Vampirewolf

Vampirewolf
Comeback


__ADS_3

Ralissa membaringkan dirinya di kasurnya. Ia memandang langit-langit kamarnya lalu memjamkan matanya sejenak. Tak lama, seringai tipis terbentuk dari bibir tipisnya yang semerah darah.


"Sebentar lagi kau akan mati, Melviano."


Setelah berucap demikian nafas Ralissa mulai teratur, pertanda kalau ia sudah memasuki alam mimpinya.


.


.


.


.


.


.


2 bulan kemudian...


Di dunia manusia. 'Ralissa' tengah gelagapan sendiri, pasalnya Melviano tidak mendekatinya lagi, tidak merayu ataupun menjelaskan berulang kali seperti yang terakhir kali di lakukan di atap kampus dua bulan yang lalu.


Saat ini ia berada di rumah bersama Arion di ruang tengah.


"Apa yang harus ku lakukan?" Gusarnya. Rencananya untuk membuat Melviano bertekuk lutut padanya sirna sudah.


"Bagaimana jika tuan putri marah?" Lanjutnya takut, pasalnya ia tahu sifat Ralissa yang sebenarnya sangat menyeramkan. Apalagi saat marah, kekuatannya akan berlipat-lipat lebih besar dari biasanya apalagi ketika Claris menyalurkan kekuatannya. Habis sudah!


"Apa yang kau takutkan?" Tanya Arion melihat gerak gerik 'Ralissa' terlihat cemas.


"Kau takut Ralissa akan memarahimu karena kau tidak melakukan tugasmu dengan maksimal atau lebih tepatnya dugaan Ralissa yang tidak sesuai dengan kenyataan yang terjadi?" Tanya Arion.


Ralissa mengangguk lemah.


"Kau tidak perlu takut. Dia tidak bisa melakukan apapun padamu, lagi pula kau tidak akan merasa sakit karena kau hanyalah makhluk ciptaanku. Bahkan kau bukan makhluk, kau hanya ilusi buatanku." Jelas Arion.


Seketika senyuman 'Ralissa' terbit dari wajahnya. Senang akan penjelasan Arion. "Tuan benar." Ucapnya girang.


"Tak bisakah aku menghilang sekarang?" Lanjut 'Ralissa' bertanya.


"Kenapa? Kau lelah?" Tanya Arion balik.


Ralissa menggeleng pelan. "Aku hanya tidak tahu harus berbuat apa lagi." Tunduk 'Ralissa', lebih tepatnya sedikit bosan dengan tugasnya.


"Kau akan hilang jika Ralissa memutuskan untuk kembali." Balas Arion membuat 'Ralissa' kembali murung.


"Kapan dia akan kembali?" Tanya 'Ralissa'.


"Tak perlu menunggu. Hilanglah, aku sudah di sini."


Deg!


Keduanya tersentak mendengar suara itu. Arion pun berbalik dan melihat Ralissa yang tersenyum dengan memaksakan senyumannya pada keduanya yang terkejut akan kehadirannya.


"Sejak kapan kau di sini?" Tanya Arion.


"Sejak tadi." Jawab Ralissa singkat.


"Karena tuan putri sudah di sini. AkuĀ  sudah tidak punya alasan lagi untuk tetap di sini." Ucap 'Ralissa' dengan senyum yang merekah.


"Aku tidak pernah senyum selebar itu." Gumam Ralissa dingin membuat senyuman 'Ralissa' langsung sirna.


"Tunggu apa lagi tuan?" Tanya 'Ralissa' membuat Arion langsung menjentikkan jarinya yang membuat 'Ralissa' langsung hilang.


"Bagaimana bisa?" Tanya Arion menatap Ralissa penuh selidik.

__ADS_1


"Apa?" Tanya Ralissa tak mengerti.


"Aku tidak merasakan auramu sama sekali." Jelas Arion membuat Ralissa mengangguk paham.


"Tentu saja, sihir." Jawab Ralissa sambil membuat pola-pola dengan elemen yang berbeda di tangannya secara bergantian.


"Wow!" Takjub Arion tak percaya dengan apa yang ia lihat.


"Kau sudah bisa sihir!" Lanjut Arion memekik.


"Hebat kan?" Tanya Ralissa dengan percaya dirinya.


"Hm. Kau belajar dalam waktu singkat. Cuma dua bulan." Kagum Arion jujur.


"Sebenarnya, aku belajar sihir berbagai elemen dalam waktu sebulan bersama dengan mantranya. Tapi, butuh waktu sebulan penuh untuk mempelajari sihir tanpa mantra sepertimu!" Ucap Ralissa sedikit kesal. Mengingat betapa susahnya ia untuk fokus dan menghayalkan segala hal yang berkaitan dengan sihir, bahkan sihir tanpa mantra itu sampai sekarang belum sempurna karena ia memilih untuk menyerah, ia yakin itu bukanlah bidangnya.


Arion menganga mendengar penuturan Ralissa. "Hei! Belajar sihir itu susah! Dan kau menguasai semua elemen dalam sebulan itu sudah luar biasa!" Balas Arion tak kalah kesal dengan Ralissa.


"Dan untuk sihir tanpa mantra sepertiku ini sebenarnya tidak bisa dipelajari, selain beresiko juga sulit untuk dikuasai. Karena sihir itu keturunan dari kakek, tapi karena kau juga cucunya mungkin kau bisa mempelajarinya." Lanjut Arion, sambil menaruh telunjuknya di pelipis kanan layaknya berpose berpikir.


"Aku sudah menyerah. Memikirkannya saja membuatku pusing." Ucap Ralissa tidak mau mempelajari sihir tanpa mantra itu lagi.


"Jadi, bagaimana keputusanmu?" Tanya Arion mengingat Melviano yang saat ini acuh tak acuh akan Ralissa.


"Entahlah." Jawab Ralissa.


"Yak! Bagaimana bisa begitu!" Kesal Arion, kalau bukan adik mungkin Arion sudah melenyapkan Ralissa yang sering sekali membuatnya kesal.


"Lalu menurut kakak aku harus bagaimana? Membunuhnya? Mengejarnya?" Tanya Ralissa meminta pendapat.


"Hah?! Kenapa kau menanyakan itu padaku?" Tanya Arion balik.


"Oh, ayolah. Kakak pasti tahu yang sebenarnya, kan?" Tanya Ralissa penuh selidik pada Arion.


"Apa?" Tanya Arion menjadi gugup sendiri karena tatapan tajam Ralissa. Refleks Arion mundur ketika Ralissa berjalan mendekat ke arahnya.


Arion berhenti berjalan mundur saat merasa dirinya di halangi dinding di belakangnya.


"Bagaimana kau bisa tahu?" Tanya Arion secara tidak langsung menjawab pertanyaan Ralissa.


"Sekarang aku bisa sihir kak. Aku bisa membaca pikiran kakak." Jelas Ralissa.


Arion mendengus.


"Kalau begitu kau tidak perlu bertanya!" Kesal Arion.


Ralissa terkekeh. "Aku hanya suka melihat ekspresi ketakutan kakak." Jawab Ralissa dengan sok polosnya membuat Arion ingin muntah melihatnya.


"Huek! Gak usah sok polos kayak gitu. Aslinya juga bar-bar." Balas Arion.


"Biarin. Yang penting Ralissa tetap cantik. Bwe!" Ralissa menjulurkan lidahnya mengejek Arion lalu berlari menuju kamarnya untuk menghindari amukan Arion serta sekalian beristirahat.


"Aish! Dasar anak itu!" Geram Arion mencoba untuk menahan amarahnya yang siap memuncak.


.


.


.


.


.


Keesokan harinya..

__ADS_1


Seperti biasa Ralissa akan berangkat bersama dengan Arion menuju kampus mereka. Sampai di kampus banyak yang menatap kagum keduanya. Seperti biasa lebih bening dikit langsung populer dan banyak yang suka maupun mencibir apalagi modelan Ralissa dan Arion.


Ralissa dan Arion tidak menghiraukan mereka dan berjalan dengan santainya menuju ke kelas mereka. Sampai di sana ia melihat Melviano yang seperti biasa membaca buku di dalam kelas.


"Aku harus bagaimana?" Tanya Ralissa pada Arion yang berada di sampingnya.


Arion menggeleng pelan pertanda tidak tahu membuat Ralissa mencebik kesal.


Melviano yang menyadari keberadaan Ralissa mematung merasakan aura Ralissa yang berbeda. Ia pun mengangkat kepalanya mengalihkan pandangannya yang awalnya fokus pada buku ke Ralissa yang masih berdiri di depan kelas belum duduk di kursi bersama dengan Arion.


"Kenapa auranya berbeda? Aroma tubuhnya juga." Gumam Melviano pandangannya masih fokus melihat Ralissa.


'Kenapa dia terlihat sangat cantik' Batin Melviano.


Ralissa merasa ia diperhatikan, ia pun mencari siapa pelaku yang berani memperhatikan dirinya. Ia tersenyum tipis melihat pelakunya adalah matenya sendiri.


"Kenapa lihat-lihat?" Tanya Ralissa pada Melviano.


Melviano tersentak. Ia tersadar dari lamunannya yang mengagumi Ralissa.


"Kagum dengan kecantikanku?" Tanya Ralissa lagi dengan percaya dirinya.


Melviano diam tidak menjawab. Ia masih mencerna situasi yang terjadi saat ini.


'Apa-apaan ini? Kenapa dia berbicara denganku? Bukankah dia sedang marah padaku? Apa dia sudah memaafkanku?' Batin Melviano.


"Kau tidak seru!" Ucap Ralissa kesal karena tidak dijawab ataupun direspon oleh Melviano.


Ralissa pun beranjak dan duduk dengan dua teman barunya. Yah, masih baru untuk Ralissa karena jarang berinteraksi dengan mereka.


"Sudah selesai marahannya dengan Melviano?" Tanya Kayla dengan nada menggoda pada Ralissa.


"Ciee. Bakal ada yang balikan nih." Goda Shena.


"Apaan sih." Ucap Ralissa tidak tahu harus merespon seperti apa. Pipinya sudah memerah semerah kepiting rebus.


"Hahaha, Ralissa blushing." Tambah Kayla menggoda Ralissa.


"Ish! Diamlah! Dosen udah datang tuh." Tunjuk Ralissa dengan lirikan matanya.


Pelajaran pun berlangsung seperti biasa dengan sesekali Kayla dan Shena menggoda Ralissa.


Sementara itu Melviano tersenyum senang, Ralissa sudah tidak marah lagi padanya. Ralissanya sudah 'kembali'.


.


.


.


.


.


.


.


.


To be continue


Up lagi guys~


Jangan lupa votement nya yang banyak ya~ biar makin semangat nulisnya.

__ADS_1


Salam


Shinikook


__ADS_2