
"Sepupu. Dia kakak sepupuku." Balas Ralissa singkat lalu melanjutkan acara makannya, yah walau makan makanan manusia tidak bisa menghilangkan nafsunya akan darah. Ia memakan itu hanya untuk menutupi identitas aslinya.
"Wah, benarkah? Ah, begitu. Aku pikir kamu memanggilnya kakak karena kalian pacaran. Lalu bagaimana dengan Melviano?" Ucap Shena semangat karena Ralissa menjawab pertanyaan dengan jujur. Sebenarnya mereka (Shena & Kayla) sudah tahu hubungan antara 3 mahasiswa/i itu karena mereka menjadi 'pendengar' yang baik jika berada di sekitar mereka.
"Dia.." Ralissa melirik Melviano yang duduk cukup jauh dari tempat duduknya.
"Entahlah." Balas Ralissa acuh. Tidak mau memikirkan Melviano yang membuatnya kesal.
"Apa kalian bertengkar? Oh, ayolah kalian bisa membicarakan permasalahan kalian secara baik-baik. Aku yakin itu cuma salah paham." Ucap Shena memberi saran.
"Apa kamu tahu, Melviano tidak pernah dekat dengan perempuan lain. Kamu adalah yang pertama." Lanjut Shena yang diangguki oleh Kayla yang duduk di sampingnya sambil mengunyah makanan yang ada di dalam mulutnya.
"Aku tidak yakin kalau aku yang pertama." Balas Ralissa membuat Shena dan Kayla menatapnya.
Ralissa meminum minumannya lalu membalas tatapan kedua teman barunya.
"Ya, dia pernah dekat dengan perempuan lain sebelum dekat denganku." Jelas Ralissa.
"Tidak mungkin." Balas keduanya kompak sambil menutup mulut mereka.
"Itu benar. Bahkan aku melihatnya mengusap foto gadis itu dengan sayang dan ditambah hari ini mereka berpelukan." Lanjut Ralissa.
"APA?!!"
"MELVIANO PERNAH MEMELUK PEREMPUAN LAIN?!" Teriak Shena dan Kayla membuat seluruh penghuni kantin menatap mereka tajam tak sedikit juga yang menatap mereka penasaran karena ucapan mereka.
"Tak bisakah kalian diam. Sekarang kita menjadi pusat perhatian." Ucap Ralissa kesal terlebih lagi sekarang Melviano menatapnya.
Ralissa pun memilih pergi dari kantin menghiraukan panggilan dua manusia yang baru beberapa saat yang lalu menjadi temannya. Ia harus pergi secepat mungkin dari hadapan Melviano.
Tak terasa Ralissa sudah sampai di hutan tempat ia berencana membunuh Melviano.
'Kenapa aku ke sini?' Batin Ralissa. '****!' Umpatnya ketika menyadari keberadaan Melviano.
"Jadi itu alasanmu tiba-tiba marah padaku?" Tanya seseorang di belakangnya. Siapa lagi kalau bukan Melviano.
"..." Ralissa diam tidak menjawab. Ingin rasanya ia membunuh Melviano sekarang. Ralissa menggenggam tangannya erat.
"Kamu cemburu?" Tanyanya lagi.
Ralissa menghembuskan nafasnya kasar, ia tidak bisa menahannya lagi. Ia pun berbalik dan menerjang Melviano dengan mencekik lehernya. Ia sudah menunjukkan wujud aslinya.
"Diam! Br*ngs*k!" Maki Ralissa kesal.
"Aku tidak cemburu! Aku hanya benci dan ingin membunuhmu!" Ucap Ralissa mengeluarkan semua kekuatannya. Claris juga tak tinggal diam ia setuju dengan Ralissa untuk membunuh Melviano.
"Bunuhlah aku jika itu membuatmu senang." Ucap Melviano tanpa membalas ataupun mengelak.
"Tapi aku yakin kamu akan menangis jika tahu kebenarannya." Lanjut Melviano.
"Ck!" Decak Ralissa kesal. Ralissa melepas cengkeramannya pada Melviano.
"Kalau begitu, jangan pernah memberitahuku kebenarannya! Biarlah aku membencimu seperi saat ini!" Ralissa menjauh beberapa langkah dari Melviano.
"Jangan pernah temui aku!" Ucap Ralissa.
"Itu adalah hukuman untukmu!" Lanjut Ralissa setelah itu ia langsung pergi meninggalkan Melviano tanpa berbalik sedikitpun.
Melviano menatap kepergian Ralissa sampai menghilang dari pandangannya.
"Aku tidak akan menyerah!" Ucapnya yakin.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Malam hari..
07.00 p.m
Saat ini Ralissa dan Arion tengah duduk sambil menikmati menu makan malam yang tersedia di meja makan. Ralissa dengan darah sedangkan Arion dengan menu daging panggang kesukaannya.
Ralissa menggoyangkan gelas yang berisi darah itu di tangannya. Meminum darah itu sedikit demi sedikit, menikmati setiap tetes yang mengalir di tenggorokannya.
__ADS_1
Arion yang melihatnya merasa aneh akan tingkah Ralissa yang ada di hadapannya. Biasanya Ralissa tidak bisa mengontrol dirinya ketika ia melihat darah walaupun ia telah meminum ramuan dari neneknya.
"Apa yang kau pikirkan?" Tanya Arion jengah dengan sikap aneh Ralissa. Ia pun menyuapkan potongan daging yang telah ia potong agar bisa masuk ke dalam mulutnya.
"Hmm, bukan hal penting." Jawab Ralissa acuh.
Arion kesal mendengar jawaban Ralissa.
Hening beberapa saat hingga Ralissa memanggil kakak sepupunya itu.
"Kak." Panggilnya.
"Hm?" Balas Arion menoleh setelah mengelap bibirnya dengan tisu yang tersedia di meja makan.
"Aku ingin pulang." Ucap Ralissa.
"Kenapa tiba-tiba? Bukankah kita baru saja kembali dari sana." Bingung Arion.
Ralissa tersenyum tipis mendengarnya.
"Aku ingin belajar sihir dengan ayah." Jelas Ralissa singkat.
"Kenapa kau tidak belajar denganku atau dengan Melviano?" Tanya Arion lagi.
Raut wajah Ralissa berubah tidak tenang seperti sebelumnya. Ia sedikit menggeram marah.
"Jangan sebut namanya di depanku!" Geram Ralissa berusaha mengontrol amarahnya yang tiba-tiba memuncak.
Arion yang paham akan situasi dan kondisi pun mengangguk meng'iya'kan.
"Kapan kita pulang?" Tanya Arion akhirnya.
"Kakak diam saja di sini. Biar aku pulang sendiri." Jawab Ralissa tersenyum.
"Ah, bisakah kakak membuat sesuatu yang mirip denganku?" Lanjut Ralissa dengan tatapan penuh harap pada kakak sepupunya.
Arion sedikit bingung dengan pertanyaan Ralissa.
"Maksudmu apa? Serigala? Singa? Atau-"
PLAAAKK!
Arion tidak mampu melanjutkan ucapannya lagi karena dengan sadisnya Ralissa memukul kepala Arion.
"Yak!" Teriak Arion tak terima karena pukulan sadis yang ia terima dari sang adik.
"Aish!" Kesal Arion memutuskan pandangan mereka.
Ralissa tersenyum puas karena Arion mengalah.
"Buatlah manusia yang mirip kalau bisa sama persis denganku." Jelas Ralissa.
"Oh." Singkat Arion membuat Ralissa kesal ingin memukulnya, tetapi..
"Lihatlah di sampingmu." Tunjuk Arion dengan lirikan matanya.
Yup!
Ralissa melirik samping kirinya dan terlihatlah gadis yang sangat mirip dengannya.
"Apakah dia bisa berubah menjadi Claris?" Tanya Ralissa melirik Arion.
"Tentu saja." Jawab Arion membuat Ralissa memekik senang.
Ralissa berlari kecil menghampiri Arion dan langsung memeluk kakak sepupunya itu, tak lupa dengan kecupan-kecupan di pipi kiri kanannya.
"Terima kasih, kak." Ucap Ralissa tulus.
"Tapi, dia memiliki kelebihan darimu." Balas Arion membuat senyum yang terpampang di wajah Ralissa sirna seketika.
"Apa maksudmu?" Kesal Ralissa melepas pelukannya pada Arion.
"Dia tidak perlu meminum ramuan dari nenek. Hanya itu." Jelas Arion.
"Ah, kalau itu tidak masalah." Balas Ralissa lagi. Tatapannya pun beralih pada 'makhluk' buatan Arion yang saat ini menatap keduanya.
"Bertingkahlah sepertiku, jika Melviano mendekatimu jauhi dia. Bila dia terlihat putus asa dekati dia seolah-olah kau memaafkan kesalahannya. Kalau bisa, buat dia bertekuk lutut padamu." Ucap Ralissa.
"Baik tuan putri. Saya akan melaksanakan perintah." Balasnya patuh, tetapi tatapannya sangat tajam mirip dengan Ralissa.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.
Kerajaan Vampire
Pagi hari..
Ralissa berjalan memasuki mansion yang ada di depannya. Pikirannya sekarang hanya tertuju pada satu orang, siapa lagi kalau bukan ayahnya. Ia sudah bertekad untuk belajar sihir lalu berperang melawan demon, tepatnya membunuh Melviano.
Kekuatan fisiknya tak bisa diragukan, hanya satu kekurangannya tak bisa sihir. Ah, lupakan kekurangannya yang tak bisa mengontrol dirinya akan darah karena jika dalam perang itu menjadi kelebihannya. Ia akan mengoyak bahkan menikmati daging dan darah musuh yang berhadapan langsung dengannya.
Bisa saja Vampirewolf menjadi makhluk immortal yang paling ditakuti, bahkan ia bisa menjadi makhluk paling kuat di dunia immortal. Tapi sayangnya, Vampirewolf tidak bisa menggunakan sihir karena berusaha menghindar dari makhluk lain yang mungkin saja ia sayangi sehingga kemampuannya hanya untuk bersembunyi.
Tapi itu tidak berlaku untuk Ralissa, sekarang ia tidak perlu menutupi kemampuannya karena ia bisa bergaul dengan makhluk lain dengan mudahnya dengan meminum ramuan dari neneknya, Anna.
Tak butuh waktu lama baginya untuk sampai di ruangan sang ayah yang setia duduk mengerjakan setumpuk kertas yang ada di meja kerjanya dan ditemani oleh istri tercinta di sampingnya.
"Pagi ibu, ayah." Sapa Ralissa riang lalu mendekati orang tuanya yang masih fokus dengan pekerjaan yang ada di hadapan mereka.
"Ralissa, pagi juga sayang." Balas Lisa sedangkan Rey hanya tersenyum membalas sapaan anaknya.
"Kenapa pulang? Bukankah kamu baru kembali ke dunia manusia kemarin?" Tanya Rey menatap Ralissa yang kini sudah ada di hadapannya.
Ralissa hanya nyengir menampilkan gigi rapinya. "Sudah ada yang menggantikanku." Balas Ralissa duduk di kursi yang sudah ada di depan meja kerja Rey.
"Lalu? Apa tujuanmu kembali?" Tanya Rey to the point. Ia sangat tahu kalau Ralissa punya alasan khusus untuk kembali.
Lisa yang menjadi pendengar yang baik sangat ingin mencubit bahkan memukul suaminya yang bertanya tanpa basa basi sehingga ia hanya bisa menatap tajam suaminya. 'Untung sayang.' Batinnya. 'Akan kuberi dia pelajaran nanti.' Lanjutnya kesal.
"Belajar sihir dengan ayah." Jawab Ralissa to the point juga.
"Aku ingin membunuh seseorang." Lanjutnya lalu menyeringai.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
To be continue
Don't forget to votement, yes?
Salam
Shinikook
__ADS_1