
Reni sejak tadi menunggu kepulangan sang suami. Dia melihat jarum jam yang sudah menunjuk ke angka 10 malam. Namun suaminya belum juga menunjukkan tanda-tanda pulang.
Reni baru menyadari bahwa ia belum mempunyai kontak ponsel suaminya sendiri. Sudah sebulan menikah, ia hanya memikirkan kepergian mamanya.
"Apa aku tanya mama aja kali ya?." pikir Reni.
Akan tetapi dia merasa aneh jika mertuanya tau bahwa dirinya tidak mempunyai nomor ponsel suaminya.
Perutnya terasa sangat lapar. Sejak tadi ia belum mengisi perutnya karena ingin menunggu suaminya.
"Apa aku minta nomornya ke Azzura aja, aku yakin bahwa dia punya nomornya." ucap Reni sudah gundah gulana.
Saat Reni ingin mengambil ponselnya, pintu kamarnya terbuka. Reni melihat suaminya baru saja pulang.
Gala pun kaget ketika melihat Reni belum tidur. Ia berpikir pulang malam hanya untuk menghindari Reni semata.
"Kok kamu belum tidur?"
"Kenapa baru pulang?" tanya Reni enggan menjawab apa alasannya masih belum tidur.
"Kan kamu tau aku kerja." jawab Gala kesal karena pertanyaannya di jawab dengan pertanyaan.
Reni kaget mendengar jawaban yang di berikan oleh suaminya. Entah kenapa hatinya terasa sakit saat Gala menjawab seperti itu.
"Kamu ini ngeyel banget deh, tadi siang sudah aku bilang jangan tunggu aku karena pulang malam."
Reni terdiam saat Gala memarahi dirinya. Dia tidak tau akan seperti ini. Dia ingat sang suami berpesan seperti itu. Akan tetapi ia hanya ingin memulai hidup baru. DNA ia ingin menyambut suaminya untuk pertama kalinya dengan tampilan yang cantik.
"Maaf." ucap Reni lansung memutar tubuhnya.
Dia tidak ingin Gala melihat bahwa air matanya akan tumpah. Dia tidak ingin di bilang terlalu cengeng.
Reni lansung berlalu menuju lemari pakaian. Ia membuka lemari pakaian milik suaminya.
Yah lemari pakaian mereka berbeda.Sejak ia datang memang sudah tersedia lemari yang terpisah untuknya.
Air mata Reni lolos begitu saja. Gala tidak melihat semua itu. Galapun merasa bersalah karena telah memarahi wanita itu tanpa alasan yang kuat. Namun bibirnya
terasa berat untuk meminta maaf.
__ADS_1
Setelah berhasil menghapus air matanya dengan cepat, Reni kembali membalikkan badannya. Dia membawa baju ganti suaminya.
"Ini baju gantinya aku taro di sini." Reni menarik baju ganti suaminya di atas kasur.
"Terima kasih."
Reni lansung membaringkan tubuhnya di atas kasur. Sedangkan Gala juga lansung meletakkan tasnya di atas meja yang ada di surut kamarnya.
Setelah itu barulah ia berjalan menuju kamar mandi. Tidak lupa ia mengambil baju ganti. Karena selama mereka menikah, mereka tidak pernah sekalipun mengganti baju di kamar.
Reni menghela nafasnya saat Gala menutup pintu kamar mandi. Dia merasa kecewa sekali atas sikap suaminya. Namun ia harus bagaimana lagi.
"Apakah cinta itu seperti ini?" ucapnya memiringkan kepalanya ke arah kiri.
Posisi Reni membelakangi kamar mandi. Reni merasa dirinya tidak seberuntung wanita lain dalam urusan cinta.
"Apakah memang tidak ada yang mencintai ku dengan tulus?"
Reni merasa bahwa cinta yang Gala gaungkan tidak seperti yang ia mau. Dia sering melihat wnaitavlain sangat beruntung di cintai oleh pasangannya. Dia melihat bagaimana wanita yang sekelilingnya sangat di cintai oleh pasangannya.
Ia ingat bagaimana papanya mencintai mamanya. Dan ia juga melihat om Alan yang menyukai Tante Bella.
"Apakah aku tidak layak untuk di sayangi seperti mereka?" gumamnya lagi.
Gala melihat sang istri berbaring membelakangi dirinya. Dia mengambil ponselnya lalu duduk di bagian kanan ranjang di kamar itu.
Gala membuka media sosial terlebih dahulu sebelum tidur. Dia tidak mengantuk sama sekali karena tadi setelah isya sempat tidur sebentar.
Gala bekerja di kantor yang ia bangun dengan keringatnya sendiri. Dia tidak ingin bergantung kepada keluarga Kusuma. Tapi papanya Amar tidak tinggal diam. Papanya menambahkab modal sebesar - besarnya dan itu memang bagian untuknya.
Walaupun sebagai anak tiri di dalam keluarga Kusuma, Gala sangat tau bahwa ia tidak pernah di bedakan. Baik ketika kakek dan neneknya masih hidup.
Karena pernah merasakan ditinggalkan oleh ayah, Gala tidak ingin anaknya merasakan seperti yang ia alami. Dia tidak ingin menyentuh Reni sebelum ia yakin bahwa dirinya bisa mencintai Reni.
Dia masih trauma dengan perceraian kedua orang tua. Dimana ia harus tinggal dan di titipkan kepada orang lain oleh mamanya. Dia tau betapa kejamnya perceraian. Namun ia bersyukur bertemu dengan papanya sekarang. Sehingga ia merasakan kasih sayang yang utuh.
Gala bersiap untuk mematikan lampu kamar. Walaupun ia tidak bisa tidur namun ia tidak ingin mengganggu tidur wanita yang berbaring di sebelahnya.
Gala menepukkan tangannya sehingga lampu tersebut mati. Gala meletakkan ponselnya di atas nakas. Ia mencoba memejamkan matanya.
__ADS_1
Saat baru saja memejamkan matanya ia mendengar suara aneh. Suara itu bukan berasal dari perutnya.
Gala menoleh ke arah kirinya. Jika bukan berasal dari perutnya maka berarti dari wanita yang di sebelahnya. Dia yakin bahwa wanita itu belum makan sama sekali malam ini.
"Kamu belum makan?" tanya Gala membuat Reni menjadi malu.
Reni tidak menjawab pertanyaan dari suaminya. Dia tetap meneruskan untuk berpura-pura tidur.
"Abang tau kamu belum tidur, makan sana, mana ada orang lapar bisa tidur." ucap Gala.
Namun lelaki itu masih tidak melihat pergerakan dari sebelahnya. Melihat Reni yang masih diam, dia bangkit dari tidurnya.
"Mau jalan sendiri atau Abang gendong?" tanya Gala dengan sedikit mengancam.
Reni lansung bangkit dari tempat tidurnya. Dia tidak ingin berakhir dalam gendongan lelaki itu. Ia akan malu jika ad penghuni rumah ini melihatnya di gendong.
Reni berjalan dengan ogah - ogahan. Dia sunggu malas makan sendirian di tengah malam sendirian.
Saat sampai di pintu dia membalikkan tubuhnya. Dia melihat ke arah Gala dengan wajah memelas.
"Boleh temani nggak? Takut."
Gala merasa ingin tertawa mengetahui bahwa wanita itu penakut. Dia baru menyadari bahwa wanita itu memang tidak pernah turun ke bawah setelah makan malam.
"Ngapain takut, kamar mama dan bibi di bawah kok, harusnya kamu takut di kamar sendirian, karena kamar ini satu - satunya berpenghuni manusia." ucap Gala mencoba menakut - nakuti sang istri.
Reni kembali menutup pintu kamarnya dengan suara yang agak kencang. Dia berlari menuju arah ranjang kembali.
"Jika begitu aku lebih memilih makan besok pagi saja." ucap wnaita itu kembali menarik selimut.
Namun selimut itu kembali tarik oleh suaminya. Suaminya Herna melihat wanita itu semenakut itu.
"Makan sana, nanti aku telepon asisten rumah tangga untuk menemanimu." ucap Gala.
Reni berkecil hati mendengar ucapan lelaki yang menjadi suaminya. Ada rasa kecewa yang menjalar di dalam tubuhnya.
"Ya udah, nggak usah di bangunkan, nanti malam merepotkan, aku bisa sendiri." ucap Reni bangkit dari duduknya.
Walaupun ia takut namun ia mencoba menguatkan dirinya sendiri. Dia membuat pintu dengan jantung yang dag Dig dug. Walaupun rumah ini terang dengan penerangan, namun tetap aja dia takut.
__ADS_1
Tanao terasa air matanya meleleh lagi saat berjalan turun ke bawah. Dia tetap berusaha untuk memberanikan dirinya sendiri.
Reni berjalan dengan cepat. Dia sibuk menoleh kekiri ke kanan. Pandangan tidak fokus ke depan sehingga kakinya tersandunh saat di tangga akhir.