
Diperlukan kemampuan khusus untuk bersabar meskipun dalam keadaan yang tak memungkinkan.
Bintang saja masih bersinar walaupun dengan jarak yang saling berjauhan tahun cahaya dari teman - temannya. Apalagi aku, yang ditemani orang - orang yang masih peduli padaku.
Apalagi aku juga memiliki tujuan tersendiri di dunia ini, yang harus kulakukan untuk kepentingan ku sendiri juga.
Aku mendengar Aina dan Yori berbicang - bincang diruang tamu..
"Hei.. S-ss-seberapa dekat kau dengan Aerel?" tanya yori dengan gugup
Dih, kenapa ganti topik?
"Kenapa bertannya begitu? Tapi kami memang dekat" ujar Aina.
Kurasa obrolan ini tidak harus ku ketahui, mereka pasti menganggapku masih tidur..
"Tidak, hanya saja kalian seperti mempunyai sesuatu" singgung Yori.
"Hubungan spesial maksudmu?" tanya Aina.
"Umm.. Entahlah" balas Yori.
"Dunia begitu indah bukan? Hei berapa usiamu saat ini?" tanya Aina.
"Meski tubuhku kecil begini tahun ini aku menginjak 18 tahun, sama seperti Aerel kurasa. Hei tunggu.. kenapa itu yang kau tanyakan?" tanya Yori.
Aku jadi merasa bersalah telah menguping..
"Kau tahu? Aerel sebenarnya bukan berasal dari dunia ini, yah.. dari namanya saja sudah terdengar asing bukan!" ujar Aina.
"Eh, maksudmu? Dia juga pernah bercerita kalau kampung halamannya sangat jauh" ungkap Yori.
"Ya, benar. Ia berasal dari dunia yang berbeda sekali dengan dunia ini. Dunia itu tanpa ilmu sihir sama sekali, ia terpanggil kesini untuk menyelamatkan si pemanggilnya, kau tahu itu?" tanya Aina.
"Begitukah.. Aerel tidak pernah bercerita padaku, tetapi bagaimana jadinya dunia tanpa sihir?" tanya Yori.
"Mereka adalah orang-orang pekerja keras, mereka dapat lebih maju bahkan tanpa sihir. Dan di dunia itu hanya terdapat ras manusia murni saja" ungkap Aina.
"Itu mustahil" ujar Yori.
"Tetapi untuk apa Aerel berbohong bukan? Dan uniknya lagi, satu hari disana hanya 24 jam lalu satu bulan disana hanya berkisar 30 hari saja, sedangkan satu tahun disana hanya 360 hari saja. Dan kau tahu artinya itu?" tanya Aina.
"Itu berarti, aku jauh lebih tua daripada Aerel. Begitu?"
"Ya begitulah, Aerel begitu terketut ketika mengetahui tentang perbedaan waktu dengan dunianya. Dan itu berarti aku sangat jauh lebih tua lagian meskipun sebenarnya aku tertarik dengannya, aku tidak bisa berbuat banyak karena aku sudah mempunyai tunangan" ungkap.
"Aina.."
"Kejarlah yang merupakan keinginanmu, terkadang kau harus mengabaikan apapun demi mencapai tujuanmu. Aku tidak cocok untuk Aerel, Yori"
Apakah obrolan ini halal untuk didengarkan?
"Bagaimana mungkin aku bisa cocok untuknya, sedangkan aku tidak tahu sama sekali tentang dirinya" ujar Yori.
"Kau tidak perlu mengetahuinya, kau hanya cukup menjadi dirimu sendiri, Yori" ungkap Aina.
"Ah, kurasa aku harus menemani ayahku di ibu kota, ibumu ada disana juga loh. Ikut gak?" tanya Aina.
"Ah, aku akan disini saja" balas Yori.
__ADS_1
"Kalau begitu, baiklah. Dahh.." ujar Aina.
Kurasa aku harus tidur lagi, Yori pasti akan masuk..
(Masuk kamar)
"Aerel, Aerel"
"Ya"
"Aerel, Aerel" ujar Yori.
"Berhenti menyebut namaku"
Di hutan Sanji ini aku seperti pulang ke rumahku sendiri, yang aku rasa hampir tidak mungkin untuk kembali ke sana.
"Hey berhentilah melamun, padahal lukamu sudah sembuh, dan segeralah bangun dari tempat tidur itu" ujar Yori.
"Ya"
"Kau tidak enak dilihat" ujar Yori.
"Eh.. Kenapa? Ngomong - ngomong dimana Aina?"
"Ia sedang di kota, bersama orang tuanya dan ibuku juga. Kenapa harus itu yang kau tanyakan?" ujar Yori.
"Oh.. Kenapa?"
"Tidak, bukan apa - apa" balas Yori.
"Kurasa aku akan berjalan - jalan diluar"
"Biar ku temani" ujar Yori.
"Tidak, aku hanya takut pria yang sedang sakit - sakitan ini kenapa - kenapa!!" singgung Yori.
"Begitu? Terima kasih perhatiannya"
...****************...
"Hei, seberapa dekat hubunganmu dengan putri pemimpin itu?" tanya Yori.
"Kalau ditanya begitu si!! Kami memang sangat dekat"
"Dih, bukankah ia sudah punya tunangan?" singgung Yori.
"Hm, bukan masalah bagiku"
"Berarti kau duri dalam daging" ujar Yori.
"Aku pulang"
"Ah.. Aina, kau senggang?"
"Yah sedikit" balas Aina.
"Cepat sekali, bukankah sedang sibuk - sibuknya diibu kota?" tanya Yori.
"Ya begitulah, tapi urusanku sudah beres disana. Memang Kenapa?" ujar Aina.
__ADS_1
"Aku hanya ingin izin keluar Rumah"
"Pertanyaan yang seharusnya tidak kau lontarkan, Lagian kenapa harus izin segala?" tanya Aina.
"Tidak, aku hanya ingin jalan - jalan"
"Dih, makin gak jelas!!" ujar Aina.
"Kalau begitu, Aku pergi"
(Keluar Rumah)
Apa - apan situasi canggung tadi..
...****************...
Udara di dekat air terjun ini memang sangat bersahabat sekali, tempat yang ingin sekali ku foto jika aku punya sebuah ponsel.
"Andai saja ada ponsel"
"Ponsel? Apa itu? tanya Yori.
"Ya, sebuah alat yang tidak mungkin kau ketahui" ujar Aina.
"Kenapa kau masih disini, bukankah kau harus membantu ayahmu?" singgung Yori.
"Masalah bagimu? Lagian kenapa jika aku berada disini? Mengganggumu?" tanya Aina.
"(kesal) Sangat mengganggu" ujar Yori.
Yah.. Kehidupan baruku memang membuatku greget..
"Aku akan ke ibu kota"
SSSHHH...
"Eh.. Kenapa?"
"Kenapa apanya?" tanya Aina.
SSSHHH..
"Kenapa masih disini?"
"Eh.."
"Mungkin saja kamu salah menggunakan mantra" ujar Yori.
"Oh teleportasi ya" ujar Aina.
"Tidak, tidak.. Biasanya aku tidak memakai mantra tapi kenapa? Seperti ada yang menghalangi!"
"Benarkah begitu? Sebaiknya coba saja menggunakan mantra" ujar Yori.
"Ya.. 'Atas Izin dari penguasa Union, Aku lubangi tanah sampai di tempai yang ku tuju'" SHHH
"Sama sekali tidak bekerja"
"Padahal Aura Energi mu begitu besar sekali kurasakan" ujar Aina.
__ADS_1
"Kira - kira Kenapa?" tanya Yori.
Apapun itu, kurasa ini ada hubungannya dengan-Nya.