
Setelah jenazah Beni di bawa ke makam,Gala lansung mengajak Reni untuk pulang. Dia tidak ingin istrinya kelelahan karena sedang hamil tua.
Reni hanya patuh kepada sang suami. Karena sebenarnya sejak tadi sang suami mengajaknya pulang. Namun ia masih enggan untuk pulang.
Akan tetapi dia paham kenapa suaminya berbuat seperti itu. Saat Reni melangkah kakinya untuk naik mobil, tiba-tiba perutnya terasa sangat sakit sekali.
"Mas sepertinya waktunya aku melahirkan, sakit banget." Reni meringis menahan sakit
Gala yang trauma dengan mimpinya lansung panik. Dia lansung membantu saya sang istri naik ke dalam mobil.
"Ayo pak, kerumah sakit terdekat."
Gala mencoba menghubungi Zahran agar menghubungi dokter kandungan Reni. Dia ingin semua di permudah sehingga istrinya tidak menahan sakit terlalu lama.
"Sakit yang?" tanya Gala panik.
"Iya, tapi kamu jangan panik kayak gitu, santai aja." jawab Reni tersenyum melihat suaminya yang panik.
Melihat Reni senyum membuat Gala merasa aneh.
"Masih bisa aja dia senyum saat kondisi seperti ini." bathin Gala.
Walaupun sakit, Reni mencoba untuk tenang. Dia tidak ingin sang suami semakin parno. Dia hanya menarik nafas dengan perlahan lalu membuangnya dengan perlahan. Tidak lupa dia melantunkan shalawat dalam hatinya.
Mobil berhenti di depan iGD. Perawat sudah menunggu dan siap membawanya ke ruang bersalin.
Ketika di dalam ruang bersalin, dokter malah takut karena adanya Gala. Gala terlalu banyak perintah sehingga mereka bingung mengambil tindakan.
"Gimana ini dok? Kok anaknya belum keluar juga, lakukan sesuatu cepat agar istriku tidak kesakitan."
"Pak ini masih pembukaan tiga."
"Kamu lakukan sesuatu agar cepat, kamu nggak liat istri aku kesakitan."
Melihat Gala yang memerintah tidak jelas kepada dokter dan perawat membuat Reni semakin pusing. Dia tau bahwa dokter yang menanganinya tidak fokus karena perintah Gala yang tidak ada dasarnya.
"Bang kamu keluar aja deh." ucap Reni.
"Kamu kenapa sayang? Abang kenapa harus keluar? Abang harus memastikan kamu baik - baik saja, jika terjadi dengan kamu maka Abang tidak akan memberi ampun kepada mereka."
Bukannya semakin senang akan tetapi membuat Reni semakin stress melihat ulah Suaminya. Reni akhirnya menyuruh perawat untuk memanggil Zahran atau papa mertuanya.
"Sok tolong panggil dokter Zahran atau dokter Amar atau mama mertua saya." ucap Reni yang tau keluarganya menunggu di luar.
"Buat apa panggil mereka sayang?"
__ADS_1
"Kamu bisa diam nggak bang? Pusing aku dengar kamu ngerocos aja dari tadi." ucap Reni mulai kehabisan kesabaran.
"Sayang."
"Diam di situ, jika tidak kamu keluar saja, aku pusing mendengar kamu ngomel terus sama dokter."
Mendengar istrinya marah membuat Gala terdiam. Dia cerewet karena kuatir dengan kondisi istrinya. Dia tidak ingi kejadian di mimpinya terjadi di kehidupan nyata.
Perawat yang di perintah oleh Reni telah masuk kembali membawa mama Gala. Mama Gala bingung kenapa sang menantu memanggil salah satu di antara mereka.
"Kenapa sayang?" tanya mama Gala.
"Ma tolong bawa bang Gala keluar, dia berisik buat aku nggak konsentrasi." adu Reni.
"Sayang abang tetap di sini, jangan usir Abang." ucap Gala memohon.
"Dia buat ulah apalagi?" tanya Zahran yang baru saja masuk sebagai direktur utama rumah sakit.
"Dokter mengalami kerumitan karena bang Gala marah - marga terus, memerintahkan dokter yang tidak ada pada dasarnya." jawab Reni.
"Benar begitu dok?"
"Iya pak, kami akhirnya bingung dan serba salah, masa baru pembukaan tiga ,tapi pak Gala sudah meminta kami melakukan agar bayinya secepatnya lahir."
Zahran menghela nafas saat mendengar jawaban sang dokter.
"Nggak aku akan di sini menemani Reni." jawab Gala.
Gala menatap mata istrinya agar membolehkan dia tetap berada di sana.
"Yang boleh ya, Abang janji tidak akan macam-macam."
"Nggak, tetap aja mereka tidak nyaman bekerja semestinya karena ada kamu di sini."
"Yang."
"Ayo keluar, biar mama yang temani istri kamu.'
"Yang, aku janji hanya akan menatap kamu, bolehkan ya
" Gala mulai memohon.
Selama hidupnya dia tidak pernah memohon seperti ini kepada seorang wanita. Melihat sang suami yang memohon akhirnya dia luluh.
"Ya sudah, tapi janji jangan bawel."
__ADS_1
"Makasih sayang." ucap Gala akhirnya mencium istrinya.
Zahran akhirnya keluar sedangkan mama Ami tetap di dalam menemani Reni. Sedangkan dokter mengambil nafas panjang. Karena walaupun Gala hanya diam di sana, tapi kehadiran Gala di ruangan itu saja sudah membuat aura ruangan itu senyap dan tidak enak.
Tiga puluh menit kemudian akhirnya Reni melahirkan anak laki-laki. Gala begitu senang saat melihat anaknya telah lahir. Dia juga mengazankan sang anak dengan terharu.
Sementara Mama Gala selalu memantau keadaan Reni. Dia tau kondisi menantunya lelah.
Selama satu jam setelah melahirkan, Gala tidak pernah pergi dari sisi Reni. Bahkan dia selalu memeriksa denyut nadi Reni ketika Reni tertidur akibat lelah.
"Sudah, nggak usah di periksa terus, dia senang lelah." ucap mamanya.
"Aku takut dia pergi ma, aku selalu ingin menjaganya."
"Bagus, sayangi istri kamu, kamu liat bagaimana Reni berjuang melahirkan buah hati kalian."
"Iya ma, makasih ma dan maaf jika aku sering mengecewakan mama."
Semua keluarga begitu senang atas kelahiran cicit dari keluarga Kusuma.Mereka berbahagia atas bertambahnya anggota keluarga baru.
Reni begitu senang ketika Gala membawa anaknya. Anaknya sangat mirip dengan sang suami.
"Terima kasih sayang, kamu wanita hebat." ucap Gala mencium kening Reni.
"Sama - sama bang, siapa nama anak kita?"
"Faresta Sky Alkahfi." ucap Gala tersenyum.
"Faresta Sky Alkahfi Kusuma." ralat Amar yang baru datang.
Ami tersenyum menatap suaminya karena suaminya memang tidak pernah membedakan Gala dengan Momo walaupun anak sambung. Dan Amar juga selalu memasukkan Gala sebagai cucu Kusuma.
"Makasih pa." ucap Gala begitu bangga dengan papanya.
"Sama - sama boy."
Reni sangat bahagia berada di keluarga ini. Mereka tidak pernah membedakan status suaminya. Berbeda dengannya dulu, keluarga papanya sambungnya tidak pernah menganggap dia bagian dari keluarga.
"Terima kasih ya Allah atas kebahagiaan ini, semoga kebahagiaan ini selalu kekal, dan aku dan bang Gala selalu mencintai di dunia dan akhirat, Aamiin." doa Reni dalam hatinya.
Begitu juga dengan Gala, dia juga rasa bersyukur telah memiliki Reni dalam hidupnya. Walaupun pernikahan mereka di awalin dengan keterpaksaan dan kepura-puraan namun akhirnya mereka bahagia.
"Makasih ya Allah telah menghadirkan istri dan anak kenapa hamba, semoga keluarga hamba dalam lindunganmu selalu, Aamiin.
Tamat
__ADS_1
Jangan lupa novel terbaru Volume cinta Dania.