Wanita Bernasab Ibu

Wanita Bernasab Ibu
Bab 29


__ADS_3

Setelah kejadian penculikan itu, Gala Sky lebih over protektif terhadap Reni. Kemanapun Reni selalu ada bodyguard.


Reni terkadang merasa terkekang. Namun ia senang karena sang suami begitu peduli dengannya.


Karena banyaknya persaingan bisnis membuat seluruh keluarga Arkarna di awasi bodyguard tanpa kecuali.


Di masa kehamilan Reni, dia begitu senang karena semua begitu peduli. Ma mertuanya begitu menyayanginya.


Hubungan Reni dengan papa angkatnya juga berjalan dengan baik. Mereka masih berkomunikasi dengan baik walaupun Papa sambungnya telah menikah lagi atas permintaan keluarganya.


Semenjak kehamilannya semakin membesar, Reni merasa Gala terlalu memanjakannya. Reni tidak boleh melakukan pekerjaan rumah.


Hubungan Reni dengan Momo juga mulai membaik. Momo menyadari kesalahannya karena terlalu percaya dengan Novia.


"Bi." Reni nampak mengedarkan pandangannya di dapur. Dia nampak sedang mencari sesuatu di dapur sana.


"Ada apa non?" tanya Bi Marni berlari ke dapur.


"Bibi punya stok mi instan nggak?" tanya Reni.


"Nggak punya non." jawab Bi Marni berbohong karena takut kena marah sama tuannya.


"Masa bibi nggak punya? Aku pengen kali bi, kalau aku ngences bibi bertanggung jawab ya."


"Loh kok bibi yang tanggung jawab non, Den Gala yang tanggung jawab dong non."


"Ah ya udah, aku beli aja ke mini market bentar."


"Beli apa?"


Reni dan bi Marni terdiam saat mendengar suara bariton dari belakangnya.


Reni segera membalikkan badannya sambil tersenyum. Dia tidak mau Gala tau apa keinginannya.


"Beli cemilan ayang."


"Cemilan apa? Kan banyak cemilan." ucap Gala menunjuk mini market kecil mereka yang tersedia di rumah.


"Tapi nggak ada yang aku inginkan."


"Emang apa? Biar aku belikan."


"Nggak usah sayang, nanti - nanti aja deh." ucap Reni lansung mendekati suaminya lalu memegang tangan suaminya.


"Bang ke kamar yuk, bosan di sini."


Gala semakin heran dengan sikap istrinya. Dia tau istrinya seperti menginginkan sesuatu.


"Sebenarnya Nona ingin apa bi? Kasih tau aku bi."


"Maaf tuan, nona ngidam mie instan." ucap bi Marni agak ketakutan.


"Jangan pernah kasih makanan seperti itu bi,saya nggak mau di rumah ini ada makanan itu."


Bi Marni hanya menganggukkan kepalanya. Sedangkan Reni mulai kesal kepada sang suami. Reni berjalan meninggalkan suaminya tanpa suara.


Gala membiarkan Reni merajuk. Karena menghadapi rajukan seperti ini bukan sekali atau dua kali. Dia sudah sering menghadapinya. Kali ini dia merasa harus tegas karena menyangkut gizi anaknya.


Saat malam tiba, Reni hanya diam sejak tadi siang. Dia bahkan tidak mau menegur sang suami. Sedangkan Gala membiarkan saja tanpa protes karena ia yakin nanti Reni akan baik sendirinya.


Saat makan malam Reni masih berbaring di kasur. Dia malas untuk beranjak dari kasurnya. Apalagi harus makan malam bersama sang suami.

__ADS_1


"Kok Reni nggak turun makan?" tanya Mamanya bertanya kepada Gala.


"Lagi baring ma, nanti aku bawain." ucap Gala.


"Kamu nggak berantem sama istri kamu?" tanya mamanya dengan tatapan menyelidik.


"Nggak ma, paling dia merajuk ma karena mau makan mie instan nggak aku bolehkan."


"Sekali - kali biar sajalah, kan nggak tiap hari."


"Justru Gala benar ma, nanti kebiasaan ma." ucap papa Gala setuju dengan keputusan Gala.


Mama Gala baru sadar bahwa anaknya sama dengan papanya. Dokter satu itu sangat menjaga apa yang ia makan. Berbeda dengan dirinya.


"Ah kalian mana paham perasaannya wanita ngidam, jika nggak kesampaian siap - siap aja punya cucu ileran kamu." ucap Mama Gala ke papanya Gala.


"Hahahaha mama kamu masih percaya mitos seperti itu."


"Bukan percaya sama mitos, tapi memang menyiksa jika nggak di kabulkan, nanti bisa jadi Reni berpikir yang tidak-tidak tentang kamu, di pikirannya kamu tidak peduli dengan apa yang dia mau."


Gala tetap melanjutkan makannya. Dia tidak mau berdebat dengan mamanya. Di diamkan istrinya saja kepalanya sudah pusing tujuh keliling.


Setelah selesai makan, Gala membawakan makan malam untuk sang istri. Dia melihat sang istri sedang memainkan ponselnya.


"Ayo makan dulu."ucap gala yang duduk di hadapan Reni.


"Makan aja sendiri."


"Kamu jangan egois dong, kamu udah besar harusnya tau apa yang terbaik untuk kamu dan anak kamu." ucap Gala Sky.


Reni hanya diam tanpa menjawab ucapan suaminya. Tiba-tiba air matanya meleleh begitu saja. Hatinya terasa sakit saat mendengar ucapan Gala.


"Nggak usah pakai jurus air mata, kali nggak mempan buat aku."


"Nggak usah kamu pedulikan." ucap Reni lansung membaringkan tubuhnya dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.


"Reni jangan kayak anak kecil ah, ayo makan dulu."


"Taro aja di sana, jika aku lapar aku bisa makan sendiri, aku sudah besar jadi Abang nggak usah repot-repot." jawab Reni.


Untuk menghindari pertengkaran akhirnya Gala memilih untuk meninggalkan kamar.


Sedangkan Reni memutar otaknya agar ia bisa makan mie instan malam ini.


"Kenapa aku bodoh sekali, harusnya tadi siang aku pura - pura main ke tempat papa aja, lalu di sana makan mie instan." ucapnya.


Karena sangat ingin, dia akhirnya mencoba mencari di sebuah aplikasi. Dia nekad malam ini harus bisa makan mie instan.


Reni tersenyum senang saat menemukan. Dia memesan dari sebuah minimarket yang tersedia di online. Dia ingin memasaknya saat Gala sudah tidur.


Tidak butuh lama, pesanannya datang. Reni mengambilnya diam - diam ke gerbang utama agar satpamnya tidak melapor kepada suaminya.


Sebelum berlalu ke dapur, ia melihat ke arah pintu ruang kerja Gala. Dia yakin suaminya itu belum akan keluar dalam waktu dekat.


Reni lansung menghidupkan kompor. Dia membuat mie instan sesuai seleranya. Reni menggiling dua buah bawang merah, satu bawang putih lalu sedikit jahe.


Yah Reni paling suka memasukkan Jahe sedikit. Karena bagi Reni ini akan sangat enak rasanya.


Belum masak Reni sudah ngiler sendiri . Dia sudah tidak sabar ingin menyantap makanan itu.


Reni akhirnya duduk senang di meja yang tersedia di dapur. Saat akan memasukkan suapan pertama, tiba - tiba sendok itu melayang entah kemana.

__ADS_1


Reni kaget saat Gala membuang semua mie instannya ke dalam tong sampah. Air matanya lansung mengalir deras.


"Jahat kamu, tega kamu." ucapnya sambil menangis.


"Nggak usah lebai karena makanan seperti ini."


"Kamu yang jahat, nggak punya hati." ucap Reni akhirnya pergi meninggalkan dapur.


Gala terdiam cukup lama mengingat Reni menangis. Dia tidak tau apa yang akan ia lakukan.


"Apa aku terlalu kejam?" bathinnya.


Saat Gala masuk ke kamar, dia melihat Reni memasukkan beberapa bajunya ke dalam koper. Gala sangat kaget dengan sikap istrinya hari ini.


"Mau kemana kamu?"


"Mau menghilang dari hidup Abang, aku nggak tahan dengan semua ini, aku nggak sanggup."


"Hanya karena mie Instan."


"Bagi Abang hanya karena mie instan, bukan perkara itu bang, tapi abang tidak paham, Abang tidak akan pernah mau mengerti."


"Kamu jangan berlebihan deh, ini kamu nggak liat perut kamu seperti itu?"


"Abang yang tidak peduli sama aku, aku bosan dengan Abang yang tidak peka sama keinginan aku dan anak ini."


Reni mendorong kopernya keluar dari kamar. Gala sendiri pusing melihat sikap istrinya. Hanya karena mis instan maka dia akan ditinggalkan.


Gala mengejar sang istri. Ia tentu tidak ingin kehilangan istrinya. Namun ia tetap tidak membolehkan memakan makanan itu.


"ada apa ini?" tanya Mama Gala saat mendengar anaknya ribut - ribut. Apalagi melihat Reni membawa koper.


"Abang Gala jahat ma, dia membuang mie aku, padahal tadi itu suapan pertama aku."adu Reni memeluk mertuanya sambil menangis.


Gala yakin sebentar lagi mamanya akan berceramah panjang. Dia sudah tau trik istrinya itu.


"Ma kali ini mama jangan termakan trik Reni, aku tetap tidak akan mengizinkan."


"Ya udah, aku mau pulang biar papa buatin aku mi yang banyak." ucap Reni.


"Jangan harap."


Gala mengambil koper istrinya sehingga terlepas dari tangan sang istri. Lalu ia mengendong sang istri kembali ke kamarnya.


"Lepas bang."


"Jangan bergerak, kamu itu sudah berat saat ini."


Tiba-tiba Reni merasa perutnya sangat sakit tidak tertahan.


"Jangan akting kamu."


"Ini benaran sakit."


Ami lansung menoyor kepala anaknya.


"Istri kamu sepertinya mau melahirkan." ucap mamanya.


Gala melihat ada air yang keluar dari kaki Reni. Dia segeralah membawa sang istri ke dalam mobil.


"Pak Sap, ayo antar kami ke rumah sakit." ucap Gala memerintahkan sopirnya.

__ADS_1


__ADS_2