
Claris melompat menindih tubuh Melviano dan menatapnya tajam, seolah Melviano adalah mangsanya.
"Tidak semudah itu." Ucap Melviano. Bertepatan dengan itu Claris terpental mundur, cukup jauh.
"Apa alasanmu, hingga kau sangat ingin membunuh matemu sendiri?!" Tanya Melviano mencoba menahan emosinya.
"Hahaha." Claris tertawa miris.
"Kau tidak tahu?" Lanjut Claris bertanya lalu kembali tertawa.
"Jawablah. Kalau alasanmu masuk akal. Aku tidak keberatan direject olehmu." Ucap Melviano membuat Claris mengangkat sebelah alisnya, tertarik.
"Kita sama. Mencintai." Jawab Claris membuat Melviano bingung.
"Aku mencintaimu. Dan kau!" Claris menunjuk Melviano dengan tatapan tajamnya.
"Mencintai gadis lain, bukan?" Lanjut Claris membuat Melviano bungkam seketika.
Claris tersenyum, diam pertanda benar pikirnya lalu berbalik membelakangi Melviano dan melirik bajunya yang sudah tak terbentuk di atas tanah. Ia merutuki dirinya sendiri karena mengambil alih tubuh Ralissa tanpa berpikir panjang.
Melviano melihat itu semua, ia pun kembali ke wajud manusianya dan memberikan Claris baju dari sihirnya.
"Pakailah." Suruh Melviano menyodorkan baju itu pada Claris.
Claris mengambilnya lalu segera berlari ke belakang pohon yang tak jauh darinya.
Tak lama Ralissa muncul dengan wajah yang memerah karena malu. Beberapa saat yang lalu ia ingin membunuh matenya, dan sekarang ia malah menggunakan baju pemberian matenya.
"Cantik." Komentar Melviano yang sejak tadi tak melepas pandangannya dari Ralissa.
"Aku tidak pernah meminta pendapatmu." Sungut Ralissa dingin.
Melviano diam tidak tahu harus berkata apa. Jujur saja ia merasa bersalah karena telah mencintai gadis selain matenya hanya karena terlambat menemukan matenya.
"Maaf." Lirih Melviano menundukkan kepalanya.
Ralissa tersenyum sinis. "Tidak apa-apa, anda tidak perlu meminta maaf king." Balas Ralissa formal dan menekan kata 'king'.
"Seharusnya saya yang meminta maaf karena telah mencoba membunuh anda tanpa tahu kedudukan anda." Lanjut Ralissa setelah terdiam sebentar.
"Kau tidak perlu berbicara formal padaku." Ucap Melviano tidak suka mendengar Ralissa berkata seperti itu padanya.
'Inilah saatnya.' Batin Ralissa. Ia menarik nafas panjang mempersiapkan dirinya mengucapkan kalimat keramat itu.
"I am Ralissa Grace Houtman, reject you–" Ralissa menggantungkan ucapannya ketika merasa sekelilingnya terasa aneh.
Hari memang mulai gelap tetapi tidak seharusnya terasa mencekam. Ralissa melihat Melviano yang merasakan hal yang sama ia terlihat waspada.
"Aroma ini." Gumam Melviano.
"Black which?" Lanjutnya bertanya entah pada siapa.
Angin bertiup kencang ke arah mereka. Tanpa sadar Melviano menggenggam tangan Ralissa, menariknya mendekat.
"Jangan jauh-jauh dariku. Aku tidak ingin kau terluka." Ucap Melviano tanpa melihat Ralissa karena ia masih mengamati sekeliling yang tampak mencurigakan, ia mencium aroma black which yang tidak mungkin ada di sini.
'Ada yang tidak beres.' Batinnya.
Ralissa hanya diam, tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Entah senang atau kesal karena tidak bisa mereject Melviano.
Tak lama kepulan asap hitam berputar layaknya angin ****** beliung muncul di hadapan mereka.
"Hay Ralissa, lama tak bertemu." Sapa seseorang yang muncul setelah kepulan asap itu menghilang.
"Rogue?" Gumam Ralissa melihatnya.
Melviano geram mendengar nama matenya diucapkan oleh makhluk rendahan seperti rogue. Bukan mencela, hanya saja Melviano tidak suka dengan mereka yang selalu mengganggu ketentraman makhluk lain.
"Untuk pertama kalinya, kau tidak langsung menyerang kami." Ucap rogue itu menatap Ralissa.
__ADS_1
Tak lama muncul beberapa kawanannya bersama dengan black which.
Melviano membulatkan matanya saat itu juga. 'Jadi, benar.' Batin Melviano mulai waspada, ia tidak bisa meremehkan black which(white which juga tetpai mereka tidak suka mengganggu ataupun diganggu) karena mereka bisa menggunakan sihir tanpa kehabisan energi.
"Bagaimana kalian tahu kalau aku ada di sini?" Tanya Ralissa menatap tajam semua lawannya.
"Itu tidak penting." Jawab rogue itu menyeringai melirik Melviano.
"Jadi, dia matemu? Seorang manusia?" Tanya rogue itu lantas mendekati Melviano.
"Kalau kau dan kawananmu tidak ingin mati, pulanglah." Ucap Ralissa menarik Melviano untuk berada di belakangnya, karena ingin menutupi identitas Melviano.
"Hahaha. Kami tidak akan mati. Kau tidak lihat para black which bersama kami?" Ucap rogue itu.
"Cih! Dasar lemah!" Ejek Ralissa membuang ludah pada rogue yang ada di hadapannya.
Kuku Ralissa memanjang dan runcing. Ia tersenyum devil lalu mencakar leher rogue yang ada di hadapannya sampai putus.
"Ada yang berani maju?" Tanya Ralissa menantang. Ia tidak takut sama sekali hanya saja ia tidak bisa sihir karena belum sempat belajar dari ayahnya.
"Kau menantang mereka?" Tanya Melviano berbisik.
"Kau takut?" Balas Ralissa berbisik pula.
"Tentu saja tidak!" Jawab Melviano berteriak membuat semua pasang mata melihatnya.
Ralissa kesal karena Melviano berteriak tepat di telinganya.
"Maaf." Cicit Melviano menunduk.
Ralissa menghela nafas berat.
"Dunia seakan milik berdua ya?" Tanya salah satu rogue yang lain.
"Black which, kurung mereka!" Suruh rogue itu.
Belum sempat para black which membaca mantra sihir, mereka langsung lenyap membuat para rogue membelalakkan matanya tak percaya.
Ralissa tidak menjawab karena ia sama terkejutnya dengan para rogue itu. Spontan ia melirik Melviano yang membalas tatapannya dengan mengangkat bahu pertanda tidak tahu.
"Kalian mau apakan adikku?" Tanya seseorang dari belakang Ralissa san Melviano.
Ralissa mengenali suara itu. "Kak Arion!" Pekiknya senang melihat Arion setelah ia menoleh ke belakang.
Arion tersenyum, lantas menghampiri Ralissa dan Melviano.
"Kau harus bertanggung jawab nanti!" Ucap Arion tajam pada Ralissa.
Ralissa mendengus kesal karenanya.
Arion melirik Melviano yang terlihat biasa saja dengan situasi saat ini.
"Apa kau sudah pingsan?" Tanya Arion pada Melviano.
Ralissa tercekat. "Nanti, aku jelaskan. Sekarang kita harus mengalahkan mereka!" Ucap Ralissa Melihat para rogue sudah merubah wujud mereka, sepertinya mereka sudah menerima kekuatan dari para black which.
Arion menggeleng, menolak. "Kau habisi mereka dan aku akan mengurus matemu." Ucap Arion menarik Melviano ke arahnya.
Belum sempat Ralissa menolak, Arion kembali berbicara. "Aku sudah kehabisan energi, mengertilah." Pinta Arion, wajahnya mulai memucat.
"Astaga." Ucap Ralissa tak tega melihat kakak sepupunya itu.
"Baiklah." Lanjut Ralissa menghembuskan nafas berat. Baru saja ia mengganti pakaian, dan sekarang ia kembali merusaknya karena pergantian shift nya dengan Claris. Claris menatap nyalang semua rogue yang ada di hadapannya saat ini.
"Jangan terkejut." Ucap Arion dramatis pada Melviano yang mendadak merasa canggung karena mengetahui kalau Arion adalah calon kakak iparnya, atau mungkin tidak.
"Aku akan menghapus ingatanmu nanti." Lanjut Arion lemah. Membuat portal untuk para black which menghabiskan banyak energinya.
"Tidak perlu." Ucap Melviano canggung.
__ADS_1
Grrrrr
Graaaww!
Craaassh!
Arrggh!
Melviano menyaksikan Claris yang menyerang rogue secara membabi buta.
"Dia bisa menjaga diri sendiri." Ucap Melviano tersenyum, bangga pada matenya.
Arion baru menyadari kalau Melviano tidak takut ataupun syok dengan situasi dan kondisi saat ini. Ia menjadi bingung, manusia mana yang masih dapat membuka mata ketika melihat peristiwa yang tak masuk akal?
Arion tak mau ambil pusing akan hal itu, ia memilih untuk beristirahat dengan duduk bersandar di salah satu pohon yang ada di dekatnya, tentu saja ia menarik Melviano agar mengikutinya.
Melviano tidak menolak, tatapannya masih terpaku pada matenya. Tentu saja ia khawatir kalau sampai terjadi apa-apa pada matenya itu.
Baru beberapa detik Arion dan Melviano duduk, para black which muncul bersiap menyerang Ralissa yang masih sibuk dengan beberapa rogue yang tersisa.
Menyadari hal itu Arion berdiri, bersiap untuk menyerang black which dengan sihirnya.
"Ukh!" Arion memegang dadanya yang mulai terasa sesak. Ia sudah mencapai batasnya, ia terduduk kembali menahan rasa sakit dan panas secara bersamaan.
Bertepatan dengan itu, Claris berhasil membunuh semua rogue yang ada. Tapi, rasa puas itu hilang ketika melihat para black which yang merapalkan mantra sihir padanya, tak lama ia sudah terkurung dalam prisai buatan para black which.
"Hey! Lepaskan aku!" Teriak Claris kesal pada para black which yang tertawa mengejeknya.
"Membiarkan kau membunuh kami?" Tanya salah satu black which mendekati prisai yang mengurung Claris.
"Tidak akan!" Lajutnya penuh penekanan.
Claris geram karenanya. Lantas tatapannya tertuju Melviano yang sedang mencoba untuk membangunkan Arion yang sudah tak sadarkan diri.
"Kak Arion!" Teriaknya cemas.
Rasa bersalah kembali menyelimutinya. Lagi-lagi karena dirinya, salah satu keluarganya kembali menjadi korban.
Claris terduduk lemas, matanya sudah mulai berkaca-kaca.
"Maafkan aku." Ucapnya lirih.
"Untuk apa kau minta maaf?"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
To be continue
Itu aja chapter kali ini
__ADS_1
Jangan lupa votement nya 😅😅