Wanita Bernasab Ibu

Wanita Bernasab Ibu
Ocehan di balik keseleo


__ADS_3

"Haduww." Reni merasa kaki kanannya kesakitan.


Mendengar suara erangan Reni membuat mama Ami keluar dari kamar. Mama Ami keluar dari kamarnya dengan tergopoh-gopoh karena melihat menantunya terduduk di lantai.


"Kamu kenapa Ren?" tanya mama Ami dengan nada panik.


"Nggak sengaja kepeleset ma." jawab Reni.


Mama Ami segera memanggil para asisten rumah tangganya. Mendengar suara mama Ami sedikit berteriak membuat Amar juga keluar.


"Ada apa ma?" tanya suaminya berjalan sambil mengucek matanya.


Lelaki itu nampak panik ketika mendengar teriakan istrinya. Dia mendekati istri dan menantunya.


"Ini oa Reni terjatuh, mama memanggil Marni dan Neli pa, mam mau minta tolong ambilkan minyak urut."


"Kenapa Reni?" tanya Amar memeriksa kaki menantunya.


Marni dan Neli datang dengan tergopoh-gopoh. Mereka juga kaget ketika mendengar suara teriakan majikannya.


Mereka sebenarnya baru saja memejamkan matanya. Mereka tadi agak lambat tidur karena tau bahwa salah satu majikannya belum makan malam. Walaupun tidak ada peraturan menunggu semua makan baru tidur, akan tetapi mereka hanya kurang nyaman saja tidur.


Mama Ami hanya memanggil kedua asistennya. Dia tidak memanggil yang lainnya karena tau bahwa mereka telah lelah. Dia hanya memanggil asisten yang sudah lama bekerja dengannya.


"Ini hanya keseleo, jangan di urut, cukup ambil salep di kota p3k."


Mama Ami dan suaminya memang mempunyai pandangan yang berbeda dalam menangani soal cidera kaki atau lainnya. Menurut mama Ami harus segera di urut jika keseleo. Namun menurut suaminya yang merupakan dokter, tidak perlu. Dia juga malas berdebat soal itu karena sudah tau karakter suaminya.


"Marni tolong panggil Gala." ucap Amar kesal dengan anaknya.


Mama Ami juga kesal terhadap anaknya. Anaknya ini memang kurang peka setelah ia perhatikan beberapa hari di rumah. Mama Ami tidak melihat Gala seperti Amar memperlakukannya.


"Semoga kamu tidak persis seperti ayah kamu dulu, kamu telah memberikan contoh terbaik untuk kamu, apa kurang papa kamu memberikan contoh dalam mencintai istrinya." ucap mama Ami dalam hatinya.


Gala yang baru saja keluar dari toilet. Tadinya ia ingin ikut menemani sang istri ke bawah. Namun perutnya tiba-tiba mules dan ia akhirnya memilih ke toilet.

__ADS_1


"Den Gala, den gala ."


Gala membuat pintu ketika pintu kamarnya diketuk oleh Marni kepala asisten rumah tangga di rumahnya.


"Ada apa bi Marni?" tanya Gala kepada bi Marni yang masih berumur 40 tahun.


"Anu den, bapak dan ibuk menyuruh tuan turun."


Gala merasa ada yang janggal ketika mamanya menyuruhnya turun di malam hari. Tidak biasanya Mamanya menyuruhnya ke bawah tengah malam begini.


"Ini pasti ada hubungannya dengan Reni, ah merepotkan sekali punya istri." gumam Gala kesal.


Ini adalah salah satu alasan Gala tidak kunjung menikah. Dia tidak suka merasa di repotkan. Dia merasa masih ingin bebas. Namun waktu itu dia tidak bisa menolak keinginan tantenya.


Marni dan Gala berjalan menuruni tangga. Gala agak bingung melihat banyak orang di ujung tangga.


"Kenapa ma, pa?" tanya Gala bertanya dengan lembut karena sudah melihat mata mamanya bulat ingin menerkam dirinya.


"Kamu ini gimana sih,jaga istri aja nggak becus." cerocos mamanya.


Gala bingung kenapa ia di salahkan. Dia baru tau bahwa ini pasti ada hubungannya dengan Reni.


"Gala tolong angkat Reni ke kursi sana, tadi ia jatuh."


Gala baru menyadari bahwa istrinya terduduk di lantai dengan wajah meringis. Dia menghela nafasnya karena tau penyebab wanita itu terjatuh.


Gala mengangkat tubuh wanita itu. Dia membawanya ke sofa terdekat dari tangga. Sedangkan Amar berjalan mengambil obat di kotak P3K.


"Oleskan salep ini agar bisa menghilangkan memar di kakinya."


"Apa nggak di urut saja pa?" tanya Reni meringis kesakitan.


Menurutnya pengetahuan Reni jika keseleo jangan di biarkan bermalam. Jika masuk angin maka akan membengkak dan sakit.


" Tidak usah, tidak semua keseleo bisa di pijit sembarangan, Malah pijatan dapat memperparah cederanya. Pijat atau urut seringkali digunakan sebagai metode untuk merawat bagian tubuh yang cedera. Pijat tidak akan dapat menyembuhkan cedera, malahan dapat memperlambat proses penyembuhan." ucap Amar.

__ADS_1


Reni paham bahwa papa mertuanya adalah seorang dokter penyakit dalam. Bagi dokter memang di larang melakukan pijatan.


"Apa kita ke dokter pa?" tanya Gala.


"Tidak perlu, pap liat ini hanya memar tidak bengkak, kamu kasih aja salep ini, ini mengurangi memar."


Gala memberikan salep di kaki sang istri dengan perlahan. Dia melihat memang ada sedikit memar di kaki putih sang istri.


"Rasa sakit dapat hilang setelah dipijat memang benar adanya tetapi karena hal lain. Tubuh yang normal memiliki sistem pertahanan sendiri. Pada saat dipijat, bagian tubuh yang cedera itu mengeluarkan sebuah zat yang fungsinya untuk membius secara lokal bagian tubuh yang sakit." ucap Amar menerangkan.


"Pengaruh dari zat tersebutlah yang menghilangkan rasa sakit untuk sementara. Karena rasa sakit menghilang, maka pijat akan mudah dilakukan walaupun hanya sementara. Begitu efek obat bius alami tersebut menghilang, rasa nyeri yang timbul kembali menjadi lebih besar. Hal itu dapat memperlambat kesembuhan keseleo tersebut." lanjut Amar lagi.


Reni cukup menarik mendengarkan penjelasan papa mertuanya. Ia sedikit meringis ketika suaminya memberikan salep tersebut.


"Sini biar papa ikat terlebih dahulu." ucap papanya. Gala memberi papanya tempat duduk agar memudahkan.


"Pijat akan sangat membahayakan struktur dan jaringan otot, ligamen, dan tulang. Akan lebih baik jika mengistirahatkan bagian yang keseleo untuk pertolongan pertama, agar ketegangan berkurang. Jika tak kunjung sembuh, periksakan ke dokter untuk dilakukan pengecekan lebih lanjut." Papanya mengikat kaki Reni dengan Perban. Walaupun ia dokter spesialis syaraf, akan tetapi ia masih bisa mengerjakan hal seperti ini.


"Dokter akan memeriksa bagian yang keseleo dan mendiagnosisnya. Biasanya, orang yang mengalami keseleo akan dianjurkan untuk beristirahat sementara waktu. Lalu, bagian yang keseleo dikompres karena ketika cedera terjadi, terdapat robekan pembuluh darah yang membuat pembuluh darah keluar, sehingga terjadi pembengkakan dan melebar yang merupakan respon peradangan." ucap papa Gala lagi.


Semua yang berdiri di sana hanya mendengarkan penjelasan dari papa Amar. Sedangkan mama Ami merasa sering mendengar kalimat itu keluar dari mulut suaminya. Karena itu sering terjadi saat ia membesarkan anak-anak. Apalagi waktu kecil Gala juga sering mengalami cidera.


"Harusnya sebagai anak dokter kamu paham Gala, apalagi kamu ini bagian dari keluarga Kusuma, yang rata - rata bekerja di bidang kesehatan." ucap Amar.


Gala hanya menggaruk kepalanya. Ia tau bahwa papanya menyindir dirinya. Apalagi yang posisinya yang juga pernah belajar farmasi.


"Meskinya seorang apoteker bisa menangani hal seperti ini." ucap papanya bangkit dari duduknya.


"Kalian sudah makan?" tanya mama Ami.


"Nanti aku minta di bawakan ya Bi Marni, kami makan di kamar saja." ucap Gala lansung mengangkat tubuh Reni.


Dia tidak ingin mendapat ocehan dari mamanya malam - malam begini. Dia juga malu jika harus di marahin di depan isterinya.


Mama Ami juga paham dan ia juga mencoba menahan emosinya. Dia tidak ingin marah-marah di depan menantunya.

__ADS_1


Gala meletakkan sang istri di atas kasur. Tidak lama kemudian bi Marni datang membawakan makan malam.


Gala pun menyuapi sang istri. Namun Reni meminta sendok karena ingin makan sendiri. Karena bi Marni membawa dua piring nasi, makan Gala terpaksa ikut makan.


__ADS_2