
Kejadian kemarin membuatku terkejut sekali, pasalnya instingku yang mengatakan aku harus mencium ibunya Yori ternyata benar - benar membuahkan hasil.
Ya, meskipun bagiku hanya sekedar mencium wanita tua saja, tetapi bagi Yori itu merupakan suatu kebahagiaan. Walaupun ia menamparku kala itu..
Terlebih Ariel yang muncul di mimpiku, kurasa ciuman itu adalah ulahnya. Sebenarnya kau itu manusia seperti apa sih, Ariel..
Orang yang harusnya bertanggung jawab telah membawaku ke dunia ini, ketika kehidupanku di Ambridge mulai membaik.
"Kau tahu Aerel, penduduk desa sebenarnya tidak terlalu peduli dengan ras manusia yang kejam pada ras lain" ujar Yori.
Andai saja aku tidak kemari, mungkin saja paman Edbert mengadopsiku.
"Aerel, kau mendengarku? " tanya Yori
Tidak, itu bukan pemikiranku.. Tetapi kala itu tante Sarah pun sudah membukakan pintu rumahnya untukku.
"Jalan ke depan, akan sedikit curam Aerel" ujar Yori.
Dan, ibuku. Apa kabar ya, berapa lama aku pergi.. Apa ibuku baik - baik saja disana.
"AERELLLL" seru Yori.
"Ah ya.. Ada apa?"
"Kau terlihat seperti menangis, apa yang kau pikirkan?" tanya Yori.
"Tidak, bukan sesuatu yang penting"
Aku mengabaikan pertanyaannya dan berjalan mendahuluinya.
"Woy, jangan bohong. Apa ini tentang keluargamu?" tanya Yori.
"Ya.."
"Maaf, apa mereka masih hidup?" tanya Yori.
"Ya, aku yakin mereka baik - baik saja".
"Kalau begitu, kenapa tidak kau temui mereka?" tanya Yori lagi.
"Kampung halamanku adalah tempat yang sangat jauh, sampai - sampai aku tidak tahu apakah aku bisa kembali ke sana atau tidak".
"Meski begitu bukan berarti kau tidak bisa menemuinya lagi, bukan? Meskipun kau tidak tahu caranya, selama kau berusaha pasti kelak akan membuahkanmu hasil" ujar Yori.
"Kau tahu, aku yang hampir kehabisan keringatku mengobati ibuku yang tak kunjung sembuh, Namun aku tidak pernah berpikir bahwa penyakit ibuku tidak bisa sembuh. Sampai akhirnya aku menemuimu, aku berpikir bahwa di dunia ini tidak ada yang instan" Imbuhnya.
"Ya, kurasa kau benar. Terima Kasih Yori, kau terlihat dewasa jika bicara demikian"
"(tersipu malu)Ehh.. (Menendang kaki) itu sama sekali tidak ada hubungannya" ujar Yori.
"Addh.. Kau, apa untungya aku berterima kasih padamu.. Dasar."
...KYAAA...
"Wsuh.. Hampir saja. Bukankah kau sendiri yang bilang jalannya curam, kau sendiri yang tidak berhati - hati"
"itu karena kau yang terus mengajakku bicara, dasar" bentak Yori.
"Dih, kau sendiri bukan yang mengajakku bicara, ah sudahlah.."
"Jadi, dimanakah tempat makhluk pengganggu itu berdiam?"
"Ah sebentar lagi kita akan sampai" ujar Yori.
Tentu saja aku berada disini juga bukan tanpa maksud dan tujuan. Disini di sebelah utara desa Tobago terdapat sebuah gua bernama Vomo, yaitu tempat bagi Gordo beristirahat.
Umumnya Gordo hanya menyerang ketika dirinya merasa terancam, tetapi Gordo abnormal seperti ini tidak dapat dibiarkan hidup.
"Berhati - hatilah, pendengaran Gordo begitu tajam" bisik Yori.
"Jadi, itulah guanya"
Ketika aku hendak menyabut pedang dari sarungnya, Gordo tersebut sepertinya mendengar gesekan pedangku.
GRAAAUURRR
Ia keluar dari gua tersebut.
"Tetaplah disini Aerel, Gordo itu lebih besar daripada yang kemarin" panik Yori.
__ADS_1
"(Membuka Kupluk) Tidak, tujuan kita kesini adalah untuk membawa kepalanya ke desa (menghampiri Gordo)"
"Woy, jangan gegabah dan berhati - hatilah" teriak Yori.
Tubuh yang mirip ayam dan kepala harimau itu terlihat menggelikan berapa kalipun kulihat. Makhluk ini benar - benar dua kali lebih besar daripada yang kemarin.
Ia langsung menyerang dengan tanduk di kakinya..
Dasar ayam..
Aku melompat ke pohon dan berusaha untuk langsung mengambil lehernya, namun ia ternyata cukup pintar.
Makhluk berkepala harimau tersebut mengepakkan sayapnya ke arahku.
...BRUSHHH. ...
Aku terpental ke semak - semak dan,
"Aerel, awas di depanmu!!" teriak Yori.
GAUURRRUUU
Geli sekali bukan, bukannya berkokok malah mengaung..
Ia berusaha menendangku kembali..
.....BBRUSGG.....
Meskipun tinggimu lima kali tinggiku, kurasa kau harus lebih berhati hati.
Aku mengambil kaki kanannya dan ia masih bisa berdiri tegak ternyata.
AARRRGGHH..
Bertahanlah makhluk aneh, ini tidak akan lama..
Aku melompat dan mengincar leher bagian belakangnya, yang akhirnya berhasil ku tebas.
Ah.. Jaketku kotor kan dipenuhi darah..
Ini terlalu mudah untuk monster dengan ukuran 3 kali gajah ini. Hmm, monster tanaman yang pernah kukalahkan berarti jauh lebih kuat.
"Woy, disaat seperti ini sempatnya kau mengomeliku"
"Jika terjadi sesuatu padamu, aku tidak akan memaafkankan diriku sendiri yang telah mengajakmu kemarin" ujar Yori.
"Kau lebay banget si, sudahlah.. Sekarang apa yang akan kita lakukan terhadap monster ini? Apa dagingnya bisa dimakan?"
"Aku tidak pernah memakannya si, tetapi bagaimana jika kita bawa saja berikut tubunya ke desa" ujar Yori.
"Dengan apa harus kita bawa?"
"Kukira kau akan menggusurnya" ujar Yori.
"Kau pikir aku ini apa, tapi mungkin saja bisa.. Eh.."
"Apanya?" tanya Yori.
"pegang tanganku, aku masih mengingat dimana kita akan mendarat"
(Lingkaran Cahaya Besar muncul)
"Woww.. Apa ini? Teleportasi?" tanya Yori.
"Ya, belum sempat ku coba. Tetapi ini saat yang tepat untuk mencobanya"
"Eh, kau belum mencobanya.. Tunggu tunggu.. KYAAAAA" teriak Yori.
"Hahaha.. Menarik"
.....SSSHHHH.....
Ah ternyata mendarat tepat di depan rumah Yori, memang tempat ini si yang paling ku ingat.
"Aerel, bisa kau tolong singkirkan mayat besar ini dari tubuhku!! Aku kesulitan bernafas" ujar Yori.
"Sedang apa kau disana, ya ampun (menarik tangan Yori)"
"Hey anak muda!! Kau berhasil mengalah kannya" tanya bapak - bapak.
__ADS_1
"Ya, seperti yang kau lihat"
"Hey semua, kita akan makan besar malam ini" sambungnya.
Mendadak semua orang keluar dari rumahnya dan berkumpul.
"Benarkah?" ujar seseorang.
"Mengerikan sekali bukan"
"Hey, siapa yang membunuhnya?"
"Anak muda ini, dan Yori"
"Benarkah?, hebat sekali kau nak"
"Aku akan mengumpulkan Kayu bakar"
"Tetap besar berapakalipun kulihat"
"Sepertinya akan semakin menyenangkan bukan?" ujar Yori.
"Ya, mereka bersemangat"
...****************...
Beberapa orang mengumpulkan kayu bakar, sedangkan yang lainnya mengurus daging ayam besar ini.
Woww.. Wajah mereka sekarang lebih bergairah dibandingkan saat pertama kali ku kesini.
"Biar ku nyalakan apinya"
"Ah baiklah"
...BBWWUURRR...
"Selamat nak, kau berhasil mengembalikan senyuman semua orang" ujar bapak tua.
"Ya, kurasa begitu"
"Gordo abnormal ini, sudah memakan setidaknya 450 orang di desa ini selama 5 tahun terakhir. Ia muncul tepat setelah kematian serigala terakhir"
"Serigala terakhir"
"Maaf obrolan ku akhiri, aku harus memanggang
daging ini"
"Ah baiklah"
Tepat tengah malam, semua telah siap dan pesta makan besar pun baru dimulai.
"Ucapkan selamat tinggal kepada Makhluk ini"
"SELAMAT TINGGAL" teriak semua orang.
"Dan terima kasih kepada,"..
"ah.. Aerel"
"Ya Aerel, karena telah membunuh monster ini"
"Terima kasih anak muda"
"Aerel, nama yang bagus"
"Namanya terdengar asing"
"Aerel, aku tidak pernah melihat semua bersemangat seperti ini, bahkan sebelum muncul makhluk itupun" ujar Yori.
"Kalau begitu, kurasa keputusan yang tepat membawa daging ini kemari"
"Ya.." balas Yori.
Pesta besar ini pun berlangsung hingga pagi, dan semuanya tertidur dimana - mana, termasuk di tanah.
Pesta yang menyenangkan.
Kurasa aku akan mencari udara segar, desa ini tidak banyak disinari oleh matahari.
__ADS_1