Vampirewolf

Vampirewolf
Ralissa Magic


__ADS_3

Happy Reading Guys ๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


.


.


.


Ralissa tampak berpikir untuk memilih elemen mana yang akan ia pilih. Ia ingin mempelajar semuanya tetapi tidak mungkin semuanya sekaligus bukan? Pilihan Ralissa pun terjatuh pada..


"Api. Aku ingin melihatnya terbakar sampai matang!" Ucapnya antusias tak lupa dengan seringaian di wajah cantiknya.


Semua yang berlatih pun menghentikan aktivitas mereka dan menatap Ralissa dengan ngeri. Ada yang menelan ludah dengan susah payah. Dan ada juga yang kagum melihatnya.


'Putri Ralissa cantik tapi mengerikan.'


'Cantik dan tangguh! Kombinasi yang menarik.'


Dan masih banyak lagi ucapan batin yang masih melirik Ralissa dengan takut lalu melanjutkan aktivitas mereka lagi.


"Aku tidak sabar untuk membunuhnya!" Lanjut Ralissa senang.


Aktivitas mereka kembali terhenti lalu menatap Ralissa lagi. Merasa diperhatikan Ralissa pun menoleh sekilas untuk melihat siapa yang memperhatikannya. Tapi, buru-buru mereka yang melihat Ralissa melanjutkan aktivitas mereka yang sudah tertunda untuk ke berapa kalinya hari ini.


Karena tidak menemukan 'tersangka' yang memperhatikannya, Ralissa kembali melihat elemen yang ia pilih dan akan ia pelajari.


.


.


.


.


Setelah memilih elemen pertama yang akan dipelajari. Ralissa dan Rey pun berpindah ke tempat yang sepi,ย  untuk menghindari dampak negatif yang tidak diinginkan. Rey tidak mau ketika Ralissa berhasil menguasai elemen api, maka ia akan membakar para warrior maupun vampire guard yang sedang berlatih.


"Saat belajar sihir untuk pertama kali, kamu harus merilekskan pikiran maupun tubuhmu." Ucap Rey menatap Ralissa.


Ralissa mengangguk paham sebagai responnya.


Rey pun tersenyum lalu melirik batu yang cukup besar berada di sisi kanannya.


"Duduklah di atas batu itu. Tenangkan pikiran dan tubuhmu." Suruh Rey.


"Baiklah." Jawab Ralissa dan langsung melaksanakan perintah dari ayahnya.


Ralissa sudah duduk di atas batu itu lalu ia mulai memejamkan matanya, menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan. Ia melakukan hal itu berulang kali, sambil mencoba melupakan masalah yang ia hadapi maupun tujuannya yang tentu saja bisa mengganggu konsentrasinya.


Cukup lama untuk Ralissa membuat dirinya merasa tenang.


Rey yang melihat Ralissa mulai tenang lalu bertanya pada Ralissa.


"Sudah merasa rileks?"


"Sudah, ayah." Jawab Ralissa, ia masih memejamkan matanya.


"Bagus. Sekarang, bayangkan dirimu saat ini sedang berhadapan dengan setitik api kecil. Lalu buat api yang ada dalam bayanganmu itu mendekati dan masuk dalam dirimu." Perintah Rey lagi.

__ADS_1


Ralissa tidak menjawab, ia hanya langsung melaksanakan perintah ayahnya. Membayangkan diri sedang berhadapan dengan api.


Dalam pikirannya, Ralissa sedang bertatapan dengan api itu. Dan ternyata, api itu berwujud layaknya makhluk hidup, ia bersayap layaknya peri.


Ralissa membulatkan mata, melihatnya.


"Kenapa kau menatapku seperti itu?" Tanya api kecil itu membalas tatapan Ralissa.


"Aku tidak menyangka jika api itu hidup bahkan bisa bicara." Jawab Ralissa.


Api itu tertawa kecil mendengar jawaban Ralissa.


"Yah, ini khayalanmu. Ah, tepatnya untuk setiap makhluk yang belajar sihir akan mengalami hal ini. Berbicara dengan elemen yang ia pilih agar menyatu dengan mereka." Balas api itu.


"Begitukah?" Tanya Ralissa yang dijawab dengan anggukan oleh api itu.


"Apa tujuanmu belajar sihir?" Tanya api kecil pada Ralissa.


Ralissa akan menjawab namun segera dipotong oleh api itu. "Jangan bilang kalau kau belajar sihir untuk bisa sihir." Ucap api kecil itu sedikit kesal.


"Tapi itulah kenyataannya." Balas Ralissa.


Api itu mendecak kesal. "Alasanmu yang sebenarnya, alasan kenapa kau ingin bisa sihir. Kekuasaan, harta atau membunuh." Ucap api itu.


"Ketiga. Aku ingin membunuh." Jawab Ralissa cuek.


"Owwh. Siapa?" Tanya api itu lagi.


"Astaga! Tak bisakah kau masuk saja dalam tubuhku?" Kesal Ralissa tidak sabaran.


"Hey! Aku harus bisa nyaman bersamamu! Kalau kau seperti ini mana mungkin aku bisa bertahan denganmu! Lagi pula kita harus bersatu agar kau bisa mengendalikanku, begitupun sebaliknya." Balas sang api.


Api itu menatap lekat mata Ralissa untuk mencari kebohongan yang mungkin keluar dari mulut Ralissa.


"Waahh! Ini adalah pertama kalinya aku melihat makhluk yang sangat ingin membunuh matenya." Kagum api itu menatap Ralissa.


"Baiklah. Aku akan masuk ke tubuhmu. Karena kau menjawab jujur pertanyaanku." Lanjut api itu, ia pun mendekat kepada Ralissa, dan api itu pun menyerap dalam tubuhnya.


Ralissa menghembuskan nafasnya, merasa lega karena elemen itu mau masuk ke dalam tubuhnya.


Rey melihat gerak-gerik tubuh anaknya, lalu tersenyum puas. "Buka matamu sekarang." Suruhnya.


Perlahan Ralissa membuka matanya. Ia pun melirik sang ayah yang kini menatapnya.


"Lalu apa yang harus aku lakukan?" Tanya Ralissa tak sabar.


"Tentu saja. Mengujimu." Jawab Rey, mengangkat tangan kanannya dan mengucapkan beberapa mantra.


Tak lama ranting-ranting yang ada di sekitar mereka berkumpul menjadi satu.


"Fokuskan pandanganmu pada ranting-ranting itu. Tanpa mengucapkan mantra apapun. Buat ranting itu terbakar." Perintah Rey yang lamgsung dijawab dengan anggukan oleh Ralissa.


Ralissa mengikuti ucapan ayahnya. Fokus pada ranting-ranting kayu yang sudah terkumpul di hadapannya. Tak lama iris mata Ralissa berubah yang awalnya merah menjadi coklat keemasan, suhu tubuhnya terasa panas.


Tak butuh waktu lama, terlihat di ranting-ranting ituย  muncul percikan api yang mengenainya. Dan dalam beberapa detik, apinya semakin membesar melahap rakus ranting-ranting yang kering itu.


Ralissa tersenyum puas karena ia berhasil. Begitu pula dengan Rey yang bangga padanya, karena ia belajar dengan cepat.

__ADS_1


"Bagus. Kau sudah menguasainya." Ucap Rey bangga sambil menepuk pelan bahu anaknya.


"Terima kasih, ayah." Tulus Ralissa lalu tersenyum dan memeluk ayahnya.


"Sama-sama, sayang." Ucap Rey sambil membalas pelukan Ralissa.


"Karena kau cepat belajar. Kau bisa belajar melatih elemen sihir yang lain tanpa bantuan ayah. Kau hanya perlu melakukan hal tadi dan untuk sihir yang lebih besar kau hanya perlu menambahkan mantra yang sudah kau baca itu. Mengerti?" Ucap Rey panjang lebar sambil melerai pelukan antara ia dengan anaknya.


"Baik, ayah. Ralissa mengerti." Jawab Ralissa.


"Bagus. Sekarang kita kembali ke mansion. Masih banyak pekerjaan yang harus ayah selesaikan. Dan kamu harus mengisi energimu yang hilang karena belajar sihir." Ajak Rey.


Lemas.


Itu yang Ralissa rasakan setelah mendengar ucapan sang ayah. Karena sihir memang memakan energi yang cukup banyak. Hal itulah yang menjadi alasan banyak makhluk yang tidak ingin belajar sihir. Selain sulit untuk fokus dan menenangkan pikiran, tetapi juga banyak menguras energi penggunanya. Walaupun sihir memiliki hasil yang memuaskan tetapi, dampaknya tidak bisa diremehkan.


.


.


.


.


Ralissa membaringkan dirinya di kasurnya. Ia memandang langit-langit kamarnya lalu memjamkan matanya sejenak. Tak lama, seringai tipis terbentuk dari bibir tipisnya yang semerah darah.


"Sebentar lagi kau akan mati, Melviano."


.


.


.


.


.


.


.


To be continue


Author balik lagi..


Jangan lupa votement ya~


Agar author semakin semangat buat lanjutin cerita ini.


Terima kasih karena setia menunggu kelanjutan dari cerita ini.


Semoga cerita ini bisa menghibur dan mengisi waktu kalian..


Sekian, dan terima kasih..


Salam

__ADS_1


Shinikook


__ADS_2