
Setelah beberapa hari setelah Reni tinggal di rumahnya. Dia tidak pernah keluar dari rumahnya. Namun ada banyak hal yang tidak dalam. pemikirannya.
Ternyata keluarga papanya tidak suka dengan kembalinya Reni ke rumah ini. Dari pihak keluarga papanya, ingin papanya menikah dengan seorang wanita muda.
Menurut mereka wanita itu yang akan mengurus Rudi. Reni mendengar sendiri kakak dan adik - adik papanya menyuruh lelaki itu menikah kembali.
"Kamu harus menikah dengan Hera, dia wnaita baik dan masih muda, kamu masih bisa memiliki anak dari dia."
"Aku tidak mau, aku sangat mencintai Dinda."
"Kamu ini ngeyel, dari dulu keluarga tidak ada yang suka dengan Dinda, dia nggak bisa melahirkan anak untuk kamu, dan kamu juga nggak bisa tinggal di rumah ini berdua dengan anak tiri kamu, ingat dia anak tiri kamu, apa kata orang nanti."
"Bang, Reni aku yang membesarkan, dia anak aku."
"Sudahlah bang, jangan buat kita bergaduh lagi, mama itu sakit - sakitan, apa salahnya kamu menyenangkan mama." ucap adik wanitanya.
Reni tidak sanggup mendengar semua itu. Dia pergi ke kamarnya. Dia merasa semua masalah datang bertubi-tubi kepadanya setelah mamanya pergi.
"Ma kenapa mama pergi begitu cepat?" tanya Reni menatap foto mamanya.Reni menangis sekali lagi.
"Ma ternyata tidak ada yang mencintai aku seperti kamu mencintaiku ma, semua hanya kamuflase, aku nggak tau lagi ma." ucapnya menangis sesenggukan.
Berhari-hari Reni mengurung dirinya di kamarnya. Dia tidak ingin keluar dari kamar apalagi rumah. Baginya hanya kamarnya tempat aman untuk melindungi dirinya. Apalagi semenjak keponakan papa sambungnya tinggal di rumah itu.
Alan Adha pernah datang kerumahnya untuk mengajaknya tinggal bareng. Tapi ia tidak ingin bergabung dengan keluarga itu lagi. Karena bagaimanapun Alan Adha adalah bagian dari keluarga Kusuma.
Reni berjalan dengan mengendap - endap menuju dapur. Malam ini dia sangat kehausan. Tidak ada air lagi di dalam kamarnya.
Tiba-tiba ada yang memeluknya dari belakang. Ruangan dapur memang agak gelap karena sumber pencahayaan di dapur sengaja di matikan.
"Siapa kamu?" teriak Reni.
"Huss, tidak usah teriak - teriak, hujan - hujan begini lebih enak jika kita memanaskan tubuh kita masing-masing." Reni mendengar suara serak lelaki itu.
Reni tau bahwa itu pasti suami keponakan papanya.
Yah wnaita yang berstatus keponakan papanya tinggal dengan membawa suaminya. Reni tidak begitu peduli dengan keponakan papanya itu.
__ADS_1
"Lepaskan saya."
Reni di tarik menuju ke sebuah kamar dengan mulut di bekap. Reni tau bahwa itu adalah kamar mereka.
Lelaki bernama Wijin itu mendorong tubuh Reni ke atas ranjang. Semenjak pindah keruang mewah itu, dia memang tertarik dengan tubuh wanita itu. Baginya tubuh Reni jauh lebih menarik daripada istrinya.
Biasanya ia hanya bisa berkhayal namun malam ini dia bisa menikmatinya. Dia tau bahwa istri dan pamannya tidak akan pulang dalam waktu dekat karena ada acara keluarga yaitu pernikahan Rudi sendiri dengan Hera.
"jangan mendekat." ancam Reni.
"Jangan jual mahal sayang,aku tau kamu juga menginginkan aku, aku akan memberikan apa yang tidak di berikan oleh suami kamu itu." ucap lelaki itu membuka bajunya.
Reni mencoba melawan Wijin sekuat tenaganya. Dia mencoba berteriak sekencang-kencangnya agar ada yang mendengar.
Ketika Wijin merapatkan tubuhnya dengan Reni, tiba - tiba kepalanya terasa sakit.
Reni memukul kepala lelaki itu dengan vas bunga. Dia lansung berlari setelah lelaki itu kesakitan menahan kepalanya yang berdarah.
"Tolong, tolong." teriak Reni sambil berlari sekuat tenaganya. Reni menangis ketakutan.
Reni melihat semua bodyguardnya terkulai lemas di kursi. Reni mencoba membangunkan mereka. Namun tidak ada satupun yang terbangun.
"Tolong." teriak Reni.
Ketika Wijin mendekati Reni, Reni sangat ketakutan sehingga dia pingsan.
Zahran yang baru datang ke sana sangat kaget melihat Reni jatuh pingsan. Dia juga melihat lelaki asing memapah Reni ke dalam rumah.
Zahran mencoba menelpon papa Reni. Namun tidak di angkat. Zahran mencoba menelpon Gala untuk meminta pertolongan.
Zahran dengan cepat mencoba memanjat pagar rumah Reni. Dia tidak ingin terjadi sesuatu hal yang tidak di inginkan.
"Hei apa yang anda lakukan? Anda mau maling?" tanya satpam komplek sedang berkeliling ronda.
"Pak di dalam rumah ini ada wanita meminta pertolongan, semua bodyguardnya pingsan pak, sepertinya ada maling di dalam."
"Wah saya akan mencari bantuan."
__ADS_1
Sarapan tersenyum dengan Segeran mencari bantuan. Tidak butuh lama banyak warga yang keluar dari rumah. Nampak beberapa sekuriti komplek datang membantu.
Zahran berhasil masuk kedalam rumah. Dia lansung berlari kedalam rumah. Dia menggempalkan kepala tinjunya saat melihat lelaki yang tidak dikenalnya berniat menyentuh Reni. Lelaki itu sudah dalam keadaan telanjang ingin membuka baju Reni.
Zahran lansung menerjang lelaki itu dengan sekuat mungkin. Dia merasa tidak sia - sia di latih bela diri sejak kecil oleh papanya.
"Siapa kamu?"
"Tidak penting siapa saya, saya akan menolong wnaita ini." ucap Zahran.
Lelaki itu mencoba memakai celananya kembali namun Zahran tetap menerjangnya tidak ampun.
Lalu beberapa orang sudah bisa masuk menahan Zahran. Dan beberapa security juga membawa Wijin.
Zahran segera membawa Reni kerumah sakit. Dia tau bahwa wanita ini sedang syok.
Zahran menatap Renidi kursi penumpang. Walaupun harus membobol pagar besi memakan waktu namun akhirnya warga berhasil.
Setelah sampai di rumah sakit, Reni lansung di tangani oleh tenaga medis. Zahran masih menunggu di luar.
"Ada apa dengan Reni?" tanya Gala datang bersama dengan keluarganya. Zahran juga melihat tantenya juga di sana yaitu Bella Kusuma.
Di sana juga ada Rudi papa sambungnya Reni dan beberapa orang lainnya.
Zahran menceritakan semuanya dengan rinci. Namun salah seorang wanita nampak tidak terima dengan Tuhan yang diberikan oleh Zahran.
"Itu tidak mungkin, pasti wanita itu yang menjebak suami aku."
"Hei jaga mulut anda." ucap Gala tidak terima dengan tuduhan itu.
"Semua orang tahu dia anak hasil Zina, aku yakin bahwa dia sama seperti mamanya." ucap wanita itu.
"Iya, kamu benar pasti dia yang menggoda Wijin." ucap salah seorang lelaki yang nampak lebih tua. Dia papanya wnaita itu.
"Terserah anda, tapi biar saja semua di selesaikan di kantor Polisi." ucap Zahran.
Alan geram melihat Rudi yang tidak becus menjaga Reni.
__ADS_1
"Jika terjadi apa-apa dengan Reni, maka kamu tidak akan bisa bertemu Reni lagi." ucap Alan mengancam Rudi.
Rudi hanya terdiam merasa bersalah. Semua karena ia mengikuti kemauan keluarganya. Dia mengizinkan keponakan dan suaminya tinggal agar tidak ada yang berpikiran buruk tenang dirinya dan Reni. Tapi malah terjadi sesuatu yang lebih parah dari dugaannya.