
Reni hanya duduk di ranjang miliknya. Kakinya masih bisa dibawa jalan. Kana tetapi ketika jalan masih sakit.
Mama Ami melarang Reni untuk banyak beraktivitas. Termasuk makan, bibi sudah mengantarkan makanan ke kamar.
Akan tetapi Reni tidak berselera untuk makan. Entah mengapa tiba-tiba dia merasa kangen dengan suasana rumahnya.
"Rasanya ingin pulang, tapi belum boleh kemana - mana." gumam Reni.
Reni melihat nasinya masih terletak di atas nakas sebelah ranjang. Dia belum menyentuhnya sama sekali.
"Bang Gala kemana ya? Kok masih belum pulang? ah pasti dia sibuk banget."
Reni mencoba membaca majalah yang ada di ranjangnya. Majalah tersebut sebenarnya milik mama Ami. Namun Reni meminta bibi Neli membawanya ke atas.
Namun ia juga telah bosan melihat majalah tersebut. Reni menariknya di atas ranjang. Reni mencoba mengambil ponselnya.
Tangan Reni dengan lincah men-scroll sebuah aplikasi. Dia melakukan untuk menghilangkan kegabutannya.
Sedangkan di bawah sana, Gala baru saja membuka pintu rumahnya. Ia kaget ketika mamanya menunggunya di ruang tamu dengan mata melotot.
"Jam berapa ini Gala Sky?"
"Kok mama di sini?" tanya Gala.
"Jangan mengalihkan pembicaraan mama, dari mana saja kamu sehingga baru pulang jam segini."
"Ma biasa Gala juga pulang jam segini jika lagi sibuk." ucap Gala menjawab mamanya dengan lembut.
"Kamu itu bukan lajang lagi, kamu udah menikah, bedakan itu." ucap mamanya.
"Iya ma." Gala tidak berani lagi membantah mamanya.
"Dari dulu mama sudah bilang berkali-kali, Mama nggak suka kamu lebih peduli kepada pekerjaan kamu daripada keluarga kamu."
"Iya ma, Gala ingat."
"Kamu itu sudah menikah, harusnya kamu ingat ada yang nunggu kamu di rumah."
"Iya ma, maaf tadi Gala sibuk banget, lain kali Gala nggak pulang selarut ini."
"Kamu jangan bohongin mama, tadi Mama sudah telepon sekretaris kamu, kamu sudah pulang sejak sore tadi, kemana saja kamu?"
Gala nampak kaget ketika mamanya sudah menghubungi kantor. Ini di luar prediksinya.
"Tadi Nemani Novia ma, Novia baru pulang dari Paris, jadi tadi sekalian bantu Novia untuk bisa ngajar di kampus tempat dia ngajar kemaren."
Mendengar nama Novia membuat mama Ami agak baik darah. Dia tidak menyangka bahwa anaknya belum siap begini dalam hal menikah.
__ADS_1
"Kamu tau sekarang status kamu itu apa?"
"Maksudnya mama?"
"Status kamu itu saat ini adalah pria yang sudah menikah, apa pantas pria menikah jalan dengan seorang wanita selain istrinya?"
Gala terdiam mendengar ucapan mamanya. Dia tidak pernah berpikir sejauh itu. Karena dia memang sudah terbiasa seperti itu bersama dengan Novia.
"Kamu sebagai suami tau nggak mana prioritas kamu? yang menjadi prioritas kamu harusnya istri kamu di rumah, kamu tau istrinya kamu pasti menunggu kamu di kamar, apalagi Reni hanya di kamar seorang diri, kamu pikir dia nggak jenuh di dalam kamar."
"Maaf ma."
"Istri kamu sedang sakit tapi bisa - bisanya kamu mengurus keperluan wanita lain sampai pulang harus malam, Jika kamu nggak cinta istri kamu kenapa kamu nikahin, kamu sudah berjanji di depan almarhum mamanya dan Allah untuk menjaga dia, tapi apa yang kamu lakukan?" Mama Ami nampak marah sekali.
Selama ini Gala jarang melihat mamanya semarah ini. Apalagi kepada anak-anaknya. Namun malam ini nampak ada kilatan marah di mata mamanya.
"Kamu jangan sama seperti ayah kamu, tidak bertanggung jawab, kamu ingat bagaimana ayah kamu meninggalkan kita dulu? Mama harap kamu contoh papa kamu, papa kamu walaupun kamu bukan darah dagingnya tapi memperlakukan kamu seperti anak kandungnya, apapun di lakukan untuk kamu."
Gala setuju dengan ucapan mamanya mengenai papanya. Tapi ia tidak setuju jika mamanya menyamakan dirinya dengan ayahnya.
"Sekarang kamu naik, dan mama tidak ingin melihat kamu pulang malam lagi, bukan mama ikut campur masalah rumah tangga kamu, tapi mama wajib menegur kamu jika kamu salah, apalagi kamu kepala rumah tangga kamu."
Gala termangu di ruang tamu sedangkan mamanya meninggalkannya dengan kesal.
Setelah Gala melihat mamanya masuk ke kamarnya, ia juga berjalan menuju lantai atas. Dia memikirkan semua ucapan mamanya.
"Belum tidur?" tanya Gala kepada istrinya.
"Belum ngantuk." jawab Reni tersenyum sambil meletakkan ponselnya di kasur.
Gala duduk tidak jauh dari istrinya. Dia memeriksa kaki istrinya.
"Bagaimana kakinya?"
"Masih ngilu sih, tapi sebenarnya udah bisa jalan, cuma mama bilang nggak usah banyak jalan dulu."
"Untuk sementara nggak usah banyak jalan dulu, Abang mandi dulu nanti Abang buka perbannya." ucap Gala.
Reni mengangguk tersenyum. Dia sebenarnya tidak terlalu merasakan sakit di kakinya. Namun mertuanya terlalu mengkuatirkan dirinya.
Sekitar 15 menit Gala keluar dari kamar mandi. Reni terpukau melihat suaminya yang tampan. Gala memakai baju kaus putih dan celana pendek di atas lutut. Di tambah dengan rambutnya yang basah membuat lelaki itu tambah gagah.
Gala heran melihat Reni menatapnya sambil tersenyum. Pandangan istrinya tidak beralih sedikitpun sejak ia keluar dari kamar mandi Sampai ia mengambil kotak P3K.
"Ngapain menatap bang kayak gitu? Ada yang aneh di wajah Abang?" tanya Gala berjalan membawa salep untuk kaki Reni.
Reni langsung gelagapan saat Gala berbicara seperti itu.Dia malu karena ketauan sedang mengangumi suaminya.
__ADS_1
"Wah memalukan, kenapa aku terpesona gitu melihat dia tadi? Apa aku mulai suka sama bang Gala?" tanya Reni dalam hatinya.
"Yee di tanyain malah diam aja." ucap Gala lansung duduk tidak jauh dari istrinya.
"Sini bang buka dulu." ucap Gala membuka perban kaki istrinya.
Setelah membuka perban kaki Reni, Gala mengelap kaki istrinya dengan kain basah. Setelah itu dia mengompres kaki Reni dengan batu es yang yang sudah ada di kamar.
Gala memang membawa es saat ia baik ke kamar tadi. Dia nampak telaten melakukannya.
Reni tersenyum senang saat Gala memperlakukan dia seperti itu. Baginya ini sangat menyenangkan.
"Kenapa senyum - senyum begitu?" tanya Gala menyadari sang istri tersenyum memperlihatkannya.
"Nggak ada, kamu telaten banget, udah seperti dokter."
"Telaten atau ganteng? Kamu belum pernah di rawat dokter seganteng abang kan?"
"Ada dokter Zahran, dulu dia merawat aku sampai keluar negeri."
Mendengar nama Zahran sepupunya membuat Gala sedikit tidak suka. Bagaimanapun ceritanya Zahran dan Reni pernah dekat sejak SMA sampai hampir menikah.
"Kenapa kamu memilih mundur dari pernikahan dengan Zahran?" tanya Gala ingin tau mengapa wanita itu memilih mundur saat itu.
"Aku dan semua orang pasti tau bahwa yang di cintai Zahran bukan aku tapi Kaylin, Zahran hanya salah orang, aku tidak ingin menikah dengan lelaki yang tidak mencintaiku."
"Tapi Zahran waktu itu tidak mau mundur, dia mempertahankan kamu."
"Dia hanya berpura-pura bahagia, aku tidak ingin hidup dengan lelaki yang berpura-pura bahagia atau mencintai aku."
Gala terdiam mendengar ucapan terakhir Reni. Entah mengapa hatinya begitu takut jika wanita itu tau yang sebenarnya.
"Emang apa yang kamu lakukan seandainya kamu waktu itu nggak tau Zahran berpura-pura, kamu menikah lalu taunya setelah menikah?"
"Aku akan meminta cerai, aku tidak suka di bohongin, makanya ketika tau Zahran membohongi dirinya sendiri aku memilih mundur.
Gala semakin diam mendengar jawaban istrinya. Dia kembali memasang perban di kaki istrinya setelah memberikan salep.
"Reni tidak boleh tau jika aku hanya berpura-pura mencintainya, jika dia tau maka rumah tangga kamu bisa hancur." ucap Gala dalam hatinya.
Gala dengan cepat menarok salep dan yang lainnya ke kotak P3K. Lalu dia berbalik hendak tidur. Namun niatnya untuk tidur tidak jadi karena melihat nasi Reni masih utuh.
"Kenapa belum di makan nasinya?" tanya Gala kepada istrinya.
"Pengen di suapin Abang." ucap Reni sambil tersenyum.
Gala tersenyum mendengar jawaban istrinya. Dia berjalan mengambil nasi yang sudah ada di nakas kamarnya. Dia mulai menyuapi sang istri tanpa ada keberatan sama sekali.
__ADS_1