
Gala membawa sarapan paginya kedalam kamar. Ia senang pagi ini karena mamanya sudah mulai peduli dengan isterinya. Dia berharap ini awal yang baik dalam hubungannya.
Gala membuka pintu kamar dan menemukan Reni masih saja tidur di atas ranjang. Gala memahaminya karena wanita itu masih sakit.
Reni tau bahwa Gala masuk kedalam kamar. Ia sengaja memejamkan matanya untuk berpura-pura tidur. Ia malas harus berhadapan dengan lelaki itu. Hatinya sungguh kecewa.
Lama sudah Gala menunggu di dalam kamar. Tidak ada tanda-tanda bahwa istrinya itu akan bangun.
Gala bergerak mendekati Reni yang masih tidur. Dia akan mencoba membangunkannya karena jika tidak, maka bisa jadi wanita itu akan melewatkan sarapan paginya.
"Bangun ren, ayo sarapan dulu."
Reni merasa tangannya di goyang dengan pelan oleh Gala. Ia tidak mungkin melanjutkan pura - pura tidurnya lagi.
Reni membuka matanya, lalu duduk dengan di bantu oleh Gala. Namun tidak ada senyum di wajah wanita itu.
Bahkan Gala melihat bahwa istrinya tidak menatapnya. Wanita itu seperti enggan menatap wajahnya. Namun Gala tetap pada tujuan awalnya yaitu menyuapkan wanita itu.
Belum sempat Gala menyuapinya, Reni lansung berkata.
"Aku sendiri, aku bisa sendiri." ucap Reni.
"Biar aku saja." jawab Gala.
"Aku bisa sendiri, lagian aku sudah sembuh."
"Kamu masih lemas, jangan banyak protes."
Reni memikirkan cara agar bisa menolak laki-laki itu. Dia tidak kehilangan cara tentunya.
"Kamu belum mandi ya? Perutku mual karena bau badan kamu." ucap Reni menutup hidungnya.
"Bau?" Gala mencoba mencium aroma dari tubuhnya. Dia tidak menemukan bau apa - apa dari tubuhnya.
"Aku Menang belum mandi, tapi mana ada bau, wangi seperti ini." ucap Gala menajamkan indera penciumannya.
"Bau bang, aku pusing mau muntah." Reni lansung berpura-pura mual ingin muntah.
__ADS_1
Melihat Reni yang hampir muntah membuat Gala memberi jarak kepada Reni. Dia berjalan keluar dari kamar dengan wajah kesal.
Gala menuju dapur dengan menggerutu. Mama Ami yang masih duduk di meja makan melihat anaknya menggerutu dari kamar.
"Ada apa lagi?"
"Itu si Reni, masa bilangnya aku bau ma, aku sewangi ini di bilang bau, ini dia melihat mukaku muntah segala, di kira apa gitu mukaku yang tampan ini."
Mamanya hanya tertawa melihat anaknya menggerutu. Di kira mamanya ada masalah apa sehingga membuat anaknya sudah menggerutu di pagi hari.
"Itu wajar bagi ibu hamil,ibu hamil memang penciumannya sensitif, bau parfum aja bisa muntah, apalagi jika orok dalam perutnya sedang tidak ingin melihat ayahnya."
"Orok? Ada orok dalam perut Reni?" tanya Gala tidak paham apa itu orok.
Gala semakin bingung ketika mamanya malah tertawa terbahak-bahak. Dia merasa tidak ada yang lucu.
"Apanya yang lucu ma, nggak ada yang lucu juga."
"Orok bayi maksud mama, jika nggak ada orok berarti istri kamu tidak hamil." jawab mamanya menjelaskan.
"Itu calon anak aku ma, janin."
Gala tersenyum mendengar nasehat mamanya. Baginya ini pertanda kedua bahwa mamanya mulai sayang sama Reni lagi.
"Makasih ma." ucap Gala tersenyum meninggalkan mamanya.
Setelah tau bahwa Reni sedang mengalami fase ngidam membuat Gala lebih sabar. Dia bahkan tidak bisa dekat dengan istrinya.
Bahkan ia juga tidak bisa mengelus perut Reni. Dia juga segan sih, karena takut wanita itu akan marah kepadanya.
Setiap Gala masuk ke kamar, Reni banyak diam. Wanita itu juga selalu ingin muntah padahal ia baru saja selesai mandi.
Di tempat lain, Novia kesal karena akhir - akhir ini ia tidak bisa bertemu dengan Gala. Dia telah menghubungi Gala namun lelaki itu tidak menjawab panggilannya. Bahkan pesan yang ia kirim juga tidak di responnya.
Novia sudah mendatangi kantor lelaki itu. Namun sekretarisnya mengatakan bahwa Gala bekerja dari rumah karena istrinya hamil.
Novia sungguh sangat marah ketika mendengar kehamilan Reni. Bagaimanapun dia harus mencari cara untuk memisahkan Gala dari Reni sebelum cinta tumbuh di hati lelaki itu.
__ADS_1
Bagaimana dengan Alan dan Bella. Bella menjelas semua apa yang terjadi ketika sebelum pernikahan. Mendengar cerita Bella membuat Alan paham keinginan sang istri. Dia tau bahwa sang istri ingin anak sahabatnya bahagia.
Menurut Alan, Gala bukan lelaki yang buruk untuk Reni. Hanya belum ada cinta saja di hati lelaki itu. Dia yakin cinta itu akan tumbuh begitu saja karena terbiasa bersama. Apalagi Alan sudah sering menemui rumah tangga seperti ini di awal pernikahan.
Berbeda dengan Amar, dia percaya bahwa keponakannya Zahran sudah tidak punya hubungan lagi dengan Reni. Karena bagaimanapun Zahran nampak sangat mencintai Kaylin si angin selatannya.
Sudah beberapa hari Gala bekerja dari rumah. Namun pagi ini dia harus pergi keluar untuk meeting dengan klien.
Reni senang melihat Gala bersiap untuk pergi keluar rumah. Baginya itu adalah hal yang menyenangkan. Hari ini setidaknya dia bisa bebas di rumah.
Hubungannya dengan mama mertuanya mulai membaik. Apapun yang terjadi di masa lalu, ia mencoba untuk melupakannya. Karena ia tau bahwa mama Gala sejak dulu memang baik. Dia maklum saja dia wanita yang melahirkan Gala menjadi marah karena tau ia mencintai lelaki lain. Namun sampai saat ini Reni masih belum tau darimana mama mertuanya mendengar gosip murahan itu.
Gala yang sudah janjian di kantor dengan klien nampak terburu-buru. Sebelum ke ruangan meeting, ia menuju ruangannya terlebih dahulu.
Saat membuka pintu ruangannya, ia kaget menemukan Novia di dalam ruangannya sedang duduk di kursi kebesarannya.
"Ngapain kamu di sini?"
"Harusnya aku yang bertanya, kenapa kamu tidak pernah merespon pesan aku?"
"Aku sibuk nggak ada waktu."
"Jadi begitu persahabatan kita? Kamu melupakan aku dan lebih mementingkan wanita itu daripada aku." ucap Novia emosi.
"Tentu saja dia lebih penting karena dia istri aku."
"Kamu tidak mencintai dia, kamu lebih peduli kepadaku dari pada dia, dia hanya memanfaatkan kamu."
"Wajar dong dia memanfaatkan aku karena dia istri aku, aku tidak punya waktu karena aku mau meeting."
"Baik, mari kita keruang meeting bersama." ucap Novia tersenyum manis sambil berdiri dari kursi Gala.
"Jangan menganggu Novia, kamu pulang lah, aku malas berdebat."
"Kenapa aku harus pulang, kamu belum tau dengan siapa kamu meeting?" tanya Novia tersenyum.
Gala menelpon sekretarisnya menanyakan agendanya pagi ini. Dia sungguh kaget saat sekretarisnya menyebutkan siapa pemilik perusahaan yang akan bekerjasama dengannya.
__ADS_1
"Kenapa? Kamu kaget? Aku memang memutuskan untuk masuk bergabung ke perusahaan, agar bisa bertemu kamu kembali, dan kita bisa bersama lagi." ucap Novia berjalan meninggalkan Gala yang lansung pusing mendengar ucapan sahabatnya itu.