemas. Ia mengenali perempuan yang saat ini bersama Melviano. Nafasnya tercekat, dadanya terasa disayat.


Tes.


Tes.


Tes.


Bulir-bulir air itu mengalir di pipinya. Ralissa menangis melihat Melviano memeluk gadis itu.


"I hate you, Melvi." Gumam Ralissa.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


To be continue


Don't forget to votement, okey?😉


See you next part 😊😊


Salam

__ADS_1


Shinikook


Tanggal 04/04/2020


__ADS_2