
Semenjak kejadian malam itu, Reni merasa ada perubahan dengan sikap mama mertuanya. Mama mertuanya diam saja di meja makan.
Sedangkan papa mertuanya masih seperti biasa dengan Reni. Menurut Reni papa Mertuanya lebih paham perasaannya.
Walaupun begitu, Reni tetap menegur mama Ami. Dia juga sering membantu pekerjaan mama Ami di rumah.
Bagaimana hubungannya dengan Gala?. Keduanya malah lebih banyak diam. Gala kecewa dengan istrinya yang masih mencintai sepupunya.
Sedangkan Reni juga kecewa dengan Gala yang membohongi dirinya. Dia merasa menjadi wanita yang memalukan sehingga harus di kasihani.
Umur pernikahan mereka sudah berjalan berbulan - bulan. Namun tidak ada nampak tanda-tanda kenaikan dalam hubungan mereka.
Reni sedang duduk di kafe. Dia memang sengaja menghindar dari mertuanya. Lama - lama di diamkan membuatnya juga merasa tertekan.
Dia meminum kopi sambil santai. Sesekali dia menghirup udara sedalam dalamnya. Rasanya ia ingin menangis di sini jika tidak ingat bahwa kafe ini sedang ramai.
"Eh itu, bukannya wanita yang nggak ada ayah itu?" Reni mendengar ucapan wanita yang duduk tidak jauh darinya.
"Sepertinya ia, padahal nggak cantik juga." jawab teman satunya.
"Yakin deh jika Gala itu hanya kasihan, diakan mencintai Novia dengan tulus, semua karena wanita itu, makanya Novia dan Gala tidak bisa bersatu."
"Iya, dasar wanita nggak tau diri, udah bisa manfaatin Gala, eh maunya menguasai, coba aja Gala nggak kasihan, lelaki mana yang mau bersamanya, dasar wanita bernasab ibu."
"Haha, nasab ayahnya nggak ada, kasihan sekali hidupnya."
Reni semakin panas mendengar ucapan wanita - wanita yang duduk di dekatnya. Reni berjalan dengan dada yang bergemuruh.
"Eh mbak, punya mulut di jaga, jika mbak nggak tau kebenarannya jangan suka bergosip." ucap Reni.
"Hahahaha, baguslah jika kamu dengar, biar kamu paham situasi." jawab wanita itu.
Walaupun mereka bertiga namun tidak membuat Reni gentar sedikitpun.
"Paham situasi? Hey kalian itu tidak tau apa - apa." jawab Reni.
"Udah lah, wanita seperti dia mana mau mengerti, yang dia mau pasti kedudukan, kekayaan, apalagi kehormatan." jawab wanita berkerudung hitam.
"Wanita seperti apa aku ha?" tanya Reni semakin geram memandang wanita berkerudung hitam itu.
__ADS_1
"Hahaha masa nanya lagi, semua orang juga tau kamu wanita bernasab ibu, yang nggak punya ayah, mungkin saja ibunya dulu tidur dengan banyak lelaki, jadi nggak tau yang mana ayahnya."
"Iya juga, jika laki - lakinya cuma satu setidaknya masih mau lelaki itu menikahi ibumu, ah sudahlah jika ibunya wanita ***** apalagi anaknya."
Reni baik pitam mendengar ucapan wanita berdua itu. Dia tidak tahan lagi sehingga tangan kanannya melayang ke pipi wanita berjilbab hitam tersebut.
"Jaga mulut anda ya, jika tidak aku robek mulut kamu nanti."
Tidak terima pipinya di tampar, wanita itu langsung menjambak rambut Reni. Begitu juga dengan temannya, dia membantu menjambak Reni.
Satu lawan dua membuat Reni kewalahan. Pengunjung heboh karena terjadi Jambak - jambakan. Manager kafe dan beberapa karyawan langsung melerai keduanya.
"Apa - apaan ini?" tanya manager kafe tersebut dengan emosi karena membuat kafenya berantakan.
"Dia duluan yang serang aku pak, dia ini anak dari wanita ***** pak, bapak harus buat dia pergi dari kafe bapak jika tidak bisa - bisa kafe bapak malah kena sial."
"Mbak-mbak jangan seperti itu, kafe kami terbuka untuk siapapun."
"Hei kamu nggak tau siapa saya, saya ini anak salah satu anggota dewan di kota ini, saya bisa aja mengadukan peristiwa tidak menyenangkan ini kepada Papa saya, sehingga Papa saya bisa menutup kafe ini." ucap wanita berjilbab hitam.
"Iya, kami ini adalah pelanggan tetap di sini, kami nggak masalah nggak ke kafe ini, namun perlu bapak ketahui bagaimana kerugian kafe ini jika kehilangan pelanggan seperti kami." ucap wanita yang berambut di kucir satu.
"Karena kamu telah merusak properti kafe ini, maka Saya akan meminta ganti rugi." ucap manager kafe tersebut kepada Reni.
"Saya tidak mau karena mereka yang memulai duluan."
"Jika anda tidak mau maka saya akan melaporkan Anda kepada polisi."
"Setuju pak, karena kamu melihat memang wnaita ini yang memulai duluan, mbak - mbak ini nggak salah, jika faktanya dia anak yang bernasab ibu, maka mbak ini tadi omongnya benar, dia aja yang tidak sadar diri." ucap wanita yang tidak jauh darinya.
Reni melihat ke arah semua pengunjung yang datang. Semua nampak membisik - bisikan dirinya. Ada beberapa yang nampak mencemooh dirinya.
Reni mengeluarkan uang dari tasnya lalu meletakkan di atas meja.
"Ini yang bapak mau kan?" silahkan di ambil, saya rasa uang ini bahkan lebih untuk mengganti yang rusak." ucap Reni.
Setelah itu barulah dia pergi meninggalkan kafe itu. Dia merasa peristiwa tadi merupakan hal yang sangat memalukan bagi dirinya.
Reni membawa mobilnya menuju kuburan mamanya. Dia hanya ingin kesana untuk bercerita.
__ADS_1
Sebelumnya dia memang sudah kebal di ejek teman - temannya. Namun semenjak kepergian mamanya ternyata ejekan itu masih ada.
Reni menangis di atas pusara mamanya. Dia sudah tidak tahan lagi mendengarnya lagi.
"Ma kenapa mama pergi? semua pada jahat sama aku,semua menghinaku ma." ucapnya sambil menangis.
Tidak tahan dengan membendung air matanya, Berakhir dengan akhirnya Reni memutuskan untuk pulang.
Sedangkan di tempat lain, seseorang tampak kaget melihat sebuah pesan yang masuk ke ponselnya.
"Apa yang dia lakukan di luar sana?" tanya Gala dengan kesal.
Karena kesal, lelaki itu memutuskan untuk pulang secepatnya. Dia ingin berbicara dengan wajah kesal.
Sesampai di rumah, ia menemukan Istinya sedang memainkan ponselnya.
"Apa yang kamu lakukan, sehingga membuat malu seperti ini?" tanya Gala dengan agak marah.
Dia tidak tau bahwa masalah tadi akan sampai viral seperti ini. Kejadian di kafe itu tidak salahnya. Anak mana yang diam saja jika ibunya di caci dan di hina.
"Ini mereka yang memulai."
"Kamu baca komen di sini, semua yang melihat menyaksikan mengatakan bahwa kamu yang memulai masalah ini duluan." ucap Gala dengan kesal.
"Kamu tidak percaya sama aku?" tanya Reni semakin kecewa.
"Bagaimana aku percaya jika bukti di sini sangat jelas " ucap Gala.
Tok tok tok
Gala berjalan membuka pintu kamarnya. Dia melihat mamanya sudah berdiri di depan pintu.
"Ajari istri kamu, jangan berulah macam preman, kelakuan istri kamu itu sangat mencoreng nama baik keluarga Kusuma." ucap mama Gala.
"Iya ma, biar aku yang menyelesaikan ma."
"Jika dia tidak bisa di ajak ke yang lebih baik, maka tinggalkan saja dia." ucap mama Ami membuat semua kaget.
"Mama." ucap Reni tidak terima dengan ucapan mama mertuanya.
__ADS_1