Wanita Bernasab Ibu

Wanita Bernasab Ibu
Kepergian selamanya


__ADS_3

Dinda tersenyum senang ketika melihat anaknya sudah menjadi istri. Keinginannya selama ini telah terwujud.


Dinda, Gala dan Rudi sang suami nampak duduk bertiga. Disana tidak nampak Reni sama sekali. Mereka tampak berbicara serius sekali.


"Nak mohon jaga Reni dengan baik, cintai dia setulusnya, Reni anak yang baik, kamu tidak akan menyesal karena telah memilih diam" ucap Dinda kepada Gala.


"Iya Tan, aku akan jaga Reni sebaik mungkin."


"Panggil mama, masa masih panggil Tante." ucap Dinda menegur menantunya.


"Iya ma."


"Kamu harus janji sama mama akan setia sama Reni."


Gala agak tertegun mendengar ucapan yang keluar dari mulut mertuanya itu. Tapi dia tidak punya pilihan selain mengiyakan.


"Iya ma."


Dinda tersenyum mendengar jawaban yang diberikan oleh sang menantu. Gala melihat betapa mertuanya itu sangat senang sekali.


"Terima kasih telah memilih Reni." ucap Dinda menatap Gala, lalu pandangan beralih kepada suaminya.


"Mas terima kasih telah menjadi suami yang baik, yang mau menerima aku walau dalam kekurangan."


"Kamu itu sempurna sayang, jangan ngomong aneh-aneh." ucap suaminya tidak suka mendengar Dinda berbicara seperti itu.


"Aku capek mas, tolong antar aku tidur." ucap Dinda.


Rudi membantu sang istrinya untuk membawa ke kamar. Dia tau bahwa istrinya belum pulih dan masih butuh perawatan.


Gala kembali berjalan menuju ke tempat Reni dan keluarganya. Tadi ia memang di panggil mama mertuanya sebentar.


Ia tau bahwa Reni tidak akan kesusahan untuk dekat dengan keluarganya. Karena Reni dan keluarganya telah sering berkumpul bersama.


"Ini ada hadiah dari om." ucap Alan memberikan sebuah amplop.


Reni tersenyum ketika melihat sebuah tiket liburan. Berbeda dengan wajah Gala yang hanya tersenyum terpaksa.

__ADS_1


"Gala mama sudah siapkan semua Perlengkapan Reni di rumah, dan untuk barang - barang Reni mama akan mengaturnya semua." ucap mama Ami.


"Makasih ma." ucap Reni senang.


Sebagai seorang istri tentunya ia akan ikut kemana suami pergi. Dia tidak akan membantah kemanapun suaminya mengajak pergi, tapi ia berharap masih tinggal di kota yang sama dengan mamanya.


Sedangkan di kamar Rudi melihat Dinda sudah tertidur nyenyak. Rudi meninggalkan istrinya menuju kamar mandi. Entah mengapa hari ini dia merasa gerah dan perasaannya juga tidak enak sejak tadi.


Sekitar 15 menit di kamar mandi, Rudi kembali keluar dari kamar mandi. Ia nampak lansung mencari baju di lemari.


Setelah memakai baju lengkap, Rudi berjalan mendekati istrinya. Dia tidak punya pilihan selain menjaga istrinya. Dia tau bahwa seluruh keluarga akan paham kenapa dirinya tidak bisa bergabung dengan yang lainnya.


Rudi merasa aneh ketika melihat istrinya tertidur tenang. Dia tidak melihat ada gerakan di perutnya seperti orang tidur pada umumnya.


Rudi lansung mengecek denyut nadi sang istri. Hatinya begitu hancur ketika mengetahui fakta bahwa istrinya telah tiada.


"Sayang bangun, sayang bangun, mas tau kamu bercanda, ayo bangun sayang." ucap Rudi tanpa sadar telah mengeluarkan air mata.


Dia tidak menyangka bahwa sang istri akan pergi terlebih dahulu meninggalkannya. Rudi menangis membangunkan sang istri.


Mendengar suara tangisan Rudi membuat yang lain ikut mendengarkannya.


Reni sangat syok melihat papanya menangisi sang mama yang terdiam di kasur. Mamanya hanya menutup mata tanpa adanya pergerakan apa - apa.


"Mama kenapa pa?" tanya Reni.


"Mama kamu telah pergi Ren, mama udah meninggalkan kita." ucap Rudi.


Reni tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Reni lansung memeluk mamanya. Hatinya terasa hancur ketika melihat mamanya terbujur kaku.


"Kenapa mama malah pergi meninggalkan aku ma? Kenapa mama pergi setelah melihat aku menikah, padahal mama aku janji untuk sembuh." ucap Reni menangis histeris.


Reni berpikir dengan ia menikah dengan Gala maka mamanya akan menemaninya sampai tua.


Reni menangis membuat orang yang mendengarkan pilu. Ami segera memeluk sang menantunya.


"Sabar sayang, mama kamu telah tenang."

__ADS_1


"Iya, kamu yang sabar ya Ren, masih ada Tante dan yang lainnya bersama kamu." ucap Tante Bella menghibur Reni keponakan suaminya.


Alan Adha hanya terdiam di dengan mata memerah. Dinda adalah sepupu jauhnya. Tapi baginya Dinda sudah seperti adiknya karena mereka memang sering bersama semenjak kecil.


Semenjak Dinda di tinggal orang tuanya, Alan memang sangat ingin menjaga adik sepupunya itu. Makanya dia juga sangat menyangka Reni sama seperti anaknya.


Melihat Reni menangis membuat hatinya hancur. Reni keponakannya yang malang baginya karena sejak dulu selalu di hina orang lain karena terlahir tanpa ayah. Reni yang memakai nama keluarga ibunya di akte kelahirannya.


"Ma bangun ma, mama harus bangun, mama harus liat cucu mama." ucap Reni.


Alan mendekati sang keponakannya. Melihat Akan mendekat membuat Ami menjaga jarak.


Alan lansung memeluk keponakannya dengan erat. Reni menangis di pelukan omnya. Sejak dulu memang Reni begitu di sayang oleh papa sambungnya dan omnya Alan Adha.


"Kamu masih punya om, kamu yang sabar biarkan mama kamu pergi dengan tenang." ucap Alan.


Azzam nampak sibuk menghubungi sang security rumah. Dia ingin mengabarkan kepada seluruh penghuni rumah dan tetangga yang lain.


Begitu juga dengan Azzura yang sibuk menelpon keluarga besarnya yang di Bandung.


Tetangga yang sudah mengetahui tentang kabar duka sudah mulai datang satu persatu. Di antara pelayat, Reni juga melihat ibu - ibu yang menjadi teman mamanya sejak dulu. Reni nampak kurang menyukai mereka karena bagi Reni mereka adalah tukang gosip yang tidak habisnya.


"Benarkan karma, buktinya Allah malah mengambil dia di saat anaknya baru menikah." bisik Mini.


"Iya, saya yakin Reni juga sama, dia pasti sering menggoda lelaki makanya para lelaki itu pada mau dengannya."


Reni tidak tahan mendengar gosip ibu Mini dan kawan - kawannya. Dia heran kenapa ketika duka cita mereka selalu menyempatkan diri untuk hadir.


Reni yang kehabisan kesabaran lansung berdiri. Dia sudah tidak tahan lagi melihat mereka. Dia ingin selalu menarik mereka bertiga karena selalu membuat kekacauan dan telah menghasut yang lainnya.


Gala yang melihat itu lansung menarik sang istri. Dia tidak ingin melihat Reni mempermalukan dirinya sendiri di hadapan orang banyak.


"Jangan di ladeni."


Lelaki itu menghapus air mata sang istri. Setelah itu dia membawa sang istri kedalam pelukannya.


Entah mengapa setelah di peluh suaminya, Reni merasakan kenyamanan. Sedangkan Gala merasa ada yang aneh di hatinya.

__ADS_1


"Kamu yang sabar, nggak usah marah-marah nanti kamu juga jatuh sakit." ucap Gala begitu merdu di telinganya.


__ADS_2