
Hidup itu memang berputar, kadang kita dibawah dan kadang kita diatas. Sekalipun kau berada didalam situasi sesulit apapun pasti akan ada jalan keluarnya.
Kini aku juga sedang mencari cara untuk lari dengan mulus.
Tepat dibelakangku tiga ekor babi hutan mengejar kami.
Aina juga belum sepenuhnya memulihkan tenaganya.
Ah menjengkelkan..
Aku harus nekat..
Aku memutuskan untuk melawannya dengan pedang yang baru ku dapat, aku yakin bisa mengalahkannya dengan ini.
"Jangan gegabah" ujar Aina.
"Tinggalkan saja aku"
"Bodoh" bentak Aina.
Aku menghunuskan pedangku terhadap monster tersebut dan, ehh..
Kupikir mereka begitu kuat.
Tapi mereka mati begitu saja..
Jasadnya hilang melebur ketika ku tebas..
"Inginnya ku puji, tapi sepertinya kita harus segera pergi dari sini" ujar Aina.
"Kuharap kau mengakuiku"
"cepatlah" ujar Aina.
Kami terus berlari dan akhirnya keluar dari hutan ini.
... HOSH.. HOSH...
Aku berbaring di atas rumput.
Ternyata ada jalan selain harus memanjat dinding tanah yang tinggi, ya meski harus mengambil jalan melingkar.
"Kau, lain kali jangan gegabah, semua yang terjadi di bawah sana ulamu sendiri. Kau masuk ke gua air terjun dan kau menebang pohon dengan pedangmu yang akibatnya muncullah babi tadi" Bentak Aina.
"Ya.. Ya.. Ya.. Aku mengakuinya, tapi syukurlah kita bisa selamat"
"Ya, aku mengakuimu. Dan kau dapat darimana ajaran menggunakan senjatamu tadi?" tanya Aina.
"Yahh, kurasa aku mulai menemukan bakatku. Rasanya seperti ada yang mendorongku melakukannya, terkadang kita harus berbuat nekat daripada mati tanpa berbuat apa - apa".
"Kau begitu penuh misteri" ujar Aina.
"Apa yang kau bicarakan. Dunia inilah yang menjadikanku sosok misteri"
"kau tampak segar - segar saja meskipun kau dimakan tanaman tadi. Lihatlah, aku tidak menemukan luka di sekujur tubuhmu" ujar Aina.
"Aku juga tidak mengerti dengan semuanya, dan pedang aneh ini"
"Tapi sumpah, senjatamu itu sesuatu sekali. Kita harus bertanya pada Ayahku, Mungkin ia tahu sesuatu terkait senjata itu" ujar Aina.
"Monster di dunia ini terlalu kuat untuk dilawan pemula sepertiku. Biasanya jika dunia game, lawannya slime dulu sebelum babi sialan tadi"
Eh tapi ini bukan dunia game..
"Game?" tanya Aina..
"Bukan apa - apa. Sebaiknya kita cepat kembali dan berganti baju kita yang sudah berlumuran darah ini"
"Apa itu darahmu? Kurasa bukan, karena kau sama sekali tidak memiliki luka sedikitpun" ujar Aina.
"Entahlah.. Tapi hei, kau serius soal aku tidak memiliki luka?"
"Heh,, kenapa?" tanya Aina.
"Itu berarti kau membuka baju, celana dan celana dalamku untuk melihatnya bukan? Aku tidak mengira kau bisa sejahat itu".
__ADS_1
"Ehhhh... Bodoh.. Mana mungkinlah, kau kira aku ini wanita bejad. Bukannya berterima kasih." bentak Aina.
Ah dia terlihat marah.. Ups..
"A--.. Ah ya maaf telah berpikir aneh. Tapi emosimu ternyata dapat berubah setiap detik.. Upss".
"Ah sudahlah.. Lebih baik kita segera kembali" ujarnya.
Kami segera berlari dan ketika kami sampai di tenda. Kami melihat semua orang berkumpul entah apa yang ia lihat.
"ini tidak bisa dibiarkan" terdengar seseorang bicara demikian.
"kita harus segera melakukannya" balas seseorang dengan suara wanita.
"Ayah?? Apa yang terjadi disini? Hihh.. Mayat" Aina terkejut.
Terlihat 3 mayat yang sepertinya masih sangat baru, ia begitu dipenuhi luka di sekujur tubuhnya.
Tangannya hilang entah kemana, sementara yang satunya masih utuh dengan bekas cambukan di tubuhnya dan telinganya tidak mirip seperti elf.
Mereka disiksa..
Tapi ada manusia biasa diantara mereka..
Kukira hanya elf yang Eiji incar..
"Ah suamiku!!" Seru dan tangis seorang wanita dengan anaknya yang masih kecil..
"Ayah apa maksud semua ini?" tanya Aina.
"Kita harus mempercepat langkah kita" ujar Om Yasha.
"Hei bagaimana kau akan menanggung semua ini sebagai seorang pemimpin? Harusnya kau lebih memerhatikan bawahanmu" marah seorang pemuda didekatnya.
"Hei, jaga bicaramu?" bentak kembali Aina.
"Sebaiknya kita makamkan dulu mereka, masalah ini bisa kita bicarakan setelahnya" ujar Om Yasha.
Itu lebih baik..
Itu mungkin semacam pemakaman umum..
Situasi menegangkan sekali, disaat - saat seperti ini semua bisa disergap dengan mudah oleh prajutit Eiji sialan itu.
Aina dan sekeluarganya mengajakku untuk ke tempat pemakaman Reisha..
Ssstttt....
"Kyaaa.." teriak Aina.
Sosok yang entah muncul dari mana, ia begitu cepat menebas tangan Aina, jika Aina tidak menghindar ia bisa saja kehilangan tangan kanannya.
"Meleset" ujar sosok tadi.
"Semuanya, menjauhlah" teriak Om Yasha.
Ia pergi begitu saja sewaktu aku menghempaskan pedangku..
"Aina"
"Lukanya biasa saja namun senjata itu sepertinya berisi kutukan" ujar Aina.
"Sebaiknya kita segera pergi dari sini" ujar bu Reiko.
Aina di gendong ayahnya sampai rumahnya di dalam hutan Amerin.
Om Yasha memanggil Tabib tua yang bisa mengobati atau memeriksa kutukan yang ditanamnya.
Derita dialami kembali oleh Aina..
Ia tertanam kutukan yang begitu serius sehingga bisa merenggut nyawanya, ia tidak bisa selamat hanya kecuali jika pengutuk tersebut terbunuh.
"Biar ku cari orang itu" tegas Om Yasha.
"Tenang dulu" ujar Tabib(dokter).
__ADS_1
"Kutukan ini tidak langsung merenggut nyawanya, Aina bisa bertahan sampai 1 tahun, itu artinya!!" ujar Tabib.
"Tenang!! Tenang apa maksudmu, 1 tahun bukan waktu yang lama bagi anakku" bentak Om Yasha.
"Itu Artinya, kita bisa memantapkan rencana untuk pemberontakan. Dibalik itu kita bunuh juga pengutuknya, bukan waktu yang lama bagi Aina tapi waktu yang sangat lama bagi sebuah kutukan. Begitu maksudmu?"
"Benar sekali anak muda" ujar Tabib.
"Benar, pemberontakan Harus terus dilakukan. Aina tidak apa apa Ayah" ujar Aina.
"kita masih harus menyiapkan semuanya orang" ujar Om Yasha.
"Apa maksudmu? Semuanya sudah siap bukan!! Kita hanya perlu menyusun Rencana" ujar Tabib.
"Aku hanya bisa menyembuhkan, tidak bisa terjun ke medan perang" imbunya.
"Kita kembali saja ke tenda temui semua orang dan menyusun Rencana" ujar Om Yasha.
"Ayah, tinggalkan saja aku disini" ujar Aina.
"Tidak!! Disini berbahaya bagimu" ujar Om Yasha.
"Sebaiknya kau nurut saja" ujar bu Reiko.
"Tidak, aku yakin akan aman jika berdua bersama Aerel" ujar Aina.
"Heh maksudmu!! Kita? Kenapa?"
"Ada yang perlu aku bicarakan" ujar Aina.
"Obrolan ini tidak cocok bagiku yang sudah berkarat" ujar Tabib.
Tabib itu pergi..
"Ya, ibu rasa nak Aerel bisa mengatasinya" ujar bu Reiko.
"Hushh.. Baiklah, tapi jangan terlalu lama. Ayah tunggu segera di tenda, berjanjilah untuk selamat" ujar Om Yasha.
Mereka keluar dari rumah dan tinggallah kami berdua..
"Jadi?"
"Kau sengaja melepas Ninja tadi?" tanya Aina.
Dia mencurigaiku..
"Ahh.. Ya, syukurlah jika kau menyadarinya"
"Tapi maaf karena itu, kau terkena kutukan yang begitu serius. Jika saja aku membunuhnya mungkin kau tidak akan seperti ini"
"Tidak, kau tidak salah. Aku tahu kau tidak mau menonjol di depan semua orang" !
"Tapi seriuslah di pemberontakan nanti" ujar Aina.
"Ehh.. Aku ikut"
"Tentu saja, kau harus berada dibarisan depan" ujar Aina.
"Tentu saja, aku akan melakukannya dengan caraku, kau cukup percaya padaku"
"hmm.. Bicaramu.. Tapi jangan gegabah.. Kau selalu ceroboh" ujar Aina.
Mendengar kata itu, teringat ucapan yang pernah Ariel ucapkan.
"Kau teringat Ariel?" tanya Aina.
"Ariel itu sosok yang seperti apa? Apa dia yang mengubahmu? Sehingga kau ngotot mencarinya" ujar Aina.
"Entahlah.. Padahal ia tidak lebih dari satu hari bersamaku. Tapi entah kenapa rasanya seperti harus ku selamatkan"
"Aku yakin kau belum tahu asal usulnya jika begitu!!" ujar Aina.
"Ya, tapi kurasa akan banyak hal yang ingin kuceritakan jika kita bertemu"
"Lebay!! Aku yakin Ariel melihatmu sekarang" ujar Aina.
__ADS_1
"Ya, ia pastinya"