Vampirewolf

Vampirewolf
Sweet Moments


__ADS_3

Braaakk!!


"Ada apa?" Tanya Arion setelah membuka pintu terburu-buru.


"Kak Arion!" Balas Ralissa lega melihat kehadiran sang kakak.


Tatapan Arion beralih pada Melviano yang tak sadarkan diri.


"Apa yang kau lakukan pada matemu?" Tanya Arion menghampiri keduanya.


"Kita bawa dia ke pack Sivermoon, ya kak?" Pinta Ralissa khawatir melihat keadaan Melviano, mengabaikan pertanyaan Arion.


Mau tak mau Arion mengangguk. Dan mereka pun berteleport langsung menuju pack Silvermoon.


.


.


.


Pack Silvermoon


Arion dan Ralissa memapah Melviano yang tak sadarkan diri ke dalam mansion, karena tenaga Arion belum pulih kembali.


Melviano dibaringkan dengan hati-hati oleh mereka di kamar Arion.


Arion menghela nafas berat. "Apa yang kau lakukan padanya?" Tanya Arion akhirnya.


"Aku tidak melakukan apa-apa. Malah dia yang melakukan apa-apa padaku." Jelas Ralissa.


Arion jadi  pusing karenanya. "Jaga dia. Aku akan memanggil nenek Anna." Ucap Arion berlalu.


Sedangkan Ralissa ia kembali menatap Melviano yang tampak menderita. "Apa yang terjadi denganmu?" Tanya Ralissa. Ia pun mengambil beberapa handuk kecil yang ada di dalam lemari Arion.


Setelah itu, ia mengusap bulir-bulir keringat yang terus keluar dari pori-pori kulit Melviano. "Cepatlah sadar. Agar aku bisa me-rejectmu." Ucap Ralissa.


Terlihat pergerakan dari Melviano membuatnya tersentak. "Kau sudah sadar?!" Pekik Ralissa terdengar lega.


"Uhk! Hah hah hah ugh." Melviano mengerang. Rasa sakitnya semakin menjadi, tubuhnya terasa terbakar oleh percikan api yang sangat panas. Terutama pada dadanya. Tenaganya sudah hilang bersamaan dengan datangnya rasa sakit itu.


"Hey! Kau kenapa lagi?!" Pekik Ralissa kali ini kembali terlihat panik.


Braaakk


Pintu terbuka menampilkan sosok Anna membawa nampan yang berisi cukup banyak bahan untuk membuat Ramuan sedangkan di belakangnya Arion membawa beberapa alat yang akan Anna gunakan.


"Nenek." Ucap Ralissa.


"Apa yang kau lakukan padanya?" Tanya Anna.


Pertanyaan itu membuat Ralissa jengah, karena ia tidak melakukan apapun.


"Aku tidak melakukan apapun padanya." Jelas Ralissa untuk kesekian kalinya pada orang yang berbeda.


"Aku hanya ingin me-rejectnya, tapi dia malah seperti itu." Lanjut Ralissa melirik Melviano dengan ekor matanya.


Sedangkan Anna membulatkan matanya mendengar ucapan cucunya itu. Begitu juga dengan Arion tak percaya dengan apa yang ia dengar.


"Kenapa kau melakukan itu? Apa kau–"


"Dia mencintai gadis lain! Karena itu aku ingin melenyapkannya, paling tidak me-rejectnya!" Balas Ralissa memotong ucapan Anna.


Anna memejamkan matanya mendengar ucapan Ralissa. Mengingat apa yang pernah terjadi pada mate-nya (Thomas) dulu membuatnya merasa sesak. Sekilas ia melirik Melviano, keadaannya semakin memburuk.


"Itu sudah cukup menyiksanya." Ucap Anna menunjuk Melviano dengan lirikan matanya.


Ralissa mengikuti arah pandang Anna dan terkejut melihat kondisi Melviano saat ini.


"Uhuk! Uhuk! Ahk! Ugh! Hah hah Uhuk! Uhuk!" Melviano memuntahkan darah hitam kental dan saat itu juga ia membuka matanya dan kembali memuntahkan cairan kental itu.


Ralissa menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


"Nenek, lakukan sesuatu!" Teriak Ralissa menghampiri Melviano dan duduk di sisi ranjang.


Anna menggeleng, tidak tahu harus melakukan apa karena bukan dirinya yang memegang kendali tapi cucunya. Hanya Ralissa lah yang bisa menolong Melviano saat ini.


"Aku tidak bisa melakukan apapun." Balas Anna membuat mata Ralissa berkaca-kaca.


"Keinginanmu untuk me-rejectnya sangat kuat, hingga hampir membunuhnya." Lanjut Anna membuka pintu dan keluar dari kamar Arion.

__ADS_1


"Kau mengerti maksud nenek, kan? Hanya kau yang bisa menyembuhkannya. Dan asal kau tahu, jika dia tidak mencintaimu, kau akan mengalami hal yang sama dengannya." Tambah Arion lalu menyusul Anna keluar.


Ralissa menatap Melviano iba ( pertama kali dalam hidupnya). Ia mengusap darah yang tersisa di sekitar bibir Melviano dengan jarinya.


"Apa aku yang membuatmu seperti ini?" Tanya Ralissa.


Melviano tidak bisa menanggapi pertanyaan Ralissa, kepalanya kembali terasa pening sepertinya ia akan kehilangan kesadaran lagi, penglihatannya sudah mulai memburam.


"Maafkan aku." Ucap Ralissa lalu memeluk tubuh Melviano yang terasa sangat panas saat tersentuh kulitnya.


"Jika aku tahu kau seperti ini karena aku, aku tidak akan pernah berfikir untuk me-rejectmu. Tidak akan!" Ucap Ralissa. Air matanya menetes, dan mengalir di pipinya.


"Maafkan aku." Lirih Ralissa terdengar pilu.


Melviano diam menikmati kenyamanan saat Ralissa menyentuh dan memeluknya. Apalagi saat Ralissa mengatakan kalau ia tidak akan me-rejectnya, rasa sakit pada tubuhnya mulai berkurang.


"Aku pegang ucapanmu." Ucap Melviano terdengar serak dan lemah. Tangannya melingkar pada tubuh Ralissa, membalas pelukan matenya itu.


Air mata Ralissa mengalir semakin deras mendengar suara Melviano yang terdengar lemah di telinganya. Ia pun mengangguk di sela-sela tangisnya. "Aku janji! Maafkan aku." Balas Ralissa mempererat pelukannya.


Melviano menggeleng, membuat pelukan Ralissa melonggar. Pelukan mereka pun terlepas.


Ralissa menatap Melviano dengan mata berkaca-kaca. Air matanya siap tumpah kapan saja jika ia mengedipkan matanya.


"Kamu tidak perlu minta maaf." Lanjut Melviano tersenyum lalu mengecup kening Ralissa lembut.


Ralissa memejamkan matanya, menikmati sentuhan hangat dan kenyal pada keningnya.


"Aku yang salah di sini. Maukah kamu memaafkanku?" Lanjut Melviano menatap dalam ke mata Ralissa.


Ralissa diam membuatnya membeku.


"Apa kau tidak mau memaafkanku? Apa yang harus aku laku–" Melviano tak bisa melanjutkan ucapannya karena Ralissa membungkam bibirnya.


Melviano membulatkan matanya sempurna, Ralissa menciumnya! Mencium bibirnya!


"Kamu cerewet sekali." Ucap Ralissa setelah menjauhkan dirinya dari Melviano, menyembunyikan wajahnya yang terasa panas karena tingkahnya sendiri. Dia yang berbuat, dia yang malu sendiri 😒😒


Melviano menyentuh bibirnya yang masih terasa hangat dengan punggung tangannya.


"Jadi, kamu memaafkanku?" Tanya Melviano dengan suara terdengar menggoda.


"Kenapa menjauh begitu? Aku masih sakit, kamu tahu?" Ucap Melviano kali ini terdengar manja.


"Tidurlah." Suruh Ralissa dingin.


"Tidak mau!" Tolak Melviano membuat Ralissa menatapnya tajam.


"Kamu sendiri yang bilang kalau kamu masih sakit! Kenapa kamu menolak?!" Bentak Ralissa mengubah suasana romantis menjadi tegang.


Melviano menunduk sambil mengerucutkan bibirnya. "Tak bisakah, kamu menemaniku?" Cicit Melviano.


Ralissa menarik napas dalam lalu menghembuskannya. "Tidurlah." Suruh Ralissa kali ini terdengar lembut.


Melviano mendongak menatap Ralissa yang masih duduk di tepi kasur sambil menatapnya.


Melviano mengangguk lalu melakukan apa yang Ralissa katakan karena ia masih lemas, tapi tidak merasakan sakit yang berarti.


Ralissa hendak menyelimuti Melviano tapi segera tangannya ditahan oleh Melviano.


"Tidak perlu, tubuhku masih terasa panas."


Ralissa mengangguk paham, ia pun mengambil handuk kecil dan mengusap bulir-bulir keringat yang tersisa pada Melviano.


"Buka bajumu." Suruh Ralissa lagi.


Melviano menurut, membuka kancing bajunya satu persatu.


Ralissa menggigit bibir bawahnya, tiba-tiba ia merasa gugup.


"Bersihkan sendiri!" Ralissa melempar handuk kecil itu pada Melviano yang baru selesai membuka bajunya.


"Aku masih lemas, Sya." Balas Melviano jujur. Lalu ia tersenyum jahil, mengerti kenapa Ralissa seperti itu.


"Sya, masak kamu tega padaku?" Ucap Melviano lemas, semakin dibuat-buat.


Ralissa mendecak sebal, mengambil kembali handuk itu dan melakukan aktivitas yang sebelumnya tertunda tanpa memerhatikan apa yang ia usap.


Ingin rasanya Melviano tertawa melihatnya tapi ia tahan karena senang Ralissa mengkhawatirkan dirinya.

__ADS_1


"Sudah tidak ada keringat lagi, kah?" Tanya Ralissa tak berani menoleh ke arah Melviano.


"Aku tidak tahu." Balas Melviano.


"Aish! Masak kamu tidak tahu sih? Kan kamu bisa merasakannya!" Teriak Ralissa lalu akhirnya menoleh dan tak sengaja tatapannya tertuju pada dada bidang dan perut sixpack Melviano.


Ralissa menelan ludahnya dengan susah payah, pipinya memerah saat itu juga.


Melviano tidak bisa menahan dirinya lebih lama lagi, ia pun mengubah posisinya menjadi duduk lalu menarik Ralissa agar mendekat padanya.


Ralissa yang tidak siap menubruk dada bidang Melviano, melotot saat itu juga saat sadar bagaimana posisinya saat ini.


Tangan Melviano terulur, menarik dagu Ralissa mendekati wajahnya.


"Kenapa kamu sangat menggemaskan dan cantik?" Tanya Melviano lebih ke memuji, menatap Ralissa dalam.


Ralissa terbuai, tidak tahu harus berkata apa. Semakin lama wajah mereka semakin mendekat, jarak mereka semakin menipis.


Hingga jarak antara bibir mereka tinggal beberapa senti, Ralissa memejamkan matanya.


"Ralissa. Apa keadaannya sudah lebih ba–"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


To be continue


Ada yang baper?


Atau kecewa?


Tunggu kelanjutannya ya~


Pasti update kok.


Perlu diingat, cerita yang aku buat pasti tetap lanjut. Ini janjiku sejak pertama kali membuat cerita, walau updatenya lama, tapi tetap lanjut kok. Jadi, sabar menunggu ya~


Jangan lupa votement nya ya~

__ADS_1


__ADS_2