
"Mate!"
Melviano segera berlari mencari asal aroma yang memabukkan itu. Ya, ia sangat yakin itu adalah aroma matenya. Aroma memabukkan yang membuat jantungnya bekerja sepuluh kali lebih cepat, rasa hangat yang yang merambat di lubuk hatinya, serta keinginan untuk merengkuh tubuh siapapun pemilik aroma itu.
"Setelah sekian lama akhirnya aku bisa menemukanmu!" Ucapnya berlari menggunakan kekuatannya untuk tak terlihat oleh manusia, karena sekarang ia sedang menggunakan wujud aslinya.
Ralissa terus berlari berusaha untuk tidak bernafas dengan hidungnya sementara Arion terus mengejarnya dari belakang.
"Ralissa! Berhenti!" Teriak Arion.
Ralissa tidak menghiraukan Arion, ia terus berlari sampai keluar dari Universitas. Ia pun segera menuju ke hutan, tempat dimana tidak ada manusia.
"Kau ini kenapa?!" Ucap Arion menghentikan Ralissa menggunakan sihirnya.
Ralissa terperanjat. "Menjauh dariku!" Ucapnya menghindari Arion.
"Kenapa? Apa ramuan itu tidak bekerja?" Tanya Arion curiga melihat Ralissa yang terus menutup hidung.
"Sebenarnya, aku tidak sengaja menjatuhkannya." Jujur Ralissa.
Arion mengangguk mengerti dan menggunakan sihirnya agar Ralissa tidak mencium aroma tubuh makhluk lain termasuk dirinya.
"Kau bisa bernafas seperti biasa sekarang." Suruh Arion.
"Tapiβ"
"Ayo kita pergi ke uncle Fernant meminta bantuannya untuk menghubungi ibumu." Ajak Arion. Ia tidak mungkin bertahan menggunakan sihirnya terus menerus.
"Baiklah." Balas Ralissa sedikit merasa lega tetapi semakin merasa bersalah karena kecerobohannya Arion harus berkorban lagi untuknya.
"Thanks." Ucap Ralissa memecah keheningan setelah keluar dari ruang rektor.
"Hm." Balas Arion acuh.
Ralissa mengerti kenapa Arion bersikap seperti itu lantas menarik lengan Arion.
"Sorry, aku tidak akan mengulanginya lagi!" Ucap Ralissa yakin.
Arion tersenyum mendengarnya, iapun mengusap kepala Ralissa gemas.
"Baguslah kamu mengerti." Balas Arion.
"Tapi," Arion menggantung ucapannya.
Ralissa mengangkat wajahnya menatap Arion. "Hm?" Ucapnya.
"Kapan kau akan meminum ramuanmu?" Lanjut Arion sedikit geram.
"Hehe, kan kakak udah minum ramuan untuk menambah energi kakak. So, aku minum ramuannya besok saja." Jawab Ralissa cuek bersiap untuk kabur.
"Kau mau kemana?" Cegat Arion dengan menarik lengan Ralissa.
"Kelas." Jawab Ralissa singkat.
"Minum ramuanmu sekarang atau identitasmu akan terbongkar hari ini!" Ancam Arion.
Belum sempat Ralissa membalas iris matanya yang awalnya berwarna coklat berubah menjadi merah pekat.
__ADS_1
"Mate! Mateku seorang manusia!" Geram Ralissa mencium aroma yang memabukkan, sihir Arion tidak mempan untuk menghalangi penciuman Ralissa.
"Aroma darahnya begitu manis!" Lanjut Ralissa memberoktak mencoba untuk melepaskan diri dari Arion. Ia sudah tergoda untuk meminum darah matenya sendiri.
Arion menjadi kewalahan karena kekuatan Ralissa semakin bertambah dan tak terkendali, ia sudah menggunakan sihirnya untuk menahan Ralissa tapi Ralissa terus memberontak.
"Ralissa! Minum ramuanmu sekarang! Apa kau ingin membuat matemu takut dengan dirimu yang bukan manusia!" Teriak Arion.
Tapi itu percuma Ralissa tidak menghiraukannya. Mau tak mau Arion menggunakan sihirnya mengambil ramuan yang ada di tangan Ralissa, beruntung botol ramuan itu belum pecah! Arion mengeluarkan ramuan itu dari botolnya dan segera mengarahkannya ke mulut Ralissa.
Ralissa menelan ramuan itu. Tak butuh waktu lama ramuan itu mulai bekerja. Karena menggunakan tenaga yang melebihi batas manusia, tubuh Ralissa terasa lemas.
Menyadari itu Arion segera menangkap tubuh Ralissa sebelum jatuh ke lantai.
Melviano merasakan seseorang tengah menggunakan sihir. "Shit! Kenapa disaat seperti ini!" Umpatnya kesal, ia segera mengubah wujudnya kembali menjadi manusia.
Melviano hendak kembali ke kelas ketika menyadari keberadaan salah satu kaum immortal tetapi ia melihat Arion sedang mengendong Ralissa ala bridal style.
Tanpa sadar Melviano melangkahkan kakinya mendekati Arion.
"Apa yang terjadi dengannya?" Tanya Melviano terlihat khawatir melihat wajah Ralissa yang terlihat pucat.
Arion sempat mundur beberapa langkah, terkejut. Bukan karena keberadaan Melviano, tetapi karena pertanyaannya. Cowok dingin seperti Melviano menanyakan keadaan gadis yang baru beberapa hari dikenalnya?
"Bukan urusanmu!" Balas Arion melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti.
"Tentu saja itu urusanku!" Balas Melviano merutuki ucapannya.
Langkah Arion kembali terhenti, saat itu pula ia menyadari sesuatu.
'Apa mungkin dia melihat kejadian tadi? Atau apa mungkin dia mate dari Ralissa?' Batin Arion bertanya Lantas ia berbalik menghadap Melviano.
"Apa kauβ"
"Jangan hiraukan ucapanku. Bawa saja dia pulang, biarkan dia beristirahat." Potong Melviano cepat dan segera meninggalkan Arion yang membatu ditempat.
Arion membaringkan Ralissa di kasur king size Ralissa, membiarkan nya untuk beristirahat. Ia merapikan rambut Ralissa yang tergerai mengenai wajahnya.
"Kau beruntung Sa, bisa menemukan matemu secepat ini." Ucap Arion yakin kalau Melviano adalah mate Ralissa.
"Tapi sayang, dia hanya manusia biasa." Lanjut Arion kini mengelus rambut Ralissa.
Tanpa Arion sadari Ralissa mendengar ucapannya. Sebenarnya ia sudah sadar saat Arion membangunkannya. Ralissa membuka matanya yang langsung mengarah pada Arion.
Arion menghentikan usapannya pada rambut Ralissa.
"Sejak kapan kau sadar?" Tanya Arion. Ralissa mengubah posisinya menjadi duduk. "Sejak tadi." Jawab Ralissa sekenanya.
"Bisa jelaskan ucapan kakak tadi?" Pinta Ralissa.
"Yang mana?" Tanya Arion sedikit bingung.
"Kakak bilang mateku adalah seorang manusia biasa, bukan?" Tanya Ralisaa.
"Iya. Bukankah itu yang kau ucapkan saat memberontak karena mencium aroma tubuhnya." Jawab Arion beserta alasannya.
"Apa kakak tahu siapa dia?" Tanya Ralissa lagi.
__ADS_1
"Kakak tidak begitu yakin, tapi kemungkinan besar dia adalah matemu." Jawab Arion membuat Ralissa semakin penasaran.
"Siapa dia?" Tanya Ralissa to the point.
"Diaβ
Braaakk!
Melviano membuka pintu kamarnya kasar.
"Bagaimana bisa aku kehilangan dia?!" Teriaknya marah.
"Aaarrgh!!"
Praaankk
Cermin yang tak bersalah pun menjadi samsak tinju amarahnya. Melviano membuang muka melihat pecahan cermin itu.
"Kemana dia pergi?" Geramnya kembali ke wujud demonnya.
Ia mengepakkan sayapnya dan langsung berteleport keluar rumah. Tentu saja wujudnya yang sekarang tak terlihat oleh manusia.
Karena marah kepakan sayapnya membuat hembusan angin lebih kencang. Pohon-pohon begerak tidak beraturan, awan-awan pun mulai menutupi sinar matahari.
Revan yang baru kembali dari kampuspun mendongakkan kepalanya dan melihat Melviano terlihat murka. Ia bergidik ngeri tetapi ia tetap menghampirinya.
"Yang mulia, apa yang anda lakukan? Apa anda berniat untuk menghancurkan dunia manusia?" Tanya Revan, tentu saja ia juga dalam wujud aslinya (demon).
"Mateku! Aku kehilangan jejaknya!" Teriak Melviano.
"Anda bisa mencarinya lagi. Jika anda merasakan auranya di kampus. Bukankah itu berarti anda bisa bertemu dengannya lagi di sana?" Usul Revan.
Melviano mengurangi kecepatan kepakan sayapnya, lantas melirik Revan yang ada di sampingnya.
"Apa yang membuatmu yakin kalau dia akan muncul lagi?" Tanya Melviano mengangkat sebelah alisnya.
Revan melihat sekitar menghela nafas lega, setidaknya cuaca yang hampir buruk kembali normal.
"Perasaan. Aku yakin dia merasakan apa yang anda rasakan." Jawab Revan masih menggunakan bahasa formal karena Melviano masih terlihat geram.
"Aku berharap demikian." Balas Melviano langsung berteleport ke kamarnya. Ia pun membereskan semua kekacauan yang ia buat hanya dengan jentikan jarinya saja. Setelah itu, ia kembali ke wujud manusianya.
"Oh God, help me to meet her." Lirih Melviano merebahkan dirinya di atas kasur.
Melihat itu, Revan kembali menghela nafas lega. "Setidaknya, ia tidak akan mengamuk setelah aku pergi nanti." Ucapnya mengingat kalau ini adalah hari terakhirnya di dunia manusia. Ia harus kembali ke dunia immortal untuk mengerjakan tugas yang seharusnya dikerjakan Melviano.
Di waktu yang sama, tempat yang berbeda.
"Dia adalah Melviano." Jawab Arion.
Ralissa membulatkan matanya sempurna.
To be continue
Maaf kalau sedikit membingungkan dan banyak typo yang bertebaran ππ
Author juga bingung sendiri ππ
__ADS_1
Jangan lupa votement ya~
Hargai kerja keras author~