
Momo sejak tadi hanya berada dalam pelukan suaminya. Istri kecilnya nampak ketakutan. Di antara cucu Hendra Kusuma, memang Momo yang paling kecil. Akan tetapi dia menikah terlebih dahulu karena cintanya yang besar kepada Rey.
Rey yang paham akan ketakutan sang istri tetap memeluknya. Dia juga mengusap punggung istri agar bisa tertidur karena sudah larut malam.
Gala duduk di depan sesekali melihat ke belakang. Dia merasa kasihan melihat adiknya yang terlihat trauma. Walaupun adiknya sudah menikah, namun baginya Momo adalah adik kecilnya.
Melihat Momo tertidur dalam pelukan Rey, membuat Gala terbayang sang istri di rumah.
"Sedang apa dia di rumah ya?" bathin Gala ingin memeluk dan mencium istrinya.
Beberapa Mobil masuk ke dalam rumah Amar Kusuma. Semua cucu lelaki Kusuma masuk kedalam rumah. Rumah nampak sepi karena Mezza dan yang lain nampak sudah pulang.
Gala lansung ke kamar untuk menemui sang istri. Sedangkan Momo lansung dibawa ke kamar oleh Rey. Zayyan dan Zahran serta Azam lansung bergabung dengan golongan tua yaitu Amar, Alan, Galuh beserta istrinya masing-masing.
Tidak lama kemudian, Gala berlari turun kebawa. Dia nampak panik sekali.
"Ada apa?" tanya mamanya.
"Reni tidak ada, Reni tidak ada di kamar ma, Reni di culik." jawab Gala ketakutan.
Mama Ami yang tadinya baru kehilangan anaknya lansung pingsan ketika mendengar menantunya yang hilang. Amar lansung membopong istrinya ke atas sofa.
"Kamu yang benar Ga?" tanya Zahran tidak percaya.
"Iya, Aku sudah mencarinya dan malah menemukan ini."
"Kumpulkan semua anggota kita, retas dengan cepat CCTV jalan." perintah Galuh Kusuma.
Zayyan lansung menelpon anak buahnya. Kali ini dia tidak mau kehilangan Reni terlalu lama.
__ADS_1
Setelah menelpon, Gala nampak sedang memerintahkan anak buahnya secara langsung.
"Cepat kalian temukan istri saya, saya tidak mau ada kecerobohan." ucap Gala.
Ponsel Alan berbunyi kembali. Dia melihat ada nomor tidak di kenal masuk menelponnya.
"Hallo, assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, ini aku Beni, tolong selamatkan anak aku lan." ucap Beni.
Alan agak bingung dengan ucapan Beni. Namun pikiran Alan segera ke kejadian hilangnya Reni.
"Maksudnya kamu Reni?" tanya Alan.
"Iya, aku takut terjadi apa-apa dengan anakku, anakku di culik oleh Claudia, dia sudah bebas dari penjara, dan dia ingin balas dendam kepadaku lewat Reni."
"Alan, kamu dengar aku, waktunya aku hampir habis, aku tidak akan di izinkan lagi menelpon, aku yakin bahwa Ken menantuku tau kemana Claudia membawa anakku."
"Kemana memang?"
"Claudia membawanya ke rumah di mana kami di tangkap, aku sudah melaporkan kepada polisi, akan tetapi mereka tidak percaya dengan Narapidana macam aku ini." ucap Beni dengan perasaan sedih.
"Baik, kami akan ke sana."
Alan menutup sambungan teleponnya. Semua mata tertuju kepadanya karena menunggu berita dari lelaki itu.
"Kata Beni, Reni di culik oleh Claudia."
"Claudia? emang apa yang di lakukan Reni kepadanya?" tanya Bella.
__ADS_1
"Iya, baru saja Momo di temukan, eh sudah hilang pula Reni." ucap Zahran.
"Claudia memanfaatkan situasi malam ini, dia tau pengawal kita sedang fokus mencari Momo."
"Ayo kita ketempat kejadian Beni di tangkap, kemungkinan Reni di bawa ke sana." ucap Alan.
Tiba-tiba ponsel Zayyan berdering kemb ali. Zayyan merasa senang karena anak buahnya berhasil menemukan Reni. Saat ini anak buahnya sedang berantem dengan anak buah Claudia. Dan mereka ingat tambahan anak buah.
Zayyan segera meminta anak buah keluarga Arkarna. Sebenarnya anak buah dari keluarga Kusuma masih banyak. Namun Zayyan tidak mau kejadian seperti Reni terulang lagi.
Zayyan ingin beberapa anak buah keluarganya masih ada yang berjaga di rumah mereka masing-masing untuk melindungi istri dan anak - anaknya.
"Ayuk berangkat." ucap Zayyan
Semua para lelaki berdiri dari duduknya. Zahran berhenti sejenak.
"Ada apa lagi? ayo cepat." ucap Gala.
"Tunggu ada yang nggak beres." ucap Zahran.
"Apalagi?" tanya Gala tidak sabar.
"Ini biar yang muda yang pergi, yang sudah merasa tua tetap di rumah." ucap Zahran merasa ada yang tidak beres
"Hey aku ini masih muda." jawab Alan tidak terima.
"Papa di rumah aja jaga mama, ini tugas kami yang muda, tolong lantai Shena dan anak - anakku pa." kali ini yang berbicara adalah Azzam Adha.
"Baiklah, kalian hati - hati." ucap Alan Adha akhirnya mengikuti ucapan anak dan keponakannya. Begitu juga dengan Galuh Kusuma. Dia juga duduk kembali. Padahal ia sudah lama tidak menyalurkan hobinya dalam membantai ornag lain.
__ADS_1