Vampirewolf

Vampirewolf
Comeback


__ADS_3

Setelah sarapan berakhir mereka bertiga pun (Arion, Melviano dan Ralissa) memutuskan untuk berangkat ke kerajaan vampire. Untuk melaporkan apa yang telah terjadi dua hari yang lalu tentang penyerangan para black which dan rogue terhadap Ralissa.


Walaupun berakhir dengan Ralissa yang menghabisi para rogue dan Melviano yang membereskan para black which. Tapi, hal itu harus dilaporkan karena para rogue yang membentuk kerja sama dengan para black which yang menandakan kalau hal itu sangat berbahaya, karena itu bangsa yang memusuhi para rogue harus harus waspada karena which tidak bisa diremehkan karena energinya yang tidak akan habis jika menggunakan sihir.


.


.


.


.


.


.


.


.


Mereka bertiga pun tiba di kerajaan vampire dan langsung menuju ke ruang utama dan betapa terkejutnya mereka bertiga ketika mendapati keberadaan pemimpin black which (Gloria Ravaembrick) ada di sana dengan meminum seduhan dalam gelas yang telah tersedia di hadapannya.


Refleks Arion bersiap begitu pula dengan Melviano yang menarik Ralissa untuk berada di belakangnya.


"Ada apa dengan kalian bertiga?" Tanya Rey mengernyit melihat kelakuan ketiga orang yang baru sampai itu.


Lisa mencubit lengan suaminya yang berada di samping kanannya karena tidak peka dengan situasi. Padahal, belum satu jam berlalu saat Gloria sampai dan menjelaskan maksud kedatangannya.


"Tidak ada yang perlu diwaspadai, Gloria sudah menjelaskan semuanya tentang kejadian itu." Jelas Lisa membuat Arion, Ralissa dan Melviano menghela nafas lega mendengarnya.


Tatapan Lisa tertuju pada Melviano yang menggenggam tangan Ralissa yang berada di belakangnya. Ia tersenyum penuh arti. "Ralissa, siapa pemuda tampan yang menggenggam tanganmu itu?" Tanya Lisa sambil mengedipkan matanya pada Melviano tanpa sadar kalau saat ini Rey menatap tajam ke arahnya.


"Ah, dia mateku." Jawab Ralissa membuat Lisa dan Rey menganga tak percaya.


"Secepat itu.." Ucap Rey tidak bisa melanjutkan ucapannya karena tak percaya bahwa anaknya bisa menemukan matenya dalam waktu yang singkat tidak seperti dirinya menunggu selama ratusan (lebay) tahun lamanya untuk bertemu dengan Lisa.


Lisa tersenyum pada Rey lantas menepuk pundak suami sekaligus matenya itu, mengerti dengan apa yang ada dipikiran matenya saat ini. Lisa pun melirik Ralissa. "Antar matemu ke kamar, Arion juga. Kalian bertiga beristirahat lah, pasti kalian capek kan?" Ucap Lisa dengan perhatian layaknya seorang ibu pada anak-anaknya.


"Baik, bu." Sahut Ralissa lalu menggandeng lengan Melviano, menariknya menuju ke kamarnya. Sedangkan Arion langsung menuju ke kamar yang selalu ia tempati jika menginap di kerajaan vampire.


Merasa telah selesai dengan urusannya, Gloria memutuskan untuk kembali ke packnya. Rey dan Lisa pun mengantarnya sampai ke depan pintu ruang utama.


.


.


.


Sementara itu, di kamar Ralissa..


Melviano menghirup dalam aroma yang tercium di indra penciuman nya saat ini karena aroma matenya sangat kuat. Ia bahkan ingin menjadikan kamar Ralissa menjadi kamarnya.

__ADS_1


Sadar akan pikiran konyolnya, Melviano langsung menggeleng keras berupaya untuk menormalkan pemikiran otaknya (emang bisa?😕).


"Kamu kenapa? Masih sakit?" Tanya Ralissa khawatir karena tingkah laku matenya yang terlihat aneh sejak memasuki kamarnya.


Melviano hendak menggeleng, tetapi ia urungkan ketika satu ide gila muncul di pikirannya.


"Iya, Sya. Kepalaku kembali terasa pening." Dusta Melviano. Tangannya pun memijit pelipisnya, layaknya orang yang menahan sakit kepala. Tak lupa ia melangkah dengan lemas dan dengan sedikit sihirnya ia membuat wajahnya terlihat pucat. (Okey, sekarang Melviano sudah sangat cocok untuk menjadi aktris papan tulis).


Ralissa segera mengambil tindakan. Ia menuntun Melviano untuk berbaring di kasur nya.


"Istirahat lah." Ucap Ralissa lembut sambil mengusap wajah 'pucat' Melviano.


Dengan senang hati Melviano menuruti ucapan Ralissa.


"Seharusnya kita berangkatnya besok saja!" Bentak Ralissa membuat Melviano tersentak.


"Ah, maaf. Aku tidak bermaksud membentakmu." Lirih Ralissa merasa bersalah.


"Tidak, apa-apa. Aku mengerti, kamu hanya khawatir." Ucap Melviano. Kali ini ia yang merasa bersalah karena membohongi matenya.


"Kamu juga istirahat." Lanjut Melviano setelah hening beberapa saat.


Ralissa menatap Melviano lalu mengangguk. Ia pun berjalan menjauhi Melviano menuju ke pintu. "Kamu mau kemana?" Tanya Melviano.


"Bukankah, kamu memintaku untuk beristirahat juga?" Tanya Ralissa mencoba untuk memastikan, takut kalau ia salah dengar.


"Iya, memang benar. Kenapa kamu pergi? Ini kan kamarmu." Ucap Melviano.


"Lalu? Kamu yang pergi dari kamarku, begitu?" Tanya Ralissa lagi dengan mendengus kesal pada Melviano.


Melviano pun berbalik membelakangi Ralissa.


Ralissa menghela nafas, ia mendekati Melviano dan membaringkan dirinya di samping matenya itu. Kemudian, ia memeluk Melviano yang membelakanginya.


Melviano tersentak akan perlakuan Ralissa terhadapnya yang tiba-tiba memeluknya.


"Bukankah, kamu ingin tidur di sini?" Tanya Ralissa semakin mempererat pelukannya pada Melviano.


Melviano diam, tidak tahu harus merespon seperti apa karena ia merasa sangat malu sekarang, merasa tertangkap basah.


Ralissa pun tersenyum sambil melepas pelukannya pada Melviano lalu bersandar di kepala ranjang. Tangannya mulai mengelus sayang rambut matenya, membuat Melviano semakin merasa nyaman akan perlakuan Ralissa terhadap dirinya.


"Tidurlah, aku akan menemanimu." Ucap Ralissa tulus.


Melviano membalik badannya menghadap Ralissa. "Kamu juga harus tidur, kamu juga perlu beristirahat." Balas Melviano.


Ralissa mengangguk saja menuruti ucapan Melviano.


Melviano menjadikan lengannya sebagai bantal untuk Ralissa. Ralissa pun mencari posisi yang nyaman dengan mendekatkan dirinya ke dada bidang Melviano. Begitu pula dengan Melviano yang langsung mendekap tubuh mungil Ralissa.


Tak butuh waktu lama keduanya pun mulai memasuki alam bawah sadar mereka.

__ADS_1


.


.


.


.


.


.


.


.


Dunia Manusia


Fernant Houtman, menatap tajam layar laptop yang menyala di hadapannya. Tayangan video dari CCTV kelas yang baru beberapa hari ini di tempati oleh kedua keponakannya. Ia menggeram kesal melihat keponakannya yang menggunakan sihir untuk keluar dari kelas tanpa melapor pada dirinya.


"Siapa yang mengajari mereka berlaku seenaknya di dunia manusia?" Tanya Fernant memijit pelipisnya yang mulai berdenyut karena menahan amarahnya yang akan meluap.


Ia pun dengan sigap mengedit video itu layaknya kehadiran Ralissa dan Arion tidak pernah ada.


Fernant tersenyum bangga dengan hasil kerjanya yang memuaskan dirinya sendiri. Ia pun beralih ke dokumen yang berada di sisi kanannya dan membacanya, mengecek dengan detail, memberi tanda yang perlu diperbaiki, dan menandatangani jika dokumen itu tak memiliki kesalahan.


Setelah merasa pekerjaannya telah selesai ia kerjakan, Fernant merenggangkan sendi-sendinya yang terasa kaku karena terlalu lama duduk di singgasananya. Sampai pandangan matanya tertuju pada surat yang terletak tak jauh dari dokumen yang beberapa detik yang lalu ia kerjakan.


Fernant mengambil, membuka lalu membaca isi surat itu yang ternyata berisi surat keterangan tentang mahasiswi yang akan mulai masuk ke Universitasnya.


Dan mahasiswi itu bernama, Aerilyn Bellcavia.


.


.


.


.


.


.


.


To be continue


Hello guys..


Author nan sweet and cute update lagi nih..

__ADS_1


jangan lupa votement nya yah~


see you next part..


__ADS_2