Vampirewolf

Vampirewolf
New Friends


__ADS_3

"Apa masalahmu?!" Tanya Ralissa geram akan sifat Melviano yang keras kepala.


"Kalau kau tidak mau pindah biar aku yang pindah!" Lanjut Ralissa marah.


"Tidak boleh." Tolak Melviano mentah-mentah membuat Ralissa dengan terpaksa kembali duduk di bangkunya. Ia sudah bosan berdebat dengan Melviano.


Melviano tersenyum puas dengan menyerahnya Ralissa untuk berdebat dengannya. Ia pun kembali duduk dengan tenang sambil memikirkan apa saja alasan yang mungkin membuat Ralissa berubah seperti itu.


Tak lama setelah perdebatan itu, dosen pun datang dan menjelaskan materi pembelajaran.


.


.


.


.


.


Dua jam pun berlalu menandakan kalau sesi pembelajaran pagi itu sudah berakhir dan dosen sudah keluar dari kelas setelah menutup kelasnya. Ralissa pun segera beranjak dari tempat duduknya hendak meninggalkan kelas, namun langkahnya terhenti sejenak setelah mencapai pintu keluar. Ia membalik badannya menatap dua perempuan yang masih membereskan mejanya dan memasukkan barang-barangnya ke dalam tas mereka masing-masing.


"Hm, Shena, Kayla. Mau makan bersama?" Tanya Ralissa sedikit Ragu.


Yang dipanggil pun menoleh ke arah Ralissa. Mereka mengangguk kompak meng'iya'kan ajakan Ralissa.


"Tentu saja." Jawab mereka kompak lalu tersenyum geli akan tingkah mereka yang sangat kompak.


Shena dan Kayla pun bersamaan menghampiri Ralissa yang masih setia menunggu mereka.


Melviano dan Arion menatap kepergian Ralissa yang tidak mengajak maupun melirik mereka.


"Kita ditinggal?" Tanya Arion dengan tampang bodohnya. Sedangkan Melviano masih memikirkan berbagai kemungkinan yang mungkin menjadi alasan Ralissa berubah sikap terutama pada dirinya, ia tidak mendengarkan Arion sama sekali.


Merasa tidak ditanggapi Arion menarik daun telinga Melviano dengan geram. Karena lengah Melviano tidak sempat menghindarinya ataupun menghalanginya, ia pun mengaduh kesakitan.


"Aish!" Keluh Melviano menatap Arion tajam.


"Sakit bodoh!" Kesal Melviano ia pun mengusap-usap telinganya yang memerah karena ulah Arion.


"Lebih sakit mana, dicubit atau dikacangin?" Tanya Arion menaik turunkan sebelah alisnya.


Melviano diam, malas menjawab pertanyaan Arion yang tidak masuk dalam akal pikirannya. Ia memilih untuk berdiri lalu meninggalkan Arion yang dengan bodohnya masih menunggu jawabannya.


"Hey! Kau belum menjawab pertanyaanku!" Teriak Arion kesal menyusul Melviano.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Arion dan Melviano akhirnya tiba di kantin kampus. Bersamaan dengan itu tatapan mereka tertuju pada Ralissa yang saat ini sedang tertawa bersama kedua teman barunya.


Melviano akan menghampiri Ralissa tapi langsung dicegah oleh Arion dengan menarik lengan Melviano.


"Jangan ke sana!" Larang Arion tegas.


"Kenapa? Aku hanya ingin menghampiri mateku untuk meluruskan masalah kami." Ucap Melviano ingin melanjutkan langkahnya lagi.


Tapi, langkahnya kembali terhenti karena ulah Arion.


"Biarkan dia bersenang-senang dengan teman barunya." Ucap Arion yang terdengar lirih di indra pendengaran Melviano.


Arion pun menarik Melviano untuk duduk di kursi kosong yang terletak cukup jauh dari Ralissa.


Melviano diam, hanya mengikuti langkah Arion yang menariknya. Entah kenapa pikirannya menjadi kosong.


"Ralissa. Dia tidak pernah dekat dengan makhluk lain selain keluarganya." Lanjut Arion bercerita tanpa Melviano minta setelah keduanya duduk. Mereka duduk berhadapan.


Mendengar itu, Refleks Melviano melirik Ralissa yang masih asik bercengkrama dengan teman-temannya.


"Bahkan orang tuanya saja tidak bisa memiliki waktu luang dengannya." Melviano membulatkan matanya mendengar itu. 'Bagaimana bisa?' batinnya bertanya.


"Karena nafsunya akan darah yang begitu besar, ia tidak bisa mengontrol dirinya dan kekuatan yang ia miliki. Hampir saja ia membunuh ibunya yang datang untuk melihatnya, bahkan saat itu ia masih kecil. Beruntung saat itu bibi Lisa bisa menahan Ralissa karena dulunya ia adalah seorang petarung, tetapi bibi tidak bisa bertahan lebih lama karena semakin tinggi nafsu Ralissa, ia semakin kuat. Paman yang kebetulan sedang melewati kamar Ralissa saat itu segera menghentikan Ralissa dengan sihirnya. Dan sejak kejadian itu mereka memutuskan untuk bertemu sekali sebulan atau dua bulan sekali." Cerita Arion panjang lebar.


"Lalu? Apa yang terjadi dengan Ralissa?" Tanya Melviano penasaran.


"Sejak kejadian itu Ralissa kecil memutuskan untuk mengurung dirinya di kamar. Ia sadar kalau dirinya keluar ia bisa membunuh semua makhluk yang ada di sekitarnya tanpa pandang bulu. Dalam sehari ia paling sedikit ia membunuh sepuluh makhluk yang hanya melewati kamar maupun yang mengantarkan dirinya darah." Arion menghela nafas sejenak mengingat kenangan kelam yang adik sepupunya itu hadapi.


Bukannya takut, Melviano malah mengembangkan senyumnya mendengar itu. Itu pertanda kalau Ralissa bisa menjaga diri dari makhluk lain. Tapi, ia juga ikut merasa sedih mendengar Ralissa yang ternyata pernah merasa sulit di masa lalu. Terlebih lagi, ia tidak ada saat Ralissa merasa terpuruk membuat hatinya terasa tersayat belati.


"Dan karena nafsunya itu, ia tidak bisa berteman. Hanya orang yang bisa sihir yang bisa dekat dengannya seperti aku, ayah, paman Rey dan kakek. Tetapi, kami tidak bisa berlama-lama di dekatnya karena sihir kami menguras banyak energi. Untungnya, Nenek Anna bisa membuat Ramuan yang mengontrol kekuatan dan nafsunya, sehingga kami tidak perlu menggunakan sihir jika berada di dekatnya." Jelas Arion.


Melviano mendongak menatap Arion yang telah selesai dengan ceritanya.


"Terima kasih karena sudah menceritakan tentangnya." Ucap Melviano tersenyum tipis.


"Tidak perlu berterima kasih. Kau pantas mengetahui semua hal tentangnya karena ia adalah matemu." Balas Arion.


.


.


.


.


.


Di sisi lain..


Ralissa merasa sangat senang karena untuk pertama kalinya ia bisa berdekatan dengan orang lain selain keluarganya, apalagi ia dekat dengan manusia yang bisa saja menjadi mangsanya tapi karena ramuan buatan neneknya ia bisa melakukan hal yang hampir mustahil ia lakukan. Ia sangat bersyukur akan hal itu.

__ADS_1


"Ralissa, apa hubunganmu dengan Arion?" Tanya Kayla penasaran karena Ralissa berdekatan dengan dua laki-laki tampan di kampus. Walau sebenarnya ia sudah tahu hubungan Ralissa dan Arion apa, tapi ia hanya ingin memastikan hal itu secara langsung dari orangnya.


"Sepupu. Dia kakak sepupuku." Balas Ralissa singkat lalu melanjutkan acara makannya, yah walau makan makanan manusia tidak bisa membuaskan nafsunya akan darah. Ia memakan itu hanya untuk menutupi identitas aslinya.


"Wah, benarkah? Ah, begitu. Aku pikir kamu memanggilnya kakak karena kalian pacaran. Lalu bagaimana dengan Melviano?" Ucap Shena semangat karena Ralissa menjawab pertanyaan dengan jujur. Sebenarnya mereka sudah tahu hubungan antara 3 mahasiswa/i itu karena mereka menjadi pendengar yang baik jika berada di sekitar mereka.


"Dia.." Ralissa melirik Melviano yang duduk cukup jauh dari tempat duduknya.


"Entahlah." Balas Ralissa acuh. Tidak mau memikirkan Melviano yang membuatnya kesal.


"Apa kalian bertengkar? Oh, ayolah kalian bisa membicarakan permasalahan kalian secara baik-baik. Aku yakin itu cuma salah paham." Ucap Shena memberi saran.


"Apa kamu tahu, Melviano tidak pernah dekat dengan perempuan lain. Kamu adalah yang pertama." Lanjut Shena yang diangguki oleh Kayla yang duduk di sampingnya sambil mengunyah makanan yang ada di dalam mulutnya.


"Aku tidak yakin kalau aku yang pertama." Balas Ralissa membuat Shena dan Kayla menatapnya.


Ralissa meminum minumannya lalu membalas tatapan kedua teman barunya.


"Ya, dia pernah dekat dengan perempuan lain sebelum dekat denganku." Jelas Ralissa.


"Tidak mungkin." Balas keduanya kompak sambil menutup mulut mereka.


"Itu benar. Bahkan aku melihatnya mengusap foto gadis itu dengan sayang dan ditambah hari ini mereka berpelukan." Lanjut Ralissa.


"APA?!!"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


To be continue


Jangan lupa votement nya ya~


see you next part

__ADS_1


Salam


Shinikook


__ADS_2