Yang Lain

Yang Lain
Elf Hiribia


__ADS_3

Esok harinya kami pergi ke hutan Sanji untuk mengetahui apa yang sudah terjadi, sembari mencari diri Amerin.


Dunia yang benar - benar penuh misteri..


Aku berjalan ke arah Selatan, karena hutan Sanji tidak begitu jauh dari sini.


Aku menggendong Aina sepanjang jalan..


"Ternyata ini yang kau maksud merepotkan"


"Maaf ya, tapi kau seperti menikmatinya" ujar Aina.


"Apa yang kau maksud, aku malah menderita dengan beratmu"


"Kau benar - benar tidak sopan, sepertinya didunia lamamu dulu kau tidak mempunyai teman" ujar Aina.


"Itu memang benar, tapi kau terlalu blak - blakan"


"Kau sendiri" balas Aina.


Ah sudah terlihat, tampak sekali wilayah yang terbakar ternyata begitu luas. Awan kelabu yang begitu pekat, dan beberapa mayat yang telah membusuk dimana - mana.


Kesedihan menimpa Aina..


Aku berhenti berjalan..


"Kau tidak apa - apa?"


"Tidak, lanjut jalan saja" sahut Aina.


Tapi ini benar - benar tidak berperikemanusiaan. Mereka membantai klan Hiribia tanpa ampun, aku mengerti kesedihan yang di rasakan Aina.


Dunia ini lebih parah dari Ambridge..


Benar - benar tidak bisa dimaafkan..


"Hei, berhenti disini" ujar Aina.


Akupun berhenti..


Terlihat mayat berlumuran darah yang telah mengering, aku tidak kuat melihatnya dan sepertinya ia adalah orang terdekat Aiana.


"Reisha? Kau kah itu?" ujar Aina.


"Benar itu kau, Reishaa" tangis Aina.


Ternyata ia Adiknya Aina..


"Maaf telah meninggalkanmu" ujar Aina.


"Tapi aku sekarang pulang Reisha, jadi kumohon bangunlah" ujar Aina.


"Aina, kurasa cukup. Kasihan Reisha jika terus begitu"


"Kau tau apa, lebih baik kau diam saja" bentak Aina.


"Kau Egois, Aku juga pernah kehilangan kakakku dan Ayahku didepan mataku. Aku menyaksikan kematiannya"


"Reishaa..." tangis Aina.


"Lebih baik kita kuburkan dia, Agar dia tenang. Aku berjanji akan membantumu hingga hutan Sanji, tidak, maksudku hingga hutan Amerin tentram"


"Bangunlah" tangis Aina.


"Hentikan tangisan itu dan mari kita berontak bersama".


Tadinya aku berpikir untuk memandikan dan menggalikannya kuburan tetapi Aina bertindak sendiri.

__ADS_1


Aina pun merapal sihir dan memindahkan Reisha ke bawah tanah, mungkin seperti itulah cara mengubur disini.


Akupun kembali menggendongnya dan melanjutkan perjalanan.


Mereka membunuh tanpa pandang usia..


Benar - benar keji.


"Hei, kita akan berjalan sampai kemana?"


"Sampai ke ujung hutan ini" ujar Aina.


"Baiklah"


Terlihat pohon besar yang benar benar tinggi sekali, dan ternyata itu adalah sebuah rumah yang sepertinya rumah Aina sendiri.


Kami pun masuk kedalam..


Luar biasa, didalamnya begitu luas dan masih sangat rapih dan bersih rasanya seperti rumah mewah yang Antik.


"Ternyata Lebih luas dari yang ku kira"


Aina pun turun dari punggungku..


"Sebelah sini kamarku, tunggu aku tidak bermaksud apa - apa, aku hanya ingin memberimu baju. Karena jujur, tubuhmu begitu bau dan lengket" ujar Aina.


"Kau blak - blakan seperti biasanya"


"Ah ini, sepertinya buku ini bisa berguna untukmu" imbuhnya.


"Apa ini?"


"Kau mau belajar sihir bukan? Buku itu isinya lengap, dari dasar - dasar sihir hingga sihir tingkat tinggi" ujar Aina.


"Tapi kau juga butuh bukan?"


"Dan Pakailah ini, itu baju yang ku jahitkan untuk seseorang" ujarnya.


"Mari kita temui semua penduduk, dan benjanjilah untuk tidak banyak bicara" sambungnya.


Aku dan aina pun keluar dari rumah pohon itu dan melanjutkan perjalanan, sepertinya para penduduk hutan ini mengungsi di tempat yang agak jauh.


"Hei, dimana kau bertemu gadis kecil itu?" tanya Aina.


"Maksudmu Amerin"


"Ya," balas Aina.


"Entahlah aku tidak ingat"


"Tidak berguna" ujar Aina.


"Habisnya semua pohon disini terlihat sama"


"Ah disana" ujar Aina.


Aku pun sampai di ujung hutan Amerin, disana banyak sekali tenda - tenda pengungsian. Elf hiribia begitu banyak tapi anehnya waktu aku pertama datang ke Hutan Sanji, aku tidak menemukan siapapun.


Terlihat seseorang menghampiri kami dan,


"Nona Aina, senang melihat nona kembali. Hey kau berani - beraninya menggendong Nona Aina tanpa izin" ujarnya.


"Eh, aku.."


"Tu..tunggu, dia yang menolong dan merawatku, jadi sambutlah dia juga" ujar Aina


"ah iya mohon maaf atas kelancangan saya dan, selamat datang di wilayah kami saya Zeni, pelayan keluarga Hashiri" ujarnya.

__ADS_1


"E.."


"keluarga ku dimana?" potong Aina.


"Tuan Yasha, ibu Reiko telah aman di tenda sebelah sana, tapi kami mohon maaf.. Nona Re-"


"Jangan diteruskan, Reisha telah tenang di alam sana" potong Aina.


"biar saya antar kalian ke tenda" ujarnya.


Akupun berjalan dengan terus menggendong Aina, terlihat banyak sekali elf yang terluka sedang diobati. Aku jadi pusat perhatian para elf disini, semua melihat ke arahku dengan tajam.


Tapi ini benar - benar keji..


"Hei, apa para Prajurit itu bisa mengetahui tempat ini?"


"Tempat ini belum terjamah oleh manusia manapun, kecuali kamu" ujar Aina.


"Mereka tidak akan sanggup memasuki hutan Sanji lebih dalam karena seperti yang ku katakan. Sosok Amerin selalu melindungi hutan sanji" imbuhnya.


"Sudah sampai" ujar Zeni.


Aina turun dari punggungku dan,


"Aina syukurlah kau baik baik saja" ujar bu Reiko.


"Kau bisa meloloskan diri?" tanya om Yasha.


"Yah, berkat bantuan Aerel" ujar Aina.


"Ah mohon maaf, Nama Saya Naomi Aerel saya hanya figuran yang sedang mengembara"


"Terima kasih banyak nak telah merawat Aina" ujar bu Reiko.


"Ibu, Ayah.. Untuk Reisha, Aina benar - benar minta maaf karena telah lalai menjaganya" tangis Aina.


"ibu paham nak, kami paham.." ujar orang tua Aina.


"Aku berjanji akan menyelamatkan seluruh rakyat sanji dan hutan Amerin" ujar Aina.


"Ibu percaya nak. Kau sudah bertemu denganya Aina?" tanya bu Reiko.


"Bukan aku, tapi Aerel. Dia bahkan berbicara dengannya" ujar Aina.


"Aku berjanji akan menyelamatkan penduduk hutan Sanji" imbuhnya.


"A. Aduh.." tambahnya.


"Kakimu kenapa nak?" tanya bu Reiko.


"Sepertinya Aina kebanyakan gerak" ujar Aina.


"Biar ku obati dulu, a.. Zeni, Antarkan Nak Aerel ke Tendanya" ujar om Yasha.


"Baik" balas Zeni.


Akupun pergi..


Sepertinya, Aina adalah keluarga bangsawan terhormat. Tapi entah kenapa Aina tidak terlihat demikian.


Terlalu banyak yang kupikirkan..


Semuanya penuh misteri..


Sesampainya di tenda, aku berpikir untuk membaca buku yang diberikan Aina yaitu belajar Ilmu sihir.


Ariel, apa kau melihatnya..

__ADS_1


__ADS_2