
Sudah beberapa bulan setelah kepergian mamanya. Reni sudah menetap di rumah mertuanya. Amar tidak ingin Gala dan Reni tinggal di tempat lain. Karena rumah mereka terlalu besar untuk di tinggalin berdua.
Rumah peninggalan papa dan mamanya itu telah di renovasi. Amar memang senang tinggal di sana. Padahal dia telah membeli rumah di tempat lain. Namun ia tetap saja tinggal di rumahnya itu.
Sudah beberapa hari Reni tinggal di sana. Beberapa Minggu setelah kepergian mamanya dia masih tinggal di rumah mamanya. Dia tidak tega harus meninggalkan papanya sendirian.
Setelah beberapa Minggu, akhirnya papanya menyuruh Reni pindah ikut suaminya. Papanya tidak mau ikut dirinya karena masih ingin sendiri. Di rumah itu terlalu banyak kenangan bagi papa dan mamanya.
Reni memahami perasaan hati papanya. Dia begitu tau bahwa papanya sangat menyayangi mamanya dengan tulus.
"Kamu mikirin apa?" tanya Ami melihat menantunya melamun.
Semenjak tinggal di rumahnya, Ami sering melihat menantunya melamun. Dia tau bahwa sang menantu masih dalam berduka.
"Nggak apa-apa ma."
"Mama paham kamu masih dalam berduka, namun sampai kapan? Mama kamu akan bersedih melihat kamu seperti ini." ucap mama Ami.
Reni hanya diam mendengar ucapan mama mertuanya. Dia tidak mungkin menjawab ucapan sang mertua.
"Kamu tau kenapa Allah memanggil mamamu, karena tugas mamamu telah selesai, mamamu telah mengantarkan kamu sampai ke pernikahan." ucap mama Ami.
"Ya ma, aku minta maaf."
"Kamu tidak perlu meminta maaf kepada Mama karena kamu tidak salah, mama hanya ingin kamu bangkit dari keterpurukannya kamu, mama paham sekali kamu sulit bangkit, karena kepergian mama kamu rasanya hampir membawa separuh hidup kamu."
"Makasih ma, aku pamit ke atas dulu ma."
Setelah berpamitan, Reni berjalan menuju kamarnya. Reni masuk ke kamarnya dan melihat Gala telah berpakaian rapi.
Reni hanya diam duduk di sofa yang ada di kamarnya. Sedangkan Gala hanya melirik sebentar lalu fokus ke penampilannya.
Reni yang baru menikah sebulan dengan lelaki itu merasa jenuh. Dia merasa suaminya begitu sibuk dengan pekerjaannya saya tampak tidak begitu peduli dengan dirinya.
Sejak menikah bahkan mereka belum pernah melakukan hubungan suami istri. Dia mengerti mungkin Gala suaminya tau bahwa dirinya sedang dalam keadaan berduka.
__ADS_1
"Bang nanti pulang jam berapa?" tanya Reni bertanya terlebih dahulu.
"Sepertinya agak malam, kamu nggak usah tungguin Abang ya, makan dan tidur aja dulu." ucap Gala tanpa menoleh kepada sang istri.
Reni sendiri bingung dengan sikap suaminya. Ketika awal pernikahan, Gala memang begitu peduli dengannya. Namun setelah mereka berantem kemaren, nampak lelaki itu tidak begitu peduli lagi.
"Kamu kenapa sih bang? kenapa begitu cuek dengan aku?"
Gala membalikkan badannya setelah mendengar ucapan Reni. Dia tersenyum mengejek mendengar ucapan istrinya.
"Bukankah ini yang kamu mau? kamu sendiri yang meminta aku tidak usah pedulikan kamu, kamu tidak ingat perkataan kamu kemaren?" tanya Gala.
Reni memang mengetahui kesalahannya kemaren. Dia begitu saja berbicara seperti itu tanpa memikirkan perasaan suaminya.
"Katanya kamu mencintai aku, tapi baru segitu kamu sudah tidak peduli dengan aku "
Ucapan Reni bagaikan cambuk baginya. Gala baru ingat bahwa dia dulu mengatakan hal seperti itu kepada wanita itu. Gala pusing sendiri mendengar ucapan Reni karena sampai sekarang ia masih belum mencintai wanita itu.
"Apa kamu sudah tidak mencintai aku lagi? Cuma segitu perasaan kamu kepada aku?" tanya Reni agak mencemooh.
Gala berjalan mendekati Reni. Dia menarik Reni menuju sebuah kaca.
Dia melihat penampilannya yang begitu berantakan. Ini memang sangat berantakan. Reni seperti tidak melihat dirinya sendiri.
"Ini bukan masalah fisik, jangan kamu mengira aku mencintaimu karena fisik, tapi apakah dengan melihatmu seperti ini akan membuat aku nyaman melihat kamu, kamu sendiri yang membuat aku malas untuk melihat kamu." ucap Gala.
Reni menangis mengeluarkan air matanya. Entah kenapa hatinya begitu sakit mendengar ucapan sang suami.
"Ternyata memang tidak ada yang tulus mencintai aku selain membuat sendiri." ucap Reni lansung duduk di lantai.
Dia memeluk lututnya lalu menangis. Gala yang melihat itu menjadi kesal sendiri.
"Kamu jangan membuat aku seolah - olah aku begitu jahat kepadamu, Kamu sendiri yang membuat tembok sehingga seperti ini." jawab Gala.
Reni hanya diam tanpa menjawab ucapan Gala. Dia tidak tau lagi harus seperti apa. Yang dia rasakan hanya ada kekosongan.
__ADS_1
Gala yang melihat itu menjadi tidak tega. Dia yang membuat sandiwara ini. Reni tidak pernah memaksanya untuk menikahinya. Dia sendiri yang datang dan berpura-pura mencintai wanita itu.
"Ini semua ide gila Tante Bella, aku kira tidak akan serumit ini, namun ini lebih rumit daripada PR matematika."ucap lelaki itu di dalam hatinya.
Dia mendekati Reni dan memeluk memeluk wnaita itu. Dia tidak ingin ingin Reni tau bahwa ia hanya berpura-pura. Dia tidak tega jika wanita tau bahwa dia tidak pernah menyukai wanita itu.
"Udah, jangan menangis lagi." Gala mengusap rambut wanita itu.
"Bau, belum mandi berapa bulan ini." ucap Gala sambil tersenyum karena bercanda.
Reni yang mendengar ucapan Gala lansung mencubit perut lelaki itu.
"Awww sakit sayang." ucap Gala mengusap perutnya.
"Biarin, seenaknya bicara, aku walaupun begini tetap mandi ya."
"Ohw mandi ya, kirain nggak mandi, soalnya kusut banget." ucap Gala tersenyum.
"Ya Allah tolong kembalikan kecantikan istriku." ucap Gala membuat Reni tertawa
Melihat wanita itu tertawa untuk pertama kalinya setelah kepergian mamanya membuat hati Gala menghangat.
Reni tersenyum lagi menatap Gala sehingga Gala membalas senyuman wanita itu.
"Lebih cantik begini, janji setelah ini harus lebih banyak senyum." ucap Gala mengangkat kelingking kanannya.
"Iya, aku akan memulai hidup baru dengan kamu, aku janji tidak akan seperti ini lagi." ucap Reni.
"Bagus."
"Berjanjilah bawah kamu tidak akan pernah meninggalkan aku." ucap Reni membuat senyum di wajah Gala menghilang.
Gala tidak tau harus menjawab apa. Dia memang belum ada untuk meninggalkan wanita itu. Namun di hatinya yang paling dalam tidak ada cinta untuk wanita itu.
"Kenapa Abang diam aja? Apa Abang nggak mau selamanya bersama aku?" tanya Reni yang juga tampak murung tiba-tiba.
__ADS_1
"Nggak, tentu aja kita akan selamanya bersama." ucap Gala tiba-tiba memaksakan senyumnya.
Gala kembali memeluk Reni. Tidak ada senyum di bibirnya. Yang ada hanya kekhawatiran jika wanita itu tau bahwa dia tidak pernah mencintai wanita itu.